Married by Accident

Married by Accident
LX



Penyanyi Emma Gantari menjadi dalang di balik kecelakaan Renjani


Rekaman suara Rehan, kaki tangan Emma Gantari beredar di media sosial


Emma membayar ratusan juta untuk mencelakai Renjani


Berbagi artikel tentang Emma beredar di internet. Penggemar Kelana menyerbu media sosial Emma. Mereka mencemooh Emma dengan berbagai umpatan karena telah sengaja mencelakai Renjani. Mereka mengatakan Emma masih berharap bersatu dengan Kelana padahal dulu cintanya sudah ditolak.


Namun berita itu tidak bertahan lama karena beberapa saat setelahnya rekaman video percakapan Renjani dan Kelana juga beredar di internet. Emma membalikkan keadaan dengan cepat. Emma memiliki senjata yang lebih ampuh untuk membuat Kelana hancur.


Foto-foto Kelana dan Renjani di perpustakaan kembali bertebaran. Para penggemar marah dan kecewa karena Kelana telah menipu mereka begitu lama. Sejak awal karir Kelana tak pernah tersangkut kasus apapun, itu yang membuat mereka semakin kecewa.


Puluhan wartawan memenuhi depan gedung apartemen Kelana. Mereka adalah orang-orang yang tak akan menyerah sebelum Kelana keluar dari apartemen dan bersedia memberi penjelasan.


"Wah mereka masih disana." Renjani membuka gorden melihat ke bawah dimana para wartawan tampak seperti semut yang berkerumun.


Setelah dua hari mereka masih konsisten berada disana. Kelana tak bisa kemana-mana, selain berdiam diri di apartemen menunggu keadaan lebih kondusif meskipun itu akan memakan waktu lama.


"Ini bukan pertama kalinya, jadi nggak masalah." Gumam Kelana dengan suara gemetar, ia tak bisa berbohong. Meskipun bukan pertama kalinya tapi Kelana cukup kaget dengan jumlah wartawan yang berada di depan gedung apartemen nya. Kelana sudah memperkirakan bahwa beritanya akan seheboh ini.


Renjani menghela napas panjang membalikkan badan menatap Kelana yang tengah membaca e-book di tablet. Renjani tahu Kelana hanya sedang menenangkannya.


Ponsel Kelana bergetar panjang tapi si pemilik hanya meliriknya sama sekali tidak berniat menjawab telepon tersebut. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Adam sejak kemarin.


Sebelum memutuskan untuk memulai perang dengan Emma, Kelana sudah membicarakan ini dengan Adam. Adam hanya mengatakan bahwa lebih baik mereka damai. Tak akan ada pihak yang diuntungkan, baik Emma maupun Kelana mereka sama-sama memiliki rahasia. Namun bukan Kelana namanya jika tidak teguh pada pendirian. Sejak memutuskan hubungan dengan Wira, Kelana memiliki lebih banyak keberanian untuk mengambil keputusan. Meski ini akan mengancam karirnya, tapi Kelana telah memikirkannya dengan matang.


"Kamu nggak mau angkat teleponnya?" Renjani berjalan mendekat, ia mengusap bahu Kelana berharap hal itu bisa merobohkan dinding keangkuhan Kelana yang terus mengabaikan telepon Adam.


"Dia akan datang kesini." Kelana masih berkata dengan tenang.


"Kamu baca apa?" Renjani penasaran karena Kelana terlihat sangat serius. Kelana tak pernah berubah. Dulu Renjani juga sering memperhatikan Kelana di perpustakaan.


"Puisinya Theo dan Weslly." Kelana menunjukkan tabletnya pada Renjani, karena keadaan sedang kacau maka ia ingin menenangkan diri dengan membaca puisi tersebut.


"Kamu baca puisi juga?"


"Kamu tahu aku baca apapun."


"Kenapa tiba-tiba baca puisi?"


"Mau merayu kamu." Kelana mendongak hingga tatapannya bertemu dengan Renjani lalu terkunci untuk beberapa saat.


Renjani mencebik, tanpa Kelana belajar merayu saja ia sudah dibuat melayang ke angkasa. Mungkin Renjani akan terbang ke Neptunus dan tak akan menginjak bumi selamanya jika Kelana berhasil mempelajari puisi karya pasangan terkenal Theo dan Weslly.


Kelana meletakkan tabletnya di meja menarik Renjani agar duduk di pangkuannya.


"Jika ada tempat yang paling liar di muka bumi maka itu adalah kemilau hitam pada bola matamu, ia mampu menelan malam juga kesedihan dan menggantinya dengan bintang." Kelana mengucapkan salah satu puisi yang ia hafal di luar kepala.


Renjani terpaku mendengar rangkaian puisi tersebut. Renjani yakin pernah membaca puisi itu tapi saat mendengarnya dari mulut Kelana, Renjani tak bisa menahan diri untuk tidak terpesona. Dadanya bergetar, puluhan serangga menggeliat beterbangan dari perut hingga mengganggu kerongkongannya.


Pipi Renjani bersemu merah seperti gadis yang hendak dilamar sang kekasih, malu-malu tapi penasaran. Renjani bukan lagi gadis tapi bersama Kelana membuatnya merasa waktu terhenti saat itu juga hingga dirinya tidak akan menua.


"Jika hatimu seperti lautan, aku akan tetap menyelaminya bahkan tanpa pelampung sekalipun." Kelana mengusap pipi Renjani lalu turun ke tengkuk.


"Walaupun aku tidak bisa berenang tapi kalau itu hatimu, aku akan berenang dan membiarkan diri ini tenggelam di dalamnya." Renjani membalas kalimat puitis Kelana yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Seorang yang kasmaran kadang tiba-tiba menemukan serangkaian kalimat manis untuk diucapkan.


Senyum Kelana semakin lebar mencubit pipi Renjani gemas, bisa-bisanya Renjani membalas puisi Kelana dengan lebih manis.


"Maka tenggelam lah untuk selamanya."


Renjani turun dari pangkuan Kelana ketika mendengar bel apartemen berdenting.


"Pak Adam beneran datang?" Renjani tak percaya jika Adam benar-benar datang seperti ucapan Kelana barusan. Siapa lagi yang datang jika bukan Adam karena Yana biasanya langsung masuk tanpa menekan bel.


Alis Kelana terangkat seolah memberitahu bahwa dugaannya tak pernah salah terhadap manajernya tersebut. Adam pasti datang jika Kelana mengabaikan teleponnya. Siapa yang bisa tahan dengan sifat keras kepala Kelana jika bukan Adam. Kelana harus berterimakasih karena Adam selalu setia bekerja dengannya.


"Tolong jeruk peras ya." Adam menerobos masuk begitu Renjani membukakan pintu.


"Pak Adam kenapa?"


Penampilan Adam tampak berantakan dengan rambut acak-acakan.


"Tidak ada jeruk peras." Kelana muncul. "Lagi pula Yana yang biasa buat untuk Pak Adam." Ia duduk di hadapan Adam mempersiapkan telinga mendengar omelan manajernya tersebut.


"Renjani tidak bisa?" Adam kesal karena setiap kali kesini ia tak pernah disuguhi jeruk peras yang menurutnya paling enak dibandingkan restoran, mungkin karena disini gratis. Semua yang gratis terasa lebih enak.


"Renjani bisa tapi khusus saya."


Adam menahan napas, "kamu nggak tahu seberapa kerasnya perjuangan saya untuk sampai disini, saya cuma minta jeruk peras."


"Saya bikinin." Renjani segera menghilang dari ruang tamu untuk mengambil minuman, ia tidak tega melihat penampilan Adam yang berantakan.


"Saya tidak akan bertanya kenapa kamu tidak angkat telepon karena itu memang bakat mu selain memainkan alat musik."


"Oke." Kelana menunggu dengan sabar, ia mengaku salah karena mengabaikan telepon Adam.


"Wah gila wartawan di bawah sana brutal banget, kamu lihat baju saya sampai robek." Adam menunjukkan kemejanya yang robek di bagian ketiak padahal itu bukan baju murahan yang mudah koyak. Ia tak pernah melihat wartawan segila itu. "Kelana, kamu kelihatan terlalu tenang di tengah kekacauan yang kamu buat." Adam semakin penasaran melihat senyum penuh arti Kelana, ia yakin Kelana memiliki rencana lain di balik semua ini. "Kamu bukan orang yang ceroboh."


"Itu makanya Pak Adam nggak usah khawatir."


"Apa yang kamu rencanakan?" Adam mendekat menatap Kelana serius.


"Silakan minumnya Pak Adam." Renjani meletakkan segelas jus jambu di atas meja.


"Bukan jeruk peras?" Adam membelalak, ia gagal minum air yang diperas langsung dari buah jeruk berkualitas tinggi.


"Ah." Renjani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia jadi serba salah. "Itu karena Kelana—"


"Sudah lah Pak Adam, minum aja dari pada minum angin." Timpal Kelana.


Adam akhirnya meneguk jus jambu dingin itu hingga tersisa setengah gelas, energinya benar-benar terkuras setelah menghadapi wartawan.


"Enak juga jus nya, merek apa?" Adam memandangi gelas tersebut seolah-olah ia akan mengetahui merek jus dari warna dan kekentalannya padahal ia awam soal itu.


Kelana tidak menjawab, bisa-bisanya Adam bertanya seperti itu di tengah pembahasan penting mereka.


"Duduk." Kelana menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya meminta Renjani duduk.


"Sebelumnya saya minta maaf—" Renjani gusar karena ia juga yang menyebabkan hal ini terjadi. Sejak awal ini memang kesalahannya.


"Ini bukan kesalahan kamu Re." Sahut Kelana cepat dengan nada lembut yang membuat Renjani tersanjung.


"Menyelesaikan masalah dengan kebohongan itu memang keliru tapi waktu itu kami tidak punya solusi lagi untuk meredakan berita yang telanjur beredar, tapi sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga." Adam menggunakan peribahasa terkenal itu untuk mengumpamakan kesalahan Kelana, tidak, ini kesalahannya juga. "Sekarang gedung Antasena juga dipenuhi wartawan dan penggemar kamu, beberapa merek membatalkan kerjasama dengan mu, kita harus bayar penalti hingga ratusan juga, tolong jangan berbuat semau kamu, Kelana." Adam mengacak rambutnya yang sudah semrawut, ia bahkan tidak menyentuh sisir dua hari ini karena pusing memikirkan masalah Kelana, belum lagi kena omel CEO Antasena.


Renjani terkejut mengetahui mereka mengalami kerugian hingga ratusan juta karena kekacauan ini. Ini lebih rumit dari yang Renjani pikirkan.


"Bagaimana dengan Wearesia?" Setidaknya Kelana memiliki satu brand yang mempekerjakannya.


"Mereka mungkin akan membatalkannya juga kalau kamu tidak punya solusi untuk meredakan kekacauan ini."


"Kalau gitu umumkan konferensi pers untuk besok pagi."


"Apalagi rencanamu?"


"Bagaimana lagi." Kelana mengedikkan bahu, "saya harus jujur sama mereka lagi pula hubungan kami nggak seperti dulu lagi, saya mencintainya." Kelana menatap Renjani, kini ia bahkan tidak ragu mengucapkan kalimat seperti itu. Setelah menyadarinya ternyata perasaan itu sudah tumbuh liar tanpa bisa dikendalikan.


"Baiklah, silakan jatuh cinta." Adam hanya bisa pasrah, ia tak mampu memikirkan apapun untuk menyelesaikan kekacauan ini.


"Kenapa kita harus bayar penalti padahal mereka yang membatalkan kontrak."


"Karena kamu berulah."


"Mereka yakin tidak akan menyesal karena sudah membatalkan kontrak?"


Adam hanya melempar tatapan tajam pada Kelana, "selesaikan kekacauan ini."