
Selesai mengangkat telpon dari Jimin L berbalik hendak kembali masuk ke dalam kantin, tapi saat ia berbalik rombongan senior termasuk Deok Hwa baru saja keluar. Daripada berpapasan dengan mereka, L memilih pergi ke kelasnya.
Dikelas Yura dan Jungki sudah bergabung dengan L.
" Kenapa kau tidak kembali ke kantin? Kami sudah menunggu mu tadi. " Ujar Yura duduk si samping L
" Maaf tadi aku hendak masuk kembali ke dalam kantin usai menerima telpon, namun ada senior Deok Hwa dan lainnya keluar dari kantin. Aku tidak mau berpapasan dengan mereka, takut membuat masalah jadinya aku memilih kembali saja ke kelas. " Jawab L
Yura dan Jungki mengangguk paham.
Tiba-tiba sepasang tangan menggenggam erat lengan L.
" Apa benar umurmu baru 14 tahun seperti yang kau katakan saat ditanya Jae Hwi? " Tanya Yura dengan wajah penuh tanda tanya.
" Umur ku 15 bulan November nanti. " Jawab L santai
" Aku tidak menyangka kalau kau seorang jenius, jika umurmu masih sangat muda apa itu alasan mu tidak pernah hadir dalam acara perkumpulan yang diadakan senior kita? " Tanya Yura kembali
" Iya tentu saja, bukankah selalu ada acara minum minum? Aku masih di bawah umur tentu tidak boleh minum minuman beralkohol. "
" Seberapa jenius nya kau sampai di umur mu yang sekarang kau sudah bisa masuk ke Universitas ? Padahal umur mu sama dengan adikku. Tapi dia baru masuk SMA dan begitu kekanak-kanakan, aku sama sekali tidak mengira kalau kau masih semuda itu. " Sahut Jungki
" Aku tidak sepintar itu hanya saja dulu sejak kecil aku didik keras oleh orang tua ku untuk terus belajar, dan kebetulan saja otakku mudah paham dalam menerima pelajaran sehingga aku beberapa kali loncat kelas. " Jawab L sambil tersenyum
Raut wajah Yura dan Jungki menunjukan ketidakpercayaan.
" Kurasa aku tidak bisa menerima alasan itu , sepandai-pandai nya aku dan seberapa kerasnya aku belajar aku tidak pernah bisa loncat kelas, benarkan Yura? " Imbuh Jungki
" Iya Kau benar. " L kembali hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa.
Jae Hwi dan teman teman yang tadi makan siang bersama buru-buru masuk ke dalam kelas mencari L, mereka berteriak hingga membuat seisi kelas menatap mereka.
" Kim Yuna. " Panggil Jae Hwi
Saat Jae Hwi dan para pengikut nya berjalan mendekati bangku L, Dosen masuk dan memulai perkuliahan.
Jae Hwi dan lainnya pun terpaksa menjauh dan segera duduk.
L menatap Jae Hwi dengan malas, dia pasti hendak bertanya lagi tentang dirinya. L meminta tolong pada Yura dan Jungki untuk menghadang Jae Hwi setelah kelas berakhir, dia tidak mau ditanyai olehnya lagi. Lagipula dia harus ke kantor Prof. Lee jadi tidak ada waktu menanggapi ke kepoan Jae Hwi. Yura dan Jungki tentu menyanggupi.
Dua jam berlalu tanpa terasa, dosen pun sudah keluar dari kelas. L buru-buru keluar sebelum Jae Hwi menghadangnya.
" Kim Yuna. "Panggil Jae Hwi serasa berjalan hendak menyusul L.
Yura dan Jungki segera menghadang Jae Hwi di pintu keluar.
" Kau mau kemana? " Tanya Jungki
Jae Hwi menatap Jungki dengan kesal.
"Haduh apa yang sedang kalian lakukan, aku sedang buru-buru hendak bertemu dengan Yuna. " Jae Hwi berusaha menggeser tubuh Jungki namun tidak bisa.
" Berhenti mengganggu nya, dia sedang sibuk. Kedepannya jika ingin berbicara pada Yuna kau harus buat janji dulu dengan ku. " Ujar Yura
Jae Hwi mengerutkan alisnya.
" Hah sejak kapan? " Tanya Jae Hwi masih berusaha menyingkirkan Jungki
" Sejak tadi, kau tidak bisa bertanya-tanya sesuka hati apalagi mencari informasi tentang L dengan mudah. Kau harus membuat janji dulu dengan ku. " Imbuh Yura
" Apa hak mu? "
" Ini permintaan langsung dari Yuna, dia itu teman kami dan juga orang sibuk tidak ada waktu untuk main paparazi dengan mu. "
Jae Hwi yang kesal akhirnya diam, Jungki sudah tidak menghalangi pintu karena dirasa L sudah jauh dan Jae Hwi tidak mungkin bisa mengejarnya lagi.
L sesekali menengok ke belakang, namun tidak ada sosok Jae Hwi. Ia tersenyum karena berarti Yura dan Jungki berhasil membuat si wartawan kampus tidak mengejarnya.
Cukup lama ia berjalan, L sampai didepan sebuah ruangan tempat Profesor Lee berada. L mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
" Permisi. " Kata L dengan perlahan masuk kedalam ruangan.
Jimin menoleh karena dirinya sedang berada didekat pintu masuk.
Melihat ada Jimin L langsung membungkuk memberi hormat.
" Permisi saya Kim Yuna, tadi sebelumnya menerima telpon dari Pak Park untuk datang menenui Prof. Lee. " Ujar L
Jimin yang mendengar itu langsung menyambut kedatangan L.
L menurut dan duduk di kursi yang ada didalam ruangan tersebut.
Jimin menekan tombol interkom yang terhubung langsung ke ruangan Pof. Lee. Ia mengatakan bahwa Kim Yuna sudah sampai di ruangan nya.
Profesor Lee sangat senang, ia meminta Jimin untuk segera mengantarkan L ke dalam ruangan nya.
" Kemari lah dan ikuti aku, Prof. Lee sudah menunggu mu di dalam . "
Jimin berjalan masuk kedalam ruangan yang lebih dalam, L mengikuti di belakang dan membungkuk tanda hormat saat melewati beberapa dosen yang ada didalam ruangan yang sama.
"Profesor, Kim Yuna sudah tiba." Ujar Jimin saat masuk kedalam ruangan milik Profesor Lee
" Selamat siang Profesor Lee, saya Kim Yuna. " Yuna memberi salam dan membungkuk.
Profesor Lee menyambut L dengan ramah.
" Kemari dan duduklah. " Yuna menuruti perintah
L sedikit bingung dengan sikap Profesor Lee yang sangat ramah terhadap nya, ia juga penasaran dengan maksud dipanggil nya ia ke ruangan itu.
L sudah melepas masker sebelum masuk ke ruangan Profesor Lee.
" Permisi Profesor, ada perlu apa saya dipanggil?" Tanya L hati-hati
" Lihat Jimin, aku tidak mengira kalau di Jurusan ku ada murid yang masih sangat imut dan muda, bukankah dia seperti anakku yang baru masuk SMA? " Ujar Profesor Lee
Jimin mengangguk setuju, sementara L bingung karena Profesor Lee tidak menjawab pertanyaan nya.
" Aku bahkan tidak percaya bahwa nilai tertinggi ujian masuk universitas dipegang olehnya, beruntung sekali dia masuk kejuruan kita. " Kata Profesor Lee lagi.
" Benar Profesor. " Sahut Jimin
L masih menampilkan wajah kebingungan.
" Kau pasti bingung ya dengan apa yang kukatakan, tenang saja aku memanggil mu karena penasaran dengan mu, kata asisten ku. " Mengarah pada Jimin " Di jurusan ku ada mahasiswa baru yang mendapat nilai tertinggi , dan yang kudengar ia adalah adik dari Profesor Kim jisoo, apa benar? "
" Benar Profesor. " Jawab L
" Tidak usah tegang, aku memanggil mu bukan untuk memarahi mu. " Ujar Profesor Lee
L membalas dengan senyuman yang canggung.
" Beruntung sekali Profesor Kim mempunyai adik sepintar dirimu, aku tidak kaget karena memang sejak dia masuk ke kampus ini namanya sangat terkenal, dia memang sangat pintar, apalagi setelah berhasil menjadi Profesor di usianya yang masih muda. Kakak nya saja pintar pastilah adiknya pintar, tapi aku tak mengira kalau adiknya akan sepintar itu, kau seorang jenius. " Kata Profesor Lee dengan tersenyum.
Profesor Lee memberi isyarat pada Jimin, Jimin mengerti dan segera memperlihatkan sesuatu dari tablet yang dipegang nya pada L.
" Apa ini lukisan ini hasil karya mu? " Tanya Jimin.
L melihat Foto lukisan miliknya di layar tablet milik Jimin , ia segera mengangguk.
" Kau yakin? " Tanya Profesor Lee memastikan.
" Iya benar Profesor. "
" Bagaimana bisa kau melukis nya? " Tanya Profesor Lee kembali.
L bingung dengan Pertanyaan Profesor.
" Saya menggunakan kuas dan cat minyak untuk menorehkan imajinasi saya diatas kanvas. " Jawab L dengan polosnya.
Pernyataan tersebut membuat Profesor Lee dan Jimin langsung tertawa.
" Ya ampun kau dengar kan Jimin, cara dia menjawab sudah sama persis dengan anak ku. Hahahaha. " Jimin setuju dengan pendapat Profesor Lee.
" Aku sejenak ragu dengan predikat nilai tertinggi yang kau miliki, tapi itu tidak penting. Baiklah kita abaikan semua basa basi nya, aku memanggil mu karena karya milik mu lolos seleksi tahap selanjutnya dari tim pengamat seni perwakilan dari Museum Baru. "
L yang mendengar hal itu langsung berjingkrak dan bersorak, ia tak menyangka lukisannya bisa lolos.
L tidak menyadari tingkahnya yang lucu itu, tengah ditatap oleh Profesor Lee dan Jimin.
Sedangkan Profesor Lee dan Jimin hanya tersenyum melihat L sedang gembira layaknya gadis remaja mendapatkan uang saku berlebih atau jam pelajaran kosong karena guru tidak masuk ke kelas mereka.
" Hore, Bora, ayah, Kak Jisoo aku berhasil. " L masih berjingkrak jingkrak didepan Profesor Lee dan Jimin.
Tapi beberapa menit kemudian ia melirik ke sekeliling dan baru sadar ia masih ada di ruangan Profesor Lee.
L melihat Profesor Lee dan Jimin tengah tersenyum ke arah nya. L panik langsung menyembunyikan wajah dibalik telapak tangannya dan membungkuk minta maaf. Ia benar-benar sangat malu.