
Hari dan L duduk di sofa ruang tengah, tangisan L sudah berhenti tapi ia masih belum mau berbicara. Hari sangat bingung, bertepatan dengan itu ponsel L berdering ada telpon dari Bora.
Hari segera mengangkat nya " Hallo selamat siang Bora. " Kata Hari yang masih menggunakan bahasa Inggris jika berbicara dengan Bora
" Hari?"
" I-iya ini aku, maaf Elis sedang mandi jadi dia tak bisa mengangkat telpon mu. Apa kau mau menunggu nya sampai selesai atau nanti L yang akan menghubungi mu balik? "
" Ah tidak perlu, aku hanya mau memberitahu nya mungkin 2 hari ini aku tidak bisa menghubungi nya karena aku sudah ada di Daegu dan akan sangat sibuk. "
" Ouh begitu ya. "
" Iya katakan padanya agar jangan merindukanku, setelah aku pulang ke Seoul aku baru bisa menghubungi nya, jadi tolong jaga dia untuk ku ya Hari. " Kata Bora
" Baiklah akan ku sampai kan pesan mu padanya, kalau begitu sampai jumpa."
Ah ini membuat beberapa hal jadi lebih mudah. Kata Hari dalam hati.
Hari segera kembali ke ruang tengah, ia melihat L sudah tertidur di sofa, ia mungkin kelelahan setelah menangis cukup lama. Badannya juga sedikit panas, Hari pun mengambil baskom dan handuk untuk mengompres nya.
Tak sengaja ia melihat beberapa amplop coklat yang tergeletak di meja, Hari melihat lihat isi amplop tersebut, brosur dan form pendaftaran dari beberapa universitas terkemuka di Indonesia ada disana.
" Sebenarnya ada apa dengan L? " kata Hari sambil membereskan meja itu, ia terlihat bingung sekaligus penasaran.
Jam makan siang tiba, L pun sudah terbangun. Hari menyiapkan makanan untuk L. Dengan penuh perhatian Hari menyuapi L, ia belum berani menanyakan perihal kejadian tadi pagi, Hari membiarkan L untuk makan dan beristirahat terlebih dahulu.
" Mas Hari. " kata L pelan
" Iya ada apa?"
" Paman Andrea tadi malam datang kemari. "
" Aku lapar. " sambil membuka mulutnya
Hari yang tersadar kembali mengambil piring dan menyuapi L lagi " Apa kepalamu tidak pusing? badanmu tadi sedikit panas. "
" Aku sudah merasa lebih baik sekarang. "
" Ouh iya tadi Bora menelpon. "
" Mas Hari tidak bilang aku sedang menangis kan?"
" Tentu saja tidak, aku tadi bilang kalau kau sedang mandi, untungnya Bora percaya. Ia hanya menitipkan pesan kalo ia sudah sampai di Daegu dan tidak bisa menghubungi mu selama 2 hari. " kata Hari
" Terimakasih Mas. " Jawab L yang terlihat lesu
L telah selesai dengan makan siangnya, ia duduk di samping Hari
" Jadi apa alasan paman mu datang kemari? Aku juga menemukan ini. " memperlihatkan tumpukan amplop coklat ditangan nya
" Paman menyuruh untuk masuk ke Universitas di kita B, dalam 2 hari ia akan datang kembali kesini dan mengantarkan ku kesana. Kata paman ia sudah menyusun rencana masa depan untukku, ia juga memarahi ku karena telah membuang waktu ku dengan menggambar dan menulis yang tidak berguna selama aku tinggal di rumah ini. "
Mata L kembali berkaca kaca " Paman memang tidak menyuruh ku kembali kerumahnya, tapi kenapa ia masih mengatur hidupku. Ia masih saja memaksakan keinginan nya agar aku menjadi seorang dokter, itu cita-citanya saat kecil tapi kenapa aku yang harus menanggung nya, ia bahkan punya anak laki-laki.Apa salahnya menjadi seorang ilustrator dan novelis, selama ini aku sangat bahagia. Apa aku hidup dalam pengaturan nya lagi? Aku tidak mau. " Dan L pun kembali menangis
Hari bisa merasakan kalo L sedang tertekan, ia memeluk L dan mengelus kepalanya agar tenang
" L tenanglah, aku akan bicara pada ayah dan ibuku, kami akan membantu mu, kami semua menyayangimu, kami akan mendukung apapun yang kau inginkan, karena sesungguhnya kabahagiaan mu itu lebih penting. Paman mu memang terlalu keras padamu, ia hanya ingin mengatur mu agar ambisinya tercapai tanpa memikirkan perasaan mu. Tenanglah ada kami yang melindungi mu. " Perkataan Hari sungguh membuat L tenang, perlahan ia pun berhenti menangis dan kembali percaya diri
Ia sekarang sudah tidak tinggal bersama pamannya, dan selama ini juga ia mampu hidup sendiri. Ada Hari, bu Lilis, Pak Anwar, Bora, Kak Jisoo, dan 3 kakak barunya yang menyayangi nya. Selama ini ia tak pernah berani melawan pamannya karena sadar bahwa dirinya sendirian dan belum mampu hidup mandiri. Itu dulu, tapi sekarang sudah berbeda, L bertekad untuk melawan kehendak pamannya, lagi pula jika dalam 2 hari ia pergi dari rumah ini, bisa dipastikan ia tidak akan bertemu Bora. Ia harus berjuang untuk itu.