All About You "L"

All About You "L"
Tidak datang



Diam dan termenung tanpa dirasa hari sudah mulai gelap, L berjalan ke ruang lukisnya, ia menatap lukisan miliknya yang belum jadi, ditemani suara hujan L mulai menggoyangkan kuas diatas kanvas. Banyak perkerjaan rumah yang ia tinggal sejak liburan ke Jogja,paket dan barang-barang yang ia beli juga masih tergeletak di kamar depan, saat ini ia hanya ingin kembali menenangkan hatinya dengan melukis, urusan lain bisa ia kerjaan nanti.


Dua hari yang ditentukan pamannya akhirnya tiba, sejak pagi Hari sudah ada dirumah L, berjaga-jaga jika sewaktu waktu pamannya datang dan menyeretnya dari sana. Pak Anwar dan Bu Lilis menyusul saat sore. Pak Anwar dan Bu Lilis tentu saja akan membantu berbicara pada paman Andrea mengenai masalah L.


" Jadi jam berapa Paman mu datang L? " tanya Pak Anwar yang sedang duduk diruang tengah bersama L, Hari, dan Bu Lilis


" Elis tidak tahu pak, Paman kemarin hanya bicara pada Elis kalo dua hari lagi ia akan datang dan menjemput Elis. " jawab dengan raut wajah yang sedih " Paman tidak bicara akan datang pukul berapa. "


" Ya sudah tenang saja, kami akan disini sampai nanti malam, sampai pamanmu datang, kami akan membantu mu dan membicarakan keinginan mu yang tak ingin pergi bersama nya. " Kata Pak Anwar bijak


" Terimakasih Pak. "


Waktu berlalu hingga petang berganti malam, paman L belum juga kelihatan, sesekali L mengamati layar ponsel dan menelpon pamannya, namun ketika ia menelpon nomer tersebut, malah sudah tidak aktif lagi.


" Bagaimana L? " tanya Hari


" Ga tau mas, nomer paman malah tidak aktif dan pesan ku juga tidak terkirim. "


" Tidak mungkin, paman Andrea memang sudah tua dan terkadang lupa akan sesuatu, tapi dirinya selalu mencatat dan menandainya dengan memasang alarm di ponselnya, sehingga jika ingin lupa, ponselnya akan berbunyi karena alarm nya mengingatkannya. "


" Tapi ini sudah pukul sebelas malam, masa iya ia datang kemari lalu tiba-tiba menyeret mu di tengah malam seperti itu. " kata Bu Lilis menambahkan.


Sejenak L tampak berfikir, yang dikatakan oleh Bu Lilis ada benarnya juga, ada perasaan lega jika memang pamannya lupa akan perkataan nya kemarin, namun ia jadi merasa khawatir karena jika begitu berarti Pak Anwar , Bu Lilis, dan Hari harus pulang dan meninggalkan L sendirian dirumah. Sejak kepulangannya ke rumah ini dan tinggal sendirian, baru kali ini L merasa takut. Bukan karena hantu atau apa, ia merasa khawatir jika nanti tiba-tiba pamannya datang setelah Pak Anwar pulang dan L benar-benar ditarik untuk mengikuti nya, membayangkan saja membuat L jadi takut sendiri.


Melihat raut wajah L yang penuh kegelisahan, Hari pun mengerti apa yang ada dipikiran L.


" Bapak, ibu pulang saja, seperti nya pamannya Elis tidak akan datang hari ini, tapi biarkan Hari tidur disini menemani Elis dan menjaganya. L pasti merasa khawatir dirumah sendirian. " kata Hari pada orang tuanya.


Hari yang memang sering menginap dirumah L tentu mengijinkan. Pak Anwar dan Bu Lilis pun pamit pada L dan akan kembali besok sore. Usai mencium punggung tangan Pak Anwar dan Bu Lilis, keduanya pun masuk rumah setelah melihat mobil yang dinaiki orang tua Hari keluar dan berjalan menjauhi rumah mungil itu.


Malam semakin pekat, Hari menyuruh L untuk pindah dan tidur dikamarnya, sementara dirinya sedang asik nonton bola.


L berbaring dan ada perasaan lega, selain ada Hari yang menemani nya dirumah, ketidak datangan paman Andrea juga seakan membuat beban dipundak L sirna.