All About You "L"

All About You "L"
Merajuk



Daniel dan L sudah keluar dari restoran. Daniel berjalan sambil menggandeng tangan L , sepanjang jalan keduanya diam tanpa bicara hingga tiba-tiba L berhenti membuat genggaman tangan Daniel dan L terlepas.


Daniel menoleh ke arah L yang justru berjalan ke arah sebaliknya, tentu saja itu membuat Daniel panik.


" Yuna tunggu! Kau mau kemana. " Daniel melangkah dengan cepat dan menghadang jalan L.


L menatap tajam pada Daniel tanpa bersuara membuat Daniel sedikit takut.


" Emmm kau mau kemana Yuna? Ayo kita pulang ini sudah malam. "


" Kenapa Kak Daniel begitu pada temanku? " Ujar L.


Keduanya berdiri ditengah jalan, Daniel melihat ke sekeliling banyak pengunjung mall yang memperhatikan mereka terutama L, dengan sigap Daniel melepaskan jas milik nya dan memakai kan nya pada L.


" Memangnya apa yang ku lakukan pada teman mu? " Tanya Daniel pura-pura tidak tahu.


" Mata kakak terus melotot pada Jay dan Juwan seakan-akan mata kakak bisa mengeluarkan leser. "


" Hah kapan aku melakukan itu? Mataku sudah dari dulu begini kau pasti salah lihat Yuna. "


" Tidak mau mengaku, baiklah. "


L melepas jas milik Daniel dan menjatuhkan nya lalu kembali pergi meninggalkan nya.


" Yuna aku salah, baiklah aku akan mengaku. "


L berbalik mencoba mendengar kan penjelasan Daniel.


" Sejak kemarin kau tidak membalas pesanku lalu saat kau membalas pesan ku dan bilang sedang makan malam bersama teman-teman mu aku buru-buru menyusul karena aku takut jika teman-teman mu itu lelaki, dan benar saja. Apalagi saat aku tiba aku melihat dua semut itu mencoba merayu gadisku. "


" Kakak cemburu? "


" Tentu saja, kau itu gadis ku. Aku tidak suka kau dekat dengan lelaki lain. Dan apa apa an ini? Kenapa kau memakai pakaian yang begitu pendek dan rambut mu di ikat seperti itu? Ini sangat berbahaya karena kau jadi semakin cantik."


Mendengar keluhan Daniel, L justru tersenyum dan memeluk Daniel dengan erat, membuat nya terdiam dan semua rasa kesal sejak kemarin dan hari ini menghilang.


" Maaf. " Ucap L


" Untuk apa kau minta maaf? "


" Aku sudah melihat pesan kakak tapi lupa untuk membalasnya, dua hari yang lalu aku sangat sibuk dengan kegiatan di kampus dan pergi ke perusahaan Kak D.O. Ketika aku pulang aku malah langsung tertidur, maafkan aku ya. "


" Sepertinya aku ini CEO yang menganggur ya? " Ucap Daniel.


L bingung, " Maksud kakak? "


" Kau itu hanya seorang mahasiswa, dan anehnya kau kan tidak mungkin pergi ke festival yang ada dikampus karena setelah aku mencari tahu kakakmu melarang mu kan, tapi kenapa seakan-akan kau itu orang yang paling sibuk di dunia. Membalas pesanku saja sampai lupa. "


L tersenyum melihat Daniel merajuk seperti itu.


" Baik-baik aku salah, aku harus bagaimana agar Kak Daniel tidak marah padaku? "


" Marah? Aku tidak marah kok. "


" Benarkah? Kalau begitu aku akan kembali ke restoran dan Kak Daniel pulang saja? "


" Hah! Tidak boleh!"


" Ya ampun kakak mengagetkan ku."


" Kalau kau mau kembali aku akan ikut menemani, dan kau harus mengganti pakaian mu! "


" Kenapa? Hari ini aku sedang ingin jadi anak sekolahan. Pakaian ini cocok untuk kan? "


" Iya sangat cocok tapi itu tidak baik untuk mu."L semakin bingung.


" Kau jadi terlalu cantik dan lihat sekeliling mu banyak lelaki memandang mu seakan kau itu bisa dimakan oleh mereka kapan saja. Aku ingin menyembunyikan mu, apa aku harus menculik mu dan menaruh mu kedalam kotak agar tidak ada yang melihatmu kecuali aku? "


L langsung memukul Daniel, " Jahat sekali kakak mau menaruh ku didalam kotak, memangnya aku ini boneka? "


" Kau memang secantik boneka. "


" Kak Daniel berhenti bercanda. "


Suasana hati Daniel sudah membaik setelah bertemu dengan L.


" Apa kita akan langsung pulang? " Tanya L ditengah perjalanan.


" Apa kau ingin mampir ke suatu tempat? "


" Ayo kita mampir ke restoran. " Ajak L.


Daniel sedikit kaget dengan permintaan L karena saat dia menjemput nya, L kan baru saja makan malam.


" Kau mau makan lagi? "


" Kakak suka makan apa? Ayo kita makan makanan kesukaan kakak. "


Meski ragu senyum Daniel langsung mengembang, mobilnya segera melaju ke sebuah restoran italia di sebuah hotel berbintang.


Begitu masuk ke restoran tersebut kedua disambut dengan ramah, bahkan manager restoran sendiri yang menyambut keduanya.


" Selamat datang Tuan Daniel, silakan duduk. Sudah lama anda tidak kemari saya sangat senang anda datang. " Ujar sang manajer.


Daniel menarik kursi untuk L sebelum ia duduk ditempat nya sendiri.


" Silahkan Tuan ini menunya. " Pelayan menyerah daftar menu.


" Sepertinya kakak sering kesini? "


Daniel tersenyum " Tidak terlalu. "


" Tapi mereka semua menyambut kedatangan mu, bahkan sampai manager restoran. "


" Tentu saja mereka menyambut ku karena aku pemilik restoran dan Hotel ini. "


" Wah kakak ternyata benar-benar orang kaya. " Puji L namun sebenarnya menggoda.


" Kau salah, aku ini seorang konglomerat. " Daniel justru semakin membanggakan dirinya membuat L tertawa.


" Jadi kau ingin makan apa Yuna? " Tanya Daniel pada L.


" Aku pesan menu yang sama dengan kakak. "


" Baiklah. "


Daniel memesan steik dan beberapa menu lainnya, setelah pelayan mencatat pesanan adegan tak terduga membuat Daniel dan L terkejut.


Sang manager menawarkan beberapa anggur sebagai teman untuk makan steik , " Lalu untuk adik Tuan karena masih mengenakan seragam dan tidak diperbolehkan minum minuman beralkohol bagaimana kalau diganti dengan jus atau susu Tuan . "


Daniel melotot mendengar ucapan Sang manager yang mengira L adalah adiknya, suasana berubah menjadi mencekam, tengkuk sang manager tiba-tiba terserang hawa dingin padahal suhu ruangan tidak berubah. Sementara Daniel siap memakan sang manager, L justru berusaha menahan tawanya.


" Adik? Dia adalah calon bos mu, dia kekasihku! Berani sekali kau mengatakan dia adikku, apa aku terlihat sangat tua untuk nya? Kau sudah bosan hidup. " Suara Daniel menggema , ia sangat kesal dengan ucapan sang manager.


" Ma-maaf saya Tuan, saya tidak tahu jika Nona muda adalah kekasih anda. Saya salah mengira. " Ucap sang manager dengan tubuh gemeteran


Wajah Daniel memerah karena marah namun L segera menenangkan nya.


" Kakak sudah jangan marah, ini salah ku karena memakai seragam ini. Harusnya aku ganti pakaian dulu sebelum kemari agar orang-orang tidak salah paham. " Ujar L dengan lembut.


Daniel langsung memandang lembut ke arah L " Ini bukan salah mu, aku juga harusnya mengganti pakaian ku agar lebih santai dan tidak terlalu formal. "


L tersenyum sambil menggenggam tangan Daniel, matanya melirik ke arah manager dan pelayan yang masih membungkuk agar segera pergi.


Suasana kembali kondusif. Meski tidak jadi marah Daniel yang sedang di toilet memandang wajahnya dicermin dengan intens.


" Apa terlihat sangat tua? Umurku baru 25 bagaimana Pak Tua itu mengira Yuna adalah adikku. " Daniel merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.


" Lee copot jabatan manager restoran dan pindahkan dia jadi pelayan. " Ujar Daniel cepat lalu segera menutup sambungan telepon.


Mr. Lee yang masih ada di kantor mengerutkan dahi setelah Daniel secara tiba-tiba meminta nya mencopot jabatan seseorang. Mr.Lee menghubungi seseorang untuk mencari tahu ada masalah apa, orang yang dihubungin langsung menjelaskan kejadian yang dialami Daniel dan L di restoran.


" Baiklah, kalian urus saja manager itu dan terus jaga Tuan Muda. " Ucap Mr. Lee lalu menghembuskan nafas.


Daniel sudah kembali.


" Kak Daniel ayo makan aku sudah memotong daging steik nya untuk kakak, harus dihabiskan ya. "


" Ini? " Daniel terkejut karena pesanan mereka sudah tiba dan L sudah memotong-motong daging steik untuk nya.


L tersenyum dengan manis " Kakak pasti belum makan malam kan, dan itu sebagai permintaan maaf karena tidak membalas pesan kakak. Aku berjanji tidak akan mengulanginya."


Wajah Daniel merona


" Bukankah seharusnya laki-laki yang memotong kan daging steik untuk kekasih nya? Kenapa malah sebaliknya? " Ujar Daniel


" Apa harus selalu begitu? Tidak ada peraturan untuk itu bukan? Lagipula itu aku lakukan sebagai tanda permintaan maaf ku."


" Aku akan menerima permintaan maaf mu jika kau menambahkan satu hal lagi. "


" Apa itu? "


" Suapi aku? "


L tersenyum, dengan sigap ia mengambil potongan daging steik lalu menyuapi Daniel dengan telaten. Daniel terus tersenyum sepanjang makan malam mereka.


" Bagaimana? Kakak sudah tidak marah? "


" Bagaimana bisa aku marah padamu jika kau semanis ini. " L balas tersenyum pada Daniel


Usai makan malam Daniel segera mengantar L pulang, sebenarnya ia masih ingin bersamanya namun ia tidak berdaya. Sebelum L turun wajah Daniel kembali ditekuk.


L tersenyum melihat raut wajah Daniel setelah berpamitan L mencium wajah Daniel dan buru-buru masuk kedalam rumah.


" Kak Daniel terimakasih sudah mengantar ku, kakak harus langsung pulang dan beristirahat ya, sampai besok. "


Cup


" Kim Yuna. " Daniel terkejut dengan aksi L, saat hendak menangkap nya L sudah keluar dari mobil dan masuk kedalam sambil melambaikan tangan.


" Aku bisa gila jika dia bersikap seperti itu padaku. Untung saja dia langsung pergi jika tidak mungkin aku akan memakannya. "


Daniel melajukan mobil meninggal rumah L dengan wajah merona merah. Untung saja kaca mobil gelap dan tidak terlihat jelas dari luar jika itu terjadi Daniel pasti akan malu saat bertemu dengan petugas keamanan di pintu gerbang.


***


Suasana festival seperti biasa semakin ramai dan akan sepi setelah lewat jam tengah malam, orang berpakaian serba hitam kembali mendatangi stan Jurusan Seni dan mengambil banner lagi.


Esok hari anak anak kebingungan karena banner mereka kembali hilang, bahkan banner yang dipasang diatas stan juga hilang, padahal itu cukup tinggi tidak mungkin terbawa angin.


" Kau sudah menyimpan nya kan tadi malam? " Tanya ketua Jurusan.


" Sudah, bahkan aku menaruhnya di dalam kardus, kardus nya saja masih ada. Lihat! "


" Siapa yang berbuat iseng sebenarnya, masa ada yang mencuri banner. Bahkan banner yang kita pasang diatas stan ikut menghilang, tadi malam tidak ada angin tidak ada hujan tidak mungkin terbawa angin."


" Sudah biarkan saja, penjualan kita juga sudah bagus, hari ini hari terakhir dan puncak acara kita harus tutup lebih awal agar bisa melihat panggung hiburan. " ucap Ju Hwan menenangkan.


Siswa Jurusan Seni akhirnya tidak menghiraukan tentang hilangnya Banner mereka. Mereka segera bersiap untuk kembali membuka stan karena mereka pasti akan sangat sibuk.


Hari terakhir pengunjung semakin bertambah dan suasana semakin meriah.


***


Di sekolah Jisung di panggil guru pembimbing nya.


" Jisung ini soal latihan yang kemarin kau kerjakan, hasilnya semua benar. Bapak benar-benar terkejut, bagaimana kau bisa mengerjakan soal-soal itu? Untuk lembar satu sampai lima bapak yakin kau bisa mengerjakan nya,namun bapak terkejut karena kau juga bisa menyelesaikan soal latihan di lembar ke enam hingga selesai. Padahal materinya cukup sulit, bapak menyisipkan soal untuk anak SMA dan pada lembar terakhir itu materi soal untuk anak kuliah. "


Jisung terkejut bukan main


" Apa bapak yakin itu materi untuk anak SMA dan anak Kuliah? "


" Tentu saja, jika kau bisa mengerjakan soal Olimpiade matematika nanti seperti mengerjakan soal-soal ini, bapak yakin kau bisa meraih mendali emas. "


" Tapi bapak penasaran bagaimana cara mu mengerjakannya? Padahal bapak belum mengajarkan nya, dan setelah memeriksa jawaban mu, kau menuliskan rumus-rumus yang benar bahkan rumus yang sangat praktis untuk soal yang sulit. Bapak juga ada pertanyaan tentang beberapa rumus yang kau tulis ? Apa itu rumus yang kau pelajari dari buku atau dari tempat les mu?"


Jisung membisu. Soal yang sulit. Materi untuk anak SMA dan Anak Kuliah? Apa dia tidak salah dengar? Gadis yang kemarin membantu nya bahkan menjelaskan dengan sangat mudah seakan akan itu materi biasa yang ia terima dikelas. Gadis itu juga memberikan rumus rumus itu dan membantu menjawab soal pada lembar terakhir yang kata guru pembimbing nya berisi materi anak kuliah.


Rasanya dia ingin menangis, semalam ia bahkan begadang mencoba mengerjakan soal itu namun tidak semudah saat mengerjakan nya dengan gadis itu.


Guru pembimbing Jisung terlihat bingung dengan reaksi Jisung yang malah melamun dan tidak menjawab pertanyaan nya.


" Han Jisung! "


Jisung kaget lalu kembali sadar.


" Maafkan saya pak, kemarin saya dibantu seseorang dalam mengerjakan soal-soal itu, dia pula yang memberikan rumus tersebut kepada saya. " Ucap Jisung dengan jujur.


" Oh benarkah? Siapa guru itu? "


" Maaf Pak, di bukan seorang guru."


Dahi guru pembimbing Jisung mengkerut menatap nya dengan bingung.


" Dia bukan seorang Guru tapi seorang murid, kemarin saat bapak meninggal kan saya di perpustakaan untuk mengerjakan soal-soal tersebut, murid itu mendekati saya karena melihat saya sedang kesulitan. Ia mengajarkan saya menyelesaikan soal-soal itu dan memberikan rumus rumus itu pada saya."


" Benarkah? Siapa dia? Setahu bapak kau adalah murid terpintar disekolah, ada beberapa murid baru tapi bapak belum tahu kemampuan nya karena mereka baru masuk beberapa minggu yang lalu. "


" Murid yang membantu saya bernama Kim Yuna, saya lupa menanyakan dari kelas mana dia berasal namun saya tahu jika Kim Yuna merupakan teman Kang Sora, teman sekelas saya. "


" Bisakah besok kau memanggilnya, bapak ingin bertemu dengan nya. "


" Baik Pak. "