All About You "L"

All About You "L"
Mencari Kebenaran



"Perkenalkan ini kakak ku dari Indonesia namanya Hari, sedangkan ini teman Kak Hari namanya Arya. Mereka mahasiswa jurusan kedokteran di kampus yang sama dengan kita." L memperkenalkan Hari dan Arya pada Yura dan Jungki.


" Dan Mas Hari perkenalkan mereka adalah sahabat dekatku Yura dan Jungki. " Imbuh L


Hari dan Arya memberi salam dan tersenyum pada Yura dan Jungki, begitu pula sebaliknya.


" Iya hallo salam kenal aku Hari. "


" Aku Arya. "


" Aku Yura. "


" Dan Aku Jungki. "


L menggoncang lengan Hari " Mas Hari tumben kesini ada apa? " Tanya L


" Tidak apa apa, aku dan Arya hanya ingin jalan jalan saja ke fakultas mu sekalian mengajakmu makan di luar. " Ujar Hari


" Iya kami juga ingin melihat bagaimana kehidupan kampus mu, apa kau disini merepotkan dosen mu atau tidak. " Sahut Arya tiba-tiba.


Yura dan Jungki yang mendengar ucapan Arya langsung menutup mulut menahan tawa.


L menatap tajam pada Arya " Maksud Mas Arya apa? Aku ini mahasiswa yang rajin dan berprestasi, sama sekali tidak merepotkan siapapun. " L membela diri.


" Ya siapa tahu kau akan menyusahkan dosen mu, misalnya saat membahas sejarah atau teori dari berbagai sumber mengenai perkembangan seni lukis di Yunani, kau akan beradu pendapat dengan dosen mu sampai membuatnya malu. Hahaha. " Arya tertawa keras


"Khayalan Mas Arya terlalu tinggi, aku tidak akan seperti itu." Jawab L.


" Hampir! " Sahut Yura dan Jungki tiba-tiba.


L melotot " APA? "


" Waktu itu kau hampir saja membuat Pak Hyun malu saat mengajar perkembangan seni dan budaya pada masa Renaisans, kau berdebat dengan nya dan menyalahkan dia karena dia salah menyebutkan nama Seniman pada masa itu, kamu menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi beserta catatan kaki buku yang kau baca. Kau sangat jahat waktu itu Yuna. Bukan lagi hampir tapi kau sudah mempermalukan pak Hyun. " Jelas Jungki.


" Benarkah? Tapi seingat ku dia tak marah dan tersenyum padaku? "


" Tersenyum padamu tapi dalam hati dia menangis." Imbuh Yura.


L meringis memperlihatkan gigi giginya, Hari dan Arya hanya bisa menggeleng kepala.


" Jadi apa kau mau makan diluar bersama ku? "Tanya Hari


" Kami!" Ujar Arya sewot. " Kau anggap apa aku ini? Hantu? "


Hari tersenyum " Maksud ku, kami. " Hari membenarkan ucapan nya.


L nampak sedang berfikir, sebenarnya ia ada banyak tugas yang harus ia kerjakan. Ia ingin segera pulang dan mengerjakan nya. Selain tugas kampus, tugas membuat gambar desain untuk Daniel juga belum ia kerja kan.


" Yura, Jungki maukah kalian bergabung dengan ku dan kedua kakakku? Setelah makan kita bisa mengerjakan tugas kelompok. Daripada menunda sampai besok, lebih baik kalian ikut bersama ku dan kita kerjakan saja hari ini. "


" Mas Hari tidak keberatan bukan kalau temanku ibi ikut? " Tanya L


" Tidak masalah. "


"Iya kami menurut saja padamu. " Ujar Yura dan di angguki oleh Jungki.


" Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah ku, kita bisa makan siang sekaligus mengerjakan tugas kita disana. " Ujar L


Yura dan Jungki mengerjapkan mata mereka, ragu ragu tapi penasaran.


" Jika tidak merepotkan mu, kami ikut saja. " Jawab Jungki


" Tentu tidak. Ayo sekarang kita pulang ke rumah ku, karena hari ini aku tidak dijemput kita naik kereta saja lalu dilanjutkan naik bus. " Ujar L dengan penuh semangat.


" Kenapa kau begitu semangat? " Tanya Arya penasaran


" Kita seperti sedang piknik bersama sama, bukankah itu menyenangkan? "


" Dalam pikiran mu saja, kita hanya naik kereta dan bus. Sombong sekali yang sekarang jadi Sultan. " Ujar Arya.


Hari menghela nafas mendengar ocehan keduanya.


Sepanjang jalan, L dan Arya terus berbisa. Yura , Jungki, dan Hari hanya menjadi penonton yang kadang menggeleng kepala karena keduanya tak bisa diam.


Perjalanan yang bisa di tempuh 40 menit menjadi satu jam lebih karena beberapa kali L minta berhenti jika melihat kedai yang menjual cemilan yang dia suka.


" Yuna kau kan tadi di stasiun habis membeli hotang dua biji, sekarang kau mau membeli tteokbokki? " Tanya Arya.


" Jangan ditanya, Yuna itu ratunya makan. Dia mungkin akan berhenti makan jika sedang tidur atau belajar. " Ujar Yura lantang. L tak merasa terganggu, ia masih berdiri di depan kedai yang menjual tteokbokki.


Hari menepuk bahu L " Apa kau diperbolehkan membeli makanan ini oleh kakak mu? " Tanya Hari.


L memperlihatkan wajah imutnya " Kata Bora boleh asal tidak berlebihan. "


" Yang kau lakukan itu sudah berlebihan. " Celetuk Yura.


" Ayo cepat pulang, dirumah kau bisa minta pelayan dirumah mu untuk membuat apapun yang kau mau. " Ujar Hari.


L mengangguk lesu


Mereka akhirnya sampai didepan pintu, petugas keamanan langsung memberi salam pada L. Mereka membuka gerbang dan mempersiapkan nya masuk.


Yura dan Jungki melongo melihat betapa luas dan megahnya rumah Yuna. Jarak dari pintu gerbang ke depan rumah juga lumayan jauh.


" Apa kalian baru pernah kemari? " Tanya Arya


Yura dan Jungki mengangguk bersamaan.


" Siapkan hati kalian karena yang ada didepan jauh melebihi apa yang baru saja kalian lihat. " Ujar Arya.


Dan benar saja, setelah tiba didepan pintu mansion yang megah. Yura dan Jungki hanya bisa diam dan tertegun.


" Selamat datang Nona Yuna, Tuan Hari, Tuan Arya, dan.... " Pak Im berhenti karena tidak tahu dua orang yang ada dibelakang Nona Mudanya.


" Mereka sahabat ku Pak Im, ini Yura dan Ini Jungki. "


Pak Im tersenyum pada keduanya dan memberi hormat " Selamat datang Nona Yura dan Tuan Jungki. " Sapa Pak Im.


Yura dan Jungki membalas sapaan Pak Im.


Beberapa pelayan yang berdiri dibelakang Pak Im dengan sigap mengambil barang bawaan L, lalu menuntun mereka semua menuju ke dalam rumah.


" Pak Im dimana Kak Jukyung? Biasanya dia yang menyambut kedatangan ku? "


" Jukyung sedang ada di dapur Nona karena Tuan, Shin, Jaehyun, dan D.O sedang ada disini tepatnya di paviliun taman bunga menunggu Nona. " Ujar Pak Im


" Oh benarkah? Ini sangat menyenangkan jika semakin ramai. Siapkan makan siang yang banyak Pak Im karena Mas Hari dan teman teman ku akan ikut bergabung! "


Hari , Arya, Yura, dan Jungki di antar ke paviliun, sementara L akan kembali ke kamarnya terlebih dahulu guna membersihkan diri dan mengganti baju.


Makan siang begitu ramai karena banyak orang berada di meja makan, mereka saling bercanda dan menggoda satu sama lain. Diantara ocehan semuanya, hanya Hari yang tetap diam dan menatap lekat ke arah L.


L mulai sadar bahwa sedari tadi Hari terus menatap nya.L menoleh dan dengan tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi serius untuk membalas tatapan Hari.


Hari sedikit tersentak dan kaget dengan perubahan mimik wajah L, hanya sepersekian detik tapi itu membuat Hari takut.


Acara makan siang telah selesai, mereka langsung pindah menuju paviliun. Yura, Jungki, dan Arya terlihat akrab dengan Big3. Mereka berenam sudah lebih dahulu pindah ke paviliun meninggal Hari dan L yang masih setia di meja makan, kedua nya tadi sudah memberi alasan sehingga yang lain tidak curiga.


L menyuruh pelayan untuk membersihkan meja nanti saja setelah ia dan Hari pergi, pelayan tersebut langsung mengerti dan undur diri.


" Sekarang katakan apa yang ingin Mas Hari tanyakan. " Ujar L tanpa basa basi.


Hari kaget dengan nada bicara L yang berbeda dari biasanya.


" Elis. " Panggil Hari


" Iya. "


" Aku ingin bertanya sesuatu karena aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan, Mas boleh tanya kan? Kamu tahu Mas selalu ada buat kamu kan? "


L mengangguk.


" Apa kau mengingat kejadian yang menimpa mu saat Aku dan Arya pergi menjemput Bora di jakarta? "


Deg


Deg


Deg


Detak jantung L tiba-tiba menjadi cepat dan tidak beraturan, bayangan suara dan wajah seseorang yang tidak jelas yang selalu muncul di mimpinya membuat nya gelisah dan berkeringat.


L tertunduk, air matanya mulai menggenang dan akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan. Saat ia memejamkan mata, bayangan tersebut muncul.


Lambat laun suara itu kembali dan memenuhi telinga nya.


Pembawa sial!


Pembawa sial!


pembawa sial!


Harusnya kau yang mati! Harusnya kau yang ada di meja operasi! Harusnya kau yang sakit!


Kau selalu membawa kematian pada orang-orang yang berada di dekat mu, ini semua salah mu!


Salahmu!


Suara itu semakin jelas, reflek kedua tangan nya menutup kedua telinganya. Suara itu begitu ia kenal, sangat sangat ia kenal. Suara itu milik Bibinya, Bibi Ellen


" Tidak! "


" TIDAKKKKK! "


"Maaf kan aku. Aku mohon maafkan aku. "


Nafas L tersengal sengal


L mulai kehilangan kendali


L mengamuk dan membanting semua barang yang berada di jangkauan tangannya. Satu gelas kaca diraih dan terbang jatuh membentur lantai.


L menatap Hari, sosoknya berubah menjadi Bibi Ellen. Ia berlutut dan berkali-kali memohon maaf.


Ia teringat pada sepupunya yang sedang sekarat karena gagal ginjal, tangis nya semakin pecah. Ia memikirkan bagaimana keadaan sepupunya. Apa dia bisa selamat atau benar-benar telah meninggal dan itu semua karena dirinya.


Didalam tangis nya, L merasakan perasaan bersalah yang begitu besar pada sepupu. Seakan-akan ucapan Bibinya membenarkan bahwa dirinya adalah pembawa sial dan kepergian orang-orang yang disayanginya adalah karena dirinya.


L memandang pecahan gelas tadi dan mencoba meraih nya.


Selama L kehilangan kendali Hari sebenarnya sudah berada di samping L, ia menguncang guncang tubuhnya, berusaha menyadarkan nya, memanggil manggil namanya.


Tapi seakan L tuli, L sama sekali tidak meresponnya dan malah bergerak kearah pecahan kaca dan hendak meraih nya.


Pak Im berlari ke ruang makan bersama beberapa pelayan karena mendengar teriakan L.


Pak Im dan pelayan yang mengikuti terkejut melihat ruang makan sudah berantakan, Nona Muda nya kembali kehilangan kendali dan Hari sedang berusaha menyadarkan nya meskipun Nona Muda sama sekali tak merespon.


" Cepat hubungi Tuan Jisoo dan Nona Bora. Dan Kau panggil dokter Cha kemari cepat! " Ujar Pak Im


Anak buahnya langsung berlari dan mengerjakan tugasnya. Pak Im Ikut mendekati L yang meronta ronta dalam dekapan Hari. Iya Hari sudah memeluk L dengan erat agar menjauh dari pecahan kaca.


" Elis hei sadarlah ini aku Hari, aku mas Hari. Ayo sadar. "


" Maafkan aku Bi, aku bersalah, ini semua salah ku, aku memang pembawa sial. Maaf kan aku. Arrrggghhh! "


" Nona tenang lah, ini saya Pak Im, Nona Bora dan Tuan Jisoo akan segera pulang saya mohon anda sadarlah. "


" Tidak! Kumohon maafkan aku, aku akan pergi dan menghilang dari dunia ini agar Bibi senang dan tidak membenciku, maaf kan aku, aku salah. Hiks... Hiks.... Hiks..... "


" Elis kumohon sadar lah, maaf kan aku karena telah membuka luka lama mu. Kumohon untuk saat ini sadarlah! " Hari ikut menangis sambil memeluk tubuh L.


Teriakan teriakan terus keluar dari mulut L, Ia semakin meronta dan berusaha melepaskan diri dari Hari. L terus mencoba meraih pecahan gelas yang berada di samping tubuh nya.


Pak Im yang melihat itu langsung menyingkirkan pecahan pecahan tersebut, dan meminta Hari mengangkat tubuh L agar menjauh ke sisi yang lain.


Di paviliun, Orang-orang mulai mencari sosok sangat pemilik rumah dan Hari. Jaehyun berinisiatif kembali masuk ke rumah sekalian meminta pelayan membuat kan sesuatu untuk mereka, tapi beberapa pelayan tampak berlarian dan terdengar suara yang ia kenal.


Jaehyun sadar ada sesuatu yang tidak beres, ia langsung berlari ke ruang makan.


Benar saja seperti dugaannya, jika suara tersebut adalah suara milik L. Keadaannya mengingat kan nya saat baru bangun setelah koma. L sering berteriak dan kehilangan kendali.


" Yuna apa yang terjadi? " Sergap Jaehyun.


Pelukan Hari mengendur karena perhatian nya teralih saat Jaehyun masuk dan memanggil L. Kesempatan itu dimaafkan L untuk melepaskan diri.


" Tolong pegang dia! Jangan sampai terlepas! " Ujar Hari.


Tak lama dokter Cha datang, ia pun kaget melihat kondisi L. Segera saja ia menyuntikkan obat penenang dan akhirnya L terlelap tak berdaya di dekapan dua orang.


Hari menghembuskan nafas panjang, tenaganya sudah banyak terkuras. Meskipun badannya lebih besar dari L tapi ia tetap kewalahan menahan tubuh L.