
Pak Damar masih duduk didepan L, ia masih penasaran dengannya, ingin sekali ia melihat wajah L namun Pak Damar tidak enak jika menyuruh L melepaskan topi dan maskernya.
" Nama saya Pak Damar, saya petugas perpustakaan disini, tadi Hari minta tolong buat jagain kamu. Bapak boleh tanya sesuatu tidak? "
L masih fokus dengan bukunya " iya boleh. " jawab L
"Kau pacarnya Hari ya? " tanya Pak Damar
L tetap fokus pada bukunya " Bukan. " jawab L dengan santai
Melihat L yang tak bergeming, malah membuat Pak Damar semakin penasaran " Ah masa sih, bapak ini udah kenal dekat loh sama Hari soalnya kalo ga ada kelas sama praktek tiap hari dia datang ke perpustakaan, Hari itu termasuk mahasiswa top disini banyak sekali mahasiswa wanita wara-wiri datang hanya untuk bisa mendekati nya, bapak pun jadi hapal dengan para mahasiswa itu. Tapi bapak tidak pernah melihat mu, kamu dari jurusan apa? "
" Bukan dari jurusan manapun. " Jawab L
Pak Damar bingung " Oh maksudnya kamu tidak kuliah disini ya, pantas saja bapak tidak pernah melihat mu. Tapi kalo kamu bukan pacar Hari, kok kamu bisa dekat sama dia, setau bapak Hari itu paling anti loh sama anak perempuan, cuman si Arya Playboy cap ikan teri yang selalu nempel dengannya. "
L sama sekali tidak menganggap pertanyaan Pak Damar serius karena buku yang tengah dipegangnya jauh lebih menarik, ia pun menjawab dengan setengah hati " Aku adiknya. "
Mata Pak Damar melotot, ia tidak percaya karena tadi Hari bilang kalo L itu calon istrinya, Pak Damar bahkan melihat wajah Hari saat mengatakan nya terlihat serius. Pak Damar ingin sekali mengkonfirmasi kebenaran tersebut sehingga ia bertanya berkali-kali pada L " Ah masa sih, kamu pasti bohong, pasti kamu pacarnya kan. "
L yang tadinya sedang larut dalam dunianya mulai terusik, kuping nya terasa gatal karena Pak Damar mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali ia pun berdiri dan menyodorkan bukunya pada Pak Damar
"Haduh Pak Damar berisik sekali sih, aku itu adiknya Mas Hari, kenapa ditanya mulu. Pak Damar kan petugas perpustakaan jadi harusnya tau kalo di perpustakaan harus tenang ga boleh berisik" jawab L dengan menghentakkan kakinya, ia langsung berdiri dan berjalan keluar perpustakaan meninggalkan Pak Damar sang petugas perpustakaan yang kepo itu sendirian.
" Neng Elis mau kemana? Tadi Bapak kan disuruh jagain kamu. " belum selesai berbicara L sudah menghilang dari perpustakaan
5 menit kemudian Arya datang dan langsung mengambil tas laptop dan beberapa buku milik Siska
" Ya ampun sepupu, bisa tidak kau bawa ini sendiri, padahal ini sangat ringan dan tidak akan membuat tanganmu lecet. " Gerutu Arya
" Sudah diam, bawa saja barang-barang ku kau tidak lihat kalo tanganku sedang sibuk memegang ponsel."
Arya yang berjalan dibelakang Siska menampilkan wajah yang begitu kesal sambil sesekali membuat ekpresi mengejek dibelakangnya
" Apa Hari sudah sampai di kampus, kenapa aku tidak melihat mobilnya di parkiran? " tanya Siska pada sang sepupu
" Mana ku tahu, aku kan bukan istrinya yang harus tahu keberadaan nya. " Jawab Arya setelah hati
Siska langsung berhenti dan memperlihatkan sorot mata yang tajam pada Arya " Kau sudah mulai berani ya padaku, apa perlu aku menelpon Bibi dan melaporkan mu karena minggu lalu kau pergi ke club dan minum minum disana? " Ancaman dari Siska membuat Arya menciut
Arya langsung tersenyum sambil menempel pada Siska " Ayolah sepupu, jangan bercanda seperti itu, kau tau kan kalo mamahku itu sangat galak, jika dia tahu kalo aku pergi ke club dan minum minum beralkohol bisa berakhir hidup ku saat ini juga. " wajah Arya sudah dibuat seperti anak kecil walaupun sangat tidak cocok
Siska tersenyum penuh kemenangan " Makanya jaga sikapmu, hidupmu sekarang ditanganku mengerti! "
"Iya.
Keduanya berjalan meninggalkan area parkir, dari jauh Siska kembali berhenti karena melihat sang pujaan hati tengah berjalan menuju parkiran.
" Hari apa ka-bar? " tanya Siska dengan senyum manisnya, tapi orang yang disapa hanya mengangguk dan berjalan melewati keduanya, Arya sejenak tersenyum kecil, namun segera terdiam ketika Siska sudah melirik nya