
Lelaki dan gelisah
umpama vodka
mabuk sesaat
melayang sejenak
datang rindu yang lebih hebat saat siuman
-Tempat Paling Liar di Muka Bumi- Theoresia Rumthe & Weslly Johannes
Kelana dan rindu kini sudah menjadi teman karib, hanya rindu yang menemaninya di tengah studio musik yang sepi. Tak ada denting piano atau dawai violin. Alat-alat musiknya mulai berdebu karena tidak tersentuh.
Beberapa kali Kelana sempat melarikan diri dari kerinduan yang semakin menyakitkan dengan minum anggur hingga mabuk. Namun itu hanya membawanya kabur sejenak, setelahnya Kelana kembali meratapi kepergian Renjani.
Seperti sekarang Kelana telah meneguk beberapa gelas anggur sejak Wira pulang. Dulu Kelana adalah orang yang paling memperhatikan kesehatan tapi sekarang ia tak peduli. Tubuh atletisnya berubah ringkih, berat badannya turun drastis selama 4 bulan terakhir.
Kelana melirik ponselnya yang menyala, terdapat satu pesan masuk dari orang suruhan papa nya. Kelana membuka pesan tersebut dengan enggan, untuk bergerak saja ia malas.
Mata Kelana melebar tak percaya melihat foto yang baru saja masuk ke ponselnya. Tangan Kelana gemetar, ia bahkan mengerjapkan mata beberapa kali memastikan dirinya tidak salah lihat. Itu adalah foto Renjani dengan latar belakang bunga Hydrangea, tak terasa air matanya menetes. Ia amat merindukan Renjani.
Kelana langsung menghubungi orang tersebut untuk menanyakan keberadaan Renjani.
"Dia ada di sebuah villa di Bogor, saya akan kirim alamatnya."
Kelana meraih kunci mobil tergesa-gesa menuju basemen. Ia harus segera pergi ke Bogor sekarang takut jika tiba-tiba Renjani menghilang lagi.
"Mau kemana Mas?" Yana baru turun dari mobil setelah membeli bahan masakan. Ia melihat Kelana masuk ke dalam mobil lain.
"Bogor, Renjani ada disana."
"Minta Pak Dayat antar Mas Lana, jangan nyetir sendiri."
"Pak Dayat sudah pulang." Kelana menancap gas mengabaikan panggilan Yana.
Kelana memeriksa alamat yang dikirimkan orang suruhan Wira, itu adalah tempat yang cukup terpencil tapi sepertinya tidak asing bagi Kelana.
Lalu lintas padat saat akhir pekan membuat Kelana tidak sabaran berada di kursi kemudi ditambah hujan yang turun semakin deras padahal beberapa saat lalu cuaca masih terang. Rasanya Kelana ingin terbang saja ke Bogor.
Kelana kembali melihat foto Renjani. Ia baru sadar jika ada seorang lelaki yang sedang bersama Renjani pada foto tersebut. Kelana menyipitkan mata untuk melihat foto itu dengan lebih jelas.
"Devin?" Kelana yakin itu adalah Devin karena siang tadi mereka tak sengaja bertemu di cafe. Kelana juga ingat Devin membeli brownies. Apakah Devin sengaja membawakan brownies itu untuk Renjani.
Jantung Kelana berdegup kencang, ia mengepalkan tangannya kuat. Tidak, Kelana tidak mau menduga pada hal-hal yang belum tentu kebenarannya.
Kelana mendial nomor Wira, ia meminta papa nya mengirimkan helikopter untuknya. Kelana tak bisa bersabar lebih lama lagi, ia ingin segera bertemu Renjani.
"Kamu mau ke Bogor naik helikopter?" Suara Wira terdengar terkejut.
"Iya, lagi pula aku belum pernah naik helikopter itu." Kelana hampir tidak pernah mengandalkan fasilitas yang dimiliki oleh Wira. Ini adalah pertama kalinya Kelana memohon untuk menggunakan helikopter Wira.
"Baiklah, tunggu disitu."
"Mobil ku hampir nggak bisa bergerak." Kelana segera memutuskan sambungan setelah Wira bersedia mengirim helikopter untuknya.
Kelana meminggirkan mobilnya, ia melihat ada tanah lapang dekat situ untuk mendaratkan helikopter.
"Nggak mungkin Renjani pergi untuk sengaja bertemu Devin." Meski telah berusaha mengendalikan diri tapi tetap saja Kelana memikirkan banyak hal tentang Renjani.
Dua orang lelaki mendekati mobil Kelana dengan membawa payung. Kelana bergegas turun dari mobil berlari menerobos hujan menuju helikopter tak jauh dari situ.
Kelana tidak peduli jika tubuhnya basah kuyup asal ia bisa segera bertemu Renjani. Dalam genggamannya terdapat ponsel yang tetap menampilkan foto Renjani mengenakan dress putih. Perut Renjani tampak buncit di balik dress putih yang membalut tubuhnya. Kelana telah melewati banyak hal, ia ingin mengulang waktu dan menyaksikan perkembangan janin mereka di dalam perut sang istri.
Namun tak ada gunanya menyesal, semuanya sudah terjadi. Kini Kelana harus memperbaiki masa depannya bersama Renjani, ia tak mau mengulang kesalahan yang sama. Kelana akan selalu menjadikan Renjani sebagai prioritas nya.
Helikopter yang membawa Kelana berhenti di sebuah tanah lapang dekat villa. Villa yang dikelilingi hutan karet. Setelah mendarat Kelana semakin yakin jika ia pernah pergi kesini sebelumnya.
"Pakai payungnya Mas." Seseorang memberikan payung pada Kelana sebelum turun dari helikopter.
Kali ini Kelana menerima payung tersebut meskipun tubuhnya sudah basah.
Hujan di Bogor tak kalah deras ditambah kabut tebal yang membuat Kelana tidak bisa melihat sekitarnya dengan kelas. Namun ia tetap melangkah melewati jalan yang ditumbuhi rumput jepang.
Renjani dan Devin sedang berada di gazebo memandangi hujan yang turun begitu deras. Keduanya saling diam sejak kembali dari taman. Renjani merasa suasana di antara mereka jadi tidak nyaman.
Renjani mengusap lengannya, udara semakin dingin tapi mereka terjebak disini. Renjani berencana masuk ke kamar setelah hujan agak reda. Jika nekat pergi sekarang, Renjani akan basah kuyup meski berlari. Tidak, Renjani tidak mau lari-larian di jalan yang basah.
"Maaf soal tadi." Devin menyerah dan mulai bicara lebih dulu, ia menyesal karena telah mengungkapkan perasaannya pada Renjani tapi pada saat yang bersamaan ia juga lega. Devin tidak kuasa melihat Renjani akan melahirkan dan membesarkan anak itu sendiri.
"Nggak apa-apa." Renjani memaksakan senyum, sebenarnya tadi ia cukup terkejut mendapat pengakuan Devin. Pantas saja kebaikan Devin selama ini sedikit berlebihan tapi Renjani tak menduga jika itu karena Devin memiliki perasaan padanya.
"Aku harap kamu nggak jauhin aku karena perasaanku ini."
Renjani mengangguk walaupun tentu saja ia harus menjaga jarak karena mereka bertemu setiap akhir pekan. Mungkin sekarang Devin bisa mengendalikan perasaannya tapi semakin biasa bertemu, bisa saja perasaan itu tumbuh makin subur. Seperti halnya rumput di halaman yang tumbuh lebat setelah diguyur hujan. Alhasil Edi harus lebih rajin memotong rumput. Renjani akan berusaha memotong perasaan Devin.
"Pakai ini." Devin menyampirkan jaketnya pada punggung Renjani.
"Nggak usah." Renjani menurunkan jaket tersebut meskipun tubuhnya kedinginan.
"Nggak apa-apa, aku tahu kamu kedinginan." Devin kembali memakaikan jaketnya untuk Renjani.
"Aku mau balik ke kamar." Renjani tak bisa berada disini lebih lama. Rupanya ia benar-benar harus berlari di tengah hujan. Renjani ngeri membayangkan dirinya jatuh saat menginjak rumput yang basah.
"Ayo." Devin beranjak lebin dulu, ia melebarkan jaketnya untuk pelindung kepala mereka dari hujan.
Renjani tertegun beberapa saat, padahal ia berniat menjauh dari Devin tapi lelaki itu justru hendak kembali ke villa bersamanya.
"Hati-hati." Pesan Devin sebelum mereka turun dari gazebo, ia merangkul pinggang Renjani agar tidak terlalu basah berlindung di basah jaketnya.
Renjani tak bisa menolak, lagi pula hanya sebentar. Setelah itu Renjani akan mengurung diri di kamar hingga Devin kembali ke Jakarta.
"Kurang ajar kamu!"
Renjani terkesiap melihat seseorang menarik Devin dan melayangkan tinju di wajah pianis tersebut hingga tersungkur ke tanah. Jaket di tangan Devin terlempar ke tanah.
Renjani membelalak, "Kelana!" Sekilas ia hampir tidak mengenali Kelana dengan rambut panjang hampir menyentuh bahu, kumis dan jenggot yang juga tumbuh di wajahnya. Biasanya Kelana selalu mencukur rapi rambutnya, itu sebabnya Renjani butuh waktu beberapa saat untuk mengenali Kelana.
Kelana kembali menghujani Devin dengan tinju membuat Renjani berteriak histeris dan berusaha menarik Kelana. Devin bangkit dan balas meninju cukup keras hingga Kelana terhuyung.
Kelana hendak membalas tapi Renjani buru-buru menahannya dengan sekuat tenaga.
"Kelana, kamu apa-apaan sih?" Teriak Renjani marah, ia tak menyangka pertemuan mereka akan seperti ini.
Menatap wajah itu kembali membuat Kelana senang, rindu itu membuncah karena dadanya tak mampu menampungnya lagi. Namun Kelana tak mengharapkan pertemuan seperti ini.
"Re, aku nggak nyangka kamu pergi dari apartemen dan tinggal di villa Devin." Kelana menatap Renjani dengan penuh kepedihan, air matanya mengalir deras bercampur dengan air hujan.
Renjani selalu membayangkan bagaimana ia akan bertemu lagi dengan Kelana. Apa yang akan mereka katakan untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bertemu. Renjani pikir Kelana akan minta maaf sambil menangis dan memohon-mohon agar dirinya kembali. Tentu itu hanya ada di bayangan Renjani karena kenyataannya Kelana justru menuduhnya seperti ini.
Jika Kelana terluka dengan Renjani yang ia pikir sengaja tinggal di villa Devin lalu apakah ia tak berpikir seberapa sakitnya perasaan Renjani saat dirinya memilih pergi di hari anniversary mereka.
"Kamu ada hubungan kan sama Devin?" Kelana tersenyum miring.
"Jaga mulut kamu!" Renjani menampar pipi Kelana keras hingga tangannya terasa nyeri, ia benar-benar marah mendengar tuduhan Kelana. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang aku, jangan sembarangan bicara, pergi dari sini!" Renjani membalikkan badan berlari masuk ke villa meninggalkan dua laki-laki yang baru saja terlibat perkelahian tersebut.
Devin menyusul ke dalam villa, ia mengetuk pintu kamar Renjani tapi tak ada jawaban. Dari pada merasakan perih dan berdenyut-denyut di wajahnya, Devin justru lebih memikirkan perasaan Renjani saat ini.
Kelana duduk meringkuk membiarkan hujan membasahinya. Ia benar-benar terluka melihat Devin merangkul Renjani tadi.
Padahal selama ini Kelana sudah sangat menderita karena kepergian Renjani. Sementara itu Renjani berada disini bersama laki-laki yang merupakan teman Kelana. Apalagi yang lebih menyakitkan dari itu.
Hingga hujan reda Kelana tetap tidak berkutik di halaman villa. Sedangkan Devin menaiki mobilnya pergi dari situ, ia akan membiarkan Kelana dan Renjani menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kehadiran Devin disini hanya akan membuat Kelana semakin marah.