
Menjelang malam Mas Hari pulang kerumahnya, sepeninggalan Mas Hari, L termenung. Sebenarnya ia masih memikirkan masalahnya, ia hanya berusaha tertawa agar Mas Hari tidak lagi khawatir.
L berdiri cukup lama di balkon sambil memandang kosong keluar jendela, hujan, kabut, dan udara dingin menjadi pemandangan nya, tapi seolah bukan itu yang sedang ia lihat.
Dan ia pun mengenang masa lalunya.
flashback
Dua tahun yang lalu
Setelah neneknya L meninggal, keluarga Paman Andrea segera datang dan mengurus pemakaman. Paman Andrea, Bibi Ellen, dan sepupunya Yoga adalah satu satunya keluarga nya sekarang.
Pamannya lalu mengajak L untuk tinggal bersama keluarganya, lagipula L sudah tidak punya siapa-siapa lagi didesa, meskipun ada Pak Anwar yang kala itu mau merawat L, pamannya menolak.
Dengan berat hati L pun meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu, sebenarnya enggan untuk meninggalkan rumah itu namun melihat pamannya begitu perhatian dan menyayanginya L akhirnya mau ikut bersama mereka. Dan keputusan itu disesali L hingga saat ini.
Berkendara selama hampir 9 jam, akhirnya L sampai di sebuah kota kecil nan tenang. Meskipun kota kecil namun kota itu sangat terkenal karena disana terdapat sebuah pabrik gula terbesar di Indonesia, disana pun banyak terdapat perkebunan tebu, ada pula hasil lautnya terutama bandeng , dan ada 2 pabrik dari dua perusahaan ternama juga berdiri disana.
Bibi dan sepupunya masuk terlebih dahulu, sementara L dipapah pamannya berjalan masuk ke sebuah rumah yang cukup besar, pamannya mengantarkan L sampai depan pintu yang akan jadi kamarnya begitu dibuka, L terkejut karena kamar tersebut sangat bagus, catnya berwarna pink warna kesukaan nya, segala isi dan pernak-pernik didalam kamar tersebut khusus untuk perempuan, seperti dibuat khusus untuk dirinya.
" Paman kamarnya cantik sekali. " kata L terharu
" Iya tentu saja, paman siapkan khusus untukmu, kau suka? " Dan L mengangguk
" Mandi dan beristirahat lah, mulai sekarang kau bagian keluarga ini, jadi jangan malu-malu jika kau butuh sesuatu. " Kata pamannya sambil mengelus Kepala L. L tersenyum.
Paman dan bibinya berprofesi sebagai Guru SMP, Bibinya menjadi guru Seni Budaya di SMP yang lumayan jauh dari rumah, sementara Pamannya Guru Bahasa Daerah dimana SMP tempatnya mengajar ada didekat rumah, tepatnya sebrang jalan dari rumahnya. Sementara Yoga baru lulus SMA dan akan masuk ke Akademi Kepolisian.
Selesai sarapan, tiap anggota keluarga tersebut mulai melakukan aktivitas nya masing-masing, Bibinya lebih dulu berangkat karena tempat kerjanya yang lumayan jauh, sepupunya pun berangkat untuk pelatih fisik sebelum masuk ke akademi, sementara pamannya masih ada dirumah, ia meminta L menunjukkan rapot nya, karena sebentar lagi pamannya akan mendaftarkan L ke SMA.
" Elis coba lihat rapot kamu. "
L yang telah selesai membersihkan meja langsung kekamar dan mengambil rapot nya. Ekpresi pamannya kalau itu langsung tersenyum tanpa bersuara.
" L nilai kamu bagus sekali, memang dari dulu anak yang pandai ya nak, paman bangga padamu. " mengelus kepada L. L tersenyum malu
" Kamu tau L, paman dari dulu ingin sekali punya anak perempuan yang cantik dan pintar seperti kamu, namun karena bibi kamu tidak bisa punya anak lagi paman harus rela dan tetap bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Paman bahagia kamu bisa tinggal disini bersama paman, kau mau kan jadi anak perempuan paman? "
L mengangguk dan tersenyum " Paman jangan bersedih, Elis sudah ada disini dan akan berusaha menjadi anak perempuan yang baik untuk paman dan Bibi, kalian adalah orang tua Elis sekarang. " kata Elis sambil memeluk Pamannya. Pamannya tersenyum penuh arti
" Benarkah? terimakasih nak, dari dulu sebenarnya paman ingin sekali Yoga masuk sekolah kedokteran, atau menjadi PNS seperti paman dan bibi, tapi anak itu sangat susah untuk disuruh belajar, jika nilai non akademik nya tinggi, maka nilai akademiknya akan selalu berada dibawah rata-rata." Melihat pamannya bersedih L pun menghibur nya
" Tenang saja paman kan ada Elis, jika Mas Yoga tidak bisa memenuhi harapan paman, Elis yang akan berusaha memenuhi nya, jadi paman jangan bersedih lagi. "
" Terimakasih Nak, paman selalu iri pada teman teman paman yang mempunyai anak perempuan, mereka selalu bisa mengerti apa yang orang tua inginkan, berbeda sekali dengan Yoga, ia selalu saja bermain dan tidak mau belajar, untung saja dia masih punya kelebihan dibidang non akademik sehingga ia bisa masuk ke akademi Kepolisian, jika tidak mau jadi apa dia nanti."
Pamannya mengambil rapot L dan menyimpan nya " Paman akan membuat mu menjadi seorang dokter yang sukses dan hebat, bukankah menjadi dokter adalah sebuah cita cita yang keren? "
L kala itu tidak terlalu memikirkan ucapan pamannya, yang terpenting ia bisa membuat pamannya bangga dan bahagia, L juga belum terlalu memikirkan ingin jadi apa setelah dewasa kelak.