
"Mommy tadi bertemu Harry saat keluar dari lift. Sepertinya dia sengaja datang pagi-pagi sekali hanya untuk menjengukmu." Lestari Juwita saat ini baru saja kembali dari kantin sambil membawa kantong plastik yang berisi pesanan dari putri kesayangannya tersebut.
Tadi ia sebenarnya ingin mengobrol dengan teman satu kelas putrinya tersebut, tapi sayang sekali tidak bisa melakukannya karena terburu-buru untuk berangkat kuliah dan khawatir terlambat, sehingga membuatnya mengerti.
Floe yang saat ini sudah tidak berselera lagi untuk makan salad buah karena perutnya sudah benar-benar kekenyangan saat menghabiskan bubur ayam favoritnya.
"Itu Mommy makan saja karena Harry baru saja membawakan bubur ayam buatan sepupunya yang mengalami kejadian sama sepertiku. Sepupunya sangat baik ya, Mom. Bahkan dia belum pernah bertemu denganku, tapi sudah merasa iba padaku." Floe melanjutkan perkataannya di dalam hati karena tidak ingin didengar oleh sang ibu.
'Beda dengan Erland yang bahkan sama sekali tidak iba pada nasibku yang kehilangan anak kami,' gumam Floe yang saat ini tersadar dari lamunannya ketika sang ibu menunjukkan sesuatu padanya.
"Ini. Tadi Harry lupa dan memberikan pada Mommy agar menyerahkannya padamu." Wanita yang saat ini mengambil sisir dari dalam tas putrinya karena melihat rambut kusut saat bertemu dengan seorang pria.
Floe yang kini baru saja menerima sebuah gantungan kunci, mengerutkan kening karena merasa heran pada apa yang diberikan oleh Harry. "Kenapa dia gantungan kunci padaku?"
Sang ibu hanya menggelengkan kepala karena tidak tahu. Ia melanjutkan perbuatannya untuk menyisir rambut putrinya. "Kamu tanyakan saja padanya. Lihatlah penampilanmu yang berantakan ini. Pasti Harry tadi sangat terkejut melihatmu karena biasanya terlihat cantik, tapi sekarang pucat dan rambut berantakan."
Floe masih menatap gantungan dari kayu yang berbentuk sebuah rumah dan juga ada bentuk kunci juga. "Rumah dan kunci?" Ia bahkan tidak memperdulikan nada protes dari sang ibu yang mempermasalahkan penampilannya saat bertemu dengan Harry.
Apalagi ia menganggap Harry hanyalah seorang teman baik dan tidak ada alasan apapun untuk tampil cantik meskipun di awal tadi belum terbiasa.
"Sepertinya Mommy tahu apa maksudnya." Sang ibu yang baru saja menaruh kembali sisir yang digunakan untuk merapikan rambut panjang putrinya, menatap ke arah gantungan yang dibawa Floe.
Namun, saat hendak mengatakan apa yang ada di pikirannya, tidak jadi melakukannya karena dipotong oleh putrinya yang seperti mengerti dengan apa yang hendak disampaikan.
"Mom, aku dan Harry murni berteman karena dia sudah memiliki kekasih bernama Zeze. Jadi, jangan berpikir macam-macam pada Harry. Dia memang orangnya seperti itu." Ia yang tadinya menatap gantungan kunci tersebut, membuatnya mengingat pria yang telah pergi meninggalkannya.
'Aku pikir Erland adalah rumah ternyaman dan akulah yang menjadi kuncinya, sehingga hanya aku yang bisa masuk ke dalamnya. Tapi ternyata aku bukanlah kunci karena Marcella-lah yang menjadi kunci itu.' Floe kini malah bertambah kesal dan ingin sekali melempar apa yang diberikan oleh Harry karena mengingatkannya pada perasaannya yang kandas sebelum dimulai.
'Awas kamu Harry! Aku akan membuat perhitungan denganmu karena mengingatkanku pada si berengsek itu,' lirih Floe yang saat ini memberikan gantungan kunci itu kembali ke telapak tangan sang ibu karena tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Ini buat Mommy saja karena aku tidak suka." Saat ia mengerucutkan bibir karena kesal dan memilih untuk membaringkan tubuhnya karena dari tadi sudah cukup lama duduk di pinggir ranjang, malah diberikan kembali saat sang ibu menolaknya.
"Harry khusus memberikan ini padamu, bukan untuk Mommy. Dia sepertinya ingin kamu nanti memberikan rumah ini pada seseorang yang menjadi jodohmu suatu saat nanti. Sementara kamu yang memegang kuncinya karena tidak akan ada siapapun yang bisa membuka rumah itu kecuali kamu, Sayang." Lestari Juwita sebenarnya tadi cukup lama berada di kantin.
Itu karena ia cukup lama menjawab telepon dari sang suami menceritakan sesuatu yang membuatnya merasa sangat senang. Ia saat ini menata putrinya dengan intens karena tengah mempertimbangkan apakah harus mengatakan apa yang disampaikan oleh sang suami.
"Floe."
Ia mengerutkan kening karena merasa heran dengan raut wajah wanita yang telah melahirkannya tersebut terlihat berbeda dari biasanya. "Ada apa, Mom?"
"Mommy sebenarnya tidak ingin bertanya tentang ini, tapi ingin mendengar jawabanmu. Jadi, tolong jawab jujur apa yang Mommy tanyakan." Ia saat ini mengambil keputusan berat tentang putrinya, dengan mengorbankan perasaan yang pastinya masih terluka dan belum sembuh.
"Mommy bikin penasaran saja. Memangnya mau tanya apa?" Floe makin dibuat penasaran karena melihat sang ibu seperti tertekan ketika berbicara.
Kini, Lestari Juwita berdehem sejenak sebelum membuka suara karena jujur saja tidak tega menanyakannya, tapi berpikir bahwa itu jauh lebih baik karena mengetahui semuanya dari awal akan membuat putrinya tidak semakin terluka.
"Jika Erland mempertahankan pernikahan dan tidak mau bercerai denganmu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau menerimanya kembali dan memaafkan perbuatannya yang lebih mementingkan wanita itu?" Sakit, saat ini dadanya terasa sesak ketika menanyakan sesuatu yang mungkin berhasil menembus jantung putrinya.
Ia tadi mendapatkan kabar dari sang suami yang membayar orang untuk menyelidiki Erland di London dan mengetahui semua hal yang terjadi di sana.
Bahwa Erland dan wanita itu tidak bisa melaksanakan rencananya karena kalah telak dari keluarga pria yang telah menjadi penyebab bunuh diri. Jadi, ia langsung memikirkan putrinya apakah mau kembali jika seandainya pria yang masih berstatus sebagai menantunya tersebut merayu putrinya yang lemah hati.
Ia benar-benar tidak rela putrinya menjadi second choice karena tidak berhasil menikahi Marcella yang akhirnya dikuasai oleh keluarga Peterson sampai semuanya jelas jika wanita itu tidak hamil.
Namun, ia merasa sangat yakin jika wanita itu hamil dan akhirnya berada dalam kuasa keluarga yang berpengaruh di London tersebut. Akhirnya Erland sendirian karena tidak bisa berbuat apapun. Hal itulah yang membuatnya merasa khawatir pada putrinya karena takut suatu saat nanti terlihat lemah ketika pria itu datang dan meminta kembali.
Floe yang merasa heran atas pertanyaan sang ibu yang menurutnya tidak mungkin, hanya memicingkan mata karena merasa curiga ada sesuatu yang disembunyikan.
"Mommy, kenapa bertanya seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Mommy tengah menyembunyikan sesuatu dariku?" Floe tidak ingin menjawab sebelum mengetahui semua hal secara detail, sehingga menunggu sang ibu menceritakan semuanya.
Refleks Lestari Juwita langsung menggelengkan kepala karena jawaban putrinya sangatlah penting sebelum ia menceritakan apa yang diketahuinya.
"Lebih baik kamu jawab dulu pertanyaan Mommy tadi. Baru Mommy bisa menceritakan semuanya padamu. Apakah kamu akan bersedia kembali bersama Erland jika dia ingin memperbaiki hubungan kalian dan membuka lembaran baru?" Lestari Juwita berniat untuk mengirim putrinya ke luar negeri jika sampai berkata iya.
Ia benar-benar tidak rela putrinya disakiti oleh pria yang dianggap tidak pantas untuk menjadi kepala keluarga karena sangat labil dan tidak punya pendirian.
'Lebih baik aku berbicara pada suamiku untuk mengirim Floe ke Jepang. Biar dia aman di rumah kakeknya dan tidak diganggu oleh menantu lemah tidak punya hati itu,' gumamnya yang kini melihat Floe membuka suara untuk menjawab apa yang ingin diketahuinya.
Floe yang makin bertambah penasaran karena sang ibu seperti memaksanya berpikir cepat mengenai sesuatu hal yang bahkan harus ia pikirkan matang-matang karena menyangkut tentang kehidupannya.
"Emm ... mungkin aku akan ...."
To be continued...