
Yana mengetuk pintu kamar Kelana sambil membawakan makan siang. Seharian Kelana berada di kamarnya setelah sarapan. Tak ada hari libur bagi Kelana, ia akan memainkan alat musik seharian dan menyusun lagu baru. Harinya sangat produktif meski berada di rumah.
Yana mendorong pintu karena tak ada sahutan dari Kelana. Tampak Kelana sedang duduk di meja kursi kerjanya sambil melakukan panggilan video dengan Adam—manajernya. Adam sedang memberitahu jadwal Kelana besok.
"Makan siangnya Mas."
"Iya taruh aja disitu." Kelana melirik meja dekat pintu agar Yana meletakkan makanannya disitu. Sebentar lagi Kelana akan menutup panggilan video tersebut setelah Adam selesai menjelaskan semua jadwalnya besok.
"Ada satu acara yang juga mengundang Renjani.
"Kenapa Renjani?" Alis Kelana terangkat.
"Kenapa? tentu saja karena dia istrimu." Adam memasang wajah tanpa dosa yang membuat Kelana geregetan, jika bukan manajernya pasti Kelana sudah menendang Adam ke belahan dunia lain.
"Aku tanya Renjani dulu, dia belum tentu setuju."
"Aku sudah menyetujuinya dengan pihak tv maka kamu harus membawa Renjani apapun yang terjadi."
"Kenapa nggak bilang sama aku dulu sebelumnya?"
"Jaga kondisimu, besok jadwal nya padat." Sambungan terputus begitu saja sebelum Kelana sempat membalas ucapan Adam.
Besok Kelana akan hadir di tiga acara reality show di stasiun tv berbeda. Mereka pasti akan membahas tentang konser Kelana yang sukses besar hingga membuatnya dibicarakan dimana-mana. Saat ini wajah Kelana muncul dimana-mana, tak hanya di layar tv tapi juga pada papan iklan, baleho hingga banner toko alat musik.
Kelana beranjak ketika Yana undur diri dari kamarnya, ia ingin segera menyantap makan siang yang menyebarkan aroma gurih ke seluruh kamarnya. Kelana melirik ponselnya yang menyala, ia sengaja mengatur ponsel ke mode diam karena tak mau terganggu saat rapat dengan Adam.
Nama Renjani muncul di layar ponsel, ada 7 panggilan tak terjawab lainnya dari kontak yang sama. Kelana mengerutkan kening, ada apa Renjani meneleponnya sebanyak itu. Saat hendak menjawab telepon tersebut lebih dulu terputus.
"Kenapa Rere telepon?" Kelana menimbang-nimbang apakah ia harus menelepon Renjani atau makan dulu. Ia menekan ikon telepon untuk menelepon balik Renjani. Setelah nada sambung ketiga akhirnya ada yang menjawab telepon Kelana tapi bukan suara Renjani yang terdengar melainkan suara seorang Jesi dan sirine ambulan bersahut-sahutan.
Perasaan Kelana tidak enak, tak pernah ada pertanda baik di balik suara sirine. Jika bukan ambulan pasti polisi dan dua-duanya adalah sesuatu yang buruk.
"Ada apa?"
"Rere kecelakaan, kami lagi jalan ke rumah sakit."
"Rumah sakit mana?" Mata Kelana melebar mendengar ucapan Jesi, telinganya berdenging untuk beberapa saat. Namun Kelana mencoba mengembalikan kesadarannya, ia harus segera pergi ke rumah sakit. Kelana berharap Renjani tidak mengalami luka serius.
"Rumah Sakit Jakarta."
Begitu sambungan terputus, Kelana langsung menyambar kunci mobilnya dan keluar kamar.
"Mau kemana Mas?" Yana heran melihat Kelana buru-buru keluar padahal beberapa menit yang lalu Kelana masih bicara dengan Adam.
"Rumah sakit." Jawab Kelana tanpa menoleh pada Yana yang sedang menyemprot tanaman sanseviera di sudut ruang tengah.
"Siapa yang sakit?" Yana mengikuti Kelana ke ruang tamu
"Renjani kecelakaan."
"Apa?" Yana berlari mengejar Kelana ke depan pintu tapi pria itu sudah tak terlihat, menghilang berbelok masuk ke dalam lift. "Duh semoga Mbak Rere baik-baik aja." Yana ikut kalut, ia mondar-mandir di depan pintu sambil berdoa berharap Renjani baik-baik saja. Yana sudah menganggap Renjani seperti kakaknya sendiri, ini pertama kalinya Yana memiliki teman di apartemen. Biasanya Yana hanya berdua dengan Kelana dan itu sangat membosankan karena ia tak memiliki teman mengobrol.
"Harusnya dia mendengarkan ku untuk diantar Pak Dayat." Gerutu Kelana seraya memukul kemudi karena mobil di depannya tidak segera bergerak. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa Renjani? Kelana menggeleng kuat menepis bayangan buruk di kepalanya.
Kelana berlari keluar mobil mengedarkan pandangan ketika sampai di depan UGD. Kelana tak peduli terhadap perhatian orang-orang pada dirinya, ia ingin segera melihat kondisi Renjani.
"Kelana!"
Kelana membalikkan badan mendengar seseorang memanggilnya, ia mendapati Jesi berdiri di hadapannya. Kelana semakin panik melihat noda darah pada pakaian Jesi.
"Dimana Renjani." Tanyanya tidak sabar.
"Di dalam, dokter masih menanganinya." Jesi mengajak Kelana duduk di depan UGD sekaligus untuk memenangkannya.
Jesi menjelaskan dengan singkat kronologi kecelakaan tersebut meskipun Kelana tidak bertanya. Jesi mengerti Kelana pasti ingin mengetahui penyebab kecelakaan itu Kelana mengusap wajahnya kasar, ia tak sabar ingin segera melihat kondisi Renjani.
Ketika seorang dokter keluar, Kelana dan Jesi spontan beranjak dari kursi tunggu.
"Gimana dokter keadaannya?" Tanya Kelana tak sabaran.
"Anda walinya?" Tanya dokter laki-laki berusia 50 tahunan tersebut.
"Saya suaminya."
Di antara rasa cemasnya, Jesi terperangah mendengar Kelana menyebut dirinya suami. Jika Renjani mendengar ini pasti ia akan tersentuh. Mungkin hati Renjani yang sempat mati setelah putus cinta akan kembali hidup mendengar kalimat singkat Kelana itu.
"Istri anda mengalami patah tulang pada kakinya, kami akan melakukan CT Scan dan MRI untuk melihat apakah ada kerusakaan di bagian tubuhnya yang lain."
"Saya boleh lihat?"
"Dia belum siuman tapi bapak boleh melihat kondisinya."
"Terimakasih dokter." Kelana masuk terlebih dahulu sementara Jesi menunggu di luar.
Kelana berjalan mendekat pada Renjani yang terbaring lemah di atas brankar. Beberapa bagian tubuh Renjani dibalut perban. Pakaiannya berlumuran darah membuat Kelana ngeri membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Apalagi Kelana juga telah mendengarkan ceritanya dari Jesi.
"Kamu memang bandel ya, pantas Mama mu selalu mengomel." Kelana mengusap kepala Renjani, ia seperti melihat orang lain sekarang karena biasanya Renjani adalah orang yang cerewet. Bahkan saat Kelana meminta Renjani diam sementara ia bekerja, Renjani tetap tak bisa diam. Kelana berpikir mulut Renjani tidak memiliki rem. "Maaf, harusnya aku ikut kamu tadi." Sekarang tiba-tiba Kelana merindukan Renjani yang berisik.
Kelana menggenggam tangan Renjani, rasa bersalah menyelimutinya. Kelana telah mengambil kehidupan Renjani dengan pernikahan ini.
"Kamu harus sembuh Re." Lirih Kelana, ia mengecup punggung tangan Renjani yang terasa dingin.
"Anda wali dari pasien?" Seorang perawat menghampiri Kelana.
"Benar." Jawab Kelana.
"Silakan urus administrasi nya terlebih dahulu sebelum kami membawa pasien untuk melakukan CT Scan."
Kelana beranjak dari sana, ia melihat Renjani sekali lagi sebelum keluar dari sana. Kelana menitipkan Renjani pada Jesi sementara ia pergi mengurus administrasi.