
Sehari sebelum keberangkatan, paman L benar-benar memanjakannya bak seorang putri, sekali ini Pamannya terlihat tidak peduli dengan istrinya. L diajak ke mall dan membeli baju serta perlengkapan yang dibutuhkan untuk berlibur, L sebenarnya menolak tapi pamannya bersikeras, mulai dari baju, sepatu, tas, sampai cemilan dibelikan pamannya. L tentu saja senang, ia jadi berharap semoga pamannya bisa sebaik ini setiap hari.
Pagi hari usai melaksanakan tugasnya, pamannya mengantarkan L dengan mobil, padahal biasanya ia harus berjalan kaki sejauh 1 km ke jalan raya menuju halte dan barulah berangkat naik bus sekolah.
Dijalan, pamannya mengatakan agar L menjaga dirinya dan disuruh bersenang-senang, sampai di sekolah pamannya juga memberikan uang saku yang lumayan banyak, lebih dari biasanya agar ia bisa berbelanja dan membeli barang-barang yang ia suka saat di sana. L terharu, ia begitu senang sampai memeluk pamannya itu.
Dan hari itu adalah momen terindah nya sebagai murid SMA, diantar oleh pamannya yang sudah ia anggap sebagai keluarga dan bersenang-senang bersama teman baiknya yaitu Anita. Selama satu minggu L berlibur ke Bali dan selama satu minggu itu pula ia bisa melepaskan semua beban dari aktivitas nya yang sangat melelahkan.
Berlibur tanpa berfoto itu sama saja bohong dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh L, Anita yang anak orang kaya pun sampai membawa kamera pro supaya hasil foto mereka lebih bagus. Tiap ada kesempatan mereka pasti mengabadikan momen lewat Cepretan lensa kamera, L tertawa begitu lepas bersama Anita dan teman-temannya.
Mulai dari tanah lot, pantai Kuta, bedugul, dan tak ketinggalan ke pusat oleh-oleh. Anita yang hobi berbelanja seperti sedang kerasukan, ia mengambil apapun yang bisa dijangkau oleh tangannya, sampai-sampai troli yang didorong oleh L sudah penuh. Jika saja L tidak menghentikan nya, mungkin Anita akan menyuruh L untuk mengambil troli baru. L juga tak lupa membeli oleh-oleh untuk dirinya, ia hanya membeli sebuah kaos dan sendal di sebuah toko yang sudah iconic di bali, ia pun membeli baju untuk paman, bibi, dan sepupunya dengan uangnya sendiri. Meskipun ia diberi uang saku oleh pamannya, L tidak menggunakannya karena tidak enak.
Tak terasa 6 hari sudah L telah berada di Bali, dan hari ini ia harus kembali. Bus pariwisata yang awalnya longgar kini terasa sesak dengan dipenuhi barang-barang yang berisi oleh-oleh yang dibeli para murid nya, barang bawaan mereka membengkak hingga bagasi Bus tersebut tidak muat lagi.Untung sekolah menyewa Bus pariwisata dengan kapasitas penumpang sampai 60 namun hanya terisi 30 orang saja jadi, barang barang yang tidak muat di bagasi akhirnya naik ke kursi penumpang. Salah satu barang bawaan yang membengkak adalah milih Anita, awal keberangkatan ia hanya membawa satu koper, tapi setelah pulang ia membeli 2 koper lagi guna menaruh semua oleh-oleh yang dibeli. L hanya bisa geleng-geleng melihat temannya itu.
Perjalanan yang hampir memakan waktu seharian begitu membuat L kelelahan, saat tiba disekolah pamannya tidak bisa menjemput, untung saja ada Anita yang baik hati mau mengantarkan pulang walaupun tidak searah.
Sampai dirumah, L pun masuk karena tidak dikunci dan tepat ia masuk, sepupunya keluar dan berpamitan hendak bermain futsal bersama teman-teman nya.
L mengangguk, dikamarnya ia langsung membaringkan tubuhnya yang kelelahan, ia tidak peduli tugas hariannya karena tubuhnya benar-benar butuh istirahat. L pun tertidur, setelah satu jam pamannya pulang dan melihat L yang begitu lelap tidur, walaupun kamarnya berantakan, pamannya membiarkan L untuk beristirahat.
Malam hari suara gaduh membuat L akhirnya terbangun, ia baru tersadar ini sudah malam dan ia tertidur dengan kamar masih berantakan dan melotot melihat jam yang menunjukkan sudah lewat pukul 10. Dari dalam kamar ia mendengar suara berisik seperti sedang ada yang bertengkar, bahkan terdengar suara pecahan yang menghantam lantai. L sedikit ketakutan , ia tak berani keluar kamar.
Beberapa waktu berlalu, suasana mulai hening dan ia pun keluar, anehnya tidak ada tanda-tanda orang dan bekas barang atau benda yang pecah dilantai. L tidak berfikir jauh, ia hanya mengambil handuk dan segera pergi mandi karena seharian belum mandi.
Tanpa pikir panjang, L segera mengambil piring nasi serta lauk pauk dan memakan nya dengan cepat.
Pamannya akhirnya muncul dan memeluk L dari belakang membuat L kaget " Paman, maaf L baru bangun dan makan seenaknya makanan yang ada dimeja. " kata L yang menyudahi makannya
" Tidak apa apa, kau memang harus makan yang banyak agar kau bisa belajar dengan baik, menjadi dokter merupakan hal yang tidak mudah jadi kau memerlukan energi yang berlipat." kata pamannya sambil mencium kepala L
" L kau harus bisa menjadi dokter yang sukses dan membanggakan paman, dan dengan kepandaian mu kau pasti bisa melakukannya, kau mau kan? "
Ada sesuatu yang membuat hati L bergetar tiap pamannya mengatakan hal itu, ingin sekali L menolak nya namun terhadap orang yang ada dihadapkan iya tak bisa mengutarakan isi hatinya, apalagi sejak peristiwa penolakan itu " i-iya pa-man aku bersedia. " jawab L lirih
"Anak pintar, sekarang kaulah anak kesayangan paman, hanya kau yang mampu mengangkat derajat paman jadi patuhilah semua yang paman katakan ya. "
" Iya paman. "
Brakk
Pranggg
Suara pecahan kembali menggema, membuat L kaget setengah mati.
Bibinya berdiri dengan wajah merah penuh kemarahan.