
Bora yang sedang menelpon Jisoo lalu tiba-tiba terputus jadi gelisah, ia bergegas keluar dari ruangan nya dan pulang ke rumah.
Beberapa kali Bora mencoba menghubungi nomor suaminya, tapi tak kunjung diangkat. Sepanjang jalan Bora jadi semakin cemas.
Di rumah Dokter pribadi keluarga Kim sudah datang dan segera memeriksa kondisi L. Wajah L begitu pucat seakan tidak ada darah yang mengalir didalamnya. Jisoo, Jukyung, dan Pak Im berdiri tak jauh dari L.
" Bagaimana keadaan nya? " Tanya Jisoo
" Nona muda baik baik saja, ia hanya pingsan dan tekanan darahnya rendah. "
" Tapi wajah adik ku begitu pucat, sebelum nya ia nampak baik baik saja kenapa bisa ia jadi seperti itu?"
" Saya rasa Nona mengalami syok sehingga membuat kondisi fisiknya melemah, bukankah Nona muda mempunyai riwayat operasi otak dan mempunyai trauma dimasa lalu? Saya rasa itu ada hubungannya dengan hal ini. " Ujar Dokter Cha.
Jisoo melirik ke arah Pak Im.
" Maafkan saya Tuan Muda, saat kami sedang makan di meja makan saya telah menunjukkan sesuatu pada Nona Yuna. "
" Apa yang kau tunjukkan pada adikku? "
" Saya menunjukkan sebuah paket yang sebenarnya sudah ada sejak dua minggu setelah Nona sampai dikorea, karena kondisi Nona waktu itu sedang tidak baik dan saya juga lupa memberitahu tentang paket tersebut kepada Anda maupun Nona Bora jadi saya menyimpan nya lebih dulu, dan tadi saya menunjukkan paket tersebut pada Nona Yuna. Nona mengatakan itu adalah paket yang ia kirim sewaktu masih di Indonesia, namun setelah membaca dan hendak membuka paket itu, Nona muda jadi seperti ini. Maafkan saya Tuan, ini semua salah saya. " Ucap Pak Im penuh penyesalan.
Jisoo menghela nafas " Simpan kotak itu dan jangan perlihatkan pada Yuna lagi! " Pak Im mengangguk mengerti.
Perawat telah memasang infus dan dokter telah menyuntik vitamin untuk L agar segera sadar.
" Kapan dia sadar? "
" Setelah cairan infus masuk kedalam tubuh Nona akan segera sadar, saya juga telah menyuntik kan vitamin untuk, dan ini resep obat untuk Nona. " Dokter Cha kemudian pamit setelah selesai memeriksa kondisi L.
Bora yang baru sampai di rumah berlari masuk kedalam dan mencari suami serta adik nya.
" Dimana suami ku? " Tanya Bora pada pelayan nya.
" Tuan sedang berada di kamar Nona Yuna. " Bora kembali berlari menuju kamar L.
" Sayang. " Jisoo kaget melihat Bora sudah pulang ke rumah.
Bora melihat kondisi L terbaring dengan infus di tangan nya langsung duduk disamping dan mengusap wajah L yang pucat, Bora sedih dan terlihat sangat khawatir.
" Ada apa dengan dia sayang? Kenapa dia terlihat begitu pucat dan tertidur seperti itu, dia baik baik saja kan? " Tanya Bora dengan mata berkaca-kaca.
Jisoo mendekat dan memeluk Bora dari belakang.
" Dia baik baik saja, kata dokter tekanan darahnya rendah sehingga ia pingsan." Jawab Jisoo bohong.
Perlahan ada gerakan dari jari L dan matanya mulai terbuka. Pandangan L awalnya buram lalu perlahan kembali normal. Ia edarkan pandangan nya ke sekeliling dan mendapati Jisoo dan Bora sudah ada disamping nya.
" Bora. " Ucap L pelan.
Bora menggenggam tangan L dan tersenyum kepada nya " Iya adik, ini aku. Apa kau baik baik saja? Ada kah yang kau rasakan? "
Sejenak L merasakan pusing sampai memegang kepalanya. Bora dan Jisoo mendekat karena khawatir.
" L. " Panggil Bora pelan.
L tersenyum pada Bora " Aku tidak apa-apa hanya pusing Kepala saja. Maaf membuat kalian khawatir. " L menunduk malu
" Oh iya kak, aku sudah menyelesaikan gambar ku. " L berusaha meraih tas nya, Jukyung yang mengerti langsung mengambil tas milik dan menyerahkan nya.
" Ini untuk kakak, maaf aku tidak pandai menggambar pakaian, tapi kupikir jika sudah jadi akan terlihat indah. " Menyerahkan tumpukan kertas pada Bora.
" Kenapa kau memikirkan hal yang tidak penting di saat seperti ini, apa kau sakit karena mengerjakan ini? "
" Tidak, aku senang melakukan nya, itu sama seperti aku sedang melukis dan aku menikmatinya. "
Bora tersentuh dan memeluk L " Terimakasih, lain kali aku tidak akan merepotkan mu lagi. "
Jukyung membawa makanan untuk L " Nona maafkan saya mengganggu, ini saat nya makan dan minum obat. " Ujar Jukyung
"Oh iya, kemarikan padaku. Aku akan menyuapi nya " Sahut Bora
Malam itu setelah meminum obatnya, L malah tak bisa tidur. Setelah Bora dan Jisoo meninggalkan kamar, L justru bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ruang lukisannya.
Pandangannya tampak kosong, ia berdiri didepan lukisan milik Daniel yang belum jadi. Perlahan Ia mengambil kuas dan melanjutkan menyelesaikan lukisan tersebut, tiap goresan yang L toreh di atas kanvas terasa berbeda, sisi kanvas yang kosong telah penuh oleh berbagai paduan warna cat minyak.
Lukisan tersebut sangat indah, lebih indah dibanding lukisan sebelum nya, walaupun memiliki latar sama sama di Taman. Hanya saja sosok yang ada di dalam lukisan tersebut bukanlah Daniel melainkan L.
Nuansa lukisan tersebut masih menggambarkan musim panas, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada makna tersirat dalam lukisan tersebut. Sosok wanita yang digambarkan di lukisan itu, di lukis dengan gaya abstrak, terbalik dengan latar atau background nya yang dilukis secara nyata.
L menyelesaikan lukisan tersebut dan tak lupa memberi tanda tangan di lukisan miliknya, huruf latin inisial L dan nama Daniel. L juga memberi judul untuk lukisan miliknya yang berjudul 'Alone'.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, besok pagi L sebenarnya ada jadwal kuliah namun rasanya ia tak ingin pergi kemana mana. Dengan langkah gontai, ia kembali berbaring di tempat tidur nya. Melihat ponselnya dan mengetik sebuah nomer tak dan melakukan panggilan.
Panggilan tersambung pada dering ke empat, ada suara seorang lelaki yang terdengar seperti baru bangun dari tidur nya.
" Hallo, ini siapa? " Tanya orang dibalik telepon.
L hanya diam, nomer yang dihubungi adalah nomer Hari. Setelah Pak Im menyerahkan paket darinya, ia jadi mengingat keluarga nya di desa. Pak Anwar, Bu Lilis, dan Mas Hari. L merindukan mereka, entah karena hilang ingatan sungguhan atau hanya pura-pura. Sepertinya L hanya ingin melupakan kehidupannya saat masih di Indonesia.
" Hallo Mas Hari. " Jawab L pelan
Hari yang masih setengah sadar langsung terbelalak. Ia jelas hafal dengan suara dibalik telepon itu.
" Elis, benar kan ini kau Elis. "
" Iya ini aku, Mas Hari apa kabar? Bagaimana keadaan Bapak dan Ibu? " Tanya L
"Semuanya baik, Bagaimana dengan mu?"
" Aku juga baik baik saja. "
Hari mendengar suara L yang tidak bersemangat jadi cemas.
" Apa Kau yakin? "
" Iya aku baik baik saja, maaf Mas Hari aku tutup telpon nya dulu ya, nanti ku hubungi lagi."
" Tunggu. " Panggilan telah terputus sebelum Hari menyelesaikan kalimat nya.
Sudah berbulan bulan ia tak mendengar kabar dari L, Ia begitu sedih dan juga rindu padanya. Banyak pertanyaan yang ingin ia sampai kan padanya, namun L hanya menelpon nya singkat. Tak apa karena itu menandakan bahwa L masih mengingat nya, lagipula dua minggu lagi ia akan terbang ke Korea.