
L berada di perpustakaan cukup lama, tanpa ia sadari hari sudah mulai gelap. Perpustakaan yang tadi cukup ramai mulai terlihat sepi.
Cekrik cekrik cekrik
L menoleh ke sekeliling karena merasa mendengar suara orang sedang memotret.Tapi tidak ada siapa pun kecuali dirinya dan beberapa orang yang sedang sibuk dengan buku mereka. Ia tidak begitu peduli dan mengira hanya salah dengar saja. Karena sudah malam ia membereskan meja dan keluar perpustakaan untuk pulang.
Sepanjang jalan tanpa L sadari ada seseorang yang mengikuti dan memotret nya.
Orang yang berpakaian serba tertutup itu nampak tersenyum saat melihat hasil foto di kameranya.
Ia mengusap layar yang memperlihatkan foto L dengan begitu lembut seakan sayang.
Langkah orang itu terhenti karena L masuk melewati gerbang besar dengan penjagaan yang ketat, L sudah sampai di mansion nya dan para petugas keamanan yang berjaga segera membukakan pintu dan membungkuk memberi hormat. Orang itu berhenti dan tidak bisa mengikuti L lagi.
" Selamat malam Nona. " Ucap petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang.
L membalas mereka dengan membungkuk juga
" Iya selamat malam. " Jawab L dengan sopan kemudian berjalan melewati mereka.
Seperti biasa Jukyung sudah menunggu Nona nya di depan pintu rumah. Ia segera menghampiri dan menyambut L.
" Selamat datang Nona. " Ucap Jukyung begitu melihat L.
" Iya. Apa kakak ku sudah pulang? "
" Belum Nona, tapi didalam ada tuan Jisoo yang sudah pulang dari Jeju. "
" Oh benarkah? Kalau begitu ayo masuk. " L berjalan cepat melewati beberapa pelayan di rumahnya, ia tak sabar bertemu kakak lelakinya.
Kemarin sebelum pulang Jisoo sempat berjanji membelikan oleh oleh untuk nya. Usai membersihkan diri di kamar, L bergegas menuju ruang kerja kakaknya.
Tok tok tok
Suara L mengetuk pintu ruang kerja Jisoo yang juga merupakan perpustakaan kecil.
" Kak Jisoo ini Elis, bolehkah aku masuk? " Tanya L dari balik pintu.
" Tentu saja, masuk lah. " Jawab Jisoo
L masuk dan disambut oleh senyuman hangat Jisoo.
" Kakak dimana oleh-oleh ku. " Sembari menengadah kan kedua tangannya.
" Kau ini bukannya memeluk kakak mu yang baru pulang malah langsung memalakku, jahat sekali. " Ujar Jisoo pura-pura memasang wajah kesal.
L tersenyum malu kemudian memeluk Jisoo. Setelah melepas pelukan, Jisoo mengambil sebuah paper bag ukuran besar untuk L.
" Ini oleh oleh mu. " L menerima nya dengan senang hati.
" Wah terimakasih kak Jisoo. Apa isinya? " L membuka paper bag tersebut dan melihat isinya.
Ada kaos yang bertuliskan pulang jeju, boneka kecil dari batu, dan beberapa kotak persegi panjang berisi makanan mirip coklat.
" Ada kaos, Dol Hareubang, dan omegi tteok. Dol Hareubang atau patung kakek adalah patung batu yang di buat mirip kakek tua yang sedang memeluk perut. Sedangkan Omegi tteok adalah makanan khas pulau jeju , itu bukanlah coklat melainkan kue beras yang diatasnya ditaburi kacang tumbuk. Ada juga Hallabong Mandarin orange, jeruk khas yang biasa berbuah saat musim dingin di pulau jeju, jeruknya ada di dapur mungkin , tapi dibawa masuk pak Im." Ujar Jisoo.
" Wah banyak sekali kak, patung ini lucu sekali dan kue beras ini juga terlihat enak. Kalau begitu aku akan membawa semuanya ya. " Selesai mendengar penjelasan Jisoo, L langsung pergi begitu saja membawa oleh-oleh nya.
" Pak Im, kak Jukyung duduk dan makanlah kue beras ini bersama ku. " Ujar L pada pak Im, Jukyung dan beberapa pelayan yang terlihat disana.
Jukyung terlihat ragu untuk duduk bersebelahan dengan L karena itu tidak sopan, beberapa pelayan juga menolak.
" Ayo duduk dan temani aku makan, aku tidak suka makan sendirian. " Memasang wajah memelas
Karena tidak tega dan ayah nya juga mengangguk maka Jukyung dan beberapa pelayan disana akhirnya ikut duduk.
" Nah masing masing ambil satu kotak ya, ayo coba makan! Kue beras ini ternyata enak. " Para pelayan L pun menuruti keinginan Nona Mudanya.
Saat sedang menikmati kue beras tersebut, tiba-tiba pak Im ingat sesuatu.
" Nona ada barang yang saya simpan dan keliatan nya itu adalah barang yang anda kirim dari Indonesia. " Pak Im meninggalkan L dan lainnya sejenak kemudian membawa kotak kardus cukup besar
Pak Im meletakkan barang tersebut di hadapan L. L melihat kotak tersebut yang tertulis alamat pengirim nya dari sebuah toko di Jogja. Ia memicing kan matanya berusaha mengingat.
" Ah iya ini aku yang mengirimnya, isinya adalah sesuatu yang ku pesan di sebuah toko kerajinan di salah satu kota yang. " Tiba-tiba L berhenti berbicara dan berteriak sambil memegang kepalanya.
" Aaaaaagrh. "
Pak Im, Jukyung, dan pelayan yang ada disana panik melihat L yang kesakitan memegangi kepalanya.
" Nona, apa yang terjadi. " Ujar Pak Im
" Ayah kenapa Nona jadi seperti ini. "Jukyung khawatir
" Cepat panggil Tuan Muda. "
L masih berteriak sembari memegangi Kepala nya, raut wajahnya nampak menahan sakit di kepalanya. Jukyung berlari menuju ruang kerja Jisoo, sementara Pak Im dan pelayan lain berusaha menenangkan L.
Di ruang kerja, Jisoo sedang asik menelpon Bora. Tapi saat sedang berbincang dengan istrinya, tiba-tiba pintu ruangan nya dibuka oleh Jukyung tanpa diketuk terlebih dahulu.
" Maafkan saya Tuan Muda, itu Nona muda sedang berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya di ruang makan. " Jukyung berkata sambil mengatur nafasnya.
Jisoo kaget dan memutus panggilan telepon dari Bora dan bergegas menuju ruang makan. Wajah Jisoo terlihat cemas, ia berlari di ikuti Jukyung.
" Nona tenang lah, katakan pada saya apa yang yang nona rasakan. " Ucap Pak Im pelan
L terus berteriak dan menjambak rambut nya, ia akan semakin keras berteriak saat Pak Im atau pelayan lain hendak menyentuh nya. L juga melempari mereka dengan apapun yang berhasil diraih oleh tangan nya.
" Elis. " Panggil Jisoo
L tak bergeming.
" Apa yang terjadi kenapa ia jadi seperti ini? " Tanya Jisoo dengan panik. Ruang makan terlihat sudah berantakan karena L melempar berbagai benda yang ada di dekatnya.
Jisoo semakin khawatir karena ada beberapa pecahan gelas yang jatuh didekat L, ia takut pecahan kaca itu melukai nya.
" Maaf... maafkan aku... buka aku... bukan aku... " Kata L terbata-bata dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Ia mengerang kesakitan kemudian jatuh pingsan. Jisoo panik, ia segera berlari menangkap tubuh L sebelum jatuh dan mengenai pecahan kaca yang berserakan di lantai.
" Panggil dokter sekarang! " Ucap Jisoo dengan nada tinggi, Pak Im meraih ponselnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga Kim.
Sementara Jisoo mengangkat tubuh L dan membawanya ke kamar.