
"Kelana, bangun aku udah bikin sarapan." Renjani menyentuh lengan Kelana dan sedikit mengguncangnya. Sesuai dugaan Renjani, Kelana tidur nyenyak sampai pagi padahal semalam ia bilang tak akan bisa tidur.
Kelana hampir tidak pernah bangun kesiangan tapi hari ini hingga Renjani selesai membuat sarapan ia belum juga bangun.
Semalam Yana berpesan pada Renjani agar membangunkan Kelana pagi-pagi. Kelana harus mengisi acara pagi di salah satu stasiun tv swasta.
"Kamu kebanyakan minum obat tidur kayaknya." Sindir Renjani mengingat semalam Kelana hendak meminum obat tapi ia melarangnya. Tanpa obat pun Kelana sudah tidur dengan nyenyak. "Bangun nanti kamu telat."
Kelana menarik Renjani dan mendekapnya dengan mata setengah terbuka. Ia ingin libur hari ini tapi jadwalnya padat hingga bulan depan. Ia baru bisa libur akhir bulan Desember.
"Aku takut Yana ngomel kalau kamu telat." Renjani sudah berjanji pada Yana untuk membangunkan Kelana.
"Yana nggak mungkin omelin kamu." Kelana tahu Yana sangat menyukai Renjani bahkan sejak pertama kali ia menceritakan soal Renjani, Yana begitu bersemangat dan mendukung keputusan Kelana untuk menikahi Renjani.
"Iya sih tapi kasihan Yana yang udah atur jadwal kamu." Renjani mengusap-usap dada Kelana yang berotot.
"Kamu nggak kasihan sama aku?"
"Aku kasihan sama kamu makanya aku bikinin sarapan enak, ayo bangun." Renjani melepaskan diri dari pelukan Kelana dan menepuk dada nya dua kali. Ia menyukai dada Kelana—tidak, ia menyukai semua yang ada di diri Kelana.
Akhirnya Kelana menyingkap selimutnya dan turun dari tempat tidur mengekori Renjani. Kelana mencium aroma mentega dari ruang makan, ia penasaran makanan apakah yang Renjani buat pagi ini.
"Ini yang kamu sebut sarapan enak?" Kelana melihat sepiring pancake dengan taburan buah stroberi segar.
"Iya." Renjani menuang cukup banyak syrup maple ke atas pancake karena ia tahu Kelana menyukainya.
Kelana terkekeh, ini bukan sarapan enak tapi sarapan simpel. Kelana melahap satu suapan besar dan mengunyahnya perlahan, merasakan gurihnya pancake dan manisnya syrup maple. Pancake buatan Renjani memang yang paling enak walaupun penampilannya tidak cantik.
"Dan segelas kopi supaya hari ini kerjanya semangat." Renjani meletakkan segelas kopi dekat piring Kelana.
"Terimakasih ya." Kelapa menyesap kopi panas itu setelah menghabiskan suapan pertamanya.
"Hari ini aku mau bawa mobil sendiri." Akhirnya Renjani berhasil mengucapkan kalimat itu pada Kelana setelah mengumpulkan mental sejak bangun tadi.
"Kenapa tiba-tiba?" Kelana reflek berhenti mengunyah menatap Renjani.
"Enggak tiba-tiba, aku udah mikirin ini sejak kemarin." Renjani berusaha tenang walaupun ia takut Kelana marah. Namun tak masuk akal jika Kelana marah karena sekarang Renjani sudah sembuh.
"Pak Dayat bisa antar kamu atau naik taksi."
"Terus apa gunanya aku belajar nyetir kalau nggak pernah ada kesempatan buat nyetir sendiri, kan kamu juga yang masukin aku ke kursus mengemudi."
Ucapan Renjani benar tapi Kelana memasukkan nya ke kursus mengemudi sebelum kejadian kecelakaan itu. Sekarang Kelana tak bisa membiarkan sendiri di jalanan apalagi setelah tahu jika semua itu perbuatan Emma. Kelana tak akan bisa tenang jika Renjani menyetir mobil sendiri.
"Aku janji bakal jaga diri." Renjani mengagungkan dua jarinya menatap Kelana dengan ekspresi memelas.
Kelana tidak menjawab, ia menghabiskan pancake nya dengan cepat dan beranjak dari sana meninggalkan kopinya yang masih tersisa setengah.
"Aku bawa mobil yang kamu bilang paling murah." Renjani mengekori Kelana ke kamar.
"Kamu tahu ini bukan tentang mobil."
"Terus kenapa, kaki ku udah sembuh bahkan sekarang aku bisa pakai high heels lagi."
Kelana masuk ke kamar mandi, ia akan berpikir sembari menggugur tubuhnya yang lengket dengan air hangat. Kelana heran karena semalam ia bisa tidur padahal tidak mandi.
"Boleh ya?" Renjani masih mengikuti Kelana ke kamar mandi. "Ah!" Renjani memekik ketika Kelana tiba-tiba melepas pakaian. Ia baru sadar kalau mereka sudah berada di kamar mandi. Renjani disadarkan oleh Kelana yang sudah tidak mengenakan pakaian.
Renjani buru-buru membalikkan badan, jantungnya berdegup kencang. Bahkan jika tak ada suara aliran air mungkin detak jantung Renjani akan terdengar.
"Kamu nggak mandi?"
"Kamu aja duluan." Renjani keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya kembali.
Renjani melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda lalu membereskan meja makan sembari menunggu Kelana selesai mandi. Ia memikirkan cara untuk merayu Kelana agar mengizinkannya menyetir sendiri ke kantor.
******
Keringat dingin membanjiri Renjani yang berada di kursi kemudi, ia sudah duduk disitu selama 15 menit tapi kakinya masih setia berada di atas pedal gas tanpa berani menginjaknya. Padahal Renjani yang memaksa Kelana agar mengizinkannya membawa mobil sendiri. Sejak kecelakaan itu Renjani belum menyetir mobil lagi.
Renjani memilih mobil yang biasa ia gunakan untuk belajar mengemudi. Sebab Kelana mengatakan ini mobil yang paling murah miliknya. Namun Renjani tetap terperangah saat iseng mengecek harganya di internet, angkanya lebih dari 500 juta. Renjani merasa terbebani karena ia biasa mengendarai motor matic yang dibelinya secara kredit dulu. Sekarang motor satu-satunya milik Renjani itu sudah diperbaiki seperti semula tapi Kelana tidak mengizinkan Renjani mengendarainya kembali.
Renjani menarik napas panjang dan mengembuskan nya pelan-pelan berharap itu bisa mengurangi rasa gugupnya. Renjani mengusap tangannya yang basah lalu menegakkan tubuh.
"Kamu bisa Re." Gumam Renjani pada dirinya sendiri. Renjani harus bisa berkembang dan mengalahkan rasa takut seperti yang Kelana katakan padanya. Ia tak boleh berdiam diri dalam zona nyaman apalagi mudah berpuas diri. Renjani tak mungkin selalu meminta Dayat mengantarnya. Itu membuat pekerjaan Yana bertambah karena ia harus mengemudi untuk Kelana menggantikan Dayat.
Pelan-pelan Renjani mengangkat kopling dan menginjak gas secara bersamaan. Toyota Corolla hitam itu perlahan bergerak keluar dari basemen.
Renjani bisa sedikit bernapas lega setelah mobil itu berjalan dengan lancar. Renjani berkendara dengan kecepatan rendah di antara mobil lain yang memadati jalan pagi itu.
Renjani melirik paper bag di kursi sampingnya, ia akan pergi menuju kantor tv tempat Maia bekerja untuk memberikan Meet Sunshine. Mereka sudah membuat janji kemarin tapi ternyata Maia tidak bisa datang jadi Renjani berinisiatif untuk menemuinya. Lagi pula Renjani memiliki waktu senggang, pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak. Semua pesanan novel sudah dikirim. Kini mereka tengah menyaring naskah yang masuk.
"Ada perlu apa Mbak?" Seorang satpam yang berjaga di depan pintu masuk menegur Renjani.
"Saya mau ketemu Maia."
"Boleh tunjukkan kartu akses nya?"
Renjani merogoh saku jas nya mengeluarkan kartu akses masuk kantor tersebut. Saat pertama kali diundang kesini, Renjani diberi kartu akses berkat status istri Kelana yang disandangnya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke kantor ini, mereka harus memiliki kartu khusus.
"Silakan masuk tapi saya tidak tahu dimana keberadaan Maia, dia berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya."
"Tidak apa-apa, saya akan mencarinya." Renjani memasuki lobi menenteng paper bag berisi tiga novel untuk Maia. Sejak berangkat tadi Renjani mencoba menghubungi Maia tapi tidak ada jawaban. Menjadi crew televisi memang super sibuk, Renjani bisa mengerti keadaan Maia.
"Wah, foto Kelana dipajang dimana-mana." Renjani melihat beberapa foto Kelana terpasang di dinding koridor bersama foto artis lain. Ia juga melihat satu poster berukuran besar di depan tadi.
Koridor cukup ramai oleh staf yang berlalu-lalang, ini adalah kantor yang tak pernah tidur. Renjani selalu merasa kagum kepada mereka yang bekerja di dunia hiburan, tak hanya mereka yang berada di depan layar tapi juga belakang layar. Suatu acara tak akan sukses tanpa mereka yang berada di belakang layar.
"Ah maaf!" Seorang staf tak sengaja menabrak Renjani karena ia tidak memperhatikan jalan, ia sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Oh nggak apa-apa." Renjani mengulas senyum.
Renjani berjalan minggir agar tidak menghalangi para staf disini. Koridor itu semakin ramai, mereka membawa tumpukan kertas dan kotak-kotak besar yang tampak berat.
Renjani terkejut karena ia tak sengaja membuka pintu salah satu ruangan. Renjani buru-buru menutupnya kembali tapi seseorang tak sengaja mendorongnya masuk ke ruangan itu.
"Re."
Renjani mengangkat wajah mendengar suara yang familiar di telinganya. Renjani mendelik melihat Kelana dan seorang staf wanita yang tengah memasang ikat pinggang Kelana. Rupanya itu adalah ruangan Kelana. Renjani tidak tahu jika hari ini Kelana mengisi acara di stasiun tv yang sama dengan tempat Maia bekerja.
"Kamu disini?" Kelana menghampiri Renjani, "kenapa bisa jatuh?" Ia memeriksa Renjani dari atas sampai bawah memastikan tidak ada yang terluka.
"Nggak sengaja kedorong barusan, aku mau ketemu Maia tapi dari tadi teleponnya nggak diangkat."
"Ya udah kamu tunggu disini aja dulu." Kelana membawa Renjani duduk di kursi yang ada di ruangan itu sementara ia melanjutkan persiapannya untuk syuting.
Tiga orang staf membantu Kelana merias, menata rambut dan pakaiannya. Renjani memperhatikan itu dari sudut ruangan. Renjani mencibir, apakah Kelana tidak bisa memasang kancing bajunya sendiri. Apakah Renjani harus mengajarinya.
Salah seorang staf menyentuh bibir Kelana setelah mengaplikasikan pelembap bibir. Sedangkan staf lainnya mengoleskan krim pada punggung tangan Kelana lalu mengaplikasikan bedak.
Renjani memutar bola mata mengalihkan pandangan ke arah lain, apakah tidak ada AC disini, rasanya panas. Mengapa kantor seluas ini tidak memiliki AC.
"Ah ternyata pakai AC central." Gumam Renjani pada dirinya sendiri setelah menyadari bahwa ruangan ini menggunakan AC central yang tidak terlihat.
"Acaranya 10 menit lagi, Kelana boleh tunggu disini." Ucap staf tersebut.
"Oke." Kelana duduk di samping Renjani sementara tiga staf itu keluar dari ruangan tersebut. "bagaimana penampilanku?"
Renjani melihat Kelana dari atas sampai bawah. Kelana mengenakan celana bahan abu-abu dan kemeja hitam. Renjani heran mengapa pakaian itu membuat Kelana terlihat tampan, itu hanya kemeja biasa.
"Biasa aja." Dusta Renjani padahal hatinya berteriak mengatakan bahwa Kelana adalah cowok paling tampan dari semua orang yang Renjani kenal selama ini.
"Wajah mu kenapa merah?" Kelana menyentuh pipi Renjani yang terasa panas.
"Iya, panas banget disini." Renjani mengipas wajahnya dengan tangan. "Kenapa tanganmu dikasih bedak?"
"Untuk nutupin memarnya." Penonton tak seharusnya tahu tentang kondisi Kelana. Ia harus tetap terlihat baik-baik saja di depan kamera."Gimana tadi nyetirnya?" Kelana mengalihkan pembicaraan, ia juga tau mau membuat Renjani khawatir.
"Lumayan nggak ada kendala kok, aku udah cukup mahir." Renjani tidak memiliki kendala yang berarti saat perjalanan menuju kesini tapi ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Namun Renjani tak mau mengatakannya pada Kelana karena bisa jadi itu hanya perasannya. "Acaranya live?"
"Enggak kok, nama acaranya Masak Bareng Kelana." Kelana tak tahu mengapa Adam menyetujui acara seperti ini. Adam mengatakan Kelana cukup terampil memasak dan orang-orang pasti akan menyukai acara tersebut.
"Berapa lama syutingnya?"
"Syutingnya berlangsung dalam seminggu ke depan dan akan tayang Januari nanti."
"Sendiri?"
"Enggak, setiap episode ada bintang tamunya, hari ini bareng Jazylin."
"Jazylin pemain FTV itu?"
"Iya."
Renjani manggut-manggut, Kelana selalu dikelilingi wanita cantik bahkan staf yang berada disini tadi juga berwajah cantik.
Renjani memeriksa ponselnya, ia mendapat satu pesan dari Maia.
"Aku pergi dulu, Maia nunggu di depan ruangan ini." Renjani beranjak.
Kelana menahan tangan Renjani dan menghentak nya hingga wanita itu jatuh di pangkuannya. Kelana masih ingin bersama Renjani karena hari ini ia akan pulang larut. Pandangan keduanya terkunci untuk beberapa saat. Renjani bengong, apa yang hendak Kelana lakukan di kantor seperti ini.
Kelana menahan tengkuk Renjani dan mengecup bibirnya. Renjani membalas kecupan Kelana lebih dalam seolah ia sedang menandai bahwa Kelana adalah miliknya. Renjani tak bisa tenang ketika Kelana dikelilingi wanita cantik.
Kelana terbuai oleh hawa panas yang membuncah di ruangan tertutup itu. Kelana menurunkan lengan pakaian Renjani hingga ia bisa melihat bahu Renjani tanpa melepaskan tautan di antara mereka.
Renjani mencubit punggung Kelana meski ia perlu usaha untuk melakukannya. Tubuh Kelana yang liat sulit untuk Renjani cubit.
"Aahh!" Kelana spontan menjerit karena Renjani mencubitnya.
"Sadar, ini kantor." Renjani segera turun dari pangkuan Kelana selama ia masih sadar.
"Maaf." Kelana mengusap bibirnya dan beranjak mengantar Renjani keluar.
Maia sudah menunggu Renjani di kursi yang terletak di depan ruangan. Ia meminta maaf karena Renjani harus jauh-jauh kesini hanya untuk memberikan buku itu.
"Seharusnya saya yang menemui Mbak Rere." Maia menerima paper bag dari Renjani.
"Nggak apa-apa, aku tahu kamu sibuk."
"Maaf karena Meet Sunshine nggak laku." Maia merasa tidak enak pada Renjani dan tim Asmara Publishing yang telah mengerahkan waktu dan tenaga mereka untuk Meet Sunshine tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.
"Jangan bilang begitu, ini baru awal apalagi Asmara Publishing juga perusahaan baru, kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Mbak Rere dan yang lain sudah berusaha keras."
Renjani pamit karena ia harus segera kembali ke kantor. Setelah sampai di mobil, Renjani segera bercermin untuk melihat keadaan wajahnya sekarang.
"Ah merah banget." Renjani menepuk-nepuk pipinya. Renjani harap Maia tidak menyadari itu saat bicara dengannya tadi. Kelana sudah gila karena berani melakukan itu di kantor. Namun setelah dipikir lagi, melakukan hal itu di kantor tidak terlalu buruk juga. Ada sensasi berbeda yang tidak pernah Renjani rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuat Renjani terlena dan takut sekaligus. Takut jika ada yang memergoki mereka.
Mobil yang Renjani kendarai bergerak perlahan keluar dari area parkir setelah Renjani berhasil menenangkan dirinya. Itu bukan pertama kalinya tapi Renjani selalu dibuat hilang akal setiap kali Kelana menciumnya.
Lalu lintas lumayan lengang sehingga Renjani bisa sedikit santai. Sesekali ia melihat ke spion memastikan tak ada yang mengikutinya. Namun siapa juga yang akan mengikuti Renjani, ia bukan artis.
Ponsel Renjani berdering panjang, nama Yana terpampang di layar ponselnya yang ia letakkan di phone holder di atas dasboard. Dengan sekali sentuhan Renjani menjawab telepon Yana.
"Halo Mbak, Mas Lana jatuh dari tangga, sekarang kami lagi di jalan menuju rumah sakit.
Renjani spontan menginjak rem, seperti tersambar petir tubuhnya kaku mendengar ucapan Yana. Beberapa saat kemudian sambungan terputus.
Renjani tak percaya itu karena ia baru meninggalkan kantor sekitar 15 menit yang lalu. Kelana masih baik-baik saja saat Renjani pergi. Mengapa tiba-tiba jatuh bahkan harus dilarikan ke rumah sakit.
Renjani segera memutar balik mobilnya dengan cekatan seolah ia benar-benar mahir berkendara. Renjani tak peduli jika ia berkendara dengan kecepatan tinggi, yang terpenting sekarang ia segera melihat keadaan Kelana.