
Chacha benar-benar tidak menyangka bahwa Yuna akan berpura-pura tidak mengenal dirinya. Dirinya kini bingung sekaligus ketakutan jika benar-benar masuk ke dalam penjara. Mau meminta tolong pada siapa sekarang, pada teman-teman nya itu tidak akan mungkin. Itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri. Minta tolong Wulan? Lebih lebih tidak mungkin, dia sudah sering menyakiti sahabat baiknya itu dan kini hanya ada rasa penyesalan.
Chacha masuk ke dalam mobil polisi dengan wajah dipenuhi air mata. Ia kini baru memikirkan nasib nya yang begitu menyedihkan. Dirinya terancam di keluar kan dari kampus dan harus masuk penjara juga. Tangisnya semakin kencang.
Kembali ke dalam kantor Bora.
Bora menatap lekat lekat adiknya. Shin melihat tatapan tajam Bora pada L. Shin menyikut lengan L dengan lengannya.
L menoleh " Ada apa Kak Shin? "
Mata Shin memberi kode agar L melihat ke arah Bora. L kaget saat matanya melihat Bora sedang menatap tajam dirinya.
" Kakak ada apa? Kenapa kau menatap ku seperti itu? "
" Kau pasti mengenal nya bukan? " Tanya Bora selidik.
" Iya. " Jawab L santai
" Bagaimana bisa? " Kini Shin yang lebih penasaran.
" Ia dia teman kampusku, kami tak sengaja bertemu saat aku hendak menuju perpustakaan, dia mengajakku berkenalan dan menceritakan bahwa ibunya sakit jantung. Aku kasihan padanya jadi meminjamkan dia uang, karena dia bilang sedang tidak ada uang dan gajinya belum keluar."
" Kau meminjamkan dia uang padahal baru satu kali bertemu? " Bora tak habis pikir dengan adiknya itu.
" Kau itu baru saja ditipu!" Imbuh Bora
" Aku sudah tahu. "
Kini Shin dan Bora menatap L " Lalu? "
" Awalnya aku tidak tahu, dan aku hanya berfikir untuk menolong dengan tulus. Saat itu dia mendapatkan telpon dan berkata bahwa ibunya tiba-tiba sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Aku melihat wajahnya yang begitu cemas, aku jadi mengingat nenek ku, saat nenek meninggal aku sedang ada disekolah dan tidak bisa melihat untuk terakhir kalinya, aku hanya bisa membayangkan jika aku berada diposisi Kak Chacha dan masih punya kesempatan untuk berjuang dan menyelamatkan orang yang ku sayangi, maka aku akan berusaha sekeras mungkin.Sayangnya kesempatan itu tidak bisa kumiliki." Ujar L dengan nada sedih.
Bora seketika merasa bersalah, ia mendekati L dan memeluknya.
" Sudah sudah jangan diteruskan jika itu berat bagimu. Aku tidak akan menanyakan hal ini lagi padamu, tenang saja aku akan memberi pelajaran pada penipu itu. "
" Kakak tidak marah karena uang yang ia pinjam tidak dikembalikan? "
" Jangan bilang kalau pengeluaran 5.000 won itu yang kau berikan padanya? "
" Kakak tahu? "
" Tentu saja tahu, kan sudah ku katakan bahwa setiap bulan Jukyung atau Pak Im akan memberikan laporan keuangan mu, aku melihat jumlah itu. "
" Kenapa kakak tidak marah? "
Bora dan Shin langsung tertawa " Hahaha kupikir dia menipumu puluhan atau ratusan juta won." Bora dan Shin masih tertawa.
" Kenapa kalian malah tertawa? " Tanya L bingung.
"Habisnya uang yang ia minta ternyata sangat kecil dan tak sesuai ekspetasi kami. Jumlah itu adalah uang jajan yang biasa ayah kirim kepadamu tiap mingg. Atau tiap hari ya? Aku lupa. " Ujar Bora
" Ayah memberikan ku uang saku? "
" Tentu saja, kau saja yang terlalu irit dan tak pernah memakai nya. Makanya saat ayah meminta lukisan milikmu itu , ayah sedang untung besar. Bisa dibilang yang benar-benar menipumu adalah ayah. " Ujar Bora, ia sesekali menghalus air matanya karena terus saja tertawa hingga perutnya sakit.
" Tapi kenapa kau pura-pura tidak mengenal nya? " Tanya Shin tiba-tiba.
Bora melotot pada Shin.
" Hanya ingin saja. "
" Hah. " Shin dan Bora terkejut
" Sebelum nya aku pernah menguping pembicaraan Kak Chacha dengan temannya sewaktu aku dicafe saat membeli makan siang untuk kakak, dia menceritakan semua nya dan saat itulah aku jadi tahu kalau aku hanya dimanfaatkan. Lalu tadi sebelum aku ke kantor kakak aku juga bertemu lagi dengan nya dicafe aku mencoba menanyakan kabar ibunya, tapi dia malah marah dan pergi begitu saja dan mengatakan bahwa kami bukanlah teman akrab . Aku kesal jadi ku abaikan saja dia. "
Shin dan Bora langsung bertepuk tangan.
"Terkadang kau jadi orang jenius tapi terkadang kau juga bisa berubah jadi orang yang aneh ya. " Sahut Bora. L hanya tersenyum.
Masalah Chacha akhirnya selesai.
" Tumben Hari kau kemari? Apa ada yang sesuatu yang ingin kau tanyakan? " Tanya Jisoo.
Dirinya sedikit terkejut karena biasanya Hari hanya mengirim pesan atau telpon jika ada sesuatu, dan itupun berkaitan dengan L.
Hari menatap lekat ke arah Jisoo, disamping nya ada Arya yang setia menemani dimana pun ia berada.
" Bolehkah aku melihat rekam medis milik L? Dan siapa kah dokter yang menangani terapi psikologi L? " Tanya Hari.
Jisoo mengerutkan dahinya " Untuk apa kau melihat rekam medis Yuna? Apa terjadi sesuatu padanya? " Jisoo tampak cemas.
" Aku merasa ada yang aneh pada diri L. " Ujar Hari
Jisoo menatap Hari dengan bingung " Aneh apa maksud mu? Apa dia tengah sakit? "
" Tidak tidak, maksudku aku rasa L menyembunyikan sesuatu dari kita. "
" Aku semakin tidak mengerti apa yang kau bicarakan Hari meskipun bahasa Korea mu sudah bagus dan fasih. "
Hari menghela nafas sebelum mengutarakan apa yang ada dibenak nya.
" Aku rasa L menyembunyikan sesuatu dari kita dan kupikir L hanya pura-pura hilang ingatan. " Jawab Hari.
Mata Jisoo membulat " Apa kau yakin? " Hari mengangguk.
" Bisakah Mas Jisoo ceritakan kembali masa masa setelah L menjalani pengobatan di sini? "
" Emm saat L tiba di Korea, beberapa waktu setelah nya ia segera menjalani operasi. Setelah operasi L malah koma selama berminggu-minggu, para dokter sedikit bingung karena operasi yang mereka lakukan sebenarnya berhasil dan kondisinya juga berangsur-angsur membaik. Tapi L malah tak kunjung membuka mata, membuat Bora dan aku begitu sedih. Kami setia menunggu L dan mencarikan dokter lain untuk mengecek kondisi nya. Bora terkejut mendengar pernyataan dokter itu jikalau L sebenarnya sudah hampir sembuh tapi dirinya tidak memiliki semangat hidup hingga menyebabkan ia tak kunjung sadar. " Jelas Jisoo
" Kami disuruh untuk memberikan kalimat kalimat penyemangat dan mengacak dirinya berbicara, karena kata dokter meski L sedang koma tapi ia masih bisa mendengar orang berbicara. Dan benar saja setelah satu bulan berlalu L akhirnya terbangun meskipun kondisinya semakin memprihatinkan dan seakan tak berjiwa. Setelah bangun dari koma, L jadi sosok yang pendiam dan tidak pernah berbicara, terkadang ia berteriak dan mengamuk jika bertemu orang yang tidak biasa dilihatnya. Dan puncak nya saat seorang perawat baru masuk ia berteriak histeris hingga menjatuhkan vas bunga yang terbuat dari kaca.Bora dan aku sangat panik karena L mengambil pecahan kaca tersebut dan tiba-tiba menyayat pergelangan tangannya. Untung saja sayatan nya tidak begitu dalam dan segera ditangani hingga tidak membahayakan nyawanya, tapi tetap saja setelah kejadian itu L kembali tak sadarkan diri sampai beberapa hari. "
Hari dan Arya tampak khawatir dan begitu sedih mendengarkan cerita Jisoo.
" Untuk kedua kalinya L kembali dalam kondisi seperti orang sedang koma, lalu keajaiban tiba-tiba datang saat L sadar dan ia sudah kembali menjadi dirinya yang sekarang. Awalnya memang ia jadi orang yang takut terhadap orang asing namun lambat laun setelah menjalani terapi dan konseling, kondisi L mulai membaik dan akhirnya sembuh."
"Dokter berkata jika L mengalami amnesia,dimana kejadian traumatis saja yang ia lupakan.Oleh sebab itu ia tak bisa mengingat apa yang telah menimpa nya. Sebenarnya dokter menyarankan agar L menjalani terapi hipnotis, dengan terapi tersebut kita bisa mencari tahu kejadian yang menimpa L. Namun Bora menolak, Bora meminta agar L dibiarkan seperti itu, lebih baik L melupakan kejadian pahit yang menimpanya, mengingat dirinya yang pernah mencoba bunuh diri membuat Bora selalu khawatir dan takut L akan mencoba hal gila lainnya. "
"Dan setelah itu, Ia sepenuhnya telah kembali menjadi Elycia yang cantik dan ceria. " Imbuh Hari
Hari nampak terdiam selama beberapa saat, seakan memikirkan sesuatu.
" Jadi kenapa kau bisa menyimpulkan bahwa L menyembunyikan sesuatu dan ia tidak benar-benar hilang ingatan?" Tanya Jisoo lagi
" Aku orang yang paling dekat dan tumbuh besar bersama nya, aku tahu jika dia memang terlihat bahagia dengan keluarga dan kehidupan barunya. Tapi aku tetap merasakan ada sesuatu yang berbeda dibalik senyuman nya dan itu jelas terlihat oleh mataku. "
" Kemarin dia menangis saat aku bertanya tentang rumahnya yang ada di Indonesia. Reaksi nya aneh, dia gugup dan terlihat tidak tenang, lalu tiba-tiba dia menangis dengan tubuh bergetar. " Ujar Hari.
Jisoo tercekak " Aku akan menghubungi temanku. "
Setelah pertemuan Hari dan Jisoo, Hari menyempatkan diri ke gedung fakultas seni dan sastra, kata Jisoo L ada kelas dan selesai jam dua siang bertepatan dengan dia selesai bertemu dengan Jisoo.
Hari dan Arya melihat L baru saja keluar dari kelas dan diapit dua temannya. Jika dilihat seperti itu, L tampak seperti mahasiswa pada umumnya. Hari tersenyum melihat L yang akhirnya bisa kuliah dan mengambil jurusan yang di inginkan nya.
Arya melihat L langsung saja melambai sambil berteriak memanggil nama L.
" Kim Yuna, Hai Yuna! " Suara lantang Arya membuat semua orang menoleh padanya termasuk L dan dua sahabat nya.
" Yuna apa kau mengenalj orang aneh itu? " Tanya Yura.
L tersenyum melihat Arya dan Hari berjalan menuju kelasnya. Ia segera berlari dan merangkul lengan Hari.
Arya langsung cemberut " Hei aku yang memanggil mu kenapa kau malah merangkul Hari? " Ujar Arya.
L hanya tersenyum lebar. Yura dan Jungki sedikit terkejut melihat L tiba-tiba berlari dan merangkul seorang lelaki tampan dihadapan mereka.
" Yuna siapa dia? " Yura melihat Hari dengan tatapan kagum.
Hari yang tinggi, berkulit putih, dan wajah yang tegas membuat nya terlihat keren. Tapi Yura melihat Hari seperti bukan orang korea. Meskipun tak setampan Big3, tapi tetap saja Hari terlihat tampan dan keren, buktinya teman teman mereka yang baru saja keluar dari kelas langsung memperhatikan Hari.