
Dhewa yang baru saja menyanyikan sebuah lagu Jawa yang saat ini tengah viral di media sosial, mengakhirinya meskipun belum sampai pada bagian reff karena memang tadi hanya ingin mengetes gitarnya setelah seminggu dibawa sahabatnya.
Bukan ia tak percaya atau menganggap temannya merusakkan gitarnya, hanya saja karena selalu mengecek jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, segera dibawa ke ahlinya.
"Tadi temanku mampir ke sini untuk mengembalikan gitarku ini," ucap Dhewa yang kini berniat untuk menaruh kembali di tempat semula. Namun, tidak jadi melakukannya begitu melihat Floe yang seperti keberatan.
"Kenapa tidak dilanjutkan nyanyinya? Nanggung banget dan serasa tidak lengkap jika tidak sampai selesai. Suara Anda punya ciri khas dan ditambah lagi kemampuan main gitarnya juga sangat baik." Floe yang tadinya fokus melihat sekaligus mendengarkan, seperti tersihir dengan alunan gitar yang dipetik jari-jari dengan buku-buku kuat itu.
Bahkan indra pendengarannya pun seperti dimanjakan oleh suara merdu yang menurutnya sangat candu. Hingga ia merasa kurang karena lagunya belum selesai.
Namun, ia seketika menepuk jidatnya begitu menyadari jika saat ini adalah jam kerja dan harus memeriksa gulungan putih di atas meja. "Aah ... maaf. Seharusnya saya tidak boleh bicara seperti ini di jam kerja."
Kemudian ia kembali berjalan menuju kursi kerjanya sambil membawa catatan berisi peraturan yang harus dipatuhi, agar tidak melakukan kesalahan saat bekerja.
'Dasar bodoh! Ingat, kau di sini bukan anak bos, tapi hanya menyamar sebagai pekerja biasa,' gumam Floe yang kini kembali mendaratkan tubuhnya di kursi kerja.
Hingga ia pun langsung membaca peraturan yang dibuat oleh Dhewa tadi. Namun, baru ia membaca poin pertama, seketika mengangkat pandangannya pada pria yang kini menatapnya saat berbicara.
"Poin paling penting menurutku adalah nomor satu. Apa kamu sudah mengerti?" Dhewa yang memang sengaja menuliskan sesuatu di nomor pertama, ingin melihat reaksi dari wanita yang saat ini seperti sangat kesal padanya.
"Bukankah ini tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan? Masa nomor satu isinya begini." Floe malas sekali untuk membacanya karena saat ini tengah kesal.
"Baca nomor satu yang keras karena kebetulan aku ingin mendengar pendapatmu," ucap Dhewa yang kini menaruh kembali gitarnya. "Kamu benar. Ini jam kerja, jadi mana mungkin aku menyanyi dan main gitar. Mungkin nanti pas jam istirahat makan siang."
Ia memang sengaja ingin memancing Floe. Apakah akan excited mendengar ia akan melanjutkannya nanti. Apalagi tadi ia menahan diri untuk tidak melanjutkan karena harus profesional saat bekerja, meskipun adalah seorang atasan di sana.
"Tidak boleh jatuh cinta pada atasan." Floe yang tadinya sangat terkejut ketika membaca poin pertama, bahkan rasanya kini ingin sekali mengumpat. Namun, sekuat tenaga menahannya.
"Kamu belum menyebutkan tanggapanmu, jadi jangan baca selanjutnya." Dhewa tadinya tidak mengalihkan perhatiannya dari Floe, tapi bisa mengerti dari gerakan bibir.
Floe seketika berakting tertawa dengan elegan, padahal aslinya ingin tertawa terbahak-bahak karena merasa konyol. "Sepertinya Anda selama ini merasa menjadi pria paling keren di dunia, sehingga menganggap semua kaum hawa jatuh cinta. Tenang saja karena saya tidak akan pernah jatuh cinta pada Anda."
Saat baru saja menutup mulut, malah semakin bertambah kesal, tapi menyadari tidak bisa bersikap sok seperti pria yang dianggapnya menyebalkan.
"Faktanya begitu. Makanya sebelum kamu jatuh di lubang yang sama dengan mereka, kuingatkan. Bukankah itu adalah sebuah kebaikanku karena memberitahu agar kamu tidak tersesat?" Entah mengapa melihat raut wajah kesal Floe malah membuatnya senang.
Apalagi melihat bibir mengerucut dengan mencoba untuk menampilkan senyuman penuh keterpaksaan. 'Jadi seperti itu wajahnya saat kesal? Cemberut dengan wajah ditekuk saja tidak menghilangkan aura positif yang terpancar dari dirinya.'
Iya ... iya, Dhewa!" Floe kini sudah tidak bisa lagi berakting seolah ia akan menjadi salah satu dari wanita yang memuja atasannya.
"Saya mengerti dan paham maksud Anda adalah menganggap para wanita zaman sekarang mengincar pria mapan dengan tampilan sempurna. Bahkan bersembunyi di balik kata realistis, padahal aslinya materialistis. Tapi tenang saja karena meskipun di dunia ini pria hanya tinggal Anda saja, tidak akan pernah jatuh cinta pada Anda."
Saking kesalnya, kini Floe seolah sangat malas untuk bekerja di sana. 'Kupikir dia adalah pria yang baik dan bisa diajak ngobrol yang asyik. Ternyata malah nyebelin,' gumamnya dengan perasaan dongkol.
Bahkan saat merasa kesal, ia makin dua kali lipat merasakannya begitu melihat Dhewa bertepuk tangan dan tertawa sinis. 'Menyebalkan sekali.'
"Wah ... kamu hebat karena bisa mengejekku sangat percaya diri, tapi juga melakukan hal sebaliknya. Bisa saja kamu berpikir seperti itu, tapi bagaimana jika Tuhan menentukan kita adalah jodoh? Memangnya kamu bisa apa? Lari dari kuasa Tuhan?" sarkas Dhewa yang kini melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertahan.
Bahkan ia sama sekali tidak ingin melihat lagi ekspresi wajah Floe yang bisa ditebaknya kembali memerah. 'Kita lihat saja nanti. Apakah akan ada campur tangan kuasa Tuhan? Atau hanyalah sekilas untuk singgah seperti sudah-sudah.'
To be continued...