
Sepanjang jalan, L dan Hari berbincang tentang kehidupan Hari yang telah menjadi seorang mahasiswa, L tampak antusias dan sangat tertarik ingin segera kuliah.
" Apa kau sudah memutuskan untuk kuliah dimana?" Tanya Hari
" Emmm sebenarnya aku tak terlalu memikirkan dimana akan kuliah, hanya saja yang penting aku bisa masuk jurusan seni, tapiii..... " L berhenti berbicara dan tampak murung
" Jurusan seni? wah menurut ku itu jurusan yang paling sulit, dibandingkan dengan jurusan arsitek dan kedokteran yang seperti matematika ada rumus dan ilmu Pasti nya, sangat berbeda dengan jurusan yang ingin kau masuki, bagiku jurusan itu teruntuk orang-orang jenius dengan bakat dan imajinasi yang besar, tak bisa sembarangan bisa masuk kesana, apalagi hanya asal bisa menggambar saja contoh saja seperti itu. Jurusan itu menuntut orang dengan kreativitas tinggi dan mampu menciptakan sebuah karya seni. Dan aku yakin kau pasti bisa. " Hari memberi semangat pada L
" Benarkah aku bisa? "
"Tentu saja, ouh iya apa kau masih menulis novel dan membuat webtoon? "
" Masih kak, itu kan sumber kehidupan ku, kalo tidak bagaimana aku bisa makan nantinya. "
" Aku selalu kagum padamu, hebat sekali kau sudah mampu hidup mandiri. Judulnya apa? maaf aku lupa, sewaktu kuliah aku tidak punya waktu untuk bersantai, bahkan untuk tidur saja sulit. "
" Ah Mas Hari terlalu memujiku, aku tak sehebat itu kok, karyaku belum masuk kategori bisa dibanggakan. "
" Tapi aku tetap bangga padamu. Lalu kenapa seakan ragu dengan jurusan itu? "
" Pamanku ingin aku masuk jurusan kedokteran atau jurusan pendidikan. " L kembali murung
" Bukankah kau sudah tidak tinggal bersama mereka kenapa kau masih memikirkan perkataannya. "
" Aku memang sudah tidak tinggal bersama mereka karena aku sangat tertekan dengan cara pamanku yang terlalu mengatur hidupku dan bibiku yang tak menyukai ku, sehingga aku memutuskan untuk kabur dari rumahnya, meskipun begitu pamanku sebenrnya tahu kalo aku pasti kembali ke desa dan walaupun ia belum menemuiku disini, ia masih sering menghubungi dan memantau kegiatan ku, dan masih sering mengaturku."
Sejak pindah dan tinggal bersama pamannya, L masih berhubungan dengan Hari, karena ia sudah menganggap Hari seperti kakaknya sendiri. Ia sering mencurahkan isi hatinya dan kesulitannya selama tinggal dirumah pamannya, tak hanya bersama Hari saja, Pak Anwar dan Bu Lilis juga tahu masalah yang L alami.
" Sebenarnya aku mungkin akan memilih masuk jurusan pendidikan saja, dengan begitu aku masih bisa menulis dan melukis. Tapi hatiku ini ingin sekali masuk jurusan seni, aku sudah tak tinggal bersama mereka, tapi kenapa seakan mereka masih membelenggu ku, aku masih tidak bisa melakukan apapun yang kusukai. " L mulai berkaca-kaca
" Aku mengerti, tapi yakinlah pada dirimu sendiri L, lakukan lah apa yang kau inginkan, aku mengerti tujuan paman mu sebenarnya baik, hanya saja dia tak mengerti keinginan mu yang begitu mencintai dunia menulis dan melukis, paman mu seperti orang-orang diluar sana yang memandang sebelah mata seorang Seniman, dan memang menjadi seorang seniman bukanlah hal yang mudah, tak cukup bagi seseorang yang hanya mengandalkan kejeniusan tapi juga perlu sebuah keberuntungan. Jujur saja aku iri padamu, di umur mu yang masih begitu muda, kau sudah bisa hidup mandiri dan punya kepribadian seperti orang dewasa, terkadang aku lupa bahwa umurmu itu masih dibawahku,karena saat kita berbincang-bincang rasanya seperti seumuran saja. "
" Benarkah, apa aku yang keliatan tua? " L akhirnya sedikit tersenyum.
" Bukan itu maksudnya "
"Hahahah" L tertawa melihat Hari yang kebingungan
" Kan yang ku bilang dewasa itu cara berpikir mu, kalo fisik mah aku akui kau sedikit bertumbuh, padahal terakhir kali aku melihat mu sebelum kau pergi kerumah paman mu, kau hanya setinggi pohon toge. " canda Hari
"Ya ampun apa aku sekecil itu, Mas Hari jahat sekali bilang aku seperti pohon toge, lihat saja nanti klo aku sudah besar aku pasti lebih tinggi dari mu, hanya lebih tinggi saja sombong, padahal dulu waktu SMP suka lari lari mencari ku supaya membantumu mengerjakan PR." balas L tak mau kalah
Hari tampak kebingungan dan malu sendiri "Wah wah wah, ternyata kau memang benar benar pintar ya. " gerutu Hari yang tak bisa membalas ucapan L
" Apa aku masuk jurusan Kedokteran saja di kampusmu Mas? "
" Jangan...jangan.... Hanya itu kehormatan yang tak boleh kau ganggu,jika kau kesana bisa bisa kau lulus lebih dahulu nanti.Mau ditaruh dimana mukaku kalau sampai teman temanku tahu aku mengenalmu dan ternyata sering diajari oleh seorang anak kecil, hancur sudah wibawaku. Kau ternyata pendendam ya, jahat sekali. "
L tersenyum penuh kemenangan