All About You "L"

All About You "L"
Kembali Diatur



L menghadap pamannya dan memberitahu kalau semua pekerjaannya telah selesai, ia berkata sambil terus menunduk. Seperti pembantu melapor pada majikannya.


" Apa sekarang kau jadi anak malas? sudah jam berapa ini kenapa baru bangun? Kau keluar dari rumah paman apa untuk jadi orang malas dan gagal seperti ini? " kata pamannya dengan sorot mata yang tajam


" Sekarang aku sudah tidak dirumah paman, kenapa aku harus bangun begitu pagi, lagipula paman yang datang tengah malam sehingga mengganggu tidurku, apa semua itu adalah salahku. " Gumam L dalam hati, ingin sekali ia mengatakan itu pada pamannya, tapi tentu saja ia tak bisa, untuk berbicara dengan menatap wajah pamannya saja ia tak berani


" Maaf kan Elis Paman. "


" Sudah berapa bulan kau dirumah? "


" Hampir 10 bulan. "


" Bagaimana kau memenuhi kebutuhan mu selama ini, kau tidak mungkin bekerja jadi pemetik teh di pabrik itu kan? "


" Tidak paman, Elis menjadi ilustrator dan novelis."


Pamannya mengerutkan dahinya tanda tak suka " Kau masih menggambar dan menulis tidak jelas seperti itu? apa seterusnya kau akan membuang waktumu dengan hal hal yang tidak berguna hah. " suara pamannya mulai meninggi " Berhentilah membuang-buang waktu, kau masih muda masa depan masih panjang, ikuti rencana paman dan kelak kau pasti akan jadi orang yang sukses. "


Pamannya mengeluarkan beberapa amplop coklat " Ini adalah undangan dari 10 besar universitas terkemuka di Indonesia, mereka menawarkan beasiswa penuh padamu, beberapa dari mereka juga menyediakan asrama dan biaya hidup untukmu, tinggal kau tunjuk universitas mana yang ingin kau masuki."


L hanya diam sambil meremas ujung bajunya, sementara pamannya terus saja berbicara


" Lihat, disini juga ada universitas dari Singapura dan Jepang, tapi paman tidak mengijinkan mu kuliah diluar negeri, lebih baik kau kuliah disini. " menunjukkan form pendaftaran di Universitas kota B " ambil jurusan kedokteran, dengan kepandaian mu kau pasti bisa menyelesaikannya dengan mudah. Paman juga memiliki kenalan yang bekerja di sebuah rumah sakit terkemuka di kota B, paman akan membantu mu magang disana, asalkan nilai-nilai mu baik dan memenuhinya kriteria. karena rumah sakit tersebut hanya menerima mahasiswa kedokteran dengan nilai terbaik. Jadi belajarlah mulai sekarang, berhenti melakukan hal hal yang tidak penting. Paman sudah menyusun rencana masa depanmu kau tinggal menurut saja. "


L menggigit bibir bawahnya, ingin sekali ia menolak semua itu, ia tak ingin kuliah disana, dan kenapa juga ia harus menuruti semua perkataan pamannya. Hidup nya kini memang sederhana tapi ia merasa sangat bahagia dengan semua itu.


" Bolehkah aku menolak pa-man. " kata L dengan gugup


L pun diam tak bisa berkata-kata


" Berkemas lah, 2 hari lagi paman akan datang dan mengantarkan mu ke Kota B, kau masuk ke Universitas disana saja karena beberapa kali mereka menelpon paman dan membujuk agar kau bisa masuk ke Universitas mereka, jangan menyia-nyiakan kesempatan. Tinggal masuk saja, kau bahkan tidak perlu mengikuti ujian masuk karena kau mendapat undangan jalur khusus. "


Pamannya beranjak dari tempat duduknya, ia sama sekali tidak menanyakan pendapat L tentang semua itu, ia hanya sibuk mengutarakan semua rencana itu dengan dalih untuk kesuksesan L dimasa depannya.


" Paman pulang sekarang, dan kenapa dari kemarin kau tidak mengangkat telpon paman? "


"Maaf paman, apa paman yang menelpon ku dengan nomor xxx. "


" Iya itu nomerku, lain kali simpan dan segera angkat jika aku menelpon mu. "


" Ba-baik paman. "


" Ingat yang ku katakan, mulailah berkemas dan dalam 2 hari aku akan datang kembali. "


L mengantar pamannya sampai kepintu depan, lalu ia pun pulang. L berjalan gontai seperti tak bertenaga, ia jatuh terduduk diteras rumahnya dan akhirnya mulai menangis.


Kebebasan yang dirasakan nya mungkin cukup sampai disini, 2 hari lagi ia harus hidup kembali dengan semua pengaturan dari pamannya. Ia menangis tersedu sedu, Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran pamannya, kenapa harus L yang melakukan semua itu padahal pamannya sendiri punya anak laki-laki. L terus saja menangis, ia merindukan Bora dan ingin sekali memeluknya.


Hari tiba dirumah L karena sudah sembuh, seperti biasa ia turun dari mobilnya dan membawa makanan untuk L. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah L, ia kaget karena melihat L yang tengah duduk di teras rumahnya sambil menangis, Hari pun berlari dan menghampiri nya.


" L kau kenapa? kenapa kau menangis seperti ini." L tak menjawab, ia terus menangis sambil memeluk kedua kakinya, membuat Hari semakin khawatir


" L katakanlah sesuatu. " Hari pun memeluk L dan ikut meneteskan air mata, melihat gadis yang disayanginya menangis sampai seperti itu membuat hatinya sakit, Hari lalu menggendong L dan membawanya masuk kerumah.