
Shin melirik ke arah jam di tangan nya, sudah cukup lama Jaehyun pergi dan tak kunjung kembali.
Yura dan Jungki sedang asik berbicara dengan D.O, diantara ketiganya memang D.O yang lebih banyak berbicara, tidak seperti Shin dan Jaehyun. Sedangkan Arya, ia sibuk makan.
Yura melihat ke sekeliling nampak mencari sesuatu " Apa yang sedang dilakukan oleh Yuna? Lama sekali dia tidak menyusul kemari. Kak D.O kenapa Yuna tidak lekas kemari, apa dia sedang sibuk? " Yura akhirnya memilih bertanya karena sudah lebih dari setengah jam Yuna tak kunjung menemui mereka.
D.O yang sedang bermain game bersama Jungki menoleh dan sejenak melihat ke sekeliling.
" Kau benar dimana Yuna? Kupikir dia sudah menyusul kemari." D.O juga tidak melihat Jaehyun di paviliun hanya Shin saja yang sibuk dengan laptopnya.
" Shin dimana Yuna, Jaehyun, dan Hari? " Tanya D.O pada Shin
" Aku tidak tahu. Tadi Jaehyun masuk ke dalam sekalian mencarinya tapi hingga sekarang dia tak kunjung kembali. Mungkin Bora pulang dan sedang bertemu dengan nya. "
D.O menyipitkan matanya pada Shin, seakan memberi kode.
" Oh ya sudah kita tunggu saja. " D.O langsung memberi isyarat lewat mata pada Shin.
Shin mengangguk, ia langsung mengotak atik laptopnya nya. Matanya membulat setelah melihat sesuatu yang ada pada layar laptopnya.
Shin meretas CCTV di manshion guna mencari keberadaan Yuna, Jaehyun, dan Hari. Mereka semua ada di ruang makan dengan kondisi sangat berantakan, Hari dan Jaehyun tengah memeluk Yuna yang mengamuk dan terlihat lepas kendali.
Shin buru buru mengambil ponsel dan memberi perintah pada D.O agar membuat kedua teman Yuna pulang.
D.O melirik Shin dengan penuh tanda tanya, bingung sekaligus menanyakan alasannya.
Shin mengirim pesan lagi.
"Cepat pulang kan Yura dan Jungki sekarang! Yuna kambuh. "
Mata D.O membulat, Segera ia berakting kalau kakak Yuna pulang dan akan mengajak dia pergi. D.O mengatakan jika kakak Yuna itu sangat galak dan posesif, jika sudah berkata maka ucapan nya adalah perintah.
D.O meminta maaf pada Yura dan Jungki, karena hari ini mendadak kakak Yuna pulang dan mengajaknya ke suatu tempat dan tidak bisa mengerjakan tugas. D.O memanggil seorang pelayan untuk mengantar Yura dan Jungki pulang.
Awalnya Yura dan Jungki bingung, tiba-tiba saja mereka hendak diantar pulang padahal mereka belum bertemu Yuna. Tapi karena perkataan D.O cukup menyakinkan maka mereka menurut saja, tidak bertanya lebih lanjut.
" Maaf kan aku ya Yura, Jungki. Kakak perempuan Yuna itu sangat galak, tadi aku dapat pesan dari Yuna kalo dia diajak pergi keluar bersama kakaknya, dia sudah menjelaskan bahwa kalian sedang ada disini tapi kakak nya memaksa Yuna untuk pergi bersama nya. " Ujar D.O
" Tidak apa apa Kak D.O kami mengerti, hanya saja kami tidak enak kalau pulang begitu saja tanpa berpamitan padanya. " Jawab Yura
" Tidak apa apa, Yuna baru saja memberitahu ku agar mengantar kalian pulang, dia sudah pergi dengan kakaknya. Tapi maafkan aku karena aku juga ada syuting jadi aku memerintahkan pelayan disini mengantarkan kalian. Kalian tidak keberatan bukan? "
" Tidak Kak. "
Arya sendiri masih disana karena harus menunggu Hari.
Setelah pelayan yang ditugaskan D.O mengantarkan Yura dan Jungki pergi, Shin dan D.O berlari ke dalam rumah, tepatnya ke kamar L. Arya yang tidak tahu situasi hanya mengekor di belakangbelakang mereka.
L sudah dibawa ke kamar, setelah dibersihkan dan diganti pakaian nya oleh Jukyung, Dokter dan lainnya kembali masuk.
Bora dan Jisoo juga sudah pulang dan menghampiri L yang terbaring di tempat tidur. Bora langsung memeluk dan menangis melihat kondisi adik angkat nya yang kembali seperti dulu.
" Hei sayang bangun lah, ini kakak. " Ujar Bora sambil mengelus pipi L.
Semua nampak khawatir
Jisoo bertanya bagaimana keadaan L pada dokter Cha " Bagaimana kondisi adikku paman? " Tanya Jisoo.
"Dia tidak apa apa hanya syok saja, tadi aku menyuntikkan obat bius untuk menenangkan nya. Beberapa jam lagi dia pasti akan sadar, sekarang biar kan dia istirahat tapi jangan ditinggal sendirian karena saat terbangun nanti aku takut di akan kembali menyakiti dirinya. " Ujar dokter Cha.
" Baik. Terimakasih paman. " Ucap Jisoo
Pertama Hari yang menceritakan kejadiannya, lalu Pak Im, dan Jaehyun.
Jisoo memejamkan mata.
Semua orang sedih sekaligus khawatir dengan kondisi L.
" Shin siapkan ruangan VVIP untuk Yuna, aku akan membawa Yuna ke rumah sakit sekarang! "
Shin tergagap " Se-se-sekarang? "
" Apa itu tidak terburu-buru? " Celetuk Hari.
" Lalu aku harus bagaimana Hari? "
" Kurasa kita harus membuat nya tenang terlebih dahulu, kita harus mendekati nya secara perlahan lahan dan membuatnya nyaman. Kita perlu seorang psikiater untuk menangani masalah ini, karena kulihat L begitu trauma. "
Jisoo menimang usulan Hari.
" Setelah L kehilangan kendali kurasa aku sudah tahu siapa yang menyebabkan L seperti ini. "
" Jadi siapa ? " Tanya Jaehyun tak sabar.
" Dia terus merancu dan berteriak-teriak mengucapkan kata maaf pada Bibinya. Kalian mungkin tidak mengerti karena L memakai bahasa Indonesia, tapi telinga ku jelas mendengar kata 'Bibi' di sela-sela kalimat yang keluar dari mulut L. " Ujar Hari.
" Jadi maksud mu orang yang membuat Yuna hampir mati adalah Bibi nya sendiri? " Sahut Bora dengan tidak sabar. Ada kemarahan dalam wajahnya.
" Aku tidak bisa menyimpulkan hal itu secara pasti, karena hubungan mereka tidak dekat dan setelah kepulangan nya ke desa, Elis tidak pernah berhubungan lagi dengan bibi nya. Hanya Pamannya saja yang beberapa waktu lalu datang menyuruh nya untuk kuliah di sebuah universitas di luar kota. "
" Tapi kau bilang di berulang kali memohon maaf pada bibi nya? " Imbuh Bora.
" Tunggu!" Hari berfikir sejenak.
Semua orang diam menunggu Hari.
" Saat aku menjemput kalian ke bandara, L bilang sedang ada di rumah sakit menjenguk Sepupu nya yang sakit bukan, tapi waktu itu dia tidak mengatakan hal yang mencurigakan. Dia juga mengantarkan Paman nya kesana. Bora dan aku juga sempat ber telepon dan kita tahu kondisi L baik-baik, ia berkata bahwa pada hari itu juga setelah mengantarkan paman nya ke rumah sakit ia akan langsung pulang dan menunggu kita. Diwaktu tersebut lah kita kehilangan kabar darinya. Dia tak membahas apapun mengenai pertemuan nya dengan bibi nya, jadi bisa ku simpulkan bahwa L ke rumah sakit dan menjenguk sepupu nya saat bibi nya tidak ada. "
" Tapi aku juga yakin kalau L juga bertemu dengan Bibi nya walaupun tidak dirumah sakit. Jika dia bertemu dengan bibinya dirumah sakit, dia pasti akan langsung gugup dan merasa takut. Hal itu tidak kurasakan saat ber telepon dengan nya. Suara L pasti akan bergetar jika dia merasa takut atau gugup. "
Hari mengutarakan pendapat nya.
Bora kembali menatap wajah L yang pucat bagai tak teraliri darah. Ia mengusap ngusap wajahnya dengan sayang.
" Apa yang harus ku lakukan untuk mu Yuna. "Bora kembali memeluk tubuh L.
Semua orang yang berada di kamar menatap dengan sendu, mereka merasakan hal yang sama dengan Bora.
Efek obat bius membuat L tertidur dengan pulas, satu persatu orang keluar dari kamar L. Membiarkan L untuk beristirahat, Bora tadinya tetap berada di kamar untuk menjaga L namun karena nanti malam akan ada Sun-woo dan sahabatnya yang seorang psikiater terpaksa Bora menitipkan L pada Jukyung.
" Jagalah Yuna! Jika dia sadar atau terjadi sesuatu padahal langsung beritahu aku!" Perintah Bora pada Jukyung.
" Baik Nona Bora. Saya akan menjaga Nona Yuna. " Jawab Jukyung.
Malam hari sesuai permintaan Jisoo, Sun-woo dan temannya sudah datang ke rumah mereka. Hari, Arya, dan Big3 masih berada di mansion.
Hari dan Arya disuruh menginap oleh Bora, sedangkan Big3 memang tidak ingin pulang karena mereka juga khawatir pada L.
Tadi sore Jisoo sudah menelpon Sun-woo dan menceritakan keadaan L. Sun-woo yang mengira bahwa L sudah sembuh dan baik baik saja langsung syok mendengar cerita Jisoo. Usai mematikan telpon, Sun-woo langsung memanggil temannya yang seorang psikiater terbaik di rumah sakit nya.