Married by Accident

Married by Accident
LXVII



Sepulang dari kantor Renjani pergi ke supermarket untuk membeli stok bahan makanan bersama Yana. Meski sudah tinggal di unit apartemen yang berbeda tapi Yana tetap mengurus segala kebutuhan Kelana termasuk makanan yang Kelana konsumsi.


"Kami berencana menghabiskan waktu seharian di apartemen untuk merayakan anniversary." Renjani tidak sabar menantikan hari itu tiba. Membayangkannya saja membuat dada Renjani berdebar.


"Kenapa nggak liburan keluar Mbak, kalian bisa mencoba banyak hal atau candle light dinner yang romantis dan intim." Yana memelankan suaranya, ia bisa membooking restoran terbaik di Jakarta untuk Kelana dan Renjani.


"Itu perayaaan impianku, seharian di apartemen sama Kelana karena sekarang dia jarang punya waktu buat kami berdua."


"Kalau gitu saya akan pilih daging dengan kualitas terbaik untuk kalian nikmati." Yana melangkah ke bagian daging.


"Nggak usah, kami akan makan nasi goreng."


"Nasi goreng?" Ulang Yana.


Renjani mengangguk yakin, jika makan daging lagi itu berarti bukan hari spesial. Apalagi nasi goreng buatan Kelana berbeda dari yang lain, Renjani selalu ingin makan hidangan itu setiap kali Kelana punya waktu cukup untuk memasak.


"Kamu belum pernah makan nasi goreng buatan Kelana?"


"Belum pernah Mbak." Yana memilih beberapa bagian daging kesukaan Kelana dan ayam serta ikan.


"Enak banget, lebih enak dari restoran."


"Oh ya? dulu bahkan Mas Lana nggak pernah masuk dapur."


"Eh Renjani ya."


Renjani dan Yana menoleh pada seorang wanita yang mendorong troli ke arah mereka.


"Iya?" Renjani mengulas senyum ramah, pada awalnya ia tidak terbiasa dengan orang asing yang tiba-tiba menyapanya. Namun Renjani sekarang tahu bahwa mereka yang menyapanya pasti penggemar Kelana.


"Masih berani keluar ke tempat umum kayak gini, kalau aku jadi kamu mungkin aku nggak akan pernah keluar rumah karena malu."


Wajah Renjani pias, selama ini ia hanya mendapat cemoohan di media sosial tapi sekarang ia mendengarnya secara langsung di depan mukanya.


"Kenapa saya harus malu, kami sudah menjelaskan semuanya lagi pula manusia sudah pasti pernah berbuat salah, tolong maafkan Kelana." Renjani berkata dengan lembut menahan amarah. Ia tak boleh membuat Kelana malu.


"Tentu saja kami memaafkan Kelana tapi enggak dengan kamu, Renjani—dari awal kamu itu orang asing, jangan berani berharap lebih apalagi sekarang Elara sudah kembali."


Renjani menelan ludah, kadang perkataan seorang penggemar terdengar lebih menyakitkan dari pada mereka yang memang sejak awal tak menyukai Kelana. Para penggemar itu seolah mengerti semua hal tentang Kelana.


"Maaf, kamu mengganggu kenyamanan kami, silakan pergi atau saya panggilkan security." Tukas Yana seraya melempar tatapan tajam hingga wanita itu pergi. "Mbak Rere nggak apa-apa?" Yana menyentuh pundak Renjani.


"Nggak apa-apa." Renjani menggeleng memaksakan senyum.


"Mbak Rere jangan dengerin omongan dia, Mbak tahu sendiri kalau Mas Lana itu cinta banget sama Mbak, setiap kali ada kesempatan Mas Lana selalu bilang sama saya kalau dia mencintai Mbak."


Renjani juga merasakan cinta Kelana yang begitu besar terhadapnya. Bahkan Kelana siap kehilangan pekerjaannya demi mempertahankan Renjani.


Mereka melanjutkan membeli bahan makanan, Yana berusaha mengalihkan pikiran Renjani dari perkataan wanita tadi dengan membahas banyak hal. Yana paling ahli menghibur orang lain.


Setelah sampai di apartemen mereka menyusun bahan makanan dan buah di kulkas yang ternyata sudah kosong. Hanya ada beberapa bahan makanan yang tersisa.


"Bau kulkas nggak enak." Renjani menutup hidungnya ketika aroma dari dalam kulkas menyergap indra penciumannya.


"Saya udah bersihin kok Mbak, bau kulkas memang seperti ini, Mbak Rere aneh-aneh aja." Yana tertawa melihat ekspresi Renjani.


"Mungkin karena ada sisa ikan disitu." Renjani menunjuk ikan di sudut freezer.


"Iya sedikit, saya keluarin ya." Yana mengeluarkan sisa ikan dari freezer. "Mbak Rere kayak orang hamil aja." Candanya.


Renjani ikut tertawa meski cukup terkejut dengan ucapan Yana.


"Mbak susun buahnya aja biar saya yang taruh ikan dan daging."


Renjani menuruti perkataan Yana, ia mengeluarkan buah dari dalam kantong belanja dan memasukkannya ke dalam kulkas. Jeruk mendominasi ruang di dalam kulkas karena itu buah kesukaan Kelana. Jeruk peras menjadi minuman wajib Kelana selain kopi.


"Yana, aku mandi dulu ya sebentar lagi Kelana pulang."


"Iya Mbak, biar sisanya saya yang lanjutin."


"Makasih ya." Renjani mengusap bahu Yana sebelum pergi dari dapur. Sebenarnya Renjani bisa saja mandi setelah mereka selesai menyusun bahan makanan di kulkas tapi pikirannya terganggu oleh ucapan Yana.


Jantung Renjani berpacu dua kali lebih cepat saat mengambil test pack dari dalam lemari. Renjani menunda beberapa hari untuk menggunakan tes kehamilan tersebut karena takut melihat hasilnya. Namun Renjani harus segera menggunakannya.


"Semoga negatif." Renjani mencelupkan test pack ke dalam wadah berisi urine nya. Ia memejamkan mata sambil terus merapalkan doa agar hasilnya negatif.


Mata Renjani melebar melihat dua garis pada test pack tersebut. Ia mengucek mata dan mengerjap beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Dua garis berarti hamil, Renjani sudah sering melihatnya di film dan sekarang dirinyalah yang mengalami.


"Enggak, nggak mungkin." Renjani melempar test pack tersebut ke tempat sampah. Seperti tersengat listrik, tubuh Renjani lemas. Ia terduduk di lantai kamar mandi.


Kepala Renjani terasa pening, ia tertunduk dalam menangis tanpa suara. Kelana tidak menginginkan anak. Apa yang harus Renjani lakukan setelah ini, ia akan mengacaukan dunia Kelana yang sudah ditata rapi.


Saat bangkit pandangan Renjani gelap, ia berpegangan pada dinding kamar mandi menatap pantulan dirinya di cermin. Renjani menyalakan shower membiarkan tubuhnya diguyur air. Ia gila karena berharap janin di dalam perutnya bisa luruh bersama air tersebut.


Renjani meraba perutnya yang masih rata. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari kehadiran makhluk hidup baru di dalam perutnya. Tidak, bukannya tidak sadar Renjani hanya menyangkal kehamilan itu apalagi setelah Kelana mengatakan tidak menginginkan anak di antara mereka.


"Re!"


Renjani mengabaikan ketukan pintu dan panggilan Kelana dari luar. Ia bingung untuk menghadapi Kelana setelah mengetahui kenyataan ini.


"Renjani, kamu masih mandi?"


"Iya." Jawab Renjani setengah berteriak.


"Aku ikut." Kelana merengek seperti anak kecil yang merayu ibunya.


Renjani segera mengenakan bathrobe dan keluar dari kamar mandi.


"Udah selesai kok."


"Padahal aku mau mandi sama kamu." Kelana memeluk Renjani di depan pintu kamar mandi.


"Ada apa?"


"Nggak apa-apa, kangen." Yana menceritakan kejadian di supermarket tadi pada Kelana, itu sebabnya saat melihat Renjani, Kelana langsung memeluknya. Kelana tidak mau Renjani melalui kesulitan ini, biar ia yang menanggungnya. "Kamu habis nangis?"


"Enggak." Renjani sudah mencuci muka berkali-kali agar Kelana tidak tahu jika dirinya menangis tapi ternyata itu sia-sia.


"Mata kamu merah." Kelana menduga Renjani menangis lagi setelah mendapat cemoohan dari salah satu penggemarnya. Tidak, Kelana tak akan menyebut dia penggemar karena sejatinya mereka yang mengaku fans Kelana pasti bisa menerima Renjani juga.


"Kemasukan shampo tadi, kamu buruan mandi gih biar aku siapin makan."


"Oke." Kelana mengecup kening Renjani sebelum melepaskan pelukannya.


"Kamu pengen makan apa, aku baru aja beli bahan-bahan makanan sama Yana."


"Bikin yang simpel aja biar kamu nggak capek."


"Broccoli Pasta ya?"


"Boleh." Kelana masuk ke kamar mandi sementara Renjani berganti pakaian di walk in closet.


Renjani memikirkan cara untuk memberitahu Kelana tentang kehamilannya. Renjani tidak mau menambah beban pikiran Kelana di tengah kekacauan ini.


******


"Wah, kelihatan enak." Liur membanjiri mulut Kelana melihat pasta dengan brokoli dan smoked beef tersaji di atas meja makan.


"Dicoba dulu." Renjani memberikan garpu pada Kelana.


"Pasti enak buatan istri ku." Kelana mencoba sesuap pasta dan potongan brokoli, rasa gurih dan manis menyebar di permukaan lidah Kelana. Rasanya memang tidak semewah di restoran tapi Kelana menyukainya.


"Makan dagingnya lebih banyak." Renjani menyuapkan potongan daging berukuran besar pada Kelana.


"Kenapa?"


"Kamu lebih suka daging dari pada sayur."


"Yana memberitahumu?"


"Iya, selama ini aku sering masak sayur padahal kamu lebih suka daging, aku nggak tahu."


"It's okay, sayur buatan kamu paling enak."


Renjani tersenyum mendengar pujian Kelana tapi di sisi lain ia juga merasa takut. Takut kehilangan Kelana. Sejak awal ia selalu merasa takut kehilangan.


"Kelana, kalau seandainya aku tiba-tiba hamil gimana?"


Kelana tertawa pelan, "nggak mungkin lah." Ia geleng-geleng menanggapi candaan Renjani.


"Kenapa nggak mungkin?" Renjani merasa tersinggung, mereka sudah satu tahun menikah, kehamilan mungkin saja terjadi padanya.


"Karena selama ini aku selalu pakai pengaman."


"Tapi beberapa kali kamu nggak pakai."


"Kalau seandainya kamu hamil, bisa digugurkan nanti aku cariin dokter yang bagus." Ujar Kelana santai, kenapa tiba-tiba Renjani bercanda seperti itu.


Garpu di tangan Renjani jatuh. Renjani tidak menyangka jika Kelana akan mengatakan hal seperti itu. Anak memang tidak ada dalam rencana Kelana tapi mereka tetap harus menerima kehadirannya. Tidak mungkin Renjani menggugurkan janin ini. Renjani mendadak mual dan kehilangan selera makan.


"Aku ambilin yang baru." Kelana beranjak mengambil garpu Renjani yang terjatuh dan menggantinya dengan yang bersih. "Re, jadi orangtua itu nggak gampang, buktinya kita jadi korban broken home karena kesalahan orangtua, aku nggak mau jadi orangtua yang gagal, aku harus mempersiapkan diri, kita akan punya anak tapi nanti."


Renjani bergeming, ia menahan air matanya dengan sekuat tenaga. Jangan menangis sekarang Re.