Married by Accident

Married by Accident
Club' malam



"Astaga! Aku tidak mau memakainya. Memangnya mau ke mana? Kenapa memakai baju kurang bahan seperti itu? Itu pasti sangat pendek dan memperlihatkan kakiku," sahut Marcella yang saat ini tengah menatap ke arah gaun pendek yang diletakkan di atas ranjang oleh sahabatnya.


Ia selama ini tidak pernah menggunakan pakaian ketat maupun pendek karena benar-benar trauma dan tidak bisa melupakan tatapan jahat dari pria yang dulu hendak memperkosanya saat masih kecil.


"Kita pergi ke klab malam untuk bersenang-senang. Sekali-kali tidak masalah, kan? Lagipula ini London dan kamu tetap tidak pernah menginjakkan kaki sekalipun ke sana. Anggap saja ini adalah sebuah pengalaman dan bisa untuk menjadi kenangan ketika kamu berada di London." Ia bisa melihat raut wajah terkejut dari sahabatnya dan seketika menggelengkan kepala.


Ia tidak ingin ada kesalahpahaman dari sahabatnya dan menjelaskan semuanya agar tidak merasa khawatir atau berpikir negatif. "Tenang saja karena ada Daniel yang aku suruh menjaga kita agar tidak ada pria hidung belang yang mengganggu."


Sementara itu, Marcella yang saat ini terdiam karena awalnya sama sekali tidak tertarik untuk pergi ke tempat yang identik dengan prostitusi serta minuman beralkohol.


Bahkan tadinya berniat untuk tidur saja daripada pergi ke tempat seperti itu. Apalagi jika sampai sang kekasih mengetahui jika ia pergi ke klab malam, pasti akan berpikir jika ia berbuat aneh-aneh.


Namun, mempertimbangkan ketika kalimat terakhir dari sahabatnya seolah membujuknya agar tidak merasa khawatir dan berpikiran buruk. "Apa kau tidak menjadikanku obat nyamuk semata karena melihatmu bermesraan dengan Daniel?"


"Issh ... mana pernah aku melakukan hal seperti itu padamu? Ini kita bersenang-senang sebagai sesama wanita dan tidak ada pasangan. Aku sudah mengatakan pada Daniel jika hari ini menyewanya untuk menjadi bodyguard saja, bukan untuk berkencan." Ia bahkan saat ini mengedipkan mata dan membuatnya merasa seperti seorang wanita penggoda di depan sahabatnya tersebut.


Refleks Marcella seketika tertawa melihat ekspresi wajah lucu sahabatnya yang seperti tidak berhenti membujuknya agar mau pergi bersenang-senang untuk pertama kalinya di klab malam.


"Sebenarnya apa hebatnya klub malam di London? Bukankah sama saja karena hanya ada hal negatif dari tempat itu. Apalagi pasti dipenuhi orang-orang yang mabuk-mabukan dan melakukan hubungan terlarang." Bahkan ia bergidik ngeri saat membayangkan hal-hal tabu yang menjadi hal wajar di sana.


Meskipun ia lama tinggal di London, tetap menjaga diri dan menghindari tempat-tempat seperti itu. Apalagi sangat jijik dengan para pria hidung belang yang memandang dengan tatapan lapar.


Saat ini Lidya masih tidak menyerah untuk membujuk agar sahabatnya segera setuju diajak pergi. Ia masih berdiri di hadapan wanita yang mengenakan kimono serta handuk melilit di rambutnya.


"Ada minuman enak di sana yang sama sekali tidak mengandung alkohol. Kamu bisa mencobanya nanti. Kita bisa menghilangkan stres di pikiran saat menari di bawah lampu remang-remang dan alunan musik DJ yang bisa membuat lepas. Ayolah, Cella. Sekali-kali membuang penat dan stres di pikiran itu penting." Ia memang sesekali pergi ke klub malam bersama rekan kerja hanya untuk melepas stres dalam pekerjaan.


Jadi, ingin sahabatnya juga melakukannya dan mencoba sebuah hal baru di London. "Nanti kalau sudah balik ke Jakarta tidak mungkin bisa melakukannya. Apalagi kalau sudah menikah dan memiliki anak, jelas tidak mungkin bisa bersenang-senang lagi."


Masih menunggu persetujuan dari sahabatnya agar tidak lagi berpikir untuk menolak, Lidya bahkan kini sambil memijat lengan Marcella.


Seperti seorang anak kecil yang tengah meminta sesuatu dari ibunya, ia bahkan ingin menertawakan apa yang dilakukannya saat ini.


Namun, tetap saja merasa bahwa semua yang dilakukannya demi sahabatnya agar tidak stres di dalam kamar karena menangisi sang kekasih yang membuat ulah dan masih belum diketahui penyebabnya.


"Ya, oke ya, Cella?"


Sebenarnya saat ini Marcella menahan diri agar tidak tertawa ketika melihat raut wajah penuh permohonan dan sangat memelas dari sahabatnya tersebut ketika merayu agar ia tidak terpuruk sendirian.


Refleks Lidya seketika berjingkrak kesenangan karena akhirnya bisa membantu sahabatnya keluar dari keterpurukan karena mengingat masa lalu kelam.


Ia jauh lebih khawatir membiarkannya sendirian di dalam kamar dan mengingat apa yang tadi diceritakan. Jadi, sekarang benar-benar bernapas lega karena akhirnya bisa mengajaknya keluar dari permasalahan yang dirasakan, meski hanya sementara.


"Akhirnya kamu setuju," ucapnya yang kini hendak bersiap-siap karena belum berganti pakaian.


Namun, menghentikan langkahnya ketika Marcella menyerahkan pakaian yang tadi dibawanya.


"Bawa ini balik karena aku tidak akan memakainya. Aku akan memakai pakaian yang nyaman di tubuhku dan jangan protes, oke!" Marcella sebenarnya melihat raut wajah kecewa Lidya, tapi tidak memperdulikan hal itu karena ingin memakai baju yang tidak pendek seperti itu.


Ia dulu sempat dibelikan pakaian oleh Erland ketika berada di Jakarta. Namun, cara mengenakannya meskipun dibawa ke London. Hanya menjadi pajangan di kabinet ruang ganti dan sering dipandangnya untuk mengingat-ingat kenangan bersama dengan sang kekasih.


"Baiklah. Terserah kamu saja. Pakai baju yang membuatmu nyaman saja dan aku tidak akan memaksamu lagi. Kalau begitu, biar aku saja memakai ini." Kemudian Lidya melambaikan tangan dan masuk ke dalam kamarnya.


Berbeda dengan Marcella yang kembali masuk dan mengambil pakaian pemberian Erland. "Maafkan aku karena membawamu ke tempat yang tidak pantas."


Ia pun mulai memakai setelan berwarna merah maron tersebut. Bahkan merias wajahnya tipis-tipis karena tidak suka dengan make up tebal. Saat mengaplikasikan lipstik berwarna nude, ia mengingat sesuatu dan terdiam beberapa detik.


"Erland, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kamu tidak pergi dariku, kan? Aku pun tidak akan pernah pergi darimu," lirih Marcella yang kini mengusap wajahnya dengan tisu karena kembali bulir air mata lolos tanpa seizinnya.


Hingga ia pun kini kembali fokus memperbaiki riasannya agar wajahnya tidak sembab. Begitu dirasa penampilannya sudah rapi dan riasan tidak berlebihan, kini ia bangkit berdiri dari kursi untuk mengambil salah satu tas miliknya.


Ia memilih tas jinjing berukuran kecil yang hanya muat ponsel serta dompet. Namun, ia menonaktifkan ponsel dan memasukkan ke dalam laci. "Baiklah. Hari ini saja aku bersenang-senang dan merasakan seperti apa berada di club malam."


"Tanpa ponsel dan fokus bersenang-senang," ucapnya ketika membuka pintu kamarnya.


Hingga ia pun mulai berjalan ke ruang depan untuk menunggu Lidya, tapi mendengar bel berbunyi dan sudah menebak jika itu adalah Daniel yang datang menjemput.


Ia pun membuka pintu untuk memastikan, tapi seketika membulatkan mata begitu melihat sosok pria yang ternyata bukan kekasih sahabatnya.


"Kau?"


To be continued...