
Dhewa yang saat ini tengah mengunyah makanan yang melumer di mulutnya, hanya menggelengkan kepala karena apa yang baru saja ditanyakan oleh Floe tidak benar. Ia bahkan sering mendapat pertanyaan yang sama mengenai hal itu. Jadi, sudah beberapa kali menjelaskan untuk menguraikan sesuatu yang dipikirkan orang lain mengenai dirinya.
"Tidak. Aku asli dari Kalimantan, tapi punya banyak teman dari Jawa dan sering mendengar mereka berbicara. Makanya kadang kalau karaoke saat sedang gabut, mereka nyanyi lagu Jawa dan aku seringkali mendengarkan."
"Memang lagunya enak didengar dan membuatku akhirnya bisa hafal beberapa." Ia sebenarnya juga ingin menanyakan hal yang sama, tapi karena mengetahui jika saat ini harus segera keluar dari ruangan untuk mengurus sesuatu di luar, jadi mengibaskan tangannya.
"Sana balik ke kursimu! Aku ingin makan dengan tenang, tanpa berbicara. Jadi tidak menikmati rasa lezat makanan ini. Oh iya, siapa yang masak tadi? Kamu belum menjawabnya, kan?" Saat ia kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya, seketika tersedak makanan karena mendapat kalimat sindiran dari Floe.
Floe yang merasa kesal karena diusir, seketika mengerucutkan bibir setelah berbicara. "Jangan berbicara saat makan, jadi tidak perlu saya jawab. Awas ada kecoak di mulut."
Sengaja ia mengerjai pria yang kini langsung mengambil air minum karena perbuatannya membalas dendam berhasil. Ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah memerah dari Dhewa yang berhasil tersedak karena candaannya, tapi menahan diri sekuat tenaga dan berbalik badan menuju ke arah kursi kerjanya.
'Rasain! Emang enak. Salah sendiri selalu bikin aku kesel. Menyebalkan sekali,' gumam Floe yang saat ini sudah kembali memeriksa apa yang ada di atas meja.
Ia penasaran dengan apa yang saat ini harus dipelajarinya saat hari pertama bekerja. Kemudian ia perlahan membukanya dan seketika membulatkan mata begitu melihat sesuatu yang seketika membuatnya pusing tujuh keliling dan menatap ke arah Dhewa yang sudah tidak tersedak seperti beberapa saat lalu.
'Sialan! Apa dia sengaja mengerjaiku seperti ini? Aku sedang kesal padanya dan malas sekali bertanya tentang apa yang bahkan baru pertama kali ini kulihat.' Floe hanya bisa mengumpat di dalam hati sambil memutar otak untuk membuatnya tidak sampai bertanya pada pria yang baru saja dikerjainya.
Ia tahu jika saat ini bertanya, hanya akan mendapatkan ejekan dan sikap ketus yang membuatnya makin bertambah kesal. Akhirnya ia menemukan ide setelah beberapa saat berlalu dan membuka ponsel miliknya untuk mencari tahu tentang pekerjaan yang harus dilakukan.
Dengan berbekal gadget di tangan yang merupakan perkembangan teknologi zaman digital saat ini, sehingga memudahkannya untuk mencari segala informasi yang harus dipelajarinya.
Sementara itu, Dhewa yang beberapa saat lalu mengusap tenggorokannya karena efek tersedak dan meninggalkan rasa panas, tadinya ingin mengumpat. Namun, ia yang sudah merasa lega pada tenggorokan, kini melihat Floe yang mulai sibuk mempelajari tentang struktur dari gedung yang mencakup semua aspek.
Tentu saja ia tadinya berpikir jika Floe yang tahu apapun karena memang baru pertama kali ini bekerja, akan meminta penjelasan darinya. Namun, ia salah dan saat ini hanya diam tanpa berkomentar karena ingin melihat sejauh mana wanita di balik meja yang tak jauh dari tempatnya tersebut akan bisa menjelaskan tentang sesuatu hal yang diperintahkan tadi.
'Wah ... sepertinya dia cerdas juga. Bahkan saat baru pertama kali melihat pekerjaan yang memusingkan, tidak langsung bertanya padaku, tapi memilih untuk mencari tahu sendiri untuk mempelajarinya. Baiklah. Aku lihat saja seorang putri satu-satunya dari pemilik perusahaan Madison itu menyelesaikan tugas pertamanya.'
Akhirnya ia kini kembali fokus menikmati makanan dan menghabiskannya hingga tanpa tersisa. Kemudian kembali fokus pada pekerjaannya dengan menatap layar laptop di depannya.
Bukan hanya Floe saja yang ia perintahkan untuk mempelajari, tapi diri sendiri juga tengah fokus padahal yang sama karena memang tujuannya menyuruh wanita itu adalah ingin mendengar pendapat sebagai seorang calon penerus perusahaan besar di Jakarta.
Jadi, ia bisa menilai seperti apa pemikiran seorang pewaris satu-satunya yang menjadi tombak masa depan dari perusahaan besar, jika sang ayah sudah tidak lagi memimpin. 'Sepertinya aku tidak boleh meremehkannya. Floella Khaisyla, mungkin adalah seorang wanita yang terlihat lemah, tapi sepertinya dia jauh lebih kuat dari yang terlihat.'
Dhewa mengingat akan perkataan dari Hugo Madison mengenai putrinya yang sedang berada pada fase proses perceraian. 'Bahkan dia sama sekali tidak terlihat bersedih, meskipun sebenarnya problematika kehidupan yang dialami sangatlah besar. Wanita yang luar biasa. Orang lain yang tidak tahu apapun, pasti mengira jika dia belum menikah,' gumamnya yang kini terdiam sejenak memikirkan tentang hal itu.
Dhewa saat ini memikirkan jika di area itu dipenuhi oleh para pekerja laki-laki dan untuk pekerja wanita bisa dihitung dengan jari. Ia tadi sudah bertemu dengan pekerja wanita yang berada di bangunan sebelah karena memang tidak jadi satu dengannya. Namun, ia sadar jika Floe adalah wanita yang lebih punya pesona luar biasa dibandingkan yang lain.
Ia bahkan saat ini ingin sekali menghilangkan pemikiran itu agar tidak merasa seperti seorang pria yang berlebihan karena menganggap seorang Floella Khaisyla secantik bidadari. Hingga ia saat ini mengingat sesuatu hal yang membuatnya sekilas melirik ke arah Floe saat sibuk dengan fokus menatap ke arah layar ponsel serta gulungan kertas berisi semua informasi mengenai projek itu.
'Aku jadi ingat sesuatu,' gumamnya yang kini terdiam sambil geleng-geleng kepala karena tidak ingin menyebutkan apa yang mulai terbersit di kepalanya. 'Sialan! Kenapa aku malah jadi lebay begini?'
"Kanjeng Ratu Widodari," lirih Dhewa yang seketika membuka mulutnya begitu menyadari tidak bisa menahan apa yang terbersit di pikirannya saat ini dan khawatir jika didengar oleh Floe.
'Kenapa aku bisa ngomong seperti itu? Lebay sekali. Panggilan apa itu. Itu sangatlah lebay, tapi kenapa aku suka ya?' gumam Dhewa yang kini seketika berjenggit kaget ketika lamunannya buyar begitu mendengar suara wanita yang dari tadi digumamkan dan membuatnya seketika menoleh.
"Syukurlah Anda sudah selesai makan karena saya ingin membahas tentang ini." Floe yang sudah berhasil mempelajari tugas yang diberikan, kini ingin mengetahui apakah usahanya tidak sia-sia.
Ia juga ingin mengetahui kesalahan jika sampai melakukan sesuatu hal yang salah karena ini merupakan pertama kalinya mempelajari tentang struktur dari projek besar sebuah perusahaan.
Floe bangkit berdiri dari posisinya yang tadinya duduk di kursi empuk yang menurutnya sangat nyaman itu, lalu berjalan menuju ke arah tempat duduk sang atasan. Namun, ia mengerutkan kening ketika melihat ekspresi wajah yang seperti terkejut dan membuatnya heran.
'Kenapa dia? Seperti melihat hantu saja. Memangnya dia menganggapku makhluk menakutkan apa? Hingga terlihat sangat terkejut saat kupanggil,' gumam Floe yang kini sudah berada tepat di hadapan pria yang terhalang meja dengannya.
Ia pun menaruh kertas yang tadi dipelajarinya dan juga buku catatan dengan beberapa kesimpulan darinya. Namun, belum sempat membuka mulut, ia mengerjapkan mata ketika sesuatu menggelikan terdengar.
"Apa kamu tahu arti dari kalimat Kanjeng Ratu Widodari?" Dhewa yang dari tadi merasa konyol dengan ulahnya sendiri, tapi tetap merasa penasaran dengan pendapat dari sosok wanita yang membuatnya seperti menjadi seorang pria lebay.
Floe hanya terdiam karena ia mendadak merasa aneh mendengarnya. Ia memang ada keturunan Jawa dari sang kakek yang kini tinggal di Jepang. Hanya saja, tidak pandai berbicara daerah.
Namun, ia paham beberapa arti dari kalimat dengan bahasa daerah. Bahkan apa yang baru saja didengarnya juga diketahui artinya. Namun, ia merasa penasaran dan ingin tahu kenapa dia di hadapannya ingin mengetahuinya.
"Dari mana Anda mendengar itu?" Ia ingin mengurangi informasi, sebelum menjawab karena berpikir mungkin itu adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan masalah privasi. Jadi, berpikir untuk berhati-hati dan tidak salah menjawab.
Dhewa kini menyembunyikan apa yang membuatnya seperti orang lebay dan konyol dengan terkekeh. "Aku pernah mendengarnya, tapi lupa dari mana. Mendadak aku ingat karena tadi melihatnya sekilas di sebuah reels."
Cari aman adalah senjata Dhewa agar tidak dicurigai, jadi kini ingin melihat seperti apa reaksi dari Floe. "Memangnya arti dari Kanjeng Ratu Widodari itu apa? Aku memang kadang-kadang suka menyanyi lagu Jawa, tapi kadang juga tidak tahu artinya."
Kini Floe merasa aman karena tidak ada kaitannya dengan privasi. Jadi ia kini mulai membuka suara. "Oh ... jadi seperti itu. Kanjeng Ratu Widodari itu artinya adalah sebutan untuk seorang wanita yang agung dan sangat diratukan oleh pria."
"Gusti Kanjeng Ratu adalah gelar untuk putri Sultan dari permasiuri setelah dewasa atau setelah menikah. Jadi, bisa dibilang itu panggilan yang sangat agung untuk keturunan darah biru. Sementara Widodari itu artinya bidadari. Jadi, Anda bisa mengartikannya sendiri sekarang." Floe yang baru saja menutup mulut, kini berniat untuk melanjutkan apa yang tadi ingin ditanyakan.
Namun, ia seketika terdiam begitu mendengar suara bariton pria yang malah menatapnya dengan intens dan merasa sangat aneh mendengar sesuatu yang baru saja masuk dalam gendang telinganya.
"Kanjeng Ratu Widodariku," seru Dhewa yang saat ini ingin melihat seperti apa ekspresi dari wajah wanita yang berdiri di hadapannya.
Ia bahkan dari tadi seorang tidak bisa mengunci dan memfilter perkataannya karena kini sudah kembali meloloskan apa yang terbersit di otaknya.
"Apa?" Floe yang sebenarnya bisa mendengar dengan sangat jelas, tetap saja ingin mendengar satu kali lagi dan ingin mengetahui apa maksud dari pria dengan rahang tegas tersebut meloloskan kalimat yang membuatnya seperti dipanggil.
To be continued...