
Marcella yang tadi langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa perbuatan Zack yang kembali memaksa untuk melayani nafsu dan berakhir pembuatnya semakin jijik pada tubuhnya sendiri.
Ia bahkan saat ini berdiri di bawah guyuran air yang keluar dari shower. Meski saat ini tengah malam, tidak membuatnya memakai air hangat untuk membersihkan diri karena memang ingin menyiksa tubuhnya sendiri akan menggigil kedinginan sampai mati.
'Aku akan mati, tapi tidak ingin tubuhku kotor gara-gara perbuatan bajingan itu!' Masih terus menggosok tubuhnya tanpa memperdulikan rasa sakit akibat perbuatannya.
Bahkan bulir air mata menganak sungai saat ini mewakili perasaan hancurnya sebagai seorang wanita yang sudah tidak punya kebanggaan untuk calon suami, yaitu pria yang sangat dicintai, tak lain Erland.
Kini, Marcella semakin menggigil tubuhnya karena cukup lama berada di bawah guyuran air dingin. Namun, ia menyadari tidak akan kehilangan nyawa jika hanya berbuat seperti itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan mengakhiri nyawanya.
Hingga tatapannya berhenti pada cermin besar yang tak jauh dari hadapannya. "Aku bisa menggunakan pecahan kaca untuk mengakhiri hidup yang menyedihkan ini, tapi bagaimana caranya aku menghancurkan dan mengambil pecahannya.
Kini, ia melangkahkan kaki telanjangnya untuk menghampiri cermin berukuran besar tersebut. Ia tidak menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan cermin. Hal itu membuatnya sangat putus asa dan mengepalkan tangan.
Ia kini menatap ke arah buku-buku tangannya. 'Pecahkan saja kacanya dengan tanganmu. Bukankah kau ingin mati? Rasa sakit di tanganmu tidak seberapa dibandingkan kematianmu.'
Dengan makin menggenggam erat telapak tangannya dan berniat untuk meninju cermin di hadapannya, perlahan mengangkat ke atas. Kemudian ia langsung mengarahkan tangannya untuk menghancurkan cermin, tapi belum sampai menyentuh, suara pintu yang digedor dari luar, membuatnya menoleh.
"Marcella! Apa yang kau lakukan? Cepat keluar atau aku akan mendobrak pintunya!" teriak Zack yang tadinya membiarkan Marcella menenangkan diri di kamar mandi setelah ia berhasil menyalurkan hasratnya.
Namun, ia merasa jika wanita itu sangat lama berada di kamar mandi dan membuatnya khawatir, sehingga ingin memastikan jika baik-baik saja. Ia masih terus menggedor pintu untuk memastikan jika tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada wanita yang telah ia renggut kesuciannya.
"Cepat buka sekarang atau aku dobrak pintunya setelah kuhitung satu sampai tiga. Satu, dua, ...." Zack tidak melanjutkan perkataannya ataupun mendobrak pintu karena mendengar suara dari dalam kamar mandi dan membuatnya merasa lega.
"Pergi! Aku sangat membencimu!" Marcella terpaksa mengurungkan niat untuk mengakhiri nyawanya di dalam kamar mandi dan akhirnya keluar dari sana agar tidak terus mendengar suara teriakan Zack.
"Aku mau pulang! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!" Marcella langsung bergerak mengambil pakaiannya yang persyaratan di atas lantai.
Hingga ia pun berniat untuk memakainya, tapi matanya membulat sempurna begitu pakaiannya direbut oleh pria yang langsung melemparkan pakaiannya kembali hingga teronggok ke lantai.
"Kau pulang saja besok karena jika pulang sekarang, pasti terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Aku tahu jika kau saat ini sedang tidak baik-baik saja setelah aku memperkosamu. Lebih baik kau tidur!" Kemudian Zack langsung membungkuk agar bisa menggendong Marcella dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Turunkan aku! Kau sama sekali tidak berhak melarangku! Aku mau pergi dari neraka ini," sarkas Marcella yang merasa percuma membersihkan diri karena kembali disentuh oleh tangan Zack.
Namun, ia yang baru saja diturunkan di atas ranjang king size tersebut, melihat ada teko berisi air dan pikirannya kini tertuju pada keinginannya untuk mengakhiri hidupnya.
'Aku bisa memecahkan itu dan memakai pecahannya untuk merobek nadiku,' gumam Marcella yang kini akhirnya jauh lebih tenang karena ingin pria di hadapannya tersebut menyingkir darinya.
"Jika kau patuh padaku, aku tidak akan berbuat seperti ini. Mau menurut atau tetap keras kepala dan kita tidak tidur sampai besok pagi karena berdebat?" Zack bahkan saat ini belum beranjak dari tempatnya setelah menurunkan Marcella agar beristirahat di ranjang empuk yang super nyaman tersebut.
Hingga ia mengerutkan kening karena merasa aneh ketika tiba-tiba wanita di hadapannya mengiyakan.
"Baiklah! Aku akan tidur," ucap Marcella yang berpikir bahwa ia membutuhkan waktu paling tepat untuk melancarkan aksinya bunuh diri.
'Aku harus menunggunya tertidur, baru melakukannya,' gumam Marcella yang saat ini langsung memejamkan mata tanpa memperdulikan rambutnya yang basah. Berharap pria yang masih memperhatikannya itu segera pergi tidur.
To be continued...