
Mendapatkan sebuah penolakan atas niat baiknya, Dhewa yang dari tadi masih belum menurunkan tangannya yang menggantung di udara, kini terpaksa melakukannya. Melihat Floe seperti orang yang pernah merasakan luka mendalam karena perbuatan seseorang yang tulus dicintai, tentu saja mengingatkannya pada diri sendiri di masa lalu.
Ia pernah berada di kondisi sama dengan wanita yang tengah menutup diri untuk tidak berhubungan dengan lawan jenis, meski hanyalah sebuah pertemanan semata. Akhirnya ia tidak ingin memaksa dan mencoba untuk memberikan waktu. Berharap pengertiannya bisa membuat wanita itu lama-kelamaan akan membuka hati untuk berteman dengannya.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Kamu punya hak atas hidupmu dan menentukan apapun yang ingin dilakukan. Aku dulu pernah menutup diri sepertimu. Tidak mau berhubungan dengan lawan jenis hanya gara-gara satu orang yang sama sekali tidak mengerti apa arti ketulusan." Dhewa saat ini mengingat kejadian 5 tahun silam saat melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika sang kekasih berada di apartemen bersama dengan pria lain.
Padahal selama ini ialah yang membayar sewa apartemen dan juga memenuhi gaya hidup sang kekasih yang suka dengan barang-barang mewah dan branded. Ia kini melihat Floe mengangkat pandangan seolah tertarik dengan perkataannya.
Ia yang sudah lama tidak ingin dekat dengan lawan jenis, entah mengapa saat ini merasa nyaman hanya dengan melihat wajah Floe yang dianggap memiliki sebuah keistimewaan dari keanggunannya.
Floe tadinya fokus pada pekerjaan yang hampir selesai, tapi merasa tertarik karena memang dari tadi sangat penasaran dengan alasan apa yang membuat pria di hadapannya tersebut menolak wanita secantik itu. Bahkan ia tahu jika semua pria mendambakan wanita yang memiliki tubuh seksi serta kulit putih mulus seperti Camelia.
"Aku sebenarnya dari tadi ini bertanya padamu mengenai alasanmu tidak tertarik pada wanita itu. Bukankah dia sangat cantik dan juga seksi? Apa kekurangannya sebagai seorang wanita? Bahkan semua pria pasti sangat menyukai dan tertarik pada wanita sepertinya. Kamu ini sangat aneh." Floe yang saat ini hanya sekedar ingin tahu alasan seorang pria tidak menyukai wanita cantik dan seksi, masih menunggu Dhewa membuka suara merdunya.
Floe merasa bahwa pria dengan suara serak tersebut memiliki ciri khas saat bernyanyi dan berbeda ketika sedang berbicara. Kini ia menunggu sampai rasa penasarannya terjawab.
Bahkan dibutuhkan kesabaran karena saat ini hanya keheningan yang tersisa di antara mereka. Seolah pria dengan iris tajam berkilat tersebut tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal dan sulit diungkapkan, sehingga membuatnya bertanya-tanya.
Hingga tatapan tajam Dhewa membuatnya tidak berkutik karena seolah menguncinya dalam-dalam dan juga kata-katanya berhasil menembus hatinya saat ini.
"Apa menurutmu cinta itu hanya berdasarkan fisik? Mencari sebuah kenyamanan dari orang lain sangatlah sulit dan tidak sembarang orang bisa membuat kita cocok, kan? Aku tidak mau menghabiskan waktu seumur hidup dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak sanggup menggetarkan hatiku." Dhewa yang saat ini mengakhiri perkataannya, sekali lagi mengulurkan tangannya karena tidak ingin menyerah untuk mengambil hati Floe.
"Sepertinya kamu dan aku pernah sama-sama terluka saat menjadi orang yang tulus. Siapa tahu kita bisa menjadi penawar masing-masing dengan bercerita mengenai banyak hal tentang kehidupan. Bukankah bercerita jauh lebih baik daripada memendam semuanya sendiri? Kita bisa berteman, kan?" Saat Dhewa berpikir Floe akan menyambut uluran tangannya, tapi sekali lagi dikecewakan oleh harapan.
Floe kini memilih untuk mendorong tangan Dhewa agar menjauh dan menurunkannya. Ia bahkan menggelengkan kepala karena tidak berniat untuk berubah pikiran sama sekali. "Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku dan jatuh di lubang yang sama dengan mempercayai lawan jenis karena semua bermula dari persahabatan."
Ia tidak percaya dengan persahabatan antara pria dan wanita karena pasti ada salah satu yang memiliki rasa terpendam. Jadi, memilih untuk hidup damai tanpa dipusingkan oleh masalah yang berhubungan dengan lawan jenis.
"Bukannya aku sombong pada atasan, tapi kesalahanku adalah mempercayai ajakan seorang pria untuk berteman dan berakhir membuatku jatuh cinta, lalu terluka terluka. Aku bahkan berdarah-darah sendiri saat menyembuhkannya. Jadi, jangan membuatku kesal dengan memaksaku." Floe kini menunjukkan buku catatan miliknya yang baru saja diselesaikan.
Tanpa menunggu tanggapan dari Dhewa, Floe bangkit berdiri dari kursi karena berniat untuk makan siang. Apalagi cacing-cacing di perutnya sudah bernyanyi meminta jatah masing-masing. Namun, ia yang berniat untuk melangkah pergi, tidak jadi melakukannya karena dipanggil.
"Tunggu!" Dhewa saat ini bangkit berdiri dari kursi dan meraih paper bag berisi makanan yang tadi dibelikan oleh Camelia. Kemudian memberikannya pada Floe. "Makan saja ini karena sayang dibuang. Jika tidak mau, berikan saja pada pekerja yang berada di luar. Aku mau pergi sebentar."
Dhewa tidak ingin menunggu Floe memberikan jawaban karena sebenarnya mengetahui jika wanita itu mungkin akan menolak, jadi buru-buru pergi meninggalkan ruangan kerja.
Sebenarnya ia pun merasa bingung harus pergi ke mana karena ingin membiarkan Floe makan dengan tenang di ruangan. Sementara ia juga ingin menenangkan diri ketika ditolak dua kali saat hanya ingin berteman dengan wanita yang berhasil menggetarkan hatinya. Begitu berada di luar ruangan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tempat menghabiskan waktu selama jam istirahat.
'Ke sana saja," gumam Dhewa yang saat ini menuju ke arah sebelah kiri ruangan kerjanya karena merupakan satu-satunya tempat yang dianggap cocok untuk menyembunyikan diri.
Sementara di dalam ruangan, Floe masih berdiri di tempatnya sambil memegang paper bag di tangan. Ia hanya menghembuskan napas ketika menatap apa yang berada di tangannya saat ini.
"Malas sekali makan makanan yang dibawa wanita itu. Bahkan aku tidak bisa melupakan perkataannya tadi yang menghinaku." Floe pernah membeli makanan yang berupa paket komplit ayam bakar madu dari restoran terkenal di Jakarta, memang mengakui jika rasanya sangat lezat dan sangat menyukainya.
Namun, hari ini sama sekali tidak berselera hanya dengan melihatnya saja karena tidak bisa melupakan bagaimana tatapan tajam dari wanita tadi yang seolah menganggapnya hanyalah seonggok sampah karena dianggap berasal dari keluarga miskin.
"Malas sekali aku makan ini. Aku berikan saja pada pekerja," ucapnya yang kini membawa paper bag berisi dua paket komplit tersebut. "Lebih enak masakan bibik dan mommy," ucapnya yang kini keluar dari ruangan dan menoleh ke kiri serta kanan untuk mencari pekerja yang akan diberikannya makanan tersebut.
Namun, ia seketika mengerutkan kening begitu melihat di sebelah kiri ada para pekerja yang berkerumun. "Ada apa itu?"
Merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi, ia refleks berjalan cepat untuk melihat. Hingga beberapa saat kemudian tiba di kerumunan para pekerja dan melihat jelas sosok pria yang bersimbah darah tinggal membulatkan mata serta membekap mulut.
"Astaghfirullah!"
To be continued...