Married by Accident

Married by Accident
Nomor baru



"Apa, Dad? Aku pergi ke apartemennya? Apa Daddy tidak khawatir jika putrimu ini diperkosa pria bernama Dhewa Adji Ismahayana itu? Bukannya dia yang datang menjemputku ke sini, tapi kenapa aku yang malah datang ke apartemennya? Aku wanita, tidak mungkin datang ke tempat pria. Lagian siapa di sini yang butuh?" sarkas Floe yang merasa sangat kesal pada perkataan sang ayah yang dianggapnya.


Ia bahkan tidak habis pikir dengan apa yang diinginkan sang ayah, hingga mengorbankan putri sendiri. Namun, seketika tersadar saat apa yang disampaikan dari seberang telepon membuatnya tertampar.


"Lah, memangnya kamu lupa jika namamu adalah Ayu Ningrum dan hanya keponakan Hugo Madison? Kamu hanyalah wanita biasa, bukan penerus perusahaan besar Madison Grup. Tidak mungkin Daddy menyuruh Dhewa untuk menjemput ke rumah. Nanti ketahuan dong jati dirimu yang sebenarnya." Ia sebenarnya ingin tertawa mendengar putrinya marah-marah dan bersikap berlebihan, tapi menahan diri untuk tidak menunjukkannya.


"Tenang saja karena Daddy yakin jika dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Lagipula kamu mungkin bukan tipenya karena dia tidak ada kabar pernah dekat dengan wanita manapun." Ia bisa memaklumi saat putrinya lupa akan aktingnya setelah berada di rumah, jadi mengingatkannya dengan sabar.


Sementara itu, Floe yang kini terdiam dan menyadari sesuatu yang dilupakannya, seketika menepuk jidatnya karena apa yang dikatakan oleh sang ayah benar. "Daddy ini benar-benar menyebalkan. Masa begitu pada putri sendiri, sih! Putrimu ini kan adalah wanita paling cantik sedunia. Baiklah ... baiklah, aku akan datang ke sana nanti."


"Putri Daddy memang sangat cantik, tapi jangan terlalu percaya diri jika Dhewa yang datar dan dingin pada wanita itu tertarik padamu. Kepedean nanti malah bikin kamu malu jika Dhewa berpikir kamu bukan tipenya. Ya sudah, nanti Daddy tanyakan alamatnya. Sekarang Daddy kerja dulu karena lembur haru ini." Tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Hugo Madison kini mematikan sambungan telepon.


Berbeda dengan Floe yang masih mengerucutkan bibir karena kesal. "Bahkan daddy pun membela Dhewa sialan itu. Bikin sebel aja. Membayangkan bertemu dengan mamanya saja sudah membuat bulu kudukku meremang seperti ini. Apa nanti aku akan dihina oleh mamanya karena berasal dari keluarga biasa."


Floe kini mengacak frustasi rambutnya ketika membayangkan hal yang bahkan belum terjadi, tapi sudah membuatnya bergidik ngeri. Apalagi saat ini sudah membayangkan seperti apa wajah ibu dari Dhewa.


"Sepertinya ini akan menjadi pengalaman konyol sekaligus tidak terlupakan jika sampai aku dihina habis-habisan karena kasta. Atau mungkin aku malah tertawa terbahak-bahak nanti," ucapnya yang kini bangkit berdiri dari ranjang dan berjalan menuju ruangan ganti untuk mencari pakaian yang akan dikenakannya nanti.


"Aku harus memakai pakaian yang tidak mencolok dan tidak terlihat mahal tentunya, agar jati diriku tidak ketahuan." Floe yang beberapa saat kemudian sudah berada di depan lemari kaca raksasa dan di dalamnya banyak gaun serta pakaian miliknya, kini tidak berkedip menatap satu persatu dan memilih dari sekian banyak yang terlihat.


Namun, ia merasa semua gaunnya terlihat jelas mahal harganya, sehingga kini terdiam sejenak untuk mencari sebuah solusi dari apa yang dipikirkan. "Sepertinya aku minta saja dia membelikan baju yang akan kupakai untuk menemui mamanya, daripada pusing memilih pakaianku yang jelas-jelas bisa dilihat sekilas jika harganya cukup mahal."


Floe kini keluar dari ruangan ganti dan memberitahu apa yang dipikirkannya pada sang ayah, agar menyampaikan pada Dhewa.


"Aaah ... sebenarnya aku sangat malas pergi malam ini. Untungnya aku masih bisa kuliah karena kedatangan ibu ratu cukup malam saat sampai di Jakarta." Floe kini menyiapkan buku-buku yang akan dibawanya kuliah dan dimasukkan ke dalam tas.


Ia pun bersiap untuk berangkat setelah memilih pakaian yang digunakan untuk ke kampus hari ini. "Hari ini aku tidak bisa menyetir sendiri dan harus memakai supir jadinya. Aaah ... semoga semuanya berjalan lancar dan aku tidak mendapatkan kemurkaan dari si ibu ratu. Rasanya sekarang ini aku seperti seorang rakyat jelata yang hendak menghadap ratu saja."


Saat penasaran dengan apa yang saat ini berada di otaknya, Floe yang tadinya ingin merias diri di depan cermin, tidak jadi melakukannya karena mengambil ponsel miliknya.


"Aku jadi penasaran seperti apa wajah ibu ratu," ucapnya yang kini mengetik sesuatu di mesin pencarian dan berharap bisa mengetahui seperti apa sosok wanita yang akan ia temui malam ini.


"Wah ... aku jadi makin minder nih. Ternyata mamanya lah yang merupakan keturunan darah biru. Pasti dia akan makin menganggapku tidak pantas bersanding dengan putranya yang masih merupakan keturunan bangsawan."


"Astaga, hidup cuma sekali saja harus ribet seperti ini dengan memikirkan masalah kasta." Floe kini melihat ke arah ponselnya karena ada notifikasi masuk dan sudah bisa menduga dari siapa.


"Padahal ini hanya sebuah akting saja, tapi tetap saja membuatku merasa seperti kaum jelata sesungguhnya." Ia kini membaca alamat yang dikirimkan oleh sang ayah.


Tentu saja alamat dari Dhewa Adji Ismahayana yang saat ini tinggal di salah satu apartemen mewah di Jakarta. "Seumur-umur, baru kali ini aku akan pergi ke apartemen seorang pria dan itu atas suruhan daddy sendiri."


Saat ia mengetahui apartemen tersebut karena berada di pusat kota dan hanya orang-orang yang berasal dari keluarga konglomerat saja bisa tinggal di sana, kini tengah membayangkan bagaimana datang ke sana malam-malam.


Namun, saat baru saja memikirkannya, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan hanya diam saja ketika melihat kontak yang menelponnya. Ia tidak berniat untuk mengangkatnya dan hanya melihatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena mulutnya saat ini tertutup rapat.


"Kenapa dia menelponku? Apa yang diinginkannya sebenarnya?" gumam Floe yang menunggu hingga panggilan terputus.


Beberapa saat kemudian, panggilan terputus karena tidak mendapatkan jawaban dan di saat ia berniat untuk membuka benda pipih di tangan, notifikasi masuk dan otomatis bisa membacanya.


Apa benar kamu saat ini tengah dekat dengan pengusaha bernama Dhewa Adji Ismahayana? Apa setelah bercerai, kamu akan langsung menikah dengannya?


Floe seketika mengepalkan tangannya dan wajahnya berubah merah begitu membaca pesan yang dianggapnya sangat konyol. "Apa-apan si berengsek itu? Apa haknya bertanya padaku? Apa dia pikir berhak menanyakan masalah yang menyangkut kehidupanku?"


Floe berniat untuk memencet tombol panggil, tapi tidak jadi melakukannya saat ponselnya berdering dan membuatnya mengerutkan kening karena ada nomor asing yang menelponnya.


"Siapa ini?" tanya Floe yang masih merasa ragu untuk mengangkat panggilan telepon dari nomor baru yang tidak terdaftar di ponselnya.


"Apa ini adalah Erland yang memakai nomor baru karena aku tidak mengangkat telepon darinya?" lirihnya ketika ia dengan ragu-ragu menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


To be continued...