
"Tolong antarkan istri saya!" ucap Erland yang saat ini tengah membungkuk sambil memberikan yang tadi baru diambil dari saku celananya pada sang supir.
Saat tadi ia berniat untuk membuka pintu, didahului oleh Floe yang seperti tidak ingin dibantu. Akhirnya ia hanya membiarkan wanita itu berbuat seperti yang diinginkan.
"Baik, Tuan. Terima kasih." Sang supir yang tadinya hendak mengambil uang kembalian, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara bariton dari pria itu.
"Tidak perlu. Kembaliannya ambil saja." Kemudian Erland berlalu pergi tanpa berbicara apapun pada wanita yang duduk di kursi belakang.
Ia hanya diam di tempatnya sambil menunggu hingga taksi melaju pergi meninggalkan tempatnya berdiri.
Sementara itu, Floe dari tadi ingin segera menghilang dari hadapan Erland karena saat ini hatinya benar-benar terluka. Meskipun menyadari jika itu adalah salahnya sendiri karena mengagumi sekaligus menyukai pria yang sangat mencintai kekasihnya.
Ia hanya diam menatap ke depan tanpa melirik sedikit pun sosok pria yang berada di sebelah kanan taksi. 'Dia pasti saat ini hanya memikirkan tentang keadaan Marcella dan mungkin menyalahkan aku atas semua yang terjadi.'
Saat mobil mulai melaju pergi, ia masih terus menatap ke arah depan tanpa menoleh ke arah sebelah kanan, di mana Erland berada. 'Apa aku sangat jahat karena tidak memberikan doa untuk kesembuhan wanita itu dengan menyampaikan padanya?'
'Ya, di sini akulah penjahatnya. Aku adalah tokoh antagonis dalam sebuah cerita, sedangkan Marcella adalah tokoh utamanya. Hanya tokoh utama lah yang berbahagia, sedangkan tokoh antagonis hanya akan mendapatkan sebuah penderitaan dan hancur dalam sebuah penyesalan.' Floe bahkan memegangi dadanya yang saat ini terasa sesak.
Bahkan semua perasaan membuncah bercampur menjadi satu kala memikirkan perjalanan hidupnya yang tidak mendapatkan kebahagiaan dalam urusan asmara.
Dikhianati oleh pria yang dicintai karena hanya mengincar uangnya, kini hatinya lemah pada pria yang bahkan tidak akan pernah selesai dengan masa lalunya.
"Sadarlah, bodoh!" sarkas Floe dengan menepuk jidatnya agar tidak terus menerus memikirkan pria berstatus suami yang mencintai wanita lain tersebut.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Sang supir yang tadinya fokus mengemudi dengan menatap ke arah depan, merasa sangat terkejut dengan suara penumpang yang tiba-tiba. Ia melirik sekilas ke arah spion untuk memastikan apa yang terjadi.
"Tidak, Pak. Aku hanya sedang kesal saja," sahut Floe yang akhirnya memilih jujur karena berpikir tidak kenal dengan supir taksi yang tidak akan pernah ditemuinya lagi.
Ia tadinya berharap Erland memaksanya meskipun menolak untuk diantar. Sejatinya, para wanita itu mayoritas lain di mulut lain di hati. Saat mengatakan tidak, itu sebenarnya adalah kebalikannya dan berharap pria bisa peka tanpa dijelaskan.
Namun, realitanya tak seindah ekspektasi karena Erland sama sekali tidak membujuk atau pun memaksanya agar mau untuk diantar pulang.
"Apa semua pria tidak ada yang peka apa mau wanita?" tanya Floe yang ingin meminta pendapat dari supir karena merupakan seorang pria. "Anda juga pasti seperti itu pada istri, kan? Atau istri selalu menjelaskan dulu yang diinginkan?"
Sang supir yang mengerti ke mana arah pembicaraan penumpang, kini hanya geleng-geleng kepala karena menganggap jika wanita itu sama persis dengan istrinya.
"Semua pria dianggap sama saja, yaitu tidak peka. Sementara para wanita juga tidak jauh berbeda, yaitu selalu menuntut pria untuk mengerti hanya dengan sebuah kode. Nona, pria itu hanya manusia biasa, bukan Tuhan yang bisa mengerti kemauan wanita hanya dengan sebuah kode," sindir sang supir yang mengungkapkan rasa kesalnya pada sang istri.
Bukan malah merasa lega karena meluapkan kekesalannya, Floe kini makin bertambah kesal dan mengerucutkan bibirnya karena merasa tersindir.
"Aaah ... lupakan saja apa kataku tadi karena malah bikin aku makin sebel," ujarnya dengan raut wajah masam.
To be continued...