Married by Accident

Married by Accident
Harga diri di atas segalanya



Pagi hari di kota London menjadi awal dari Erland memulai sesuatu yang baru dan ketika terbangun dari alam bawah sadar, ia merasakan nyeri pada bagian lehernya karena tidur pada posisi duduk dengan menggenggam telapak tangan sang kekasih yang bahkan sampai sekarang belum juga membuka mata.


Erland terlihat sesekali membuat gerakan memutar leher ke kanan dan kiri untuk melemaskan otot-otot yang kaku karena cukup lama tidur dalam posisi duduk dan membungkuk.


"Aaah ... pegal sekali," ucap Erland yang saat ini menutupi mulutnya ketika menguap beberapa kali.


Hingga ia pun beralih kembali menatap sosok wanita yang berada di hadapannya. "Morning, Baby. Apa kamu tidak ingin melihat kekasihmu yang paling tampan ini? Aku datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini hanya untuk menjagamu dan akan selalu di sisimu sampai sembuh."


"Aku mengorbankan pekerjaan dan merepotkan papa hanya demi kamu. Kamu harusnya merasa senang dan segera bangun. Cepatlah sadar karena aku akan marah padamu jika lebih nyaman dalam tidur panjangmu," ujar Erland yang saat ini sudah sedikit lebih baik setelah semalaman sibuk menyalahkan diri sendiri.


Paling tidak ia sedikit merasa lega saat sang kekasih masih bernapas hingga sekarang. Jadi, saat ini berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif dan optimis jika wanita yang malang itu akan sadar, meskipun belum tahu kapan.


Ia ini beranjak dari kursi dan sedikit membungkuk agar bisa mencium kening wanita yang masih bernapas dengan bantuan selang oksigen. "Aku akan selalu memberikan kecupan selamat pagi sampai kamu mau membuka mata dan marah padaku karena tanpa izin menciummu."


Erland yang biasanya selalu meminta izin ketika ingin mencium sang kekasih karena tidak ingin ada keterpaksaan dalam hal apapun ketika melakukan hal-hal intim yang menjadi ritual pasangan kekasih.


Ia ingin sang kekasih tidak merasa terbebani ataupun terpaksa ketika ia ingin mengungkapkan kasih sayang melalui sebuah kecupan hangat. Ya, mereka memang sudah bukan lagi anak remaja, tapi menjalin hubungan secara dewasa tanpa mengandalkan nafsu.


Jadi, sampai sekarang memang ia tidak pernah sekalipun merayu sang kekasih untuk bercinta sebelum sah menjadi suami istri. Ia benar-benar menjaga Marcella dan ingin melakukannya setelah menikah.


Namun, ia benar-benar tidak menyangka jika semua yang dijaganya ternyata hasilnya sia-sia dan porak poranda karena melihat kehilangan perjaka saat bercinta dengan Floe karena pengaruh minuman beralkohol.


Sementara wanita yang sudah lama menjadi calon istrinya malah berakhir di perkosa dan sekarang tidak berdaya di hadapannya. "Sayang, apa kita perlu marah pada takdir perjalanan cinta kita?"


"Apa aku salah jika mengatakan itu? Kamu nanti bagaimana menghadapinya? Apa kamu sama sepertiku dengan menyalahkan takdir? Atau tidak bisa menerima takdir yang membuatmu hancur seperti ini? Aku akan selalu di sisimu agar tidak kembali berbuat bodoh seperti ini." Erland yang tadinya masih menatap wajah yang terlihat makin pucat itu, beralih pada pergelangan tangan kiri yang dibalut perban.


Ia benar-benar tidak tega saat melihatnya karena yakin jika sayatan yang diciptakan oleh sang kekasih sangat dalam hingga berakhir seperti ini.


"Apa bajingan itu akan datang ke sini? Aku berharap dia datang agar bisa menghancurkannya," sarkas Erland yang kini masih berdiri di sebelah ranjang dan wajahnya berubah memerah ketika membayangkan bisa membuat babak belur sosok pria yang telah memperkosa sang kekasih.


Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung di sana dengan bergantian menatap ke arah tangan yang diperban serta wajah pucat wanita dengan selang oksigen tersebut, hingga beberapa saat kemudian merasa ingin pergi ke kamar mandi.


Ia pun berbalik badan dan berjalan cepat menuju ke arah kamar mandi, sekalian cuci muka. Saat ia berada di kamar mandi, dering ponsel terdengar dan memecah keheningan di ruangan ICU tersebut.


Erland yang tadinya membiarkan karena masih berada di kamar mandi, berpikir jika yang menghubunginya adalah sang asisten karena baru mengingat jika semalam tidak membawa masuk koper miliknya.


Saat ia baru saja keluar dari kamar mandi, langsung mengecek ponsel yang ada di atas laci dan benar apa yang dipikirkan, sehingga membuatnya langsung memencet tombol panggil dan suara bariton dari seberang telepon terdengar.


"Halo, Presdir. Anda ingin dibawakan apa? Semalam saya membawa koper Anda ke hotel. Sekalian ingin dibawakan menu sarapan apa karena sekarang bersiap-siap untuk pergi ke sana." Leo memang sengaja bangun lebih awal karena tidak ingin membuat atasannya menunggu.


Apalagi ia di London tidak ada pekerjaan selain melayani atasannya tersebut. Meskipun sebenarnya jauh lebih senang jika ia berada di kantor dan mengerjakan pekerjaan tanpa harus mencampuri urusan pribadi bosnya itu.


Erland yang saat ini menatap ke arah jam tangan mahal miliknya, menyadari bahwa dari semalam belum makan setelah terakhir kali berada di pesawat.


Itu karena saat ini terdengar perutnya yang keroncongan karena cacing-cacing di dalam sana sudah meminta jatah masing-masing. "Bawakan saja satu setel pakaian ganti untukku. Oh ya, bawakan segala keperluan untuk membersihkan diri karena aku akan berada di sini 24 jam."


Leo yang kini hendak bergerak untuk membuka koper milik atasannya, tapi tidak bisa melakukannya karena ada kode rahasianya. Ia pun mengalihkan video call karena juga ingin menunjukkan pakaian mana yang harus dibawanya agar tidak melakukan kesalahan sedikitpun dan menjadi pusat pelampiasan amarah atasannya.


"Ini kodenya apa, Presdir?" Sambil berjongkok di lantai untuk bersiap membuka koper.


Erland yang tadinya mengerutkan kening karena perbuatan sang asisten, begini menyebutkan kode rahasianya yang merupakan tanggal jadian dengan sang kekasih.


"Kenapa pakai VC segala hanya untuk meminta kode? Bikin risih saja!" sarkas Erland yang tidak pernah melakukan video call dengan lawan jenis karena hanya dengan sang kekasih ia melakukan itu.


Tidak ingin kena omelan lebih banyak, Leo yang berhasil membuka koper, langsung menunjukkannya. "Ini Anda mau dibawakan pakaian yang mana, Presdir? Saya tidak ingin merasakan pukulan Anda lagi karena pipi saya masih nyeri sampai sekarang."


Meskipun Leo tidak menunjukkan wajahnya pada kamera karena fokus pada koper dengan beberapa pakaian di dalamnya, tetap saja membuat Erland tertawa meskipun tidak terbahak.


Ia yang tadinya merasa sangat murka ketika mengingat pria yang menjadi penyebab sang kekasih mengakhiri hidupnya, sedikit terobati ketika mendengar suara sang asisten yang memelas seperti meminta belas kasihan darinya.


"Cerdas juga kau? Tentu saja aku akan menghajarmu lagi jika melakukan kesalahan. Ia yang mengingat pakaian apa saja yang dibawanya, kini menyebutkan yang harus dibawa Leo.


Hingga ia bisa melihat pergerakan dari pria di balik telepon tersebut yang cekatan mengambil pakaian yang disebutkan, mengingat sesuatu.


"Cerdas di saat genting sangat dibutuhkan sebagai pertahanan diri, Presdir. Wajah saya adalah aset karena hanya ini satu-satunya yang bisa dibanggakan. Bukankah para wanita itu mayoritas memandang wajah terlebih dahulu sebelum lainnya?" Kini Leo sudah bergerak untuk memasukkan pakaian ke dalam tas miliknya.


Ia tadinya berniat untuk berpamitan agar bisa bersiap-siap dan segera berangkat, tapi tidak jadi melakukannya ketika melihat raut wajah serius atasannya.


"Apa kau tidak punya nomor telepon bajingan itu? Atau nomor dari kepolisian yang menangani kasus kekasihku? Aku ingin menyuruhnya datang ke rumah sakit agar bisa menghancurkannya. Apakah dia berani menemuiku atau tak lebih dari seorang pengecut?" Erland yang saat ini mendaratkan tubuhnya di atas sofa, mempunyai harapan besar jika sang asisten bisa membantunya.


Hingga wajahnya yang tadinya dipenuhi oleh kilatan amarah tersebut berubah berbinar begitu melihat pria di layar ponsel tersebut berbicara.


"Saya sudah meminta kartu namanya saat menjenguk nona Marcella. Saat itu, saya tidak yakin ketika memintanya dan berpikir jika dia tidak akan memberikannya karena memang memperkenalkan diri sebagai asisten Anda. Tapi ternyata dia dia langsung memberikannya tanpa pikir panjang."


'Duh ... hampir saja. Bisa tambah babak belur aku jika sampai keceplosan. Untung nih mulut bisa langsung di rem dan di filter, jadi bisa selamat dari kemurkaan Tuan Erland,' gumamnya yang saat ini terus ada dari lamunan begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Cepat kirim nomornya padaku. Aku ingin melihat apakah dia berani muncul di hadapanku saat kau suruh datang ke rumah sakit." Erland sudah tidak sabar ingin menelpon pria yang ingin dihabisinya.


Bahkan ia berpikir akan melawan sampai titik darah penghabisan pria itu jika jauh lebih kuat darinya. Itu karena ia tahu jika gen pria asing lebih besar dan lebih tinggi dari orang-orang Indonesia.


Jadi, sudah bisa menduga jika pria yang merupakan rekan kerja sang kekasih pasti jauh lebih besar darinya. Namun, tidak mengurungkan niatnya ataupun merasa takut sedikitpun dan akan tetap melawan meski harus babak belur sekali pun.


Leo yang saat ini tidak berbicara apa-apa karena langsung mencari kontak yang memang sudah disimpan di ponselnya untuk berjaga-jaga agar bisa menghubungi sewaktu-waktu.


"Sepertinya dia akan langsung datang jika anda memintanya. Tapi Presdir ...." Leo ragu melanjutkan perkataannya karena khawatir jika atasannya tersinggung.


Erland yang saat ini sudah membaca pesan sang asisten berisi nomor milik pria yang ingin dihabisinya, mengurutkan kening melihat respon yang tidak melanjutkan perkataan.


"Tapi apa?"


"Itu, Presdir. Bajingan itu badannya jauh lebih tinggi dari saya dan juga Anda. Bahkan saya sampai mendongak saat berbicara dengannya. Juga tubuhnya jauh lebih besar dan sepertinya sangat kuat. Saya bukan bermaksud untuk re makan Anda, tapi ada baiknya waspada dan lebih berhati-hati." Leo bahkan berbicara sambil menelan saliva dengan kasar karena khawatir kembali disemprot oleh pria di seberang telepon tersebut.


Namun, semua tidak seperti yang ia takutkan karena respon dari atasannya membuatnya merasa heran dan terdiam. Namun, sekaligus membuatnya lega karena tidak menjadi sasaran kemurkaan lagi.


"Aku sudah tahu karena memang itu ciri khas pria bule. Aku tidak takut sama sekali dan tetap akan menghadapinya meskipun harus babak belur karena ini menyangkut tentang harga diri demi membalaskan dendam kekasihku." Tanpa berniat untuk mendengarkan tanggapan dari sang asisten, Erland mematikan sambungan telepon karena ingin segera menghubungi pria yang telah memperkosa Marcella.


Hingga ia pun kini langsung memencet tombol panggil sambil menatap ke arah sang kekasih yang masih ditopang oleh beberapa alat dengan bunyi yang menyesakkan dadanya.


Saat panggilan yang dilakukan langsung tersambung, ia menunggu hingga diangkat. Berharap bisa segera menyuruh pria itu untuk datang ke rumah sakit dan berhadapan dengannya, tapi berniat untuk mengajak duel di luar agar tidak menjadi masalah dan membuatnya tidak bisa lagi menunggu sang kekasih.


Hingga beberapa saat menunggu, kini ia mendengar suara bariton dari pria asing dari seberang telepon yang berbicara.


"Halo?" seru Zack Pieterson yang saat ini baru saja tiba di rumah sakit dan berjalan menuju ke arah lobi.


Ia hari ini sengaja datang pagi-pagi sekali dengan membawa buket bunga mawar untuk wanita yang sampai saat ini belum sadarkan diri karena perbuatannya.


Sebenarnya ia benar-benar merasa syok ketika pertama kali mendengar suara pecahan kaca di kamar mandi dan langsung mendobrak pintu untuk segera melihat apa yang terjadi meskipun sudah bisa menduga apa yang dilakukan Marcella.


Bahkan begitu melihat Marcella bersimbah darah di kamar mandi, ia benar-benar tidak pernah menyangka sedikitpun jika perbuatannya akan membuat seorang wanita memilih untuk bunuh diri. Selama ini selalu membuat para wanita memujanya dan puas dengan kekuatannya di atas ranjang.


Jadi, itu adalah pertama kalinya ia melihat seorang wanita malang yang berusaha untuk melindungi harga diri setelah direnggut kesuciannya. Hingga membuatnya bertekad untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


Meskipun menyadari jika ia mungkin akan berakhir di balik jeruji besi, tapi berniat untuk meminta maaf pada Marcella jika nanti sadar. Bahkan berharap wanita itu menerima pertanggungjawaban darinya dengan cara menikahinya karena berpikir bahwa tidak ada wanita seperti Marcella dan membuatnya rela melepaskan masa lajang.


Ia yang baru saja masuk ke dalam lobi rumah sakit, seketika mengerutkan kening begitu mendengar suara teriakan dari seberang telepon.


"Cepat datang ke rumah sakit sekarang juga karena aku akan menghabisimu, bangsat!" sarkas Erland yang tidak bisa lagi menahan amarah membuncah di dalam hatinya ketika mendengar suara pria yang sangat ingin ia hancurkan.


Sementara itu, Zack seolah bisa menangkap siapa sosok pria yang terdengar sangat murka tersebut. Hanya saja ia berpura-pura tidak tahu.


"Siapa kau?"


"Aku adalah malaikat pencabut nyawa!" Erland berusaha untuk menahan suaranya agar tidak semakin menggema di ruangan ICU yang sangat sunyi tersebut.


Hingga ia seketika beranjak dari sofa begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Aku memang sudah berada di rumah sakit. Apa kau ada di ruang ICU?" Zack saat ini sudah masuk ke dalam lift dan merasa yakin jika pria yang baru saja menelponnya adalah kekasih dari Marcella.


Pria yang menjadi alasan Marcella selalu menolak perhatian serta cintanya. 'Akhirnya aku bisa melihat pria yang membuatmu rela bunuh diri. Selama ini aku hanya bisa melihat kekasihmu di bingkai foto yang ada di meja kerjamu, tapi sekarang kami akan berhadapan dan mungkin akan saling menghabisi.'


'Aku tidak mungkin diam saja jika dia mengajakku berkelahi, bukan?' gumam Zack yang saat ini memencet tombol lift menuju ke lantai atas.


Namun, ia mengurungkan niatnya karena pria yang berbicara di telepon tersebut menyuruhnya lain.


"Tunggu aku di taman depan Rumah Sakit karena aku akan ke sana sekarang juga." Erland bahkan berbicara sambil berjalan cepat menuju ke arah lift.


Erland benar-benar sudah tidak sabar ingin beradu kekuatan dengan pria yang ingin ia hancurkan. Kemudian langsung mematikan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Meskipun aku kalah, tidak akan membuatku takut ataupun mundur," ucapnya yang saat ini berpikir bahwa harga diri di atas segalanya dan juga ingin membalaskan dendam sang kekasih yang sampai sekarang bahkan belum mau membuka mata meskipun sudah ia ajak bicara semalaman.


Saat ia baru saja masuk ke dalam pintu kotak besi yang membawanya ke lobi rumah sakit, kembali mendengar suara dering ponsel miliknya. Namun, sama sekali tidak diperdulikan karena ingin segera bertemu dengan pria yang diketahui bernama Zack Pieterson tersebut.


To be continued...