
Chacha masuk kedalam apartemen dengan hati gembira, ia kembali ke kamarnya bersama Wulan meskipun sempat bertengkar hebat tapi Chacha tetap kembali kesana, Wulan tak peduli lagi mau Chacha kembali atau tidak karena ia sudah lelah menasehati nya.
Chacha masuk ke dalam dan melihat Wulan tengah mengambil minuman didapur, mereka tak saling sapa.
" Meskipun kau tak menganggap ku ada setidaknya ingat untuk mengembalikan uang yang kau pinjam, untung saja pacarku begitu pengertian sehingga kami tak jadi putus tapi aku tetap akan menagih uang yang kau pinjam darinya! " Ujar Wulan ketus.
" Tenang saja aku akan mengembalikan uang itu beserta bunga nya lagi pula aku sekarang sudah punya banyak uang dan tidak akan meminjam pada kalian lagi, mungkin saja roda akan berputar di mana kalian yang akan meminjam uang padaku nanti." Jawab Chacha tak kalah ketus, ia masuk kedalam kamar dengan membanting pintu kamar nya.
Wulan menghela nafasnya dengan kesal atas kelakuan sahabat nya itu, tak berapa lama ponselnya berbunyi. Chacha telah mengirimkan semua uang yang pernah ia pinjam beserta uang yang ia pinjam pada kekasihnya. Wulan kaget dan menaruh curiga darimana Chacha mendapatkan uang sebanyak itu. Ia menaruh gelas miliknya dan bergegas masuk ke kamar Chacha.
" Darimana kau mendapatkan uang itu? " Tanya Wulan.
Chacha mendengus " Bukankah aku sudah mengembalikan semua uang milik mu dan juga pacarmu? Tak usah banyak tanya dimana aku mendapatkan uang itu! Lagipula yang penting kan aku sudah melunasi hutang ku jadi tak usah banyak tanya dan pergi dari kamarku! " Ujar Chacha sembari mengambil handuk dan masuk kekamar mandi tanpa menghiraukan Wulan.
Wulan terpaksa keluar dari kamar Chacha. Meskipun begitu pikiran nya tidak tenang, uang yang dipinjam Chacha pada nya dan juga pacar nya tidaklah sedikit bagi mereka yang seorang mahasiswa yang mengandalkan beasiswa. Wulan tahu dimana Chacha magang dan bekerja paruh waktu tak mungkin gaji yang diterima nya bisa melunasi hutang nya. Tiba-tiba pikiran negatif menyelimuti.
Darimana ia mendapat uang sebanyak itu? Apa dia punya pacar baru yang kaya? Atau dia mendapatkan pekerjaan yang tidak benar? Batin Wulan.
Malam itu Wulan hendak mentransfer uang tersebut ke pacarnya tapi ia ragu ragu, akhirnya ia mengurung kan hal itu dan berbicara pada pacarnya. Pacar Wulan pun setuju agar menunggu beberapa saat dan mencari tahu darimana asal uang tersebut, mereka takut Chacha mendapatkan uang tersebut dengan cara yang tidak benar.
****
L sedang duduk bersama Jisoo diruang makan , mereka tengah sarapan bersama sementara Bora masih ada di kamarnya.
" Selamat pagi semua nya. " Sapa Bora
" Pagi sayang. " Jisoo membalas sapaan Bora dan menerima ciuman di pipi nya.
Bora berjalan kearah L dan melakukan hal yang sama yaitu mencium pipinya " Pagi juga Kak. " Jawab L
" Pak Im tolong ambilkan sarapan ku! Aku harus berangkat sekarang! "
" Baik Nona. " Pak Im mengambil kotak bekal dan menyerahkan pada Bora.
" Kakak tidak sarapan dirumah? " Tanya L
" Kurang tiga hari lagi perusahaan akan melaunching pakaian edisi musim panas dan juga acara fashion show, pekerjaan ku semakin banyak dengan mengecek semua persiapan, aku tak ingin ada kesalahan jadi aku harus pergi sekarang. Dan nanti jangan lupa datang setelah jam kuliah mu selesai ya! "
" Aku datang lagi? " Tanya L heran karena beberapa hari ini ia terus saja disuruh ke perusahaan untuk membantu pekerjaan Bora.
" Tentu saja! "
" Kan semua sudah selesai, aku juga sudah memperbaiki semua rancangan yang akan dipakai pada acara fashion show nanti untuk apa datang lagi? "
" Pokoknya kau harus membantu ku sampai tuntas sampai lauching baju dan fashion show itu selesai. " Ujar Bora kekeh.
L menghela nafas pelan " Iya baiklah. "
" Terimakasih adik, kalau begitu aku berangkat dulu. sayang sampai jumpa, nanti makan siang kau harus datang ke kantor ku ya! " Ujar Bora pada suaminya.
" Baik ratu. " Jawab Jisoo patuh, L tersenyum mendengar jawaban Kakaknya itu.
Setelah kepergian Bora, Jisoo dan L pun berangkat ke kampus. Di jalan L terlihat tenang dengan memegang bukunya.
" Apa hari ini ada ujian? " Tanya Jisoo
" Iya kemarin Pak Kim memberitahu bahwa hari ini akan diadakan ujian dadakan darinya. " Jawab L tanpa menurunkan bukunya.
Jisoo sebenarnya sedikit heran karena selama kuliah L jarang sekali belajar seperti itu, apalagi memegang buku dan terlihat serius.
" Kau serius sekali memang materi yang akan diujikan oleh Pak Kim apa? "
" Emm sepertinya sejarah perkembangan seni di Eropa terutama Yunani dan Romawi! " Masih fokus dengan bukunya.
" Sepertinya?Kenapa nada bicara mu terkesan tidak yakin? Jika tidak yakin lalu buku yang sedang kau pegang dan baca itu apa? "
" Hah. " L akhirnya menurunkan buku miliknya dan menatap Jisoo dengan kesal " Kakak pagi-pagi sudah cerewet aku tidak bisa konsentrasi. Aku memang tidak yakin dengan materi ujian nanti, dan sekarang aku sedang baca buku komik. " Jawab L yang menutup bukunya yang ternyata adalah buku komik bukan buku pelajaran dengan raut wajah masih kesal, ia merasa terganggu karena daritadi Jisoo menanyai nya.
Jisoo tak bisa berkata-kata lagi saat L mengatakan hal itu, ia segera menutup mulutnya dan fokus menyetir. Ia terkadang masih lupa kalau L ini adalah gadis remaja berumur 14 tahun yang sangat jenius, tapi ia lupa kalau sifatnya masih seperti remaja pada umumnya menyukai hal-hal hiburan seperti buku komik.
Mobil sampai di parkiran, L segera turun dan pamit menuju gedung fakultas nya.
Dijalan ia kembali membuka buku komiknya dan fokus membaca sambil berjalan. Dari kemarin malam ia memang sedang suka membaca komik sehingga dimana pun ia berada ia kan selalu membawa buku komiknya.
" Yuna! " Yuna dan Jungki memanggilnya dari arah belakang, tapi karena terlalu fokus membaca L jadi tak mendengar panggilan mereka.
" Sepertinya dia mendapatkan mainan baru sampai sampai tak mendengar panggilan kita. " Ujar Jungki yang mendapatkan anggukan oleh Yura.
Cekrik
Cekrik
Cekrik
Bunyi jepretan foto membuat L berhenti padahal sedari tadi banyak orang lalu lalang dan juga panggilan Yura dan Jungki tak ia dengar. Aneh jika langsung mengedarkan pandangan nya ke sekeliling.
" Hei Yuna. " Yura memegang bahu L
" Dari tadi kami panggil tak mendengar apalagi menoleh tapi tiba-tiba saja berhenti berjalan dan melihat sekeliling memegang apa yang menarik perhatian mu? " Tanya Jungki
" Aku seperti mendengar suara jepretan kamera. "
Yura dan Jungki langsung ikut mendengarkan pandangan.
" Dimana? " Tanya Yura " Aku tak melihat orang membawa kamera. "
" Mungkin hanya perasaan ku saja. Ayo kita ke kelas! Jangan sampai kita terlambat sebelum Pak Kim datang. " Ujar L
Yura dan Jungki langsung bergelantungan manja pada L, meraih kedua lengannya dan tersenyum semanis mungkin.
L menyipitkan mata mengerti maksud keduanya " Ada apa dengan kalian? " Pura pura tidak tahu.
" L yang baik hati, cantik, tidak sombong dan rajin menabung bantu kami nanti ya! " Ujar Yura
" Aku belum belajar. Lihat! Aku bahkan sedang asik membaca komik terbaru yang kudapatkan dari Kak D.O." Jawab L
" Hah kau bagaimana sih Pak Kim kan sangat galak dan mata kuliah nya sangat susah jika kita gagal dalam ujian tidak ada perbaikan nilai kita langsung disuruh mengulang jika nilai kita dibawah standar. " Jelas Jungki ia nampak khawatir.
" Kalian sudah belajar? " Tanya L santai
Keduanya mengangguk " Kalau begitu kalian yang memberikan ku contekan ya, aku sedang seru serunya membaca komik jadi belum sempat belajar." Ujar L dan berjalan meninggalkan keduanya yang tengah bengong.
Beberapa saat kemudian mereka sudah masuk kedalam kelas, Pak Kim datang tepat pukul 9. Tanpa babibu ia langsung menyerah kertas ujian dan memberi waktu dua jam pada semuanya untuk mengerjakan.
Hening tak ada suara saat 30 menit ujian dimulai, semua tampak tenang dan tak ada yang bersuara ataupun gerakan. Yura, L, dan Jungki dibarisan belakang juga masih terlihat tenang. Satu jam kemudian mulai ada pergerakan dari siswanya.
Yura dan Jungki terlihat mulai gelisah melihat soal ujian yang mereka anggap sulit, mereka melirik L yang belum sampai setengah mengerjakan soalnya nya.
" Yuna." Panggil Yura lirih
L menoleh ke arah Yura lalu mengisyaratkan agar jangan berisik.
30 menit lagi waktu akan habis, Yura dan Jungki semakin cemas. Lalu kaki mereka di tendang oleh L keduanya langsung menoleh dan tersenyum lebar.
L sudah selesai mengerjakan lalu memberikan contekan pada Yura dan Jungki hingga akhirnya mereka berhasil mengisi lembar jawaban yang kosong berkah bantuan L.
Selesai ujian Yura langsung memeluk tubuh L.
" Terimakasih Yuna kau penyelamatan ku. " Ucap Yura penuh haru.
Meskipun L sangat pintar ia tak sombong, ia juga tak serta merta langsung memberikan contekan pada dua sahabatnya itu. Ia sengaja menunggu keduanya mengerjakan soal semampu mereka, setelah Yura dan Jungki selesai mengerjakan soal yang mereka bisa barulah L akan membantu memberikan jawaban yang tidak mereka ketahui.
" Ah akhirnya selesai semoga nilaiku tidak turun, karena hari ini dewi kita telah membantu kita bagaimana kalau kita mentraktir nya dengan membelikan nya cemilan. " Ujar Jungki dengan semangat
" Hanya cemilan? " L menatap tidak percaya
" Jam makan siang kan masih lama lagipula kita masih ada satu kelas lagi jadi kita belikan cemilan dulu ya, bagaimana kalau es krim? " Tawar Yura.
" Rugi donk aku. Tapi kalau ek krim nya tiga aku mau. " Jawab L sambil menunjukkan gigi putih nya
" Iya tuan putri kami belikan tiga. "
" Makan siang kalian traktir juga kan. " Sahut L tiba-tiba saat Jungki membayar es krim nya
" Kenapa tidak sekalian makan malam dan sarapan untuk besok nya!" Jawab Yura
" Boleh kah? "
" Kau mau memeras kami ya. "
" Hahahaha. Aku hanya bercanda. "
" Pulang nanti kau ikut jalan jalan tidak ke mall bersama kami? " Tanya Yura
" Aku tidak bisa, pulang kuliah nanti aku harus ke perusahaan kakak ku bersama Kak Jisoo. "
" Sepertinya beberapa hari terakhir kau selalu kesana. " Ujar Jungki
" Iya benar, kakak ku sedang sibuk mempersiapkan launching untuk pakaian edisi musim panas aku disuruh membantu nya. "
" Wah perusahaan kakak mu Bellin itu kan? Aku menyukai koleksi pakaian mereka. "
" Iya benar. "
" Lalu apa yang kau lakukan untuk membantu kakak mu? " Tanya Jungki
" Hanya membantu melihat hasil rancangan dan meminta pendapat ku, itu saja. " L tidak mengatakan bahwa ia juga disuruh untuk ikut menggambarkan desain.
" Apa kah bagus bagus? "
" Tentu saja, perusahaan kakak ku kan mempekerjakan desainer desainer profesional, mereka memproduksi pakaian yang cantik cantik sampai aku ingin membawa pulang semuanya. " Kilah
Mata Yura terlihat berbinar, ia salah satu wanita yang menyukai brand dari perusahaan itu.