
Ketika Kelana mengatakan mereka akan menempuh perjalanan jauh, Renjani jadi curiga jika mereka akan menemui Elara. Renjani setuju begitu saja untuk ikut saat Kelana mengatakan ia merindukan seseorang. Bagaimana jika orang itu memang Elara. Ah Renjani benar-benar bodoh karena tidak pikir panjang sebelum menyetujui ajakan Kelana.
Renjani membawa laptop dan buku catatan miliknya karena ia harus menyunting naskah. Renjani tidak tahu seberapa jauh mereka akan pergi tapi ia membawa banyak makanan di tasnya seolah-olah mereka akan pergi kemah. Padahal mereka bisa mampir membeli makanan. Renjani tetap memiliki prinsip berhemat meskipun Kelana memberinya kartu yang mungkin jumlah uangnya tidak terbatas. Renjani tak mau boros karena Kelana mendapatkan uang itu dengan kerja keras.
"Kamu udah beli tiketnya?" Renjani melirik Kelana yang sedang fokus menyetir.
"Untuk apa?" Kelana mengerutkan kening, mereka sedang naik mobil tentu tak perlu membeli tiket.
"Buat naik pesawat."
"Nggak perlu naik pesawat, kita akan menggunakan mobil ini." Kelana menepuk-nepuk kemudi.
Renjani manggut-manggut, ia tak banyak bertanya lagi karena khawatir mengganggu konsentrasi Kelana.
Cuaca mendung membuat Renjani ngantuk padahal jumlah naskah yang harus disunting masih ratusan halaman.
Renjani mengubungi kantor dan Maia melalui panggilan video. Mereka berdiskusi soal bagian akhir dari novel Meet Sunshine yang belum ditulis oleh Maia. Karena kesibukan Maia, ia belum sempat memikirkan akhir dari novel tersebut.
Hal tersebut juga menguntungkan untuk mereka karena pembaca pasti penasaran pada akhir dari Meet Sunshine dan mereka akan tahu jika membeli versi cetaknya.
"Setelah berpisah lama, akhirnya tokoh laki-laki Dion kembali bertemu dengan tokoh perempuan Sinar di tempat yang paling berkesan bagi mereka lalu keduanya kembali menjalin hubungan yang sempat putus." Eve mengajukan pendapatnya mengenai akhir dari Meet Sunshine.
Renjani sedikit keberatan karena selama tokoh perempuan pergi, ada satu perempuan bernama Rain yang selalu setia menemani Dion. Jika tokoh Dion dan Sinar kembali bersama, itu artinya Rain harus mengalah dan pergi.
"Bagaimana Mbak Rere?" Eve menanyakan pendapat Rere.
"Sebagai penggemar Meet Sunshine, aku berharap Dion bersatu dengan Rain, selama ini dia lah yang menemani tokoh laki-laki melalui masa sulitnya."
"Tapi dari awal, novel ini menceritakan hubungan antara Dion dan Sinar, Rain muncul di tengah-tengah konflik dan menurut saya sudah sewajarnya jika Dion kembali bersatu dengan Sinar."
"Benar Eve, saya menciptakan tokoh Rain hanya untuk menambah konflik antara Dion dan Sinar, Meet Sunshine terlahir karena adanya tokoh Sinar."
Entah kenapa Renjani patah hati mendengar itu. Ia seperti tokoh Rain yang hadir di tengah-tengah Kelana dan Elara. Sejak awal Kelana memang untuk Elara bukan Renjani.
"Baik, mari buat seperti itu." Renjani mengembangkan senyum yang membuat raut wajah Eve berubah lega karena pendapatnya takut ditolak.
"Terimakasih Mbak Rere dan Eve karena sudah membantu saya memikirkan bagian akhir Meet Sunshine."
"Kita sudah menjadi satu tim maka harus saling membantu, terimakasih untuk hari ini, Eve dan anak-anak lain boleh pulang lebih awal hari ini."
"Ah terimakasih Mbak Rere." Eve sumringah lalu terdengar sorakan dari anak-anak lain.
Renjani memutuskan sambungan dan menutup laptopnya.
"Video klip kamu udah selesai?" Renjani lupa menanyakan hal itu pada Kelana.
"Sudah, Minggu depan akan rilis."
"Aku bakal jadi yang pertama nonton."
"Kamu bisa nonton sekarang, nggak perlu nunggu Minggu depan."
Renjani mencibir, jika ia nonton sekarang maka itu tak akan menambah jumlah penonton di YouTube.
"Dancing in the Rain akan menjadi salah satu lagu di album Love Season yang juga akan diluncurkan Minggu depan."
"Oh." Renjani menyesal tidak terlalu mengikuti perjalanan musik Kelana karena sekarang ia tak tahu apa-apa. Renjani harus membeli album tersebut agar Kelana tahu jika mulai sekarang ia mendukungnya.
"Kamu nyiapin perilisan album sekaligus fan meeting?"
"Ya."
"Emang bisa?"
"Bisa, aku pernah menyiapkan konser dan pernikahan sekaligus." Kelana menoleh pada Renjani sekilas. Jika memikirkannya sekarang, persiapan pernikahan mereka sangat kurang. "Maaf sudah menyeret mu ke duniaku yang kejam ini." Suara Kelana merendah, ia merasa bersalah setiap kali mengingat Renjani terbaring di rumah sakit karena kecelakaan itu.
"Harusnya aku yang minta maaf, kalau hari itu aku lebih hati-hati mungkin aku nggak bakal jatuh di atas badan kamu—itu gara-gara anak SMA yang minta aku ngambil buku cara menikah muda, ternyata aku yang akhirnya menikah muda."
Kelana terkekeh, mereka meminta maaf seperti ini seolah-olah hubungan itu adalah sebuah kesalahan. Kelana merasa hubungan mereka sudah digariskan terlepas dari kejadian tak terduga di perpustakaan itu.
"Aku merasa itu adalah hari sial buat aku."
Renjani tersenyum getir, ia mengerti apa yang Kelana rasakan saat itu. Jika itu Renjani maka ia akan marah-marah karena ia harus terkena masalah di tengah persiapan konsernya.
"Tapi aku nggak pernah menyesal sudah membuat keputusan itu, kalau bisa memutar waktu aku akan melakukan hal yang sama yakni menikahi mu, Renjani."
Renjani tertegun mendengar rentetan kalimat Kelana yang membuat dadanya terasa dingin lalu hangat dengan cepat. Perasaan macam apa ini. Renjani menyentuh dadanya yang hampir meledak, tiba-tiba ia merasa sesak.
"Boleh."
Udara dingin menerobos masuk ketika jendela mobil dibuka. Renjani baru sadar setelah merasakan udara yang berbeda.
"Ini Bandung?" Renjani melihat pemandangan di sekitarnya, pantas saja ia merasa tidak asing dengan suasana ini. Ia lahir dan besar disini. Karena terlalu serius mengedit naskah dan berdiskusi dengan tim nya, ia tidak sadar bahwa mobil yang membawa mereka bergerak menuju Bandung.
Kelana mengangguk, mereka hampir sampai di tempat tujuan.
Renjani semakin penasaran pada seseorang yang Kelana rindukan. Apakah sebenarnya selama ini Elara berada di Bandung? ternyata Elara sedekat itu tapi Kelana pernah mengatakan bahwa mereka mustahil untuk bertemu kembali.
"Hati-hati." Kelana memperingatkan Renjani untuk hati-hati saat turun dari mobil. "Harusnya kamu nggak pakai high heels."
Saat turun high heels Renjani menancap pada tanah berlumpur membuatnya sulit bergerak.
"Kenapa nggak bilang besok aja?" Semprot Renjani, harusnya Kelana bilang sebelum mereka berangkat sedangkan Renjani tidak tahu tempat tujuannya.
"Kaki mu baru sembuh tapi sudah pakai high heels."
"Sekali lagi—aku nggak peduli soal penampilan ku sebelum nikah sama kamu."
"Maafin aku." Kelana jadi serba salah, ia membuka pintu tengah mencari sandal jepit miliknya. Biasanya Yana selalu membawa sandal jepit untuk Kelana.
"Pakai ini saja." Kelana meletakkan sepasang sandal jepit dekat kaki Renjani.
Renjani melepas high heels nya dan mencoba sandal jepit milik Kelana.
"Kebesaran banget ini, kaki kamu mirip kaki gajah ya ternyata."
"Bukan kaki ku yang mirip gajah tapi kaki mu yang seperti kaki tikus."
"Ck udah lah dari pada nggak ada." Renjani terpaksa memakai sandal Kelana karena tempat ini tidak memungkinkan untuknya memakai high heels.
Mereka melangkah melewati barisan pohon trembesi yang rimbun. Sepertinya hujan baru reda di daerah ini karena pepohonan masih basah dan tanah begitu lengket. Air juga terlihat menggenang di beberapa tempat.
Renjani tak menyangka bahwa mereka akan bertemu seseorang di tempat seperti ini. Renjani pikir Kelana akan membuat janji di hotel dan mengobrol sambil makan-makan.
"Aku datang Ma."
Renjani tertegun ketika mereka sampai di area pemakaman. Mereka berhenti di sebuah pusara bertuliskan Karalyn Radiaksa. Ternyata orang yang Kelana rindukan adalah mama nya.
"Aku membawa wanita yang waktu itu aku ceritakan, dia orangnya." Kelana duduk di dekat pusara mama nya, ia mendongak melihat Renjani seolah sedang memperkenalkan Renjani pada mama nya. "Cantik bukan?"
Pandangan Renjani berkabut, sekali berkedip kristal bening akan lolos dari matanya.
"Cantik tapi ceroboh."
Renjani duduk di samping Kelana, ia tak berani melihat ekspresi Kelana saat ini. Renjani tahu meskipun saat ini Kelana tersenyum, hatinya terasa amat perih. Merindukan seseorang yang telah tiada itu tak ada ujungnya.
Rupanya makam mama Kelana berada di Bandung. Renjani ingat saat hari pernikahan mereka, keesokan harinya Kelana pergi pagi-pagi sekali untuk berziarah ke makam mamanya.
"Kamu juga bisa memanggilnya Mama." Gumam Kelana pada Renjani.
Bibir Renjani gemetar, ia tak sanggup berkata-kata karena terlalu terkejut. Renjani sempat menduga mereka akan pergi bertemu Elara atau siapapun itu. Tak terlintas di pikiran Renjani bahwa Kelana merindukan mama nya yang telah tiada.
"Mama, aku cuma mau bilang kalau nama Mama cantik sekali." Kalimat yang keluar dari mulut Renjani justru terdengar konyol hingga memancing tawa Kelana.
"Ma, kemarin Papa datang menemui ku, Mama tahu sebenarnya aku senang setiap kali Papa datang."
Renjani menatap Kelana, ia kagum melihat ketegaran Kelana. Kelana bercerita seolah-olah mama nya ada disini dan mendengarkannya.
"Papa juga baru kirimin aku biola baru tapi ternyata Papa nyuruh aku membuatkan lagu untuk Valia, lagu yang akan Valia mainkan atas nama dirinya."
Renjani tersentak, mengapa Wira tega melakukan itu terhadap Kelana. Selain curang, permintaan Wira pasti telah menyakiti perasaan Kelana.
"Kelana, kamu bisa tolak itu." Renjani menyentuh punggung Kelana. "Kamu nggak harus nurutin kemauan Papa kamu."
"Aku juga ingin menolak, tapi Papa mengancam akan membiarkan Valia menggunakan studio musik Mama dan aku nggak mungkin membiarkan itu terjadi, itu satu-satunya tempat yang bisa bikin aku seolah-olah dekat sama Mama." Mata Kelana memerah, ia sudah menahannya sekuat tenaga tapi air matanya tetap luruh juga.
Renjani menghambur memeluk Kelana, ia tak bisa melakukan apapun selain memberi Kelana pelukan. Meskipun Renjani tidak tahu persis bagaimana perasaan Kelana tapi ia mengerti bahwa Kelana amat terluka ketika papa nya justru lebih peduli pada Valia dari pada dirinya.
Hujan tiba-tiba mengguyur deras tapi Kelana belum mau pergi dari sana. Kelana menangis di pelukan Renjani, hujan membuat tangisannya tidak terlihat. Renjani juga membeku, ia tak peduli jika hujan membuatnya basah kuyup. Renjani berharap luka Kelana luruh bersama hujan yang menerpa mereka.