
Setelah lelah berlarian keduanya duduk kembali, Mr. Lee selalu siap siaga dia sudah membelikan minuman dingin untuk keduanya.
" Terimakasih. " Ujar L pada Mr. Lee
" Sama sama Nona. " Jawab nya.
Usai menghabiskan minumannya, L beranjak dari tempat duduk nya dan berpamitan pada Daniel.
" Kau mau kemana Yuna? " Tanya Daniel
" Emm Kak Daniel terimakasih untuk makanan dan minuman nya, aku selalu senang jika bertemu dengan mu tapi aku harus pergi karena aku masih ada urusan. "
" Kau mau kemana? Biar aku antar. " Ujar Daniel sambil memegang tangan L.
L tersenyum " Aku mau ke kantor kakak ku, mau ambil barang yang dipinjam oleh nya. "
" Aku antar. " Daniel sudah berdiri dan menarik tangan L menuju mobil miliknya.
"Apa Kak Daniel tidak ada kerjaan? Kantor kakak ku juga dekat dari sini aku bisa naik bus atau taxi. "
" Tidak masalah, sekalian aku kembali juga ke kantor ku lagipula tidak enak jika duduk disini sendirian tanpa ada teman. Aku seperti orang hilang saja. "
" Tapi kan ada Paman Lee? "
" Jangan bahas orang itu, dia itu bagaikan batu yang selalu diam dan irit bicara. Wajahnya juga datar dan tidak bisa diajak main kejar kejaran tidak asik sama sekali. "
" Hahaha Kak Daniel benar. "
Mobil melaju menuju perusahaan milik Bora.
" Kak Daniel terimakasih sudah mengantarkan aku ya, sampai jumpa hari sabtu nanti. Aku pasti akan memberikan gambar desain perhiasan itu. " Ujar L
" Baik aku tunggu. "
Mobil milik Daniel sudah tidak terlihat, L berjalan menuju cafe untuk membeli cemilan dan kopi untuk kakak nya. Tak sengaja ia melihat Chacha yang juga sedang membeli sesuatu.
L menyapanya.
" Hai Kak Chacha." Sapa L ramah
Chacha melihat L dengan ekpresi tidak suka " Iya. "
" Bagaimana kabar kakak? Bagaimana dengan kabar ibu Kak Chacha juga? Apa keadaan baik baik saja? "
" Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Dan kurasa kita tidak sedekat itu untuk menanyakan keluarga ku. Sudah ya, aku sibuk. " Jawab Chacha, ia langsung pergi meninggalkan L setelah mengambil minuman pesanan nya.
L tidak menghentikan nya, dia hanya terus menatap punggung Chacha sampai keluar dari cafe.
***
Bora sedang duduk dan membahas sesuatu dengan anak buahnya, fokusnya teralihkan saat pintu ruangan nya terbuka dan L muncul setelah nya.
Bora sedikit gugup. Buru-buru ia menyuruh anak buahnya pergi menyisakan Ia dan asisten nya.
" Hallo Kak. Bagaimana perusahaan mu? Penjualan musim panas tahun ini meningkat bukan? " Tanya L dengan penuh godaan.
Bora tersenyum kecut, sementara asisten Bora hanya tersenyum.
" Belum kulihat laporan nya tapi pesanan telah membludak. "
" Benarkah? Selamat. " L bersorak , sedangkan Boramalah semakin gugup.
Bora melirik sesuatu yang dibawa oleh adiknya " Kau bawa apa? "
" Oh iya aku jadi lupa, aku membeli mu kopi dan cake, ayo makan! "
" Cake? Aku masih kenyang untuk mu saja Yuna. "
" Benarkah kakak tidak mau? Padahal ini enak sekali, sebenarnya tadi aku sudah makan siang dan makan cemilan juga tapi setelah membeli kopi untuk mu dan melihat cake ini di etalase aku jadi menginginkan nya. "
" Porsi makan mu memang bukan untuk manusia biasa. "
" Kalau aku gendut dan jadi jelek bagaimana? Apa kau masih menyayangi ku? " Tanya L
"Aku akan tetap menyayangi mu bagaimana bentuk fisik mu, tapi aku kurang setuju dengan mu yang jadi gendut. Aku rasa itu hal yang mustahil dan itu sangat menyebabkan bagiku. Kenapa badan mu seperti ikan asin yang kurus kering walaupun makanmu begitu banyak. Kau tidak memuntahkan nya setelah memakannya bukan? " Ujar Bora penuh selidik
"Kakak terlalu banyak menonton drama. " Ujar L
" Hah sejak kapan aku menonton drama? Aku wanita karir yang sibuk tidak ada waktu untuk menonton hal yang tidak penting. "
" Iya iya aku mengerti. Sekarang kembalikan punya ku! " Ucap L tiba-tiba membuat Bora dan asisten nya yang tadinya sedikit bernafas lega kembali gugup.
Mereka kira L lupa ternyata tidak sama sekali.
" Apa yang harus kukembalikan? " Kilah Bora sambil menatap ke laptop nya.
" Kakak jangan mencoba coba untuk lupa, aku akan selalu ingat apa yang sudah aku pinjamkan. Cepat kembali kan karena itu adalah barang ku yang berharga. " L menengadah keduanya tangannya didepan Bora.
" Emm bisakah aku membelinya? Aku akan bayar berapa pun harga nya, boleh ya? " Bora berusaha membujuk L agar mau menjual kerajinan perak itu padanya.
Permintaan akan aksesoris tersebut begitu tinggi sampai sampai ada yang mau membelinya dengan harga yang sangat tinggi, Bora yang seorang pengusaha tentu tergiur.
L menghela nafas " Sudah ku katakan bahwa bahwa mereka tidak dijual kakak ku sayang, aku membuat nya dengan sepenuh hati dan hanya ada satu didunia, mau kakak beli berapa pun tidak akan aku jual. " L tak bergeming.
Bora tak menyerah " Kalau kau tidak mau menjualnya bagaimana kalau kau jadi desainer perhiasan perak itu? Aku berencana mengeluarkan produk baru untuk koleksi aksesoris yang akan keluar musim gugur nanti, dan aksesoris tersebut aku memilih perak dan mutiara sebagai bahannya. Kau mau jadi desainer ku Yuna? "
L menggeleng cepat " Tidak! Aku ini seorang pelukis bukan seorang desainer pakaian atau pun perhiasan, aku tidak mau dan tidak tertarik. "
Wajah Bora seketika itu langsung lesu, ia akhirnya memerintahkan asisten nya untuk mengambil perhiasan tersebut.
" Ini aku kembalikan, terimakasih. " Ujar Bora tak semangat.
L tersenyum melihat tingkah Bora yang lesu seperti itu, tidak cocok sama sekali dengan image dirinya yang selalu berisik dan suka marah marah.
L mengecek keseluruhan perhiasan dari perak miliknya, melihat apakah ada yang kurang dan rusak. L begitu teliti dan yang lebih menyebalkan bagi Bora adalah L sengaja mengecek nya dimeja miliknya dan dihadapan nya.
Menyingkirkan barang-barang yang ada diatas meja termasuk papan nama dan laptop Bora.
" Yak! Bisakah kau mengecek nya di meja sana! " Menunjuk meja lebar di sudut ruangan
"Tidak ada yang kurusak jadi pindah kan semua ini kesana! " Ucap Bora dengan sungut yang sudah terlihat di kepalanya.
L malah tertawa lebar melihat Bora seperti itu " Hahaha, sabar kakak ku sayang. Sebelum ku pindah kan mau kah kau melihat perhiasan ini dan menilai mana yang paling bagus. "
Bora diam, dia sibuk dengan ponselnya dan mengacuhkan L. "Aku tidak mau! Aku sibuk. "
L melihat Bora yang masih sibuk dengan ponselnya " Kakak tahu kenapa aku tidak mau menjual nya? Itu karena aku membuat semua perhiasan ini khusus untuk orang yang aku sayang, aku sampai begadang waktu membuat gambar desain nya. Waktu itu aku sedang berlibur ke Jogja bersama dengan Mas Hari, mencoba mobil yang kau kirimkan untuk ku. Pada saat aku diajak berkeliling untuk membeli oleh-oleh, aku sekalian mencari-cari toko dan bengkel kerajinan perak dan aku akhirnya menemukan nya."
"Disana mereka menerima pesanan sesuai dengan apa yang kita inginkan, aku pun menyerah kan desain gambar itu dan meminta mereka untuk membuat nya. Kakak tahu tidak saat perajin itu melihat gambar desain ku? Mereka sedikit terkejut dan langsung menanyakan siapa yang membuat nya, dan mereka juga meminta waktu yang cukup lama karena desain milik ku masuk kategori sangat rumit yang membutuhkan waktu yang cukup lama."
"Harganya jangan ditanya lagi karena aku meminta ditambahkan mutiara sebagai pelengkap nya, tabungan ku kala itu langsung terkuras banyak."
" Jadi aku tidak bisa menjual nya, karena ini semua untuk orang-orang spesial yang sangat ku sayangi. " Ujar L
Bora langsung meletakkan ponselnya dan memeluk L, matanya berkaca-kaca " Jadi semua itu kau buat untuk ku? Terimakasih. Kau tidak perlu memberikan apapun asalkan kau selalu bersama ku dan menjadi adik kecilku yang manis itu lebih dari cukup. " Air mata Bora akhirnya lolos juga.
L menepuk-nepuk pundak Bora " Sudah sudah jangan menangis lagi, dan seperti nya kau sedikit salah paham disini. "
Bora melepas pelukan dan langsung mengambil sekotak perhiasan dari perak dan mutiara didepan nya.
" Salah paham apa maksud mu? " Bora melihat satu set perhiasan mulai dari kalung, gelang, anting, hingga penjepit rambut yang jangan ditanya lagu bentuk nya. Sangat indah dan eksklusif.
Bora mengambil penjepit rambut itu dan memasang nya, lalu berselfie dan mengupload di media sosial nya.
" Aku memang yang memndesain semuanya tapi tidak untuk mu saja, jangan berfikir bahwa itu semua milikmu. Milikmu sudah kuberikan. "
Bora langsung menggenggam tangan L " Lalu kepada siapa kau akan berikan? Siapa lagi orang yang kau sayang selain diriku. "
Jawaban bukan keluar dari mulut L tadi dari seseorang yang masuk tanpa mengetik pintu terlebih dahulu.
" Tentu saja untuk ku. Iya Kan Yuna? " Shin duduk di sofa dan memilih sendiri.
" Hei kenapa kau masuk seenaknya, memang pekerjaan mu sudah selesai? " Ujar Bora.
Shin sibuk melihat lihat ia hanya memberi tanda lewat jemarinya bahwa pekerjaan nya sudah selesai.
" Yuna aku mau yang ini bolek tidak? " Shin menunjuk ke sebuah kotak berisi pintu dasi , bros, dan gelas dengan model simple.
" Kak Shin memang pintar memilih, sebenarnya itu juga kotak yang aku akan berikan padamu. " Jawab L
" Wah kau membuat nya dengan sangat bagus dan benar-benar sesuai seleraku. Terimakasih. " Shin langsung mengambil hadiah nya.
" kau juga memberikan dia hadiah Yuna? Lalu siapa lagi? " Tanya Bora penasaran, karena perhiasan itu cukup banyak.
" Aku akan berikan pada ayah, Kak Jisoo, Kak Jaehyun, dan Kak D.O. Masih ada satu kotak lagi berisi gelang yang bisa ku sebut sebagai gelang persahabatan, nanti aku akan berikan pada sahabat ku, oh ya Kak Jukyung juga akan ku beri satu. " Jawab L senang.
Bora menatap kotak perhiasan itu dengan sayang, jika semua kotak itu bisa ia minta, bisa dipastikan Bora akan menjualnya pada pelanggan VVIP yang dari kemarin menghubungi nya untuk membelinya.
Bora hanya bisa menghela nafas.
" Kau sudah memperbaiki kualitas gambarnya bukan? Sekarang tunjukkan padaku siapa pelakunya! "
Akhirnya pencarian pelaku yang merusak gudang penyimpanan akan segera terungkap.
Shin menyerah laptop miliknya, asisten Bora melotot karena mengenal orang yang masuk kedalam ruangan tersebut.
" Saya tahu dia Direktur. Dia adalah Vivian dan satu lagi adalah mahasiswa magang dari Universitas Seoul. "
Bora mengepalkan tangannya, wajahnya memerah marah " Panggil polisi dan beri mereka pelajaran. "
L melihat aksi Vivian dan Chacha yang memasuki sebuah ruangan lalu kemudian keluar setelah cukup lama didalam.
" Baik Direktur. "
Di ruangan tempat Vivian dan Chacha bekerja, tiba-tiba petugas keamanan dan polisi masuk dan mencari cari keduanya.
Vivian dan Chacha kaget bukan main saat ada orang tiba-tiba menangkap dan menyeretnya keluar. Vivian tidak terima apalagi saat ini teman-teman nya tengah melihat dengan tatapan penuh pertanyaan, sedangkan Chacha sangat cemas sekali was was.
"Apa apa an ini kenapa kalian tiba-tiba saja datang dan menyeret ku keluar! Kau tidak tahu siapa aku hah! " Ujar Vivian dengan nada tinggi.
" Nona bisa menjelaskan dikantor nanti, sekarang Nona harus ikut kami sekarang. " Ujar seorang polisi
" Nona Vivian apa yang terjadi kenapa tiba-tiba mereka menangkap kita? " Tanya Chacha dengan wajah ketakutan, ia sangat takut masuk penjara. Ia juga cemas bahwa ini pasti berhubungan dengan perbuatan yang ia lakukan bersama Vivian.
" Diam kau! Kau pikir aku tahu hah! Jikapun tahu tudak mungkin aku akan marah seperti ini dasar bodoh. "
Chacha tertunduk semakin ketakutan, ia dan Vivian dibawa keluar.
Bora, asisten Bora, Shin, dan L tengah berada di depan ruangan Bora. Mereka sedang menunggu para polisi membawa para penjahat keluar dari kantor nya.
Sepanjang jalan Vivian meronta minta dilepas.
" Hei cepat lepaskan aku! Aku ini seorang desainer penting di perusahaan ini, dan aku juga orang yang dekat dengan direktur. Kalian akan aku tuntut karena telah membawa ku secara paksa. "
" Cepat lepas! "
" Kalian tuli ya. "
" Ku bilang lepas! "
Vivian terus saja berteriak, tapi petugas keamanan dan polisi seakan tuli dengan semua teriakan Vivian. Sementara Chacha hanya diam dan ketakutan.
Saat rombongan itu melewati Bora, barulah Vivian diam tak mengeluarkan satu katapun. Tentu saja ia takut karena kenyataan nya iatak dekat dengan direktur sekaligus Ketua tim desainer. Ia hanya menggretak saja.
Chacha seperti melihat bayang wajah L diantara orang penting di perusahaan nya. Chacha langsung memanggil manggil nama Yuna.
" Yuna.. Yuna... Ini aku Chacha, tolong aku! Aku tidak mau ikut dengan mereka. Kumohon tolong aku. " Pintar Chacha dengan wajah memelas.
Bora dan lainnya langsung melihat ke arah Yuna.
" Yuna apa kau mengenal dia? " Tanya Bora.
" Siapa Kak? " Tanya L polos
" Ini aku Yuna, Chacha teman mu, teman kuliah mu.Teman yang ibunya sedang sakit. " Ujar Chacha penuh harap.
" Benarkah dia teman kuliah mu? " Tanya Bora lagi.
"Bukan Kak, kau tahu kan temenku itu hanya Yura dan Jungki saja. Lagipula aku tidak punya teman yang ibunya sedang sakit? Yang ku ingat itu ibu teman ku sangat sehat. " Jawab L
" Ini aku Yuna, tolong bantu lah aku? "
" Apa maksud kakak, aku tidak mengenal kakak bagaimana bisa aku menolong mu. Mungkin kita hanya pernah berpapasan saja di kampus, tapi maaf aku tidak ingat pernah bertemu dengan kakak apalagi bicara dengan kakak. "
Mata Chacha semakin merah menahan tangis.
" Cepat bawa mereka dan masukan mereka ke penjara! " Ujar Bora.