Married by Accident

Married by Accident
Pesimis dengan rencananya



"Apa ada hal penting yang ingin Anda sampaikan pada saya, Presdir?" tanya Dhewa yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa setelah pria paruh baya itu mempersilakan.


Dalam hati ia sibuk menerka apa yang ingin dibicarakan pria sepantaran ayahnya. Dhewa Aji Ismahayana adalah keturunan keluarga darah biru yang berasal dari sebuah kerajaan dari suku Dayak.


Nama Ismahayana itu memang diambil dari sang nenek moyang, yaitu Raden Ismahayana, bernama asli Kari yang merupakan pendiri kerajaan Landak atau sering disebut kerajaan Dayak Kendayan Islam.


Meskipun Dhewa sudah generasi yang entah keberapa dan berdarah biru, tapi ia menyembunyikan identitasnya dari orang-orang yang tidak tahu tentang keturunannya. Selain tidak ingin dianggap lebay karena mengaku keturunan dari kerajaan di masa lampau, ia juga ingin berinteraksi dengan siapapun tanpa ada embel-embel mengenai keluarganya dan dihormati berlebihan.


Dhewa kini menatap ke arah sosok pria yang kini mengulurkan ponsel padanya agar dilihat.


"Ini adalah putriku satu-satunya." Hugo Madison ingin melihat reaksi dari pria yang hendak ia jodohkan dengan putrinya. Tentu saja ia ingin tahu apa kesan pertama yang dilihat pria dengan alis tebal yang saling menaut itu.


Sementara itu, Dhewa yang kini tengah menatap ke arah layar ponsel menampilkan foto seorang wanita dengan mengenakan kebaya pengantin dan menurutnya sangat cantik jika semakin dilihat dan juga pantas menjadi putri satu-satunya dari keluarga Madison.


Sebelum ia memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan itu, memang sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk mencari tahu tentang keluarga pria tersebut. Ia tahu jika seorang pebisnis terkenal tersebut memiliki seorang putri dengan paras cantik.


Hanya saja, setahunya masih belum menikah dan heran begitu melihat wanita dengan kebaya modern menjuntai dengan warna yang melambangkan kesucian itu.


'Sebenarnya apa yang diinginkan tuan Hugo? Kenapa menunjukkan foto putrinya? Jika tidak memakai kebaya pengantin, mungkin aku akan berpikir seperti itu, tapi sepertinya bukan itu karena putrinya sudah menikah,' gumam Dhewa yang saat ini mencoba tersenyum simpul meskipun ia tidak paham apa maksud pria paruh baya itu.


"Putri Anda sangat cantik, Presdir." Dhewa yang selama ini bukanlah tipe orang yang bisa bertele-tele dan datar, kembali menatap ke arah layar. "Saya baru tahu jika putri Anda sudah menikah." Ia yang merasa tidak enak karena berkomentar, kini membekap mulutnya.


"Married by accident," ucapnya yang kini melihat ekspresi datar dan seperti tidak terkejut lagi. "Tapi putriku mengalami masalah dalam rumah tangganya dan sekarang proses perceraian. Pastinya seorang istri akan lebih terluka dibanding pihak suami karena lebih mengutamakan hati."


Dhewa yang kini makin dibuat bingung oleh sesuatu hal yang sangat privasi itu, hanya fokus mendengarkan karena jujur saja tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan pria itu.


"Semoga putri Anda akan bisa segera melupakan cobaan hidup yang dialami, Presdir. Akan ada masanya kebahagiaan datang setelah semua ujian berlalu." Saat ia baru saja menutup mulut, kini mulai mengerti apa yang diinginkan pria di hadapannya begitu menjelaskan.


Hugo Madison yang kini merasa sudah berhasil masuk ke dalam nurani pria dengan rahang tegas itu, makin yakin jika usahanya sebentar lagi akan berhasil.


Hugo Madison seketika menepuk pundak Dhewa karena ingin lebih akrab demi membuat mereka dekat. "Itulah sebabnya aku meminta bantuanmu untuk membuat putriku ikut andil dalam projek baru kita. Aku hanya memiliki satu penerus, yaitu seorang anak perempuan. Jadi, dia harus digembleng mulai sekarang."


Saat ia mencari alasan tadi, tiba-tiba mengingat tentang putrinya yang manja dan terbiasa hidup dengan apapun selalu terpenuhi. "Tapi aku tidak ingin dia nyaman dengan bekerja di sini. Biar merasakan beratnya mengurus perusahaan mulai dari hal-hal paling kecil hingga besar."


" Aku ingin kau mengajarinya menjadi seseorang yang bertanggungjawab dan bekerja keras karena dia adalah anak manja. Nanti aku akan katakan jika kamu tidak tahu menahu identitasnya. Jadi, bersikaplah seperti pada pegawai biasa atau pun keras padanya." Ia kini mengakhiri apa yang disampaikan karena sudah panjang lebar berbicara.


Bahkan setelah beberapa menit berlalu, pria muda di hadapannya masih belum membuka suara. Seolah membuatnya pesimis tentang rencananya.


"Bagaimana? Kau tidak keberatan , kan?" Hugo Madison yang kini menatap intens Dhewa, berharap besar pria itu menganggukkan kepala.


To be continued...