
Waktu untuk berpelukan telah usai, L harus menyiapkan diri untuk menempuh kehidupan barunya di Korea.
" Baiklah ini sekarang menjadi kamarmu, apa kau suka?" memperlihatkan kamar yang luas dengan cat warna merah muda yang mendominasi dan berbagai furnitur serta pernak-pernik khas kamar remaja perempuan.
L yang baru sadar langsung tertegun, ia tidak menyangka kamarnya begitu besar, mungkin 3/4 kali dari kamarnya yang dulu, disana ada kasur berukuran super, meja rias lengkap dengan berbagai kosmetik yang terlihat mahal dan semua fasilitas yang begitu lengkap, dibalik salah satu dindingnya bahkan bisa dibuka dan di sana ada ruang belajar yang telah tersusun rapi lengkap berbagai macam komputer, alat lukis dan cat air.
Bora menuntun L dan memperlihatkan isi didalam walk in closet nya, pakaian berbagai model sudah ada disana tersusun dengan rapi, begitu juga tas, sepatu, dan aksesoris yang lain.
" Kakak mau buka toko didalam rumah? "
Bora memicingkan matanya " kau tau ini apa kan? "
" Iya tau tapi untuk apa pakaian sebanyak ini? jangan bilang ini semua pakaian ku? "
Jisoo yang asik memandang langsung mendekat dan berkata " tentu saja ini milikmu, mana mungkin itu pakaian istriku, semua pakaian disini berukuran S tidak akan ada yang muat. " Big3 yang mendengar itu seketika langsung tertawa
" Kau benar kak, bagi Bora semua pakaian itu bagaikan pakaian bayi. " imbuh D.O yang menambah suasana semakin riuh. Mereka tidak melihat kalau seseorang sudah memperlihatkan tanduk merahnya dan siap menyeruduk siapa saja, orang itu adalah Bora.
Shin dan Jaehyun yang sadar langsung menarik Jisoo dan D.O untuk kabur.
" Dasar kurang ajar, sepertinya akhir akhir ini aku terlalu baik dengan mereka, lihat saja nanti. " Bora sudah mengepal tangannya dengan erat
" Bora jangan marah, mereka hanya bercanda. "
" hemmmm. "
Bora mengambil beberapa pakaian dan menyuruh L mandi dan mengganti pakaian nya. Ia juga akan kembali kekamar nya untuk membersihkan diri.
" Bersihkan dirimu, aku juga akan kembali kekamar ku terlebih dahulu, nanti saat jam makan siang aku akan datang lagi menemanimu. "
Saat hendak pergi, L berlari dan memeluk Bora sambil mengucapkan terimakasih.
" Terimakasih kak, aku berjanji akan menjadi adik yang baik untuk mu. "
" Hei tak perlu menjadi apapun, kau hanya harus terus bahagia. " Bora keluar dari kamar L dan menutupnya.
L segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, ia merasa badannya sangat lengket dan merasa seperti sudah tidak mandi selama berhari-hari.
Bora turun dan bergabung dengan suami, ayah, dan big3.
" Bagaimana keadaan nya? " tanya tuan Kim
" Bagaimana rencana mu selanjutnya untuk Yuna?"
Bora terlihat bingung, ia menatap suaminya.
" Hemm sudah kuduga, kau ini pasti belum memiliki rencana apapun terhadap nya, iya kan? "
" Ayah bukan begitu, L baru saja sembuh dan dirinya juga perlu beradaptasi disini, ia masih takut berinteraksi dengan orang asing. "
" Baiklah ayah akan mengaturnya, tuan Yoo akan menempatkan psikiater untuk merawat secara rutin, lalu tuan Im dan Jukyung akan membantu nya beradaptasi di rumah ini, ia sekarang bagian dari keluarga Kim tentu saja harus di didik menjadi seorang putri yang bermartabat dan berpendidikan. Bicara tentang pendidikan, SMA mana yang kiranya cocok untuknya?" tanya tuan Kim pada Bora dan Jisoo
Bora, Jisoo, dan big3 saling memandang tanpa bersuara " emmm, L tidak perlu masuk SMA mana pun. "
Tuan Im datang dengan membawa teh untuk tuan Kim dan lainnya
" Apa dia belum lulus SMP? ku lihat umur nya bulan depan adalah 15."
" Bukan begitu ayah, dia sudah lulus SMA sejak tahun lalu, dan sekarang ia harus nya masuk universitas."
Tiba-tiba teh yang sedang diminum Tuan Kim disembur karena kaget dengan perkataan anak perempuan nya. Pelayan Im juga kaget karena nona barunya sudah lulus SMA.
" Apa kalian sedang bercanda dengan ayah? "
" Tentu saja tidak, dia itu anak yang sangat pandai. Ayah tenang saja biarkan L istirahat lebih dulu, kami akan membicarakan hal ini dengan L, setelah ia setuju kami hendak memasukkan dia ke Universitas tempat suamiku berkerja. " Big3 seketika langsung tersenyum penuh arti.
" Ya sudah akan ayah serahkan pada kalian berdua, ayah merasa senang dia menjadi keluarga kita sekarang, dan ayah akan menyayangi nya seperti menyayangi kalian. " Tuan Kim berdiri dan meninggal mereka untuk beristirahat.
" Terimakasih ayah. " ucap Bora
Siang hari Bora kembali ke kamar L, ia datang bersama asisten pelayan yang bernama Im Jukyung. Saat mereka masuk, L yang melihat ada orang asing yang tidak dikenalnya langsung meringkuk di tempat tidur dan menutupi dirinya.
Bora bergegas mendekati dan menenangkan nya " L tenang lah ini pelayan dirumah kita yang bernama Im Jukyung, di yang akan mengurusi mulai dari sekarang, kau jangan takut dia ini orang baik dan akan selalu menjagamu, bukalah selimut ini dan lihat wajahnya. " menarik selimut dengan perlahan
L melihat Jukyung dengan seksama, orangnya terlihat ramah dan murah senyum.
" Selamat siang nona Kim Yuna, nama saya Im Jukyung saya adalah pelayan yang bertugas melayani anda mulai dari sekarang dan seterusnya, semoga nona merasa nyaman dengan saya. " membungkuk dan berbicara formal.
L hanya mengangguk dan mulai tenang. Bora tersenyum karena sepertinya L mau menerima jukyung sebagai pelayannya, lagipula dia tidak bisa selalu menjaga L. Umur Jukyung 20 tahun, Bora memilih Jukyung menjadi pelayan L agar ia bisa menjaga sekaligus menjadi teman untuknya.