All About You "L"

All About You "L"
Hilang



" Hari ini kita sukses besar berkat kerjakeras kita semua, ayo bereskan kekacauan ini dan nikmati festival nya. " Ucap Ketua Jurusan dengan semangat. Semua langsung bersorak.


" Ketua bukankah masih ada hari esok?" Celetuk salah satu dari mereka


" Hei jangan jadi perusak suasana, maksud Ketua adalah kita bisa tutup stan lebih awal dan menikmati festival sebelum kembali kerja keras esok hari. " Sahut yang lain


" Benar-benar, ayo cepat bereskan kekacauan ini dan melihat stan jurusan lain. "


Jurusan Seni adalah yang paling awal menutup stan dan bisa menikmati festival seperti pengunjung lain.


" Senang nya bisa tutup lebih awal, aku juga mau. " Ujar salah seorang dari jurusan yang letak stan nya dekat dengan Jurusan Seni.


" Iya mereka hebat sekali?"


" Kira-kira apa ya rahasia nya? "


" Ku dengar mereka menyewa gadis-gadis yang cantik untuk menarik pengunjung? "


" Aku tidak melihat mereka, yang benar adalah mereka menyewa pengunjung bayaran agar kedai mereka terlihat ramai. "


" Darimana kau tahu? "


"Kebanyakan anak Jurusan Seni kan dari kalangan orang kaya jadi mudah saja melakukan hal itu. "


" Kau benar! Lihat saja banner dan spanduk yang ada dikedai mereka, seperti nya produk minuman yang mereka jual milik orang tua salah satu siswa. "


" Apapun itu aku iri dan ingin sekali bisa ikut menikmati festival. "


Jurusan lain yang berada dekat dengan kedai milik Jurusan Seni sangat iri dengan kesuksesan mereka.


****


" Hari.... Hari... Harris Alexandria! " Panggil Arya dengan kencang, Hari sampai tersentak dan beberapa orang melihat kearah mereka.


" I- iya. " Jawab Hari gagap.


" Kau ini kenapa? Daritadi kupanggil tidak kunjung menoleh, pikiran mu seperti tidak ada disini? " Ujar Arya.


" Kau baik-baik saja Hari? Jangan bilang kau lelah, ini baru hari pertama festival para senior tidak akan membiarkan mu bersantai jadi berusaha lah untuk bertahan, lagipula ini cuma bertahan tiga hari saja. " Ucap salah seorang teman Korea Hari.


" Bukan begitu aku hanya sedang memikirkan sesuatu. "


" Memang nya kau sedang memikirkan apa? " Tanya Arya cepat.


" Diam lah dan kembali bekerja sana. " Hari hendak pergi tapi segera ditahan oleh Arya.


" Aku tahu kau pasti sedang memikirkan Elis kan? "


Hari melotot " Jangan bicara sembarangan! "


Arya tertawa " Aku ini sahabat sekaligus keluarga mu disini kawan, dan aku ini punya mata yang tajam. Tadi siang aku sempat melihatmu berbincang dengan L. "


Hari tak menghiraukan ucapan Arya, ia sibuk melakukan sesuatu.


" Baik, baik, anggap saja aku tidak melihat nya tapi aku punya satu informasi kalau sebaiknya jangan mencari L selama festival karena dia tak menghadiri nya, jadi kalau kau punya ide untuk menyelinap ke stan milik Jurusan Seni itu percuma. "


" Darimana kau tahu? "


" Jaman sudah canggih dan manusia adalah makhluk sosial yang saling berkomunikasi kenapa sulit untuk mencari tahu, tentu saja aku bertanya dengan cara mengirim pesan pada L lewat ponsel lalu beberapa saat dia membalasnya. " Ujar Arya


" Kurasa otak mu hanya pintar dalam hal akademik saja Bro, masa hal seperti itu saja tidak tahu. " Ledek Arya.


" Kenapa dia tidak hadir? "


Arya menghela nafas panjang " Hari kau itu amnesia atau apa? Elis gadis dibawah umur dan lihat ke Seliling mu! Banyak predator , makanan dan minuman berbahaya, serta udara yang buruk untuk kesehatan nya tidak mungkin kakaknya yang cerewet seperti ibu ku itu mengijinkan. "


Hari baru menyadari nya " Kau benar. " Terlihat lega.


" Jadi fokuslah agar kita tidak sering dapat teguran dari senior ya. Sejujurnya aku sangat kesal dengan mereka. "


" Kenapa? "


" Kau tanya kenapa? Otak mu benar-benar bermasalah ya. "


" Maksud mu? "


" Saat di kelas maupun diruang praktek mereka sangat baik dengan mu meskipun kau dari negara lain, tapi semenjak festival dibuka lihatlah wajah asli mereka, sejak pagi kita sudah di suruh kesana kemari, bau alkohol dimana mana membuat ku pusing."


" Ini kan budaya mereka jadi nikmati saja dan jangan sampai terbawa arus Arya. " Ujar Hari


" Baik Pak Guru. "


***


Waktu terus berjalan dan malam kian larut, beberapa stan telah tutup dan banyak yang telah pulang untuk beristirahat untuk mengumpulkan energi yang telah terkuras hari ini.


Seseorang berpakaian serba hitam berjalan dengan santai menuju stan milik Jurusan Seni. Orang itu membelai banner yang menunjukkan foto L dengan sayang.


" Lihatlah kesayangan ku yang cantik ini, dia adalah dewi ku. Berani beraninya mereka menatap dan mengambil foto cintaku. " Tangan sosok itu mengepal dengan keras.


" Aku tidak boleh marah, tidak boleh! Nanti dewi ku takut padaku, tapi aku tidak terima mereka yang telah mengambil foto dan membelai wajahmu, hanya aku! Hanya aku seorang yang berhak. "


Malah hari L tidur dengan gelisah karena sedang mimpi buruk, Lmendapati dirinya terkurung diruangan yang gelap.


" Tidak! Tidak! Buka pintu nya siapapun tolong aku. Bora, Kak Jiso, Kak D.O, Kak Jaehyun, Kak Shin, Ayah! " Gumam L dalam tidur nya hingga akhirnya ia terbangun dengan keringat bercucuran. Sejenak L menutup mata dan mengatur nafas.


" Apa gejala trauma ku kambuh lagi? Tapi aku rajin menghadiri konseling, kata dokter aku sudah membaik dan traumatis ku akan segera sembuh. Mungkin hanya bunga tidur. " Ucap L


Ia terbangun pukul satu dini hari. Rumah sudah sepi karena semua penghuninya sudah terlelap tidur, L tak bisa kembali tidur jadi ia bangun dan memilih ke ruang lukis untuk menenangkan diri.


L mulai menorehkan cat minyak ke atas kanvas, beberapa warna di dominasi warna gelap seperti abu-abu, dan hitam jadi dasar lukisannya. Sesekali L berhenti dan melihat hasil lukisan nya, terasa aneh tapi tetap ia lanjut kan.


Alarm dikamar Jukyung berbunyi, seperti biasa ia segera bangun dan bersiap memulai pekerjaan nya.


Hal pertama tentu saja menyiapkan air hangat dan pakaian yang digunakan L. Jukyung melihat L masih tertidur tersenyum sejenak sebelum ia membuka tirai.


" Nona bahkan sangat cantik saat masih tertidur. " Ucap Jukyung.


Ia berjalan menuju meja belajar, ruang lukis dan dan mengecek semuanya. Tidak terlihat ada sesuatu yang aneh. Meski Bora sudah mematikan CCTV di kamar L , tapi Bora tetap menugaskan Jukyung untuk mengecek kamar L apakah ada tanda-tanda L habis begadang atau tidak, dan pengamatan hari ini tidak.


" Nona bangun lah, saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda mandi. " Ucap Jukyung perlahan membangun L.


" Terimakasih Kak Jukyung. " L beranjak menuju kamar mandi.


Jukyung segera merapikan tempat tidur dan menyiapkan teh hangat kesukaan L, saat hendak memindahkan teko serta cangkir sisa semalam Jukyung sedikit bingung karena terasa ringan padahal tadi malam setelah minum satu gelas teh L langsung tertidur.


" Teko ini terasa ringan, mungkin saja diminum Nona Bora karena beliau menunggu Nona Yuna sampai benar-benar tertidur. "


Di ruang makan Bora dan Jisoo sudah menunggu L.


" Selamat pagi semua. " Ucap L dengan semangat.


" Selamat pagi juga Yuna. " Jawab Jisoo


" Iya selamat pagi adikku tersayang. " Jawab Bora


" Jadi apa kegiatan mu hari ini? " Tanya Jisoo


" Ke perusahaan Bibi lagi Kak. "


Bora menghentikan suapan ketika mendengar jawaban L.


" Kenapa? " Tanya L


" Kakak tidak suka kau dekat dekat dengan Bibi Han, lihatlah tadi malam kau terlihat kelelahan karena dia, bahkan pulang sampa larut malam, membuat mu tidur lebih larut dari biasanya. "


" Ya ampun Kak, aku tidak tidur selarut itu hanya terlambat beberapa menit, jangan berlebihan! Mungkin hanya aku yang punya jam tidur seperti anak SD, padahal aku ini anak kuliahan, anak SMA saja baru pulang setelah lewat jam sembilan malam. " Ujar L


" Umurmu baru empat belas tahun, anak kuliah apa? Jam malam itu berlaku sesuai dengan umurmu bukan dari jenjang pendidikan mu, secara umum kau itu harusnya masih SMP. Tidak ada anak SMP yang bekerja dan aku yakin kau tidak dibyar, itu melanggar hukum .Apa perlu kakak tuntut Bibi Han karena untuk itu. " L sedikit tersedak, Jisoo segera memberinya minum.


" Sayang sudah, ini meja makan harusnya kita makan dengan tenang jangan sambil berbicara, lihatlah Yuna jadi tersedak olehmu. " Jisoo juga membantu mengelap mulut L dengan tissu.


" Kau tidak apa apa Yuna? " Bora terlihat khawatir.


L malah tertawa " Kurasa ini yang dipikirkan oleh Bibi Han, aku lupa punya kakak yang over protektif. " Ucapnya dalam hati.


" Kakak aku disana hanya membantu Bibi Han, lagipula pekerjaan nya tidak berat, sekalian aku bisa bertemu Sora dan bermain dengan teman sebayaku, jadi boleh ya. " Memperlihatkan wajah imut nya.


Tentu saja Bora kalah dan tak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi L, " Kenapa kau punya wajah secantik dan seimut itu, ini menyebalkan. Aku tidak bisa bilang tidak. " Ujar Bora. L dan Jisoo tersenyum.


***


Pagi pagi di kantor pusat Huang shan Grup cabang Korea, tepatnya diruang rapat suasana terlihat sangat berbeda, semua orang terdiam lebih tepat nya tidak ada yang berani bersuara, sejak kemarin suasana hati Daniel sedang tidak baik dan itu membuat mata dan telinga nya menajam berkali-kali lipat.


Setiap laporan yang masuk ke ruangan nya pasti akan segera di lempar dan orang yang bertanggung jawab akan laporan tersebut akan dipanggil, entah bagaimana, Daniel mampu melihat setiap kesalahan dalam laporan tersebut bahkan kesalahan paling kecil seperti titik atau koma.


Asisten nya yaitu Mr. Lee tentu saja tak bereaksi berlebihan seperti Bosnya, wajahnya tetap datar namun itu membuat para manager dan direktur yang hendak bertemu dengan Daniel semakin ketakutan.


" Kaki ku terasa lemas dan tenagaku hilang, bagaimana bisa si Bos melihat kesalahan dalam laporan ku hanya karena aku salah belum menulis kan siapa penanggungjawab laporan itu. "


" Kau beruntung karena kesalahan mu lebih masuk akal dibandingkan aku, Bos memanggil ku ke kantor nya dan melemparkan laporan ku karena kesalahan tanda baca pada kalimat terakhir. "


" Benarkah? "


" Tentu saja, kau lihat laporan yang menumpuk di mejanya? Bagaimana bisa dia melihat kesalahan ku yang hanya sebutir debu itu, Bos sangat menyeramkan."


" Kau benar, tidak masalah sebesar apa kesalahan kita, yang jelas suasana hati Bos hanya sedang tidak baik jadi dia melampiaskan pada kita. "


" Kalian pasti bercanda, memangnya Bos pernah bersikap baik pada kita. "


" Tapi sebelum nya dia tidak pernah seperti ini. "


" Kau benar, rasanya lebih menyenangkan bertemu Mr.Lee dibandingkan Bos. "


Begitu lah obrolan para karyawan yang tersiksa dengan sikap Daniel beberapa hari ini.


Setelah melemparkan satu buah laporan lagi Daniel duduk bersandar dengan kepala yang dipijat dengan tangannya sendiri.


" Kenapa aku bisa mempekerjakan mereka di perusahaan ku Lee? " Ujar Daniel.


" Mereka adalah orang-orang kompeten dan berpengalaman Tuan. " Jawab Mr.Lee


" Kompeten apanya? Semua laporan yang mereka kerjakan kacau, apa benar mereka sudah lulus kuliah? Laporan yang mereka kerjakan seperti anak SMA saja. "


" Rata-rata mereka Lulusan dari universitas terbaik dari kampus dalam dan luar negeri Tuan. "


" Dan kau lihat tadi di ruang rapat, mereka semua seperti orang bisu, kurasa aku sudah buang-buang uang untuk menggaji mereka. "


" Mereka diam karena menunggu keputusan anda Tuan. "


" Lee tidak bisakah kau tidak menyebalkan hari ini, atau sekarang aku baru sadar jika kau sangat menyebalkan membuat suasana hatiku jadi buruk. "


" Maafkan saya Tuan Muda, bukan saya yang menyebalkan, saya menjawab sesuai fakta dari setiap pertanyaan yang anda lontarkan. Dan untuk suasana hati anda yang sedang buruk mungkin ini karena pesan yang anda kirim ke Nona Yuna belum dibalas. "


Daniel terperanjat " Bagaimana kau bisa tahu?"


" Sejak kemarin anda gelisah dan bertanya dengan saya berulang kali kenapa Nona Yuna tidak menjawab pesan anda. "


" Hah! Apa aku melakukan itu? Kau yakin? "


" Sangat yakin Tuan, kita bisa melihat nya lewat rekaman CCTV di ruangan anda. " Mr. Lee hendak memperlihatkan lewat ipad.


" Stop! Tidak perlu. Singkirkan benda itu! " Mr. Lee mengambil ipad yang ada didepan Daniel.


" Jadi kenapa Yuna tidak membalas pesan ku? "


" Mungkin sekarang dia sedang sibuk belajar Tuan. "


" Kan bisa malam hari dia menjawab pesan ku, lagipula dijaman sekarang semua orang tidak akan lepas dari ponsel mereka bukan? "


" Maafkan saya Tuan, itu memang benar namun itu pengecualian untuk Nona Yuna, selama penglihatan saya, Nona Yuna jarang memeriksa ponsel nya, paling hanya untuk menerima panggilan saja. "


Daniel berpikir keras " Kau benar. " Ujar Daniel dengan lesu.


***


Festival hari kedua semakin meriah dibandingkan hari pertama. Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi di stant Jurusan Seni.


" Ayo semuanya hari ini kita harus lebih kompak dan bersemangat, aku yakin kedai kita akan lebih sukses dibandingkan hari pertama. "


" Iya ayo semangat. "


Anak-anak Jurusan Seni langsung menuju pos nya masing-masing.


"Hei kurasa ada yang kurasa di kedai kita. " Ucap salah satu siswa.


" Ada apa? " Tanya yang lain


" Kemana Banner kita? "


" Kau cari dulu di detak kardus penyimpanan, bukankah si gendut dan si tiang listrik menaruh nga disana tadi malam. " Sahut siswa yang lain lagi


" Tidak ada? "


" Kau yakin? "


" Iya. "


" Panggil mereka berdua! Karena mereka yang menyimpan nya tadi malam. "


Orang yang dicari ketemu dan mereka menjawab jika banner sudah disimpan dekat kardus penyimpanan.


" Kami sudah menyimpan nya di sana. " Menunjuk ke arah tumpukan kardus di pojok kedai.


" Tapi banner tidak ada. Kalian tidak membawa pulang kan? "


" Tidak! Untuk apa kami bawa pulang, setelah selesai membersihkan kami segera pergi menuju panggung konser di lapangan dan pulang larut malam. " Keributan itu terdengar di telinga Ketua Jurusan.


" Ada apa ini? Kenapa kalian malah bersantai disini? Kedai harus segera dibuka. "


" Maaf Ketua, kami mau menyampaikan kalau Banner kita hilang. "


" Hilang? Bagaimana bisa? "


" Kami sudah menyimpan disana Ketua" menunjukkan kembali tempat ditaruhnya banner tersebut, " Tapi saat ini kami tidak bisa menemukan nya. "


" Kenapa kalian ribut hanya karena masalah sepele , ambil saja cadangan nya . " Setelah Ketua Jurusan berkata seperti itu, pekerjaan mereka kembali berlanjut. Di sudut lain sosok pria tengah memperhatikan dan ekpresi nya terlihat tidak senang.


Tanpa mereka sadar sosok itulah yang mencuri banner foto L dan menaruhnya di ruangan yang penuh dengan foto L.