
Beberapa saat lalu setelah Erland keluar dari ruangan ICU, terlihat pergerakan dari jari-jari lentik wanita yang berada di atas ranjang perawatan dengan alat-alat yang menopang kehidupannya. Wanita yang tak lain adalah Marcella, seperti mendengar suara dari seseorang sebelum ia sadar.
Seperti ada suara yang memanggilnya saat ia hendak membuka pintu untuk masuk ke dalam sebuah ruangan gelap. Hingga ia seperti berada di alam mimpi itu dengan melihat seberkas sinar yang sangat terang dan menyilaukan mata setelah indera pendengaran menangkap suara yang memanggil namanya.
Sampai keraguannya sirna dan mulai berjalan mendekati cahaya yang makin menyilaukan matanya dan seketika membuatnya membuka mata. Ia mencoba untuk menetralkan cahaya yang masuk dengan beberapa kali mengerjapkan mata dan beralih mengedarkan pandangannya ke sekeliling serta mengingat apa yang terjadi padanya.
Hingga detak jantungnya berdegup kencang melebihi batas normal begitu mengingat semua yang terjadi padanya.
"Kenapa aku masih hidup? Aku pikir tadi sudah tidak lagi berada di dunia," lirih Marcella yang saat ini menatap ke arah tangannya dan mengingat perbuatannya yang menyayat hingga membuatnya sakit luar biasa.
"Tidak! Aku tidak ingin hidup dengan menanggung rasa malu seperti ini. Aku sudah tidak punya lagi sesuatu yang bisa dibanggakan!" Marcella yang baru saja menutup mulut, melihat pintu yang terbuka.
Kebetulan dokter dan perawat saat ini berjalan masuk untuk memeriksa pasien di pagi hari. Mereka seketika berjalan cepat begitu mau melihat bahwa pasien kini sudah sadar dan juga berbicara meskipun lirik.
"Anda sudah sadar, Nona? Saya akan memeriksa. Di mana walinya? Kenapa tidak ada siapapun di ruangan ini?" Sang dokter pun langsung menyuruh perawat menghubungi pihak wali dari pasien untuk mengabarkan bahwa saat ini sudah sadar.
Marcella yang saat ini hanya menutup mulutnya rapat dan diam saja begitu dokter memeriksa. Namun, pikirannya kini tengah dipenuhi oleh berbagai macam beban yang bermunculan.
Mulai dari pihak keluarga yang mungkin sudah mengetahui keadaannya dan juga pria yang sangat dicintai yang mungkin akan membuangnya karena sudah tidak lagi suci. Padahal ia dari dulu sangat menjaga kesuciannya hanya untuk diberikan pada pria yang sudah lama menjalin hubungan dengannya dan berniat untuk meminangnya.
'Ya Allah, kenapa aku harus dibiarkan hidup saat ingin segera menghadap-Mu? Apakah dosaku terlalu besar hingga Engkau tidak mau menerimaku? Aku tidak bisa hidup seperti ini, Tuhan. Harus bagaimana aku hidup dalam penderitaan karena kehilangan harga diri sebagai seorang wanita,' gumam Marcella yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati ketika dokter memeriksanya.
Bahkan saat dokter mengajaknya berbicara, ia tidak berniat untuk menjawab sama sekali dan mengunci rapat-rapat bibirnya. Ia saat ini benar-benar putus asa dan merasa bingung serta tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika usahanya untuk mengakhiri hidupnya gagal.
Berpikir bahwa kematian akan membuatnya tenang karena tidak menghadapi orang-orang yang disayanginya, tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan.
Saat ia larut dalam kebimbangan harus melakukan apa saat masih hidup dalam rasa malu, beberapa saat kemudian mendengar ketukan pintu dan juga seseorang yang sudah lama tidak ia lihat kini berada tepat di depan mata.
Dadanya terasa sangat sesak dan bola matanya berkaca-kaca sesaat setelah terkejut melihat pria yang sangat dicintainya dan tidak ingin ditemui dalam kondisinya yang hancur kini sudah datang.
'Erland? Aku ingin memelukmu dan bertanya apa yang harus kulakukan setelah mendapatkan musibah sebesar ini, tapi aku tidak bisa melakukannya karena tidak pantas lagi untukmu. Kau pasti saat ini hanya merasa kasihan padaku dan masih berada di sisiku hanya untuk menghibur.'
'Kau lama kelamaan akan merasa jijik pada wanita hina sepertiku,' gumam Marcella yang saat ini berusaha dengan keras untuk membuka suara ketika dadanya terasa sesak dan suara tercekat di tenggorokan.
Ia berusaha untuk menguatkan hatinya begitu bersitatap dengan pria yang sangat ingin ia peluk dan juga mengungkapkan keluh kesah dengan menangis tersedu-sedu.
"Pergi! Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!" Marcella kini berteriak dan keheningan di dalam ruang ICU tersebut berubah bising oleh suaranya.
Bahkan ia sampai menggerakkan tangannya untuk memukul ranjang pembaringan sambil menatap tajam pria yang tidak ingin dilihatnya.
"Sayang," lirih Erland yang saat ini seketika berjalan mendekat dan ingin sekali segera memeluk erat sang kekasih yang tengah frustasi setelah mengetahui kenyataan jika masih hidup.
"Pergi! Aku bilang pergi!" Marcella ingin sekali menutupi wajahnya agar tidak bersih tatap dengan pria yang sangat dicintainya karena merasa malu saat sudah tidak punya lagi keistimewaan yang bisa dibanggakan.
"Anda harus tenang, Nona." Sang dokter bisa mengerti apa dan bagaimana perasaan seorang pasien, berniat untuk menyuntikkan obat tidur agar jauh lebih tenang.
Namun, ia tidak jadi melakukannya saat mendengar suara bariton pria yang diketahui merupakan kekasih dari sang pasien.
"Tolong kalian keluar dan beri waktu saya untuk menenangkan kekasih saya!" Erland bahkan berbicara tanpa memandang ke arah aparat medis yang berada di sebelahnya karena fokus melihat raut wajah yang masih pucat dari Marcella.
Sang dokter yang mengerti apa mau pria itu, kini menoleh ke arah perawat dan tanpa membuang waktu langsung beranjak pergi setelah menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
Ia yakin jika pria itu tengah berusaha untuk menyembuhkan traumatik serta gangguan psikis dari pasien yang mengalami pelecehan seksual dan akan meminta tolong pada tim medis jika membutuhkan bantuan.
Sementara itu, Erland yang saat ini tengah menatap ke arah sang kekasih, seketika berjalan semakin mendekat dan langsung memeluk tubuh lemah itu.
"Sayang, tenanglah karena aku tidak akan pernah pergi dari sini meskipun kamu berjuta kali mengusirku. Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu hanya karena kamu mengusirku." Erland masih memeluk erat tubuh wanita yang bergerak untuk berusaha melepaskan diri darinya.
"Lepaskan! Pergi! Aku tidak ingin melihatmu!" Marcella berkali-kali memukul pria yang mengungkungnya karena tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Erland.
Ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa meskipun badannya terasa lemas dan hanya tangan kanannya yang digunakan untuk melepaskan diri.
Sementara tangan kirinya yang diperban seolah tidak punya tenaga dan juga masih terasa nyeri serta lemas. "Aku mohon padamu. Pergilah, Erland."
Marcella yang merasa tenaganya sudah terkuras habis hingga membuatnya lemas dan akhirnya lunglai serta terisak ketika berbicara. Ia sudah menangis tersedu-sedu saat ini karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya ketika gagal mengusir pria yang membuatnya merasa seperti tidak pantas lagi untuk sang kekasih yang sangat dicintai.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pergi. Bukankah sudah kubilang jika aku akan tetap bersamamu dari awal hingga akhir? Jadi, jangan buang tenagamu untuk mengusirku karena aku akan tetap berada di sampingmu sampai kamu mau menerimaku lagi dan memaafkan perbuatanku yang telah menjadi penyebab semuanya." Erland memang sengaja tidak menatap sang kekasih ketika berbicara.
Ia yang saat ini dalam posisi membungkuk sambil memeluk erat dan wajahnya berada di sebelah kanan sang kekasih, sehingga tidak berhadapan dan berbicara tepat di indra pendengaran wanita yang terlihat sangat miris karena suara tangisan benar-benar menyayat hati.
Bahkan meskipun ia berbicara panjang lebar untuk menjelaskan semuanya demi menghibur perasaan hancur sang kekasih, tetap saja hanya tangisan yang terus berlanjut dan menghiasi ruangan ICU.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan dosa besar dengan mendahului takdir sang pencipta. Jangan pernah lagi berbuat seperti ini karena aku yakin orang tuamu tidak akan sanggup menerima kenyataan itu. Jika bukan demi aku, pikirkan orang tuamu yang masih ingin melihat putri satu-satunya." Erland yakin jika sang kekasih bisa sedikit lebih terbuka pikirannya jika menyerang sisi terlemah.
Apalagi ia tahu jika Marcella adalah seorang anak berbakti pada orang tua yang selalu melakukan apapun demi kebahagiaan mereka hingga mengorbankan diri sendiri. Jadi, ia merasa yakin jika usahanya akan berhasil.
Bahwa wanita yang saat ini mulai sedikit reda tangisannya, lama-kelamaan akan sadar jika apa yang dilakukan sangat salah.
Ia lupa menanyakan pada Kyara apakah orang tua kalau sudah mengetahui kemalangan yang menimpa putrinya atau belum. Jadi, sedikit bimbang jika sang kekasih menanyakan padanya.
Hingga ia pun seketika mengangkat pandangannya begitu mendengar suara serak dan tubuh bergetar dari sang kekasih.
"Ayah, ibu ...." Marcella yang mengingat orang tuanya, saat ini benar-benar merasa bersalah.
Meskipun ia disadarkan oleh perkataan dari sang kekasih, tidak bisa menghilangkan apa yang saat ini dirasakan hatinya yang terluka begitu dalam.
Bahwa ia lebih baik meninggalkan dunia dan tidak melihat apapun lagi, termasuk orang tuanya yang mungkin akan hancur begitu mengetahui kenyataan jika ia telah meninggalkan dunia fana.
Namun, ternyata apa yang diinginkannya tidak sesuai dengan rencananya. Bahwa ia telah kalah oleh kuasa Tuhan yang membuat skenario hidupnya. "Lebih baik aku pergi dan tidak melihat orang tuaku yang pasti bersedih begitu mengetahui nasib putrinya."
Suara serak yang mendominasi dan juga terlihat wajah bersimbah air mata, membuat Erland benar-benar tidak tega melihatnya. Apalagi wajah pucat itu sangat berbeda dengan apa yang selama ini dilihatnya dari sang kekasih.
Ia bisa mengerti bagaimana hancurnya perasaan seorang wanita yang telah kehilangan sesuatu yang dibanggakan karena perbuatan pria yang merupakan rekan kerjanya sendiri.
Erland yang saat ini hanya berjarak beberapa senti wajahnya dengan sang kekasih, seketika membungkuk dan semakin mendekat. Ya, ia tidak bisa lagi berkata-kata untuk menghibur wanita yang terlihat sangat mengenaskan tersebut, sehingga memilih jalan pintas dengan cara menyatukan bibir mereka.
Jika biasanya ia selalu meminta izin pada sang kekasih ketika ingin mencium, kini tidak melakukannya dan sudah bergerak membasahi bibir pucat yang kering itu agar kembali seperti semula.
'Semoga Marcella bisa lebih tenang setelah aku melakukan ini karena aku tidak tahu lagi harus dengan cara apa menghibur perasaan yang telah hancur karena perbuatan bajingan itu,' gumam Erland yang saat ini sudah bergerak menyesap lembut bibir pucat sang kekasih yang hanya diam saja dengan perbuatannya.
Sementara itu, Marcella yang tadinya diliputi oleh kesedihan luar biasa saat mengingat orang tuanya, benar-benar terkejut melihat apa yang dilakukan oleh pria yang kini dengan penuh kelembutan menciumnya.
Awalnya ia hanya diam dan memejamkan mata untuk membiarkan pria yang sangat dicintainya itu melakukannya, tapi beberapa saat kemudian bayangan kejadian buruk yang sangat membuatnya terpukul kembali terekam jelas di kepalanya.
Refleks ia langsung mau buka mata dan mendorong tubuh Erland agar melepaskan ciumannya. Meskipun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan pria yang hanya sedikit bergerak setelah melepaskan bibirnya.
"Jangan menyentuhku! Aku hanya wanita yang menjijikkan!" seru Marcella yang saat ini kembali menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya.
"Pergilah, Erland. Aku bukanlah Marcella yang dulu. Aku ...." Ia tidak bisa melanjutkan suaranya yang dipenuhi oleh tangisan menyayat hati karena dipotong oleh pria yang tidak ingin dilihatnya karena merasa tidak pantas.
"Tidak! Sudah kubilang jika aku akan tetap ada di sisimu meskipun kamu mengusirku berjuta kali. Aku sudah tahu semuanya dan akan membuat bajingan itu membusuk di penjara." Erland yang merasa gagal menenangkan sang kekasih karena terus-menerus merasa tidak pantas untuknya, ia berpikir untuk mengatakan semuanya.
Berharap apa yang akan dikatakannya bisa membuat sang kekasih tidak lagi menyalahkan diri sendiri ataupun tidak memantaskan diri untuknya karena iya bukanlah pria sebaik yang dipikirkan.
"Sayang, dengarkan ini baik-baik karena aku ingin berbicara sesuatu hal yang mungkin membuatmu sangat terkejut, tapi aku berharap setelah kamu mengetahuinya, tidak lagi menganggap dirimu tidak pantas untukku." Erland berbicara dengan menatap intens sosok wanita yang masih menutupi wajah dengan telapak tangan saat menangis.
Hingga ia pun sedikit merasa lega begitu Marcella perlahan bergerak membuka telapak tangan dan menatapnya. Seolah menangkap apa yang ingin disampaikannya adalah sesuatu hal yang sangat serius.
Marcella tadinya berharap sang kekasih mau menuruti apa yang diperintahkannya dan juga tidak ingin melihat pria itu lagi. Namun, pikirannya seketika berubah karena rasa penasaran luar biasa ketika suara penuh nada tegas serta seriusan tertangkap indra pendengaran.
'Apa yang ingin dikatakan Erland padaku? Apa dia akan memutuskan hubungan kami karena aku sudah tidak layak lagi untuknya? Ini jauh lebih baik daripada aku tersiksa karena selalu merasa tidak pantas untuknya,' gumam Marcella yang saat ini memasang telinga lebar-lebar dan menatap raut wajah serius pria yang sudah 5 tahun lebih dicintainya.
"Sebenarnya aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Sayang. Aku ...." Erland menelan saliva dengan kasar ketika berniat untuk menceritakan apa yang dilakukannya pada Floe hingga membuatnya berakhir kehilangan calon keturunan.
'Semoga keputusanku ini benar karena aku tidak ingin melihatmu makin hancur. Floe, aku juga belum sempat meminta maaf padamu atas kesalahan yang kulakukan, tapi aku berharap kamu akan selalu berbahagia setelah hubungan di antara kita benar-benar berakhir ketika ketok palu hakim mengesahkan perceraian kita,' gumam Erland yang kini kembali melanjutkan apa yang hendak dikatakannya pada wanita yang sudah mulai sedikit lebih tenang itu.
To be continued...