
Pagi pagi setelah bangun dari tidurnya, bukan mentari yang ia lihat tapi awan gelap dan kabut yang menyapa nya. Udara hari ini entah kenapa terasa sanga dingin dan menusuk tulang, L yang hendak bangun kembali menarik selimut nya dan hanya menyisakan sedikit wajah cantiknya, sesekali ia bersin karena udara yang begitu dingin.
Hari ini rasanya sangat dingin, ingin rasanya aku membeli penghangat ruangan, tapi rasanya terlalu berlebihan. Cuaca di negaraku kan hanya dua, tidak ada musim gugur maupun musim dingin, lucu sekali aku bisa kedinginan hanya karena sedang musim hujan seperti ini. Kata L yang tengah mengecek ponsel dan melihat pesan dari Bora
L tersenyum melihat pesan dari Bora, ia segera membalas dengan wajah yang begitu ceria, tiba-tiba ia jadi semangat, ia buang jauh jauh selimut yang menutupi tubuhnya itu dan segera bangun melakukan aktivitas nya seperti biasa, ia hari ini juga perlu ke pasar dan toko bahan bahan pokok karana ia sadar, dirumahnya di tidak ada apa, tidak mungkin L membuat tamunya kelaparan dan makan sesuatu yang biasa ia makan, karena dirinya orang yang tidak neko neko dengan makanan, terkadang cukup dengan roti isi dan salad saja, tapi kan nanti akan ada banyak orang dirumah nya, tentu selera mereka berbeda dengan nya.
Usai membersihkan diri, L segera mengambil dompet dan payung berwarna kuning nya. Tak lupa untuk mengunci pintu, ia sudah ada dipinggir jalan, menunggu angkot. Kalau saja tidak mendung dan cuaca sedikit cerah, ia mungkin akan pergi kepasar dengan naik sepeda.
Dipasar L segera membeli berbagai kebutuhan pokok, seperti beras, kentang, sayuran dan beberapa barang yang lainnya, belanjaan yang ia beli cukup banyak karena memang tamunya akan banyak. L pun sampai menyewa sebuah pick-up atau taxi barang karena tidak mungkin ia bawa dengan tubuh kecilnya.
Tak hanya pasar saja yang ia datangi, L juga belanja di supermarket yang letaknya agak jauh dari pasar, ia meminta supir pick-up untuk mengantarnya, ada beberapa barang yang tidak tersedia di pasar jadi ia harus membelinya di supermarket.
L mendorong troli yang sudah penuh dengan belanja an menuju ke kasir, setelah selesai dihitung, L segera membayarnya dengan menggunakan ATM nya, ia berfikir kalo hari ini adalah hari dimana ia menghabiskan uangnya untuk belanja, Nominalnya sangat banyak mencapai 5 jt, bagi dirinya yang biasanya hanya mengabiskan uang 100 ribu dipasar, dan itupun untuk satu minggu, jumlah itu sangat fantastis.
Bukan tidak mampu karena saldo di ATM nya bahkan lebih dari 300 jt itu pun saldo di ATM yang setiap bulan ditransfer oleh Bora, sementara saldo ATM pribadi sendiri,juga isinya lumayan, dan itu adalah honor hasil dari menjadi ilustrator dan novelis, ia adalah anak yang sederhana dan tidak suka menghambur-hamburkan uang,jadi meskipun ia punya uang banyak , ketika melihat jumlah belanjaannya sendiri,itu cukup membuat matanya melotot.
Dengan bantuan supir pick-up nya, L memindahkan barang belanja tersebut ke mobil, diluar gerimis mulai turun dan ia pun bergegas pulang.
Dan benar saja, sampai dirumahnya hujan menjadis semakin deras
" Eh neng Elis, ini kebanyakan. " Menghitung uang yang diterimanha sangat banyak
" Tidak apa apa pak, Elis juga sudah dibantu memindahkan belanja an Elis yang sangat banyak ini, jadi anggap saja rejeki. "
" Terimakasih neng, oh iya ini nomernya bapak, kalo eneng butuh bantuan bapak hubungi nomer itu saja. Siapa tau Neng Elis mau borong lagi kaya hari ini "
" Oh iya siap pak, sekali lagi terimakasih, Hati-hati dijalan. " Supir tersebut pun masuk kembali ke mobil pick-up nya dan meninggal kan rumah Elis.
Elis dengan telaten membereskan barang belanja anya, karena hanya ia seorang dan tidak ada siapapun yang membantu, L pun harus bolak balik membawa belanjaannya tersebut dan menempatkan nya ditempat yang seharusnya. Lumayan menyita waktu, tapi akhirnya selesai juga. Hujan deras disertai angin terlihat dibalik kaca jendela nya.
L tengah duduk di ruang tamu sambil minum teh untuk menghangatkan tubuhnya, dari balik jendela kaca miliknya, ada seseorang yang berjalan tertatih-tatih menuju halaman rumahnya, ia berusaha memfokuskan pandangan, dan setelah beberapa saat ternyata orang itu adalah pamannya. L terperanjat, segera ia buka pintu rumahnya dan mengambil payung untuk melindungi tubuhnya paman nya yang sudah basah kuyup itu.
" Paman apa yang terjadi, kenapa paman datang tanpa memakai jas hujan atau payung, tubuh paman jadi basah kuyup , dan wajah paman kenapa pucat begitu. " semua berkataan L tidak dijawab oleh paman, awalnya L takut dengan kedatangan pamannya yang tiba-tiba itu, tapi begitu melihat kondisi pamannya yang seperti itu, L jadi sangat khawatir. Ia memapah tubuh pamannya masuk kedalam rumah, ia berlari masuk kedalam kamar dan mengambil handuk juga baju ganti.
" Paman, segera ganti baju paman dengan pakaian ini, baju paman sudah basah kuyup nanti bisa masuk angin. " kata L sambil menyerah pakaian dan handuk pada pamannya
Pamannya menerima pakaian dan handuk tersebut, dan berjalan menuju kamar mandi dengan mulut yang masih membisu.