All About You "L"

All About You "L"
Menangis



Selesai makan siang bukannya ke perpustakaan L malah pamit ingin pergi ke suatu tempat pada kedua sahabat nya itu.


" Yura, Jungki hari ini kalian berdua saja ya ke perpustakaan nya. Aku ada keperluan. "


" Hei mau kemana kau? Tadi mengajak ku ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kenapa malah kau pergi duluan. " Ujar Yura dengan sebalnya.


" Maaf aku lupa bahwa aku ada janji dengan seseorang. "


" Ya baiklah , tapi jangan lupa kerjakan tugasmu. "


" Iya iya, sampai jumpa. " L akhirnya pergi meninggalkan Yura dan Jungki.


***


Di Fakultas Kedokteran, Arya dan Hari sedang melakukan praktek menjahit luka. Dosen memberikan arahan dan contoh sebelum yang lain mencoba.


" Hari bantu aku!" Sepanjang pelajaran Arya berkali-kali merengek karena kesulitan dalam praktek kali ini.


" Makanya perhatikan dengan seksama, caranya itu seperti ini, dan seperti ini. " Hari terlihat sangat terampil dan rapi dalam melakukan praktek nya.


" Jangan samakan kemampuan mu dengan ku, kau kan memang cerdas dan berbakat dengan bidang ini, berbeda dengan ku yang hanyalah orang biasa dan perlu belajar lebih keras agar bisa. "


Hari membalas dengan senyuman kecil.


Meskipun Hari berstatus mahasiswa asing dan baru beberapa minggu di Korea, tapi berkat kecerdasan nya Hari mampu mengikuti setiap mata kuliah dan praktek dengan baik. Namanya juga sudah dikenal baik diantara mahasiswa yang lain.


Praktek akhirnya selesai, wajah tiap mahasiswa terlihat lelah dan lesu karena dosen nya sangat galak dan mengajar dengan keras. Ia juga akan meminta praktek ulang jika semua siswanya belum bisa menjahit dengan benar.


" Gila kalau tiap hari harus praktek dengan pak Seo, bisa jadi lulus dari kampus ini aku bukannya jadi dokter tapi jadi tukang jahit. " Hari seketika tertawa mendengar ucapan Arya.


" Jangan begitu, lagian niatnya bagus kok, biar kita terampil saat menjahit luka dan bisa melakukan dengan cepat. "


" Iya iya anak rajin mulai nyerocos. Aku lapar Har, buruan ke kantin. "


Keluar dari ruang praktek kedua nya kaget melihat L sudah berdiri didepan pintu.


" Elis. " Ucap Hari


" Halo Mas Hari, Mas Arya. " Sapa L dengan senyum manisnya, tapi keduanya tidak bisa melihat karena wajah L tertutup masker.


" Kamu ngapain kesini? Udah lama nunggunya? " Tanya Arya


" Pengen ngajak Mas Hari sama Mas Arya makan diluar. Ngga terlalu lama juga kok nunggu nya. " Jawab L


" Kalian baru selesai praktek? Ini udah lewat jam makan siang loh. "


" Iya kita baru selesai soalnya dosennya galak, dia ga bakalan keluar kelas kalau semua belum bisa praktek dengan benar. " Sahut Arya


" Memang nya kalian habis praktek apa? "


" Praktek menjahit luka. Udah kaya tukang jahit tahu L. "


L tertawa " Hahaha abis lulus langsung dapat dua keahlian kan, dokter dan penjahit. "


Arya mendengus kesal.


" Becanda aja loh Mas jangan marah, sini biar Elis traktir makan aja ya. Ayo kalian pasti lapar. "


" Beneran ditraktir loh awas aja pas kita udah pesen kamu kabur. "


" Tenang semua aman. " L menunjukkan kartu ATM nya.


L, Hari, dan Arya masuk kedalam sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kampus. Hari dan Arya memesan makanan berat sedangkan L hanya memesan cake, es krim, dan minuman dingin.


" Kamu kenapa cuma pesen makanan ringan L, apa karena mentraktir kami jadi kamu pesen nya cuma itu? " Tanya Hari


" Jangan bilang cuma itu Har, pesen segitu juga udah termasuk banyak kaya menu yang kita pesan. " Ujar Arya


" Engga kok, tadi aku udah makan siang bareng temen temen ku di kantin, udah kenyang. Tapi karena nunggu lumayan lama di depan kelas nya Mas Hari, Elis jadi pengen makan yang manis manis. "


" Makan nya nanti sambil liatin aku aja ya L, dijamin makin manis pokoknya. " Sahut Arya


L hanya tersenyum menanggapi ucapan Arya.


Selama makan tidak banyak kata yang keluar dari mulut L, karena mereka sedang menikmati makanan mereka.


" Elis. " Panggil Hari


L menatap Hari " Iya Mas. "


" Kamu ga kangen sama ibu dan bapak? " pertanyaan Hari membuat L terdiam sejenak.


Sebenarnya sejak bertemu di rumah L, malamnya Hari langsung menelpon orang tua nya, melaporkan keadaan L yang baik baik saja. Bu Lilis dan Pak Anwar tentu lega dan bersyukur, mereka ingin berbicara dengan Elis menanyakan kabarnya langsung namun, karena kala itu sudah malam dan esok nya Hari dan Arya kembali ke apartemen mereka, sehingga belum ada waktu.


" Tentu saja aku kangen bapak dan ibu. " Jawab L dengan senyuman yang tak dapat diartikan oleh Hari.


Hari sungguh berhati-hati dalam berbicara karena sudah diingatkan oleh Jisoo mengenai kondisi L.


" Nanti aku akan menelpon mereka."


" Eh telpon adikku juga L, dia sangat merindukan mu dan selalu menanyakan kabar mu jika aku sedang menelpon nya. " Sahut Arya


" Oh iya? Aku pikir Arsy sudah lupa dengan ku, baiklah lain kali aku pasti akan menghubungi nya. Mas Arya tinggal kirim nomernya padaku. "


" Oke. "


Acara makan berlanjut dengan obrolan ringan dan candaan dari Arya dan L. Hari hanya sesekali menimpali , perhatian nya tertuju pada L yang semakin lama Hari rasakan ada sesuatu yang aneh dan seperti disembunyikan.


"Kim Yuna." Panggil Hari tiba-tiba


" Iya Mas Hari, dari tadi panggil panggil terus jangan cumi ( Cuma Misscall ). "


" Iya nih Hari dari tadi cumi mulu, kamu mau pesen dessert pesen aja Ri, mumpung ada Inces yang traktir. " Ucap Arya.


"Tidak ada yang kamu sembunyikan kan dari Mas? "


Deg


L terdiam lalu menatap Hari " Apa sih Mas Hari ada ada aja. " L mencoba bersikap biasa dan tersenyum


Selain itu Hari adalah orang paling dekat dengan L setelah keduanya orang tuanya, setelah pertemuan itu mata Hari menangkap banyak keanehan pada diri L dan entah kenapa Hari merasa cemas. Meskipun L terlihat bahagia dengan kehidupan yang sekarang dan itu adalah sebuah kejujuran, tapi ada sesuatu dalam diri L yang kini berubah dan Hari bisa merasakan jika pujaan hatinya itu menyimpan sesuatu yang besar.


Hari tidak tahu hal apa , yang jelas dibalik wajah cantik yang selalu tersenyum itu Hari bisa melihat ada sebuah rahasia yang tersimpan.


Ini seperti yang sering ia lihat saat L habis bertemu dengan pamannya. Wajah dan ekpresi L memang tampak biasa tapi bagi Hari, yang sangat mengenal L, ia tahu ada sesuatu yang dipendam oleh nya.


Mata Hari dan L saling pandang cukup lama, Arya hanya diam karena saat ini Hari terlihat serius dan tak boleh ada yang mengganggu jika seperti itu.


" Kau rindu tidak dengan rumahmu? " Tanya Hari


" Iya. " Jawab L cepat.


" Kau mau pulang ke Indonesia? "


" TIDAK! " Ujar L setelah berteriak


" Tidak... maksud ku aku juga mau pulang.. TIDAK! Disini sekarang adalah rumah ku dan keluarga ku ada disini. TIDAK! " Deru nafas L mulai tidak beraturan dan berbicara tidak jelas, ia meremas ujung pakaian nya dan berkeringat.


Hari kaget dengan respon L, ia beranjak dari tempat duduk nya dan duduk disamping L. Ia segera memeluk tubuh L yang bergetar dan menyeka keringat nya.


" L sudah sudah, tenang ada aku di sampingmu jangan takut . " Hari mendekap tubuh L dan mengelus Kepala nya. Ia masih bisa merasakan getaran hebat dari tubuh L.


Hati Hari terasa sakit, sedih, dan marah. Ingin sekali ia mengetahui sebenarnya apa yang terjadi pada pujaan hatinya itu. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat.


L masih memeluk Hari dengan erat dan menangis dalam diam. Arya sampai tak tega melihat nya.


" Sudah jangan khawatir, ada Mas disini. Kalau mau menangis, menangis saja sampai kamu puas L. "


L semangat terisak dan tetap menangis tanpa bersuara.


Tak pernah sekali pun ia seperti itu selama tinggal di Korea, ia selalu menyimpan baik baik apa yang dirasakan dan berusaha terus ceria dan tersenyum agar semua orang tidak khawatir padanya.


Siang itu cukup lama mereka bertiga berada dalam cafe, L memeluk Hari dan menangis cukup lama juga, sedangkan Arya hanya diam karena dirinya juga bingung harus bagaimana.


Setelah puas menangis tanpa suara, L melepas pelukan nya dan menundukkan kepala.


" Mas Hari terimakasih. " Ucap L lirih


Hari tersenyum " Sudah lebih baik? "


" Iya. "


Hari itu setelah makan siang dan menangis, L pamit untuk pulang sementara Hari dan Arya kembali ke kampus karena masih ada kelas.


Hari mengantar L sampai menuju mobil yang menjemputnya, ada rasa khawatir tapi Hari tidak mau terburu-buru, ia ingin L sendiri yang menceritakan kejadian itu. Disini Hari sedikit tidak percaya tentang hilangnya ingatan L tentang kejadian yang dialami nya. Meski dalam dunia medis hal itu bisa terjadi akibat trauma yang dialami, tapi Hari merasa tidak yakin.


Sepanjang jalan L tampak melamun, ia tak bahkan tak bersuara saat sopirnya menanyakan sesuatu. Sopir L tak curiga dan memilih diam karena melihat wajah Nona muda nya terlihat murung dan tidak ingin diganggu.


L terus melamun sambil menatap keluar , tiba-tiba air matanya menetes tapi anehnya ia malah tersenyum lalu memejamkan mata dan bersandar pada kursinya. Air mata tersenyum terus mengalir meskipun matanya terus tertutup.


"Apa yang kutangisi? Rasanya sangat aneh di dalam sini. " sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


Sopir L kembali melihat L lewat kaca spion " Apa Nona baik baik saja? " Tanyanya khawatir melihat L menangis.


" Aku? Entah lah pak Choi aku tidak tahu apa aku baik baik saja, rasanya aku baik tapi didalam hati seperti ada yang mengganjal dan mengatakan bahwa aku sedang tidak baik baik saja. Kenapa juga Mas Hari bisa mengetahui nya? " Ujar L dalam bahasa Indonesia.


Pak Choi sopir L kebingungan karena tak mengerti apa yang di katakan L karena memakai bahasa Indonesia.


" Apa Nona mau saya antar ke rumah sakit? Wajah anda terlihat pucat. " Ujar Pak Choi


" Rumah sakit? Untuk apa aku kesana kalau aku tidak sakit? Tidak perlu! Aku mau ke taman saja." Ujar L


Pak Choi mengangguk mengerti " Baik Nona. "


Sampai ditujuan L segera berjalan menuju bangku dibawah pohon sakura terbesar di taman dan mendudukkan diri disana. L sudah menyuruh Pak Choi pulang karena dia akan berada disana cukup lama.


L bersandar pada bangku taman dan kembali memejamkan matanya. Suaranya angin dan jatuhnya kelopak bunga sakura membuat pikiran L sejenak menjadi tenang.


Cekrik


Cekrik


Cekrik


Suara jepretan kamera terdengar saat L memejamkan matanya. L cuek saja karena ia hanya ingin menenangkan diri.


Cukup lama kalau L merasa diikuti seseorang dan difoto secara diam-diam. Dia tidak tahu siapa dan tidak berniat mencari tahu karena selama sosok yang mengikuti nya itu tidak mengganggu nya maka itu tidak masalah. Walaupun jika ia melaporkan kejadian ini sang penguntit itu bisa saja dipenjara karena mengikuti orang lain dan mengambil foto tanpa izin.


Getar ponsel dari saku jaket membangunkan nya.


Ada pesan dari Daniel menanyakan keberadaannya. L langsung menjawab berada di taman.


Sepuluh menit kemudian Daniel berdiri didepan L dengan tangan penuh makanan kesukaan L. Wajah L langsung berbinar melihat aneh cake dan cemilan yang di bawa Daniel.


" Kak Daniel bagaimana bisa kakak disini? " Tanya L penasaran.


Daniel duduk disamping L dan meletakkan makanan yang dibawa di antara mereka.


" Aku baru saja bertemu client di cafe sekitar sini, setelah selesai aku mengirim pesan padamu tak kusangka kau ada disini jadi aku segera menyusul mu dan membelikan beberapa makanan untuk mu."


" Wah terimakasih Kak Daniel, Kakak Daniel memang terbaik. " L tersenyum senang melihat semua makanan kesukaannya.


Hati Daniel menghangat. Ia membuka kota berisi cake dan menyuapi L, dengan senang hati L membuka mulut dan memakan nya dengan lahap sampai belepotan disekitar mulut.


" Bisakah kau makan dengan baik? Kau seperti anak kecil saja yang kalau makan berantakan. " Ujar Daniel, L justru semakin melebarkan senyuman nya.


Jika bersama Daniel perasaan L memang selalu nyaman dan ia pasti akan tersenyum jika bersama nya.


Setelah membersihkan sisa makanan nya, L berganti an menyuapi Daniel tapi dengan penuh kejahilan L justru mengarahkan sendok berisi cake dan cream ke hidung Daniel.


" Ops! Maaf Kak Daniel aku sengaja. " L langsung berlari menjauhi Daniel karena wajah Daniel seketika memerah. Bukan karena marah tapi malu dengan perlakuan dan tingkah L.


" Awas kau ya! Sebaiknya kau berlari lebih cepat karena kaki ku lebih panjang dari dan aku akan mudah menangkap mu. "


Daniel berlari ke arah L, keduanya justru berakhir dengan main kejar kejaran di taman.