
Mata Kelana berkabut menatap Yana mengenakan pakaian pengantin berwarna putih sederhana dengan aksen mutiara di bagian dada nya. Usia Yana saat bertemu Kelana baru belasan tahun tapi melihat Yana sekarang, Kelana seperti membesarkan seorang anak.
"Terimakasih Mas Lana sudah menampung saya selama lebih dari 10 tahun, saya—" Yana tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia menahan tangis sekuat tenaga sejak mulai dirias tadi. Yana tak pernah berpikir untuk menikah, ia ingin mengabdikan seluruh hidupnya untuk Kelana. Tanpa Yana sangka jika Kelana juga memperhatikan masa depannya termasuk pendidikan dan pasangan. Yana tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih pada Kelana, ia hanya seorang anak yang ditinggalkan orangtuanya di panti asuhan. Yana tidak tahu seperti apa wajah mereka tapi Kelana sudah seperti orangtuanya sendiri bukan sekedar atasan.
"Itu bukan menampung, aku nggak akan pernah menemukan asisten seperti kamu." Kelana memegang lengan Yana, jika bukan karena Renjani pasti Kelana akan tetap egois tanpa mempedulikan soal pasangan untuk Yana. Renjani telah membuat pikiran Kelana terbuka.
"Saya akan tetap jadi asisten Mas Lana."
Kelana menggeleng, "aku benci mengatakan ini tapi setelah akad kamu akan menjadi tanggungjawab Fatan." Memikirkan Kelana akan kerepotan mencari asisten baru membuatnya kesal. "Kalau boleh meminta, aku pengen kamu tetap tinggal di apartemen tapi itu terserah Fatan."
"Nanti saya akan bicarakan ini dengan Mas Fatan."
Kelana mengangguk, ia tak boleh memaksa Yana tetap bekerja dengannya walaupun dengan begitu kehidupan Yana akan lebih terjamin.
"Ayo, udah mau dimulai akad nya." Renjani muncul dari balik pintu.
Kelana mengalihkan pandangan pada Renjani, ia langsung berbinar menguapkan kabut yang sejak tadi menggenang di matanya.
"Kamu cantik sekali hari ini." Puji Kelana seraya melangkah mendekati Renjani.
"Kamu juga boleh memuji Yana cantik." Sahut Renjani, ia tahu Kelana ingin memuji Yana tapi terlalu gengsi untuk melakukannya.
"Riasan itu membuatnya cantik." Kata Kelana akhirnya.
"Keluar gih." Renjani menarik Kelana keluar, ia yang akan menemani Yana disini.
"Fara dimana?"
"Ada di depan."
"Aku ke depan dulu." Kelana meninggalkan ruangan tersebut setelah melihat Renjani sekali lagi. Siapa yang mendandani Renjani hari ini hingga Kelana tidak bisa melepaskan pandangan darinya.
"Kamu cantik sekali." Renjani menghampiri Yana yang tampak menawan, ia sendiri yang memilih MUA untuk Yana. Renjani tidak memilih MUA yang sama saat dirinya menikah dulu karena ia tak mau Yana tertusuk hair comb sepertinya.
"Terimakasih Mbak Rere." Yana menatap Renjani dalam, selain berterimakasih karena pujian Renjani, Yana juga ingin mengucapkan terimakasih karena Renjani sudah menjadi istri Kelana dalan waktu yang lama bukan hanya satu tahun seperti perjanjian mereka dulu.
"Aku yang harus berterimakasih sama kamu, kamu banyak banget bantu aku." Dulu Yana yang mengurus semua persiapan Kelana dan Renjani yang begitu singkat. Pasti saat itu Yana juga terkejut tapi ia menangani semuanya dengan baik. Sekarang giliran Renjani yang membantu Yana, itu sudah tugasnya.
Yana mengulurkan tangan untuk memeluk Renjani, ini hari bahagia tapi ia tak bisa menahan tangisnya. Yana hanya belum percaya jika ia akan sampai pada tahap pernikahan seperti para gadis di luar sana. Yana pikir ia dilahirkan dengan takdir berbeda, tak ada pasangan dan hanya akan bekerja seumur hidup.
Akad nikah dilakukan di ballroom apartemen secara tertutup dan sedikit tamu undangan. Hanya kerabat terdekat Yana yang ia kenal selama bekerja dengan Kelana serta pengurus panti tempat Yana tinggal dulu. Kebanyakan tamu adalah keluarga dari pihak Fatan.
"Fara!" Kelana memanggil Faralyn yang tengah asyik bermain dengan beberapa anak panti yang ikut hadir hari ini untuk menyaksikan akad nikah Yana. "Anak Papa cantik sekali pakai baju ini." Kelana tidak tahan untuk memuji Faralyn yang tampak menggemaskan dengan dress putih senada dengan pakaian Renjani. Saat seperti ini Faralyn makin mirip Renjani. Kelana bertekad akan membuat anak keduanya sangat mirip dengannya, andai itu bisa dilakukan. Tentu Kelana iri karena ia yang paling berperan penting dalam menghasilkan anak tapi Faralyn justru sama sekali tidak mirip dengannya.
"Ibu yang pilih." Faralyn tersenyum bangga karena Renjani memilih pakaian yang bagus untuknya.
"Ibu kamu memang jago pilih baju." Kelana menyentuh ujung hidung Faralyn gemas lalu menggendongnya.
Fatan tampak tegang berhadapan dengan penghulu, berkali-kali ia membasahi bibirnya untuk mengurangi rasa gugup tapi tidak mempan. Namun pada akhirnya ia mengucapkan kalimat Qabul dengan lancar dan suara tegas menggema ke seluruh ballroom.
Setelah prosesi akad, Yana keluar dari ruangannya bersama Renjani yang mendampinginya. Fatan tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Yana, ia tidak salah—sejak pertama bertemu dan sedikit bicara Yana memang wanita sempurna untuk menjadi istrinya. Fatan tidak menyesal telah menunggu lama, Yana memang patut ditunggu. Fatan tak bisa membayangkan jika Yana menjadi istri orang lain bukan dirinya.
"Silakan cium tangan suami mu." Ucap penghulu ketika Yana sampai di hadapan Fatan.
Yana mengulurkan tangan dengan ragu, sejak mengetahui Fatan menyukainya, Yana hampir tidak pernah mengobrol lama dengan Fatan. Mereka hanya sesekali bertukar pesan melalui WhatsApp.
Yana mengecup punggung tangan Fatan yang membuatnya seperti mau pingsan. Yana merasa ada sesuatu mendesak di dalam perutnya seolah sebentar lagi akan meledak apalagi ketika Fatan mengecup keningnya. Yana seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi hingga ia mampu membuka mata. Untuk sesaat waktu terasa terhenti, baru setelah Fatan melepaskan kecupannya, Yana bisa kembali membuka mata.
Air mata menggenang pada sepasang kekasih yang baru resmi menjadi suami istri tersebut. Dengan matanya yang berkabut, Yana bisa melihat senyum manis terukir di bibir Fatan.
"Terimakasih." Ucap Yana hampir tidak terdengar tapi telinga Fatan yang hanya fokus padanya bisa mendengar kata pendek tersebut.
"Untuk apa?" Fatan memberanikan diri menatap Yana sepenuhnya, riasan di wajah Yana membuatnya terlihat sedikit berbeda.
"Karena sudah sabar menunggu ku." Yana cukup terkejut karena Fatan bersedia menunggunya hingga lulus kuliah padahal waktu itu ia baru masuk semester pertama. Yana juga tidak tahu apakah dirinya bisa lulus tepat waktu atau tidak tapi Fatan dengan percaya diri mau menunggunya.
Dengan malu-malu Fatan meraih tangan Yana yang dingin lalu menggenggamnya. Fatan bukan lagi remaja, ia hampir berkepala tiga tapi tingkahnya seperti ABG yang baru berpacaran.
Satu per satu tamu menyalami Yana dan Fatan serta berfoto bersamanya. Setelahnya mereka makan bersama di restoran apartemen yang juga telah dibooking untuk acara tersebut.
"Titip Yana." Ucap Kelana pendek pada Fatan yang duduk di sampingnya, di depan mereka sudah tersaji berbagai hidangan Nusantara yang merupakan permintaan Yana untuk acara khusus tersebut.
"Kak Kelana bisa percayakan Yana sama aku." Fatan menepuk paha Kelana pelan, ia bisa melihat rasa haru di wajah Kelana. Fatan berjanji pada dirinya sendiri ia akan menjaga Yana sebaik Kelana.
"Yana pasti bahagia sama Fatan." Renjani menggenggam tangan Kelana, ia berkali-kali meyakinkan bahwa Yana pasti bahagia dengan pernikahan tersebut.
Kelana mengusap matanya yang basah, makanan di hadapannya tidak tersentuh, ia tidak berselera makan. Kelana masih ingat persis bagaimana Yana menangis saat dimarahi oleh atasannya di cafe waktu itu. Kelana geram melihat seorang lelaki melakukan itu hingga akhirnya ia menarik Yana dan memberinya pekerjaan malam itu juga. Yana orang yang rajin, teliti dan cekatan. Keberadaan Yana membuat pekerjaan Kelana jadi lebih mudah. Yana telah mengurus semua keperluan Kelana dengan baik.
Waktu berjalan begitu cepat, kini Yana telah menikah dengan seorang lelaki yang ia cintai. Kelana tersenyum getir, ternyata jodoh Yana amat dekat. Sejak melamar di Asmara Publishing, Fatan terkenal karyawan paling pendiam tapi ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Kelana lega karena lelaki itu adalah Fatan.
"Untungnya ada kamu." Kelana menarik kepala Renjani lalu mengecup keningnya. Renjani bisa mengendalikan emosi Kelana pada setiap momen.
"Papa kenapa selalu cium Ibu?" Faralyn mendongak menatap papa dan ibunya bergantian.
"Karena Papa sayang Ibu." Jawab Kelana.
"Sama aku?"
"Sayang juga dong, kan Papa sering cium kamu juga." Kelana menghadiahi kecupan di puncak kepala Faralyn.
Faralyn menekuk bibirnya, papa nya lebih sering mencium ibu dari pada dirinya.
Renjani mengangkat Faralyn ke pangkuannya lalu mencium pipi sang anak berkali-kali kanan dan kiri.
"Kamu permata nya Papa dan Ibu, tentu kami sayang sama kamu Nak."
"Kalau gitu kapan aku bisa punya adik?"
Alis Renjani terangkat, ia dan Kelana saling berpandangan. Apa hubungannya sayang dengan adik. Pikiran Fara memang tidak bisa ditebak hingga seringkali membuat Renjani gelagapan untuk menjawab pertanyaannya.
"Ibu lagi berusaha bikin adik." Bisik Renjani. Ia mengajari Faralyn tidur sendiri sejak usia tiga tahun tapi mereka belum berencana memiliki anak kedua saat itu.
Fara tertawa girang meskipun ia tidak tahu bagaimana cara membuat adik seperti yang Renjani bicarakan. Fara tidak pernah membayangkan seperti apa cara membuatnya.
"Caranya sama seperti waktu Ibu dan Papa bikin aku?"
Renjani tak bisa menahan tawa mendengar pertanyaan polos Faralyn bahkan Kelana sekuat tenaga mengatup bibirnya agar tak ada tawa yang lolos.
"Iya sama." Jawab Renjani akhirnya.
"Papa dan Ibu hebat bisa bikin aku." Fara mengulurkan tangan memeluk Renjani, matanya berbinar-binar—bersyukur karena memiliki papa dan ibu yang luar biasa.
"Tuhan yang menciptakan kamu sayang." Renjani mengusap rambut Faralyn yang tergerai.
"Aku mau main sama Mia." Faralyn turun dari pangkuan Renjani.
"Boleh, hati-hati ya." Renjani melihat Faralyn berlari menghampiri Jamia yang juga sedang bermain bersama anak-anak lain. Jamia adalah anak Jesi yang baru belajar berjalan. Sejak tadi Jamia bersemangat berjalan kesana kemari hingga Jesi kelelahan.
"Makan dulu nih." Renjani menyodorkan piring pada Jesi.
"Capek banget, biarin Bapak nya yang jaga." Jesi melihat sekilas ke arah suaminya yang tengah mengawasi pergerakan Jamia. "Gue bilang apa, nikah itu nggak enak."
"Ssshhh jangan bilang gitu, kalau nggak enak kenapa lo gemukan setelah menikah."
"Sejak kapan gemuk diartikan dengan bahagia?" Jesi memutar bola mata kesal.
Renjani mengedikkan bahu, setidaknya itu menjadi penilaian sebagian besar orang terhadap wanita yang sudah menikah, gemuk berarti bahagia.
"Kalau gitu lo nggak bahagia dong?"
Kelana melirik tajam ke arah Jesi, ia tersinggung jika Jesi mengatakan Renjani tidak bahagia.
"Gue lebih dari sekedar bahagia." Jawab Renjani santai.
"Nah maka dari itu gue gemuk sejak hamil dan nggak bisa diet karena harus menyusui Mia, keterusan sampai sekarang susah banget kurusnya apalagi setelah KB, makin jadi nih badan gue." Jesi nyerocos memancing tawa Renjani. Jesi tidak mengira jika ia akan menikah dengan Yoshi yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Jesi tak pernah memperhatikan rekan-rekan kerjanya saat itu, ternyata Yoshi sudah sejak lama menyukai Jesi. Mereka berpacaran selama beberapa bulan lalu menikah. Meski Jesi selalu menceritakan kekesalannya pada Yoshi yang terlampau romantis tapi Renjani tahu jika sahabatnya itu bahagia dengan pernikahannya tersebut.
"Coba suami gue artis kayak Kelana pasti sekarang gue langsing." Seloroh Jesi lagi.
"Ck ada-ada lo." Renjani mengibaskan tangannya di depan wajah Jesi. Sudah bagus menikah dengan dokter muda, tampan dan baik yang tidak harus membuat Jesi menjaga penampilan setiap saat.
"Gaji dokter nggak segede artis."
"Kalau gitu lo harus siap dilempar telur kalau lagi ada skandal." Semprot Renjani.
Jesi nyengir, ia melupakan bagian itu. Jesi menyaksikan semua perjuangan Renjani bertahan menjadi istri Kelana. Memang tidak mudah, jika itu Jesi belum tentu ia mampu bertahan. Namun kenyatannya Renjani bisa melalui masa-masa sulit itu.
"Banyakin bersyukur lo." Tambah Renjani.
"Iya-iya." Jesi mengerucutkan mulutnya, ia kembali menoleh pada Jamia dan papa nya. Tak apa ia gendut asal Jamia sehat, toh Yoshi juga berkali-kali mengatakan tak masalah jika Jesi tidak bisa kembali langsing seperti dulu.