
Satu jam lebih L asik melukis sementara Daniel asik mengagumi kecantikan L.
Hembusan angin semakin kencang membawa kelopak bunga sakura berjatuhan semakin banyak, selain kelopak ada serpihan serbuk sari yang terbawa juga oleh angin.
L bersin bersin karena debu dan serbuk sari yang diterbangkan oleh angin terhirup olehnya.
Daniel mengambil masker milik dan dan menyuruh L untuk istirahat lebih dahulu.
" Apa kau alergi serbuk sari? " Tanya Daniel terlihat khawatir.
" Ah tidak aku hanya sensitif dengan debu dan udara dingin. Makanya kemanapun aku pergi aku selalu memakai masker. " Jawab L sambil kembali bersin
" Kita pindah saja ke cafe terdekat , jika kita terus di Taman kurasa kau bisa terkena flu. " L hanya mengangguk.
Daniel membereskan kamera nya, lalu membantu membereskan perlengkapan melukis milik L. Sejenak ia melihat hasil lukisan L yang belum jadi, namun sudah sangat bagus.
" Lukisan mu sangat bagus Yuna, mau kah kau menjualnya padaku jika sudah jadi nanti. " Pintar Daniel
" Memangnya Kak Daniel berani membayar ku berapa? " Tanya L
Daniel mengkerut kan alisnya " Hah dasar licik. "
L tertawa karena berhasil membalik pertanyaan yang ditujukan untuk nya tadi.
Mereka selesai membereskan semuanya dan segera berjalan menuju ke sebuah cafe terdekat.
Daniel memesannya teh hangat untuk L.
" Apa kau ingin pesan yang lain? " Daniel menyerah kan buku menu pada L
" Aku ingin puding, cake rasa coklat strawberry, keju, susu, dan yogurt, dan redha velvet. " Kata L yang membuat mata Daniel melotot padanya
" Kau baru saja menghabiskan semua makanan yang kau beli satu jam yang lalu dan sekarang kau mau memesan sebanyak itu? Apa kau yakin? " L mengangguk.
Daniel pun meminta pelayan membawa semua pesanan L. Saat pelayan tersebut hendak pergi L menghentikan nya dan berkata menambah menu yang ia pesan.
" Kak aku juga ingin makan satu sandwich ayam. " Kata L dengan senyuman penuh arti.
Daniel menghela nafas dan kembali menyuruh pelayan mencatat pesanan L.
Tak butuh waktu lama semua pesanan L telah tersaji di atas meja, senyum di wajah L langsung mengembang kala melihat berbagai macam cake tersaji di hadapannya dengan warna yang begitu menggugah selera.
" Badanmu begitu kurus seperti tiang, tapi perutmu seperti tong besar. Apa kau tidak takut gemuk, bukankah seorang wanita biasanya sangat menjaga bentuk tubuh mereka? "
" Aku tidak pernah melakukan hal itu, karena kata kakak ku , aku harus banyak makan agar aku cepat besar. " Jawab L santai tanpa memperdulikan Daniel , ia sibuk dengan memakannya.
Daniel tersenyum melihat L melahap satu persatu makanan nya dengan gembira.
" Jika aku terus bertemu dengan mu aku bisa bisa bangkrut, pertama saat di mall lalu disini, kau sudah menghabiskan banyak uangku. " Canda Daniel
L dengan santai mengambil sesuatu pada tas kecilnya dan memberikan kartu kredit nya yang berlogo Gorl.
" Aku yang akan membayar nya jadi Kak Daniel tidak usah khawatir, pesan saja apa yang Kak Daniel mau. " Masih sibuk makan
" Ini kartu milikmu? "
" Iya. "
" Kau yakin? " Tanya Daniel serius
" Bukan. "
" Kau dapat dari mana? " Mata Daniel memandang L dengan intens, dilihat dari penampilan nya L memang sangat cantik dan masih muda, tapi orang yang memiliki kartu itu biasanya bukan orang sembarangan. Daniel tahu karena dirinya juga orang kaya.
" Jangan melototi ku seperti aku seorang pencuri, itu menang bukan kartu milikku. Tapi itu kartu milik ayahku yang dia berikan kepadaku. Memangnya kenapa dengan kartu itu? " Kini L menatap Daniel dengan wajah penuh tanya.
" Oh tidak apa apa, ku pikir kau menemukan nya, karena tidak mungkin seorang pelajar seperti mu memiliki kartu ini. Ternyata kau anak kesayangan ayahmu yang kaya raya ya. " Ucap Daniel
" Tentu saja, ayahku dan kedua kakak ku sangat sangat menyayangi ku. Jadi apa perlu aku yang membayar makanan ini dan membayar kerugian anda saat terakhir kali kita bertemu di mall tuan? " Tanya L menggoda.
" Tidak perlu, aku ini orang yang lebih kaya darimu, dan simpan saja kartu mu karena aku memiliki ini. " Mengambil sesuatu di dompetnya dan menunjukkan kartu kredit tanpa batas berwarna hitam.
Daniel berniat sombong dan mengira L akan terpukau setelah melihat Black card miliknya, namun setelah L melihat Black card tersebut, reaksi nya biasa saja.
" Baguslah kalo Kak Daniel memang orang kaya, aku akan menyimpan kartu milik ku dengan baik dan seterusnya jika kita bertemu Kak Daniel tentu bersedia mentraktir ku bukan. " Goda L
" Dan bisakah aku memesan lagi? " Jelas pertanyaan L membuat Daniel tak bisa berkutik karena dia justru dimanfaatkan oleh L.
Namun ia tetap membiarkan L memesan apa yang dia mau, dan sesekali tersenyum ke arah L.
Aku di bodohi seorang wanita . Kata Daniel dalam hati
" Dimana ponselmu? " Tanya Daniel
" Ada di tasku, ada apa? "
" Kita sudah berteman bukan masa tidak memiliki nomer masing-masing,dan bukankah aku meminta lukisan yang kau buat setelah kau menyelesaikan nya? " Ucap Daniel sembari mengutak atik layar ponselnya saat L menyerah kan ponsel miliknya.
" Sudah, ini nomer milik ku. Hubungi aku jika kau sudah menyelesaikan lukisan mu itu ya. Ingat aku sudah membayarnya dengan mentraktir mu. " Menunjuk meja mereka yang penuh dengan makanan.
" Hah murah sekali lukisan ku, tapi karena Kak Daniel orang baik dan kaya raya dan berjanji akan mentraktir ku makan tiap kita bertemu maka aku setuju. "
" Kapan aku berjanji seperti itu? "
" Jangan pura-pura hilang ingatan, kalau tidak maka aku juga akan melupakan tentang lukisan itu. "
Daniel selalu kalah jika berdekap dengan L, ujung-ujungnya ia selalu kalah. Dan mengiyakan semuanya.
"Bagus." Jawab L senang
Pertemuan mereka yang kedua cukup manis, L puas mengerjai Daniel. Daniel tidak marah ataupun kesal, ia justru senang dan merasa nyaman bisa bersama dengan L meskipun selalu kalah jika Berdebat dan di bodohi.