All About You "L"

All About You "L"
Pembawa sial



"Bi-bi." kata L dengan terbata


Bibinya masih diam tak membalas sapaan keponakan nya tersebut, ia hanya berjalan mendekati L, membuat L otomatis berjalan mundur. Terus saja seperti itu dan tanpa sadar tubuh L sudah menabrak bagian belakang mobil Hari.


Keduanya berhadapan tanpa memperdulikan hujan mengguyur tubuh mereka, payung L juga sudah sedari tadi terjatuh. Wajah L menyiratkan ketakutan dan tubuhnya masih gemetaran, ia berusaha keras mengangkat wajahnya untuk menatap bibinya, tapi seakan magnet bumi lebih besar sehingga ia tidak bisa mengangkat kepalanya.


" Bi-bi a-pa ka..... " belum sempat kalimat yang diucapkan L selesai sebuah tangan sudah mendarat di pipi L


Plakkk


"Bibi kenapa menam...... "


Plakk


Bibinya menampar nya lagi


Tangan kanannya memegang wajahnya, sedangkan tangan kirinya memegang buket bungan hadiah dari pamannya dengan begitu erat.


Plakkk


Lagi lagi bibinya menampar wajah L hingga akhirnya tubuh L jatuh tersungkur, ia tak kuasa menahan air matanya lagi.


" Hiks... hiks.... hiks.... bibi kenapa menampar Elis, Elis punya salah apa sama bibi. " berulang kali ditampar sampai sampai kedua sudut bibirnya berdarah, wajah bibinya tampak tidak merasa bersalah.


" Hah pertanyaan macam apa itu, tentu saja kau punya banyak salah dengan ku."


Tubuhnya bibinya menunduk dan meraih dagu Elis " Kau itu anak pem-ba-wa sial. "


" Bibi Elis tidak mengerti apa yang bibi maksud, jika Elis memang punya salah dengan bibi, Elis minta maaf bi, maaf kan Elis...maaf... " masih sambil menangis


" Maaf kau bilang, itu semua sudah terlambat, gara-gara dirimu, keluarga ku sekarang hancur, bahkan anakku sedang sekarat. " kata bibi Ellen dengan penuh emosi


"Bibi maafkan Elis, maaf kan Elis. " Hanya kaya maaf yang keluar dari mulut Elis


Bibi Ellen melepas dagu Elis sambil mendorong nya sehingga kepalanya membentur bagian belakang mobil, Elis mengerang kesakitan .


" Bibi maafkan Elis. " suara L mulai melemah karena benturan dikepala nya membuat pusing yang dialami nya menjadi lebih berat, sekarang pandangannya sedikit kabur.


" Dari awal aku tidak pernah setuju dengan suamiku yang membawamu kerumah, tapi ia bersikeras karena kau itu tidak punya saudara atau kerabat , akhirnya aku terpaksa menerima mu, aku selalu khawatir karena suamiku terobsesi ingin punya anak perempuan tapi aku tidak bisa lagi memberinya anak. Dengan kedatangan mu di rumah, suamiku perlahan melupakan anaknya sendiri, dia tega mengirim Yoga ke akademi kepolisian yang mana pendidikan nya sangat keras dan anakku sendiri tidak menginginkan nya, saat anakku tengah menderita, kau malah masuk ke sekolah elite hingga suamiku rela menghabiskan sebagian tabungan kami untuk biaya pendidikan mu yang seharusnya menjadi hak anakku. Kau tidur ditempat yang empuk, makan dengan teratur, dan bisa bersenang-senang dengan bebas di luar sana, lalu apa yang didapat oleh anakku, kini ia malah terbaring tidak berdaya menunggu operasi yang kemungkinan berhasil nya kecil. "


Bibi Ellen kembali mendekati Elis dan menjambak rambutnya


" Aku sungguh bahagia setelah kau kabur dari rumahku, tapi siapa sangka, suamiku ternyata masih begitu perhatian padamu, lihat rumah mu ini, seingat ku saat terakhir kali aku kemari tidaklah sebagus ini, suamiku pasti merenovasi rumah ini untuk putri kesayangannya bukan? dan lihat mobil dibelakangnya mu, ia bahkan sampai memberikanmu mobil, dan pasti tiap bulan kau mendapat tranfer darinya. "


" Tidak bibi, itu tidak benar. " jawab L


" Diam kau! aku tahu kau pasti tengah berbahagia karena tau kalo anakku sedang sekarat, aku melihatmu datang ke rumah sakit tadi pagi, kau pasti ingin memastikan keadaan secara langsung bukan, setelah anakku mati kau bisa sepenuhnya merebut suamiku dan kau akan meminta menjadi anaknya dan menguasi hartaku bukan? Kau jangan pernah bermimpi.


Kemarahan bibi Ellen semakin menjadi, ia menjambak rambut Elis dan membenturkan kepala Elis ke mobil berkali-kali, Elis hanya bisa memohon ampun pada bibinya.


" Bibi sakit, ampun bi.... ampun... maaf kan Elis. "


" Sadarlah kalo kau itu sebenarnya cuman anak pembawa sial, kau lihat sendiri, sejak kau masih kecil kedua orang tuamu harus mati, lagi disusul ayah mertua, dan kemudian ibu mertua, keberadaan mu saja membuat orang orang terkena sial. "


Entah kenapa kata-kata itu begitu menusuk dihati Elis


" Dan sekarang giliran ku yang terkena sial, harusnya kau saja yang mati, jika dari dulu kau tidak lahir, keduanya orang tuamu dan kedua mertua ku pasti masih hidup dan bahagia sekarang, bahkan anakku tidak akan mengalami penderitaan seperti ini. Jadi mati sajalah kau. "


Brukkk


Kepala Elis kembali dibenturkan dengan sangat keras dan akhirnya tangan bibi Ellen terlepas, daras mulai mengalir dan mengotori baju putih yang dikenakan Elis, Elis sudah tidak bersuara lagi, ia mematung dan hanya menunduk dihadapan bibinya itu.


" Berhenti lah mengganggu keluarga ku, ini terakhir kali nya aku melihat mu, semua yang kau alami saat ini tidak ada apa-apa nya dibandingkan anakku, jika operasi anakku sampai gagal dan terjadi sesuatu padanya, kupastikan kau tidak akan bisa kabur kemanapun kecuali ke akhirat. Dan juga jangan coba-coba untuk menghubungi atau minta bantuan pada suamiku" kata bibi Ellen perlahan berbicara dengan mendekati wajah L yang sudah acak acakan itu


Sebelum pergi, bibi Ellen juga sempat menginjak injak buket bunga milik L yang memang sedari tadi sudah tidak karuan bentuknya.


Keadaan L benar-benar sungguh menyedihkan, setelah semua cacian dan perkataan kasar yang diarahkan padanya, bibi Ellen meninggalkan L begitu saja yang tengah terduduk dengan darah masih mengalir dari kepalanya, hujan juga masih terus turun dan tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.