Married by Accident

Married by Accident
Selamat tinggal



Marcella yang terpaksa berpura-pura patuh pada perintah pria paling ia benci, kini memejamkan kelopak mata. Awalnya ia berpikir jika Zack tidak akan lagi mengusiknya, tapi ia salah karena tubuhnya malah dipeluk erat dari belakang dan membuatnya langsung mengempaskan dari perutnya.


Ia benar-benar jijik sekaligus trauma dan takut, tapi dari tadi menahannya. Hingga saat kembali disentuh, tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakan.


"Jangan menyentuhku! Aku ingin tidur dengan tenang," sarkas Marcella yang masih pada posisi memunggungi tanpa berniat untuk menoleh ke belakang.


Bahkan ia berbicara sambil terus menatap teko berisi air putih di atas nakas. Ingin sekali ia langsung meraihnya dan memecahkan hingga bisa mengoyak urat nadinya agar cepat pergi dari dunia yang dianggap tidak adil padanya.


Namun, sadar jika mungkin hanya akan mengalami kegagalan jika pria di belakangnya belum tidur, sehingga bersabar. Meskipun harus menahan perasaan berkecamuk yang membuatnya tersiksa.


"Baiklah ... baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Tidurlah karena pasti kamu sangat lelah malam ini," ujar Zack yang kini langsung bergerak menjauhkan diri karena tadi berada pada posisi sangat dekat.


Awalnya ia berpikir akan sangat nyaman jika tidur sambil berpelukan, tapi semuanya tidak seindah ekspektasi. Ia hanya bisa meluapkan semua di dalam hati.


'Seharusnya dia merasakan kenikmatan, sama seperti para wanita yang selalu lemah di bagian sensitifnya. Kenapa dia tidak? Apa Marcella tidak normal? Apa dia sama sekali tidak merasakan puncak kenikmatan saat kami menyatu tadi?' gumamnya sambil bergerak membelakangi sosok wanita dengan posisi serupa tadi.


Hingga ia pun kini memejamkan mata setelah beberapa kali menguap karena memang tubuhnya sangat lelah setelah memforsir tenaga lebih keras hanya untuk menaklukkan wanita yang selalu menolaknya tersebut.


Sementara itu, Marcella yang masih diam seperti patung, dari tadi tidak membuka mata karena ingin lebih berkosentrasi untuk mendengarkan. Apakah Zack sudah tertidur nyenyak atau belum.


Cukup lama ia menunggu, bahkan mungkin sudah setengah jam. Apalagi sudah mendengar suara napas teratur yang memenuhi ruangan kamar hotel yang menjadi saksi bisu kesuciannya direnggut.


Saat ia pelan-pelan beranjak dari ranjang, memastikan jika Zack tidak terbangun. Ia merasa sangat lega karena tidak ada pergerakan sama sekali dari pria dengan suara napas teratur tersebut.


Hingga ia pun langsung bergerak cepat mengambil teko berisi air putih itu dan mulai berjalan mengendap-endap menuju ke arah kamar mandi. 'Aku tidak boleh gagal dan bajingan itu tidak akan bisa menghentikanku.'


Begitu berada di kamar mandi, ia langsung mengunci pintu dan menatap ke arah cermin. "Ayah, Ibu, maafkan aku karena hanya sampai di sini membuat kalian bahagia. Aku tidak kuat hidup dengan rasa hina seperti ini."


Bulir air mata yang sudah menganak sungai di wajah, tidak membuatnya menghapusnya karena saat ini langsung memecahkan sesuatu di tangannya dengan menjatuhkan ke atas lantai.


Hingga suara teko yang pecah menghiasi suasana kamar mandi tersebut. Tanpa membuang waktu, ia kini langsung berjongkok di lantai dan tanpa ragu mengoyak pecahan kaca di pergelangan tangan kirinya.


"Arrrggg ...."


Marcella meringis menahan rasa sakit luar biasa kala tajamnya pecahan tersebut mengoyak dan mengeluarkan cairan berwarna merah dengan bau anyir.


"Ayah, Ibu, Erland, selamat tinggal," lirih Marcella dengan suara serak menahan kesakitan luar biasa pada nadinya dan kesadarannya lama-kelamaan perlahan menghilang. Ditambah lagi darah makin keluar dari sana.


To be continued...