All About You "L"

All About You "L"
Kuliah di Korea



Malam itu semua tampak bergembira, Meskipun masih canggung dengan yang lain, L berusaha untuk membaur di keluarga nya itu.


Sempat terjadi pertengkaran karena big3 selalu saja mencari cara untuk mendekati L, beberapa kali Bora menatap tajam para buaya darat itu agar tidak mendekati L tapi tetap saja itu sulit.


Usai acara Bora bahkan sampai mengusir big3 karena mereka tidak mau pulang dan ingin menginap dirumah Bora.


" Ahh kenapa mereka sangat menyebalkan , susah sekali mengusir mereka. Ini semua salahmu. " Tatapan mata Bora seakan menusuk ke arah suaminya


Mendapat tatapan itu, Jisoo kebingungan "Kenapa itu jadi salahku. "


" Karena mereka adikmu. " ucap Bora sambil meninggal kan Jisoo di depan pintu.Jisoo hanya menghela nafas lalu mengikuti istrinya


Hari demi hari berlalu, L memulai kegiatan belajar nya. Beberapa guru yang di panggil Jisoo langsung datang ke rumah dan mulai memberikan les untuk L.


Guru-guru tersebut dipanggil dari beberapa bimbel paling terkenal di Seoul, mulai dari matematika, bahasa, IPA, dan lainnya. Selain mendapat materi pembelajaran untuk ujian masuk universitas, L juga mendapat pelajaran dari kepala pelayan Im Dae so, tentang tata krama dan etika di keluarga Im.


Masih ada juga les piano, les bahasa Korea dan Inggris yang L pelajari. Walaupun sudah bisa bicara dengan bahasa itu, L tetap ingin belajar dari seorang guru. Ia tidak pernah sombong dengan kejeniusan otaknya, ia selalu suka dengan namanya belajar, atau memang hal itu sudah ditanam kan sejak ia tinggal di rumah paman nya.


L melihat di salah satu ruangan dirumah itu ada sebuah piano, tiba-tiba ia ingin bisa memainkan nya dan ia pun meminta Bora untuk memberi nya guru piano.


L yang sering dipanggil dengan nama Yuna oleh para pelayan dirumah itu terlihat fokus dengan rutinitas barunya. Hanya Bora, Jisoo, big3 dan Sun-woo yang tetap memanggilnya dengan sebutan L.


L menikmati kehidupan barunya, sesekali Bora tampak khawatir karena semenjak L tinggal dirumah nya dan menjadi bagian di keluarga nya L tidak pernah membahas tentang rumahnya yang ada di Indonesia ataupun menanyakan lebih detail tentang kecelakaan yang menimpa nya.


Bora dan Jisoo sempat bertanya dengan Sun-woo.


" Bagaimana keadaan adik ku, setelah bangun dadi koma dia memang sudah kembali menjadi dirinya yang ceria dan selalu tersenyum, trauma saat berhadapan dengan orang asing juga lambat laun sudah bisa ia atasi, tapi sampai saat ini ia tidak pernah menanyakan tentang kehidupan sebelum nya apalagi tentang rumah lamanya, apa itu baik baik saja? " tanya Bora


" Di baik baik saja Bora, aku juga sudah bertanya kepada temanku yang bertanggung jawab atas L. Kondisi mentalnya sudah membaik setelah melakukan konsultasi secara rutin. Itu terjadi karena mungkin L merasa nyaman ditinggal disini , apalagi dia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Sementara di Indonesia dia sudah tidak punya siapa siapa lagi jadi dia melupakan kehidupannya disana. Akan lebih baik kalau dia fokus tentang masa depannya di sini, kurang bijak jika menanyakan tentang kehidupan nya di Indonesia, aku takut itu akan membuka ingatan tentang tragedi itu. Apa kau ingin dia melakukan hal berbahaya dan membuat dia koma seperti kejadian beberapa minggu yang lalu? " tangan Bora langsung meremas tangan Jisoo


" Tidak . Aku tidak akan membiarkan dia kembali menjadi mayat hidup seperti itu, butuh waktu berminggu-minggu untuk nya kembali tersenyum seperti itu. " jawab Bora dengan tegas


" Kalau begitu biar saja L seperti sekarang ini, tetap mendukung apapun yang ia lakukan, jika dia tidak menayangkan lebih dulu tentang kehidupan di Indonesia maka jangan pernah kau membahas itu. " Sun-woo memberi saran


" Akan kami ingat nasehatmu teman. " Jisoo dan Bora pergi meninggalkan ruangan Sun-woo


Sementara L tengah memulai hidup nya di Korea, Hari terlihat lesu dalam menjalani hari-hari nya. Ia sudah kembali ke rutinitas nya sebagai seorang mahasiswa jurusan kedokteran, ia menenggelamkan diri untuk fokus belajar, waktu nya ia habiskan dengan berada dikelas dan perpustakaan. Arya sampai menyerah untuk mengikuti rutinitas Hari, karena saat hari libur pun, Hari tetap belajar dan belajar.


Semenjak L dibawa ke Korea, Hari seakan kehilangan jiwanya, tak pernah tersenyum apa lagi mau mengobrol dengan seorang wanita. Jangan bertanya tentang Siska, karena Hari sudah sangat membencinya.



Malam telah tiba, perpustakaan sudah mau tutup, Hari membereskan buku-buku nya dan berjalan untuk pulang ke asrama.


Ia sangat merindukan L, ingin sekali ia menemui nya dan memeluk nya walaupun hanya sebentar. Setelah L sadar dan kembali bisa tersenyum, Hari hanya mendengar kabar itu dari Bora.


Kata Bora keadaan L sudah kembali normal, namun akibat tragedi itu, kondisi kejiwaan L sedikit terganggu. Butuh waktu yang lama untuk membuat L kembali seperti semula, dan sekarang setelah L sembuh, Hari tetap tidak bisa berkomunikasi dengan nya, karena Bora takut L akan mengingat tragedi tersebut dan kembali membuat kondisinya memburuk.


Itu lebih baik daripada melihatnya terbujur lemas dengan wajah pucat dan tidak bersuara. Jika mengingat kejadian itu, Hari akan merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya.


Sekarang L sudah tidak ada disisinya, Hari semakin terpuruk karena kemungkinan untuk bertemu dengan L sudah tidak ada lagi. Jarak mereka semakin jauh.


Hari berjalan sambil memikirkan L, tanpa sadar ia sudah sampai di pintu kamarnya. Arya menyambut kedatangan sahabat nya itu.


" Hei Bro, akhirnya pulang juga dari tadi aku udah nungguin. " Hari diam tak menjawab, ia langsung terbaring di tempat tidurnya


" Apa kau akan terus seperti itu? "


" Hemm. " jawab Hari singkat


" Kau itu udah kaya orang yang habis ditinggal pacarnya aja, sampai segitu kangennya ya sama Elis." Hari memejamkan matanya tak menggubris perkataan Arya.


" Bro aku tahu kalau kau itu sebenarnya suka sama Elis kan, kalau Kangen kenapa ga susul aja dia ke Korea. " Arya berbicara tanpa menghadap ke Hari, ia tengah fokus mengutak atik laptopnya.


" Jangan kaya robot donk yang diem aja membuat ku kesal aja, sikap mu yang makin cuek malah membuat para wanita diluar sana makin tergila-gila padamu, aku heran dengan selera mereka. " Berkali-kali Arya menghela nafas karena kesal.


Arya yang terus ngoceh membuat Hari merasa terganggu. Ia berjalan menuju pintu kamar.


" Eh mau kemana? " tanya Arya yang melihat Hari hendak keluar.


" Nyari angin, abis disini berisik banget. "


" Kalau kau keluar dari kamar ini, aku pastikan kau akan menyesal. " ucap Arya


" Apa maksud mu. " jawab Hari


Arya berdiri dan menyeret Hari untuk duduk didepan laptop nya, dengan malas ia melihat layar laptop itu , sedetik kemudian matanya langsung terbelalak.


" Bagaimana? apa kau masih mau mencari angin diluar sana? " Arya tersenyum


" Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa mendaftar. " tangan Hari sudah mencengkram lengan Arya dengan kuat


" Auuu, sakit bro. Sabar donk biar aku yang ngurusin asal kau mau bantuin aku ngerjain tugas dari Pak Jamal. "


" Baiklah. " jawab Hari dengan cepat


Jadi yang membuat Hari terkejut dan segera mencengkram lengan Arya adalah, di laptop Arya tengah terpampang program study pertukaran pelajar ke beberapa universitas diluar negeri, dan yang membuat Hari tertarik adalah karena salah satu universitas tersebut ada yang berada di Korea Selatan, tentu saja Hari langsung tertarik.


Hari sangat merindukan L dan ingin sekali bertemu dengan nya, meskipun ia tidak tahu dimana tempat tinggal L, tapi dengan datang ia ke Korea jarak antara dia L akan semakin berkurang.


Tanpa menunggu lama Arya pun mendaftarkan nama Hari dan namanya sendiri untuk program tersebut.


Setelah mengerjakan beberapa ujian dan tes wawancara, seminggu kemudian Arya mendapat email bahwa mereka lulus dan berhasil mendapatkan beasiswa untuk program studi pertukaran pelajar ke Universitas di Korea Selatan, yang hebatnya lagi universitas tersebut adalah salah satu universitas terbaik di Korea yaitu Seoul University.