
Beberapa saat lalu, Erland keluar dari ruangan untuk menemui pria yang ingin dihabisinya. Ia bahkan sangat muat melihat pria yang sebentar lagi akan membusuk di penjara itu. Meski belum puas untuk memberikan pelajaran dan membuatnya tidak bisa melakukannya di dalam area rumah sakit.
Ia kini refleks langsung menarik kerah kemeja Zack untuk agak menjauh karena tidak ingin didengar oleh sang kekasih yang berada di dalam. Bahkan tatapan tajam kini terlihat jelas dan membuatnya merasa sangat muat.
"Apa maumu? Pergi atau aku akan menghabisimu sekarang juga! Marcella bahkan ingin membunuhmu sekarang!" sarkas Erland yang pada saat ini masih sekuat tenaga menjaga amarah yang meluap meluap di dalam dirinya.
Berbeda dengan Zack yang saat ini hanya ingin mengatakan satu hal untuk membuat pria di hadapannya kalah telak darinya.
"Itulah mengapa aku menyuruhmu untuk keluar karena ingin berbicara hal penting demi menjaga mental Marcella yang tidak ingin melihatku. Aku masih manusia yang peduli pada wanita yang kucintai!" Saat ia baru saja menutup mulut, tubuhnya terhubung ke belakang karena didorong oleh Erland yang seolah tidak terima dengan ucapannya.
"Jaga mulutmu atau akan ku robek sekarang juga! Kau bukan mencintai Marcella karena sudah menghancurkan hatinya. Tidak ada orang yang mencintai segila ini. Jangan sembunyikan kebiadabanmu atas nama cinta karena kau tidak tahu apa arti yang sebenarnya." Erland bahkan sebenarnya saat ini merasa sangat tersiksa karena berbicara dengan suara yang masih dijaga.
Itu karena ruangan yang terlihat sepi tersebut akan membuat suaranya makin menggema jika berteriak dan pastinya sang kekasih akan mengetahui bahwa pria yang dibenci berada dekat dengannya.
"Kau akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu di balik jeruji besi. Aku yang akan menyembuhkan traumatik yang kau berikan pada Marcella dengan mengajaknya kembali ke Jakarta. Bahkan kami juga akan menikah secepatnya karena aku akan tetap menerimanya meskipun sudah kau hancurkan."
Erland bahkan saat ini ingin sekali melihat kehancuran sosok pria di hadapannya tersebut setelah berbicara mengenai rencananya dengan sang kekasih.
Ia bahkan tersenyum menyeringai karena merasa di atas angin bisa membuat raut wajah pria di hadapannya tersebut kecewa.
"Jadi, kalian sudah merajut mimpi indah dan berharap akan hidup berbahagia selamanya?" Zack yang saat ini berpura-pura terlihat bersedih atas apa yang baru saja didengarnya.
Namun, ia menyimpan sesuatu hal yang besar yang akan dikatakannya dan akan membalik keadaan 180 derajat. Hanya saja masih menghitung mundur detik-detik meredakan bom waktu yang akan diarahkan pada pria yang terlihat sangat percaya diri tersebut.
'Aku ingin melihat seperti apa raut wajahnya begitu mengetahui apa yang akan kukatakan padanya,' gumam Zack yang saat ini tengah berakting murung.
Sementara itu, Erland yang hanya terbahak melihat raut wajah memelas itu. "Kau aku membusuk di penjara dan mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada Marcella. Sekarang pergilah jika benar apa yang kau katakan. Bahwa kau mencintai Marcella, itu berarti harus menuruti kemauannya dengan menyerahkan diri."
"Tentu saja aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku karena memang sudah menjadi tersangka dan sebentar lagi polisi mungkin akan datang menangkapku karena Marcella sudah sadar dan bisa memberikan kesaksian." Zack saat ini bahkan menggerakkan kedua tangannya seperti orang yang menyerahkan diri.
Ia menatap ke arah dua pergelangan tangannya yang mungkin sebentar lagi akan diborgol oleh polisi. "Aku tidak akan lari kemana-mana, jadi tenanglah."
"Kau lari sejauh mungkin atau bersembunyi di balik lubang semut sekalipun, aku akan mencarimu hingga ketemu dan menyeretmu ke sel." Erland tidak ingin terlalu lama berkomunikasi dengan pria yang dianggap hanya memancing amarahnya saja.
Jadi, ia memilih untuk mengibaskan tangan untuk pengusiran serta berbalik badan karena ingin kembali ke ruangan untuk menemui sang kekasih.
Zack yang merasa berhasil membuat rasa percaya diri tinggi pria dengan bahu lebar tersebut, berpikir bahwa sekarang adalah saat yang paling tepat untuk meledakkan bom waktu yang akan membuat hancur tanpa tersisa.
"Oh iya, aku lupa mengatakan padamu bahwa sudah mengurus semua hal yang berhubungan dengan Marcella yang kuperkosa. Bahwa aku merasa yakin jika hasil perbuatanku yang bukan sekali itu meninggalkan benih di rahimnya dan beberapa minggu lagi pasti hasilnya akan keluar. Jadi, sebelum itu, Marcella tidak boleh meninggalkan negara ini."
Zack akan berbicara dengan tersenyum menyeringai karena berhasil membalikkan keadaan hinggap pria yang memunggunginya tersebut tidak berkutik. Kemudian ia melanjutkan perkataannya untuk semakin memporak-porandakan hubungan asmara pria yang terlihat percaya diri itu.
"Jika benar Marcella nanti hamil, kau tidak berhak menikahinya sampai dia melahirkan. Keluargaku yang akan mengurus semuanya dengan bertanggung jawab pada wanita yang hamil benih keturunan keluarga Pieterson." Ia mengingat perkataan sang ayah jika keluarga besarnya akan mengurus semuanya dan tidak perlu khawatir.
"Apa kau tidak tahu jika keluarga Pieterson adalah orang paling berpengaruh di negara ini? Jadi, seharusnya kau tahu jika keturunan dari kasta Pieterson adalah sebuah anugerah yang harus dijaga dengan sangat baik." Bahkan saat ini keluarganya sudah mengurus semuanya dan juga mempersiapkan tempat yang akan menjadi saksi keturunannya hadir di dunia.
"Keluarga kami akan menjaga Marcella dengan sangat baik dan tidak boleh ada campur tangan orang lain, meskipun itu adalah kekasihnya. Bukankah kau adalah kekasihnya yang sama sekali tidak berarti apa-apa sampai masih lama melahirkan keturunanku. Jadi, jangan berpikir bisa membawa Marcella pergi satu langkah pun dari negara ini!"
Zack yang saat ini tertawa terbahak-bahak karena merasa menang, melihat raut wajah memerah pria yang langsung menghambur ke arahnya dengan tangan mengepal dan juga berteriak hingga memecahkan keheningan di samping ruangan Marcella.
"Bangsat! Aku benar-benar akan membunuhmu!" Pertahanan kesabaran yang dari tadi ia bangun kini sudah runtuh dan membuatnya beringas dengan membabi buta mengarahkan pukulan pada wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya.
Ia bahkan saat ini tidak memperdulikan apapun karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin membuat pria itu musnah dari muka bumi karena telah membuatnya seperti seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kau harus mati, berengsek! Aku akan membunuhmu!" Bahkan ia yang sudah berhasil meninju wajah sebelah kanan Zack untuk kesekian kalinya, ini juga merasakan hal yang sama ketika pria itu tidak tinggal diam dan melawannya.
"Aku tidak akan mengalah lagi!" sarkas Zack yang saat ini juga membabi buta mengerahkan pukulan pada Erland tanpa memperdulikan suara teriakan beberapa aparat medis yang berhamburan ke arah mereka untuk melerai.
Kedua tersebut terlihat sama-sama saling menunjukkan kekuatan masing-masing. Seolah tidak akan pernah berhenti hingga titik darah penghabisan dan membuat beberapa orang perawat datang untuk melerai
Bahkan beberapa perawat pria sempat terkena pukulan saat menahan lengan mereka. Hingga beberapa saat kemudian datang security yang membantu karena mendapatkan laporan.
Tentu saja saat ini terlihat beberapa security yang berbadan besar berusaha untuk menghentikan pertikaian dua pria tersebut dengan menahan lengan kiri dan kanan agar tidak berkutik lagi.
"Berhenti! Ini bukan ring tinju. Kalian telah membuat keributan di rumah sakit dan menyebabkan para pasien tidak tenang. Ikut kami!" Salah satu pria berseragam tersebut menarik dengan kasar lengan pria yang mempunyai postur tubuh kecil tersebut setelah berteriak untuk meluapkan amarah.
Begitu juga dengan security yang lain karena melakukan hal sama dan membawa pria itu berjalan menuju ke arah salah satu ruangan.
To be continued...