
Daniel seakan-akan berubah menjadi patung ia terhanyut dalam wangi bunga dari L. Ia merasa nyaman dan engga untuk melepaskan nya.
Baru kali ini ia mencium parfum milik L, selama ini dia memang dekat dengan L tapi tak pernah mencium bau parfum itu.
"Ehem.. ehem.. " Mr. Lee yang berjalan lima langkah dibelakang keduanya bersuara.
Daniel dan L akhirnya tersadar, Daniel segera melepas pelukan nya.
" Kau tidak apa apa? " Tanya Daniel
Wajah L sedikit merona, L menunduk karena malu.
" Aku tidak apa apa Kak, terimakasih. " Ujar L
Suasana diantara keduanya seketika menjadi canggung. Mereka melanjutkan jalan jalan berkeliling taman dengan keadaan diam, seperti Mr.Lee yang selalu diam.
" Yuna. " Ucap Daniel
L menoleh " Iya Kak. "
" Kau sangat harum, parfum apa yang kau pakai? " Tanya Daniel tiba-tiba.
L hanya tersenyum.
" Kau beli dimana? Apa kau baru memakai nya? "
" Kenapa kakak bertanya seperti itu? Aku selalu memakai parfum ini. "
Daniel menatap tidak percaya " Benarkah? Tapi kenapa selama ini aku tidak mencium nya selama kita bersama. "
" Emm aku tidak tahu, tapi aku selalu memakai nya kok. Apa Kakak suka bau nya? "
Daniel mengangguk " Dimana kau membelinya? "
" Aku tidak beli. " Jawab L polos.
"Kau pasti bohong, wangi parfum yang kau pakai benar-benar harum dan menenangkan, hanya dengan mencium bau harum nya saja aku bisa menilai jika parfum itu sangat mahal, seperti yang biasa kupakai. Sedangkan parfum yang ku pakai aku beli langsung dari Perancis. Harum parfum milik mu sangat ekslusif dan baru pertama kali aku mencium nya. "
" Aku jujur Kak, karena aku sendiri yang membuat nya. "
Daniel tertegun.
" Kau membuat nya? "
L mengangguk." Kaka mau? "
Daniel tanpa ragu mengangguk.
L Menyuruh Jukyung mengambil kan sesuatu untuk nya. Dan tak berapa lama Jukyung menyerah dua buah botol kaca pada L.
" Ini Nona. "
" Terimakasih Kak Jukyung. "
Setelah menerima dua botol kaca berisi cairan parfum yang ia buat, L langsung menyerah kan pada Daniel.
" Ini untuk kakak, kuberikan dua botol karena satu memiliki harum seperti milik ku sedangkan satu lagu untuk Kak Daniel yang merupakan seorang laki-laki. Parfum milik ku untuk perempuan jadi kurasa tidak akan cocok jika Kakak memakai nya, jadi kuberikan yang versi cowo nya. "
Daniel begitu senang mendapatkan parfum dari Yuna, ia menyerah kan nya pada Mr.Lee dan menyuruhnya untuk disimpan dengan baik.
" Jadi bagaimana dengan lukisan mu? Apa kau sudah membuat nya?"
L terdiam " Aku masih mengerjakannya. " Jawab L bohong.
" Ah aku jadi tidak sabar untuk melihat karya terbaru mu, cepatlah sembuh dan kita bisa pergi ke Milan bersama. " Ujar Daniel.
L hanya tersenyum.
Daniel dan L menghabiskan waktu cukup lama , Daniel baru pulang saat hari menjelang sore.
Beberapa hari kemudian L ditemani Jisoo dan Bora pergi ke rumah sakit guna menemui psikiater. L berjalan sambil menggenggam tangan Bora , tangan nya terasa dingin dan wajah L terlihat tegang. Bora melihat hal itu langsung merangkul bahu L.
" Jangan khawatir kami akan selalu ada disamping mu, jika kau belum siap kita bisa kembali ke rumah. " Ujar Bora Menenangkan.
" Tidak! Aku akan tetap melanjutkan nya meski ini menyakitkan. "Sahut L
Jisoo menatap sayang pada adik angkat nya, kesedihan menyelimuti dirinya. Sebenarnya Bora dan Jisoo tidak tega membawa L ke sana, itu sama saja mengungkap masa lalu yang sangat menyakitkan bagi L. Tapi keduanya juga tidak bisa membiarkan hal itu terus berlarut larut, trauma yang di miliki L jika tidak di obati akan selalu membuat mereka khawatir dan itu berbahaya bagi L.
Sun-woo telah menunggu ketiganya didepan kantor.
" Selamat pagi L. " Sapa Sun-woo
" Selamat pagi Kak Sun-woo."
Didalam ruangan yang cukup luas itu terlihat juga satu orang lagi yaitu dokter Cha Eun Woo, psikiater yang akan menangani L.
Setelah berbincang-bincang sebentar mereka berpindah ke ruangan khusus ke tempat dokter Cha. Didalam ruangan tersebut ada satu ruangan lagi yang di sekati oleh kaca satu arah, didalamnya ada kursi memanjang dan beberapa perabotan yang ditata sedemikian rupa menjadi ruang tamu yang nyaman.
Itu adalah ruangan untuk dokter Cha dan L nanti saat melakukan pemeriksaan dan melakukan terapi hipnotis. Sedangkan kaca yang mengelilingi ruangan tersebut itu bertujuan agar Jisoo, Boraa, dan Sun-woo bisa memantau dan mendengarkan sesi konsultasi L.
L memandang Bora dengan tatapan sendu. Bora memeluk L dengan erat, memberikan dukungan dan semangat.
" Kau pasti bisa Yuna, lakukan lah sebisa mu jika hal itu menyakitkan dan terasa berat berhentilah. Kami tidak akan memaksa mu untuk mengingat hal yang menyakitkan untuk mu. "
Mata L berkaca-kaca.
" Ayo masuk Yuna! Jangan khawatir aku dan kau hanya akan saling berbagi cerita saja jadi jangan terlalu tegang." Dokter Cha menepuk-nepuk bahu L agar lebih tenang.
L masuk dan disuruh duduk didalam ruangan kaca satu arah tersebut dimana dari dalam ia tak bisa melihat keluar sedangkan orang dari luar bisa melihat orang dari dalam.
" Apa kau suka mendengar musik Yuna? "
" Iya. " Jawab L
" Aku juga, kalau boleh tahu kau suka musik apa? Kalau aku sangat menyukai musik Jazz. "
" Aku suka musik klasik dan orkestra. "
" Benarkah? Ku pikir gadis remaja seperti mu menyukai musik pop dan genre musik modern. " Ucap Dokter Cha dengan nada lembut.
Sembari mengajak berbicara Dokter Cha memperdengarkan musik klasik kesukaan L. Obrolan terus berlanjut hingga tanpa sadar mata L mulai terpejam. Dan ia dibawah pengaruh hipnotis.
Dokter Cha melihat ke arah kaca sebagai tanda ia akan mulai mencari tahu penyebab trauma yang dimiliki oleh L.
Bora dan Jisoo saling berpegangan dengan erat.
" Kim Yuna apa kau bisa mendengar ku? " Tanya Dokter Cha
" Iya. " Jawab L lirih.
Dokter Cha mulai bertanya tentang kehidupan L dimasa lalu sebelum pindah ke Korea. Dokter Cha tentu sudah tahu karena sebelumnya Sun-woo , Bora, dan Jisoo sudah menceritakan kehidupan masa lalu L sewaktu masih tinggal di Indonesia.
Sesi terapi berjalan dengan lancar dan L juga menjawab baik, begitu juga saat ditanya awal pertemuan dan juga kisah persahabatan dengan Bora dan Jisoo bisa diceritakan dengan baik oleh L.
Kini Dokter Cha mulai bertanya tentang kejadian yang menimpa L.
" Yuna bisa kah aku bertanya? " Ujar dokter Cha
" Iya. "
" Aku dengar dari Bora jika liburan Natal dan tahun baru tahun lalu mereka datang ke rumah mu apa benar? " Ucap dokter Cha dengan hati-hati.
" Itu benar. Saat itu aku sangat bahagia dan begitu menanti kedatangan mereka. Aku bahkan sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan mereka, tapi.... " Ucapan L terhenti
" Ada apa Yuna? Kenapa kau berhenti? Apa ada sesuatu yang tak bisa kau ceritakan? Karena menurut Bora setelah dia menghubungi mu saat baru sampai di bandara, tiba-tiba kau tidak memberi kan kabar."
" Sebenarnya saat itu aku baru saja mengantarkan paman ku ke rumah sakit karena malam hari tiba-tiba paman datang ke rumah dan menangis karena sepupu ku sedang sakit dan butuh uang untuk pengobatan nya. "
" Aku meminjamkan paman uang untuk membayar biasa operasi transplantasi ginjal, dan hari itu juga aku mengantar paman ke rumah sakit karena aku tidak tega melihat paman kembali ke rumah sakit dengan keadaan seperti itu. Disana aku melihat sepupu terbaring dengan wajah sangat pucat, setelah melihat nya aku mendengar obrolan paman dan dokter yang menangani sepupu ku jika stok darah untuk nya sedang menipis , aku mengajukan diri untuk mendonorkan darahku. "
" Tunggu Yuna! Bukankah umur mu baru menginjak 14 tahun. Kau masih dibawah umur jadi tidak memenuhi syarat untuk mendonorkan darah. " Ucap dokter Cha
Bora, Jisoo, dan Sun-woo mulai merasa khawatir.
" Itu benar namun karena operasi harus lakukan hari itu juga dan stok darah untuk sepupu ku sedang menipis aku memaksa mendonorkan darahku,setelah mendonorkan darahku dan membayar semua biaya rumah sakit aku bergegas pulang karena saat itu Bora menelpon ku bahwa dia sudah sampai dibandara. Aku juga tidak bisa berlama lama di rumah sakit karena bibi ku pasti akan segera kembali. Dengan menyewa jasa seorang sopir aku pun kembali ke rumah. Badan ku terasa lemas dan kepala ku sangat pusing , dan kurasa itu adalah efek setelah aku mendonorkan darah. "
" Setelah menempuh perjalanan cukup lama, aku akhirnya sampai di rumah saat malam. Kepalaku masih terasa pusing hingga aku ingin segera masuk kedalam rumah dan beristirahat. Tapi baru saja aku berbaring aku mengingat buket bunga pemberian paman sebelum aku pulang. Buket bunga istimewa yang dibeli paman disaat dirinya tidak memiliki apa apa, saat itu aku begitu terharu, paman ku menangis dan mengucapkan terimakasih karena aku membantu membayar semua biasa operasi dan juga mendonorkan darahku. "
" Dengan susah payah aku berjalan kembali menuju mobil untuk mengambil buket bunga itu, aku takut bunga itu akan layu jika tidak dimasukkan kedalam vas. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku dari balik pintu gerbang rumah ku. Aku berjalan untuk membuka nya, aku terkejut karena setelah membuat gerbang bibi ku berdiri disana dengan wajah memerah seakan sedang menahan amarah. "
Posisi L mulai menegang dan bergetar dokter Cha segera menenangkan L.
" Tenang dan rileks Yuna, jika hal itu berat jangan diteruskan. "
Sejenak tubuh L sudah kembali tenang, sedangkan Bora dan lainnya yang melihat dari balik kaca semakin cemas.
" Apa sebaiknya kita sudahi saja? Aku tidak tega melihat nya seperti itu. " Ujar Bora
Jisoo memeluk Bora " Tenanglah! Yuna adalah gadis yang kuat. "
" Aku menyambut nya namun tiba-tiba saja bibi ku memaki dan berteriak padaku. Dia berkata jika aku adalah anak pembawa sial, aku membuat keluarganya hancur dan penyebab sepupu jatuh sakit hingga diambang kematian. Bibi juga berkata jika kecelakaan yang menimpa kedua orang tua ku adalah karena diriku, dan nenek tersayang ku juga pergi karena diriku. "
Tubuh L kembali bergerak dan kini air mata nya keluar.
" Aku berlutut meminta maaf pada nya, namun bibi masih berteriak padaku dan membenturkan kepala ku ke badan mobil. Dibawah guyuran hujan aku menangis dan terus memohon maaf padanya, rasa sakit yang ku rasakan karena kepala yang dibenturkan oleh bibi ku tak ku indahkan bahwa sama sekali tak kurasakan. Aku hanya merasa jika semua yang diucapkan oleh bibi ku ada benarnya. Semua orang yang ku sayangi pada akhirnya pergi meninggalkan aku. "
" Setelah kepergian Bibi ku, aku berjalan masuk ke dalam rumah membawa sisa bunga yang sudah tidak berbentuk, meski keadaan ku seperti itu aku tidak akan tega meninggalkan buket pemberian paman tergeletak di tanah yang kotor. Hati ku hancur dan aku sangat merasa bersalah, memang benar jika aku tidak datang ke rumah paman, mungkin sepupu tidak akan dikirim ke akademi Kepolisian dan tidak akan sekarat seperti saat ini. Hati ku hancur dan aku merasa sudah tidak ada gunanya aku hidup jika keberadaan ku hanya membuat orang lain menderita."
" Aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi, memikirkan kedua orang tua ku, nenek ku, dan kini sepupu. Aku berjalan menuju halaman belakang dan terjatuh di sana, dibawah guyuran hujan kutatap Danau yang membentang luar dibelakang rumah ku. Aku melihat ayah, ibu, dan nenek melambaikan tangan padaku. Mereka menghampiri ku dan mengajakku ketempat yang sangat indah. "
" Tapi tiba tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku, aku ingin pergi bersama kedua orang tua ku dan nenek. Tapi suara itu terus terngiang di Kepala ku hingga aku kehilangan kedua orang tua ku dan nenek ku. Aku menangis dan berteriak memanggil mereka. Ternyata suara yang memanggil ku adalah bibi ku. "
Tubuh L mulai bergerak dengan gelisah saat menceritakan tentang bibi nya.
" Bibi bilang aku pembawa sial dan harusnya aku yang sakit dan aku yang mati. "
" Aku... aku... aku adalah anak pembawa sial dan aku harusnya mati. Jika aku pergi dari dunia ini mungkin aku bisa bersama ayah, ibu, dan nenek ku. "L mulai merancu
" Aku.. aku... aku ingin mati dan hidup bersama mereka! Aku pembawa sial dan aku ingin mat! " L berteriak membuat dokter Cha panik begitu juga Bora dan lainnya.
"Yuna tenang. Dengar suara ku dan kembali lah! "
" Tidak... aku minta maaf bibi.. aku salah."
L meronta ronta dan tangannya bergerak mencekik lehernya sendiri dengan sekuat tenaga.
Bora, Jisoo, dan Sun-woo kaget. Mereka serentak berdiri dan berlari masuk kedalam ruangan membantu dokter Cha melepaskan tangan L dari lehernya sendiri.
" Yuna! Sadarlah! " Teriak Bora.
Dokter Cha dan Sun-woo berusaha keras melepaskan tangan L dari lehernya.Keduanya terlihat kesusahan meski dokter Cha dan Sun-woo adalah orang dewasa. Sedangkan Jisoo dan Bora memegang badan L dan terus memanggil nama L agar tersadar.
Cukup lama hingga dokter Cha dan Sun-woo berhasil melepaskan tangan Allah dari lehernya sendiri.
Semua orang tampak kelelahan dan Bora menangis sembari memeluk L yang sudah tak sadarkan diri.