Married by Accident

Married by Accident
XXV



Kelana tengah menyuapi Renjani makan malam ketika Adam dan dua orang dari Antasena Entertainment datang. Mereka membawa buah dan berbagai macam makanan untuk Renjani.


Renjani merasa tidak enak karena telah membuat manajer Kelana tersebut datang kesini, ia sudah cukup merepotkan Kelana.


"Maaf saya sudah merepotkan banyak orang." Ucap Renjani dengan suara terbata karena gugup padahal ia tidak sedang berada di atas panggung. Namun ini pertama kalinya ia dirawat di rumah sakit dan ada beberapa orang yang menjenguknya. Renjani tidak memiliki banyak teman sehingga ia belum terbiasa dengan suasana seperti ini.


"Kenapa minta maaf, ini adalah musibah." Seorang wanita berambut bob meletakkan buah di atas nakas. Ia pernah merias wajah Renjani saat hendak melakukan konferensi pers tentang hubungan Kelana dan Renjani beberapa waktu lalu.


Renjani tersenyum canggung, sepertinya mereka semua terlihat baik. Namun sebelumnya Emma juga terlihat baik tapi ternyata ia justru membicarakan hal buruk tentang Renjani.


"Bisa kita ngobrol sebentar berdua?" Adam menghampiri Kelana.


"Saya lagi suapin Rere." Jawab Kelana.


"Nggak apa-apa, aku bisa makan sendiri." Sahut Renjani, ia mengalami patah tulang pada kaki bukannya tangan.


Kelana mengatur overbed table dan meletakkan piring di atasnya agar Renjani tak perlu memegangnya.


"Aku keluar dulu." Kelana mengusap lengan Renjani lembut sebelum mengekori Adam keluar dari ruangan.


Adam duduk di kursi yang terletak di sepanjang koridor disusul Kelana. Wajahnya tampak gusar setelah mendengar kabar kecelakaan Renjani. Tak hanya harus mengatur ulang jadwal yang telanjur ia setujui dengan pihak televisi, ia juga prihatin terhadap Renjani.


"Saya sudah mengatur ulang semua jadwal kamu untuk tiga hari ke depan setelah mendiskusikannya dengan Yana." Adam mengawali.


"Terimakasih." Kelana mengangguk.


"Sebagai gantinya kamu harus tetap membawa Renjani untuk hadir di acara yang sudah aku sebutkan tadi pagi."


"Dengan kondisinya yang seperti itu?"


"Ya, mau gimana lagi saya sudah telanjur menyetujuinya." Adam mengedikkan bahu, tentu ia tak bisa membatalkannya begitu saja.


Kelana melirik Adam tajam, harusnya manajernya itu mendiskusikan dengannya lebih dulu. Namun Adam memang menyebalkan, jika kinerjanya tidak baik pasti Kelana sudah tak mau menjadikan Adam sebagai manajernya lagi. Hanya saja Kelana sudah nyaman dengan Adam sejak pertama kali ia bergabung dengan Antasena.


"Kamu yakin itu murni kecelakaan?" Adam merendahkan suaranya.


"Maksud Pak Adam?" Kelana mengerutkan kening, jika bukan kecelakaan apalagi? tak mungkin itu disengaja, Renjani bahkan tidak memiliki musuh. "Renjani tidak punya musuh." Lanjutnya.


"Renjani mungkin punya setelah menikah denganmu."


Kelana tak mengerti ucapan Adam, lebih tepatnya ia tak mau menarik kesimpulan sendiri tanpa bukti yang jelas.


"Kamu sudah bertemu orang yang menabrak Renjani?"


Kelana menggeleng, ia tidak sempat mengurusi hal itu karena harus fokus menemani Renjani.


"Polisi sedang mencarinya."


"Dia kabur?" Kelana tak menyangka jika orang yang menabrak Renjani justru kabur.


"Kamu tidak tahu?"


"Kalau tahu saya tidak mungkin bertanya." Kelana mulai kesal.


Adam terkekeh, tempramen Kelana begitu buruk. Ia seharusnya tak menggoda Kelana pada saat seperti ini.


"Sebisa mungkin aku akan mengurusnya tapi polisi pasti tetap butuh bicara denganmu."


Kelana mengangguk, ia berharap kejadian ini murni kecelakaan bukan karena disengaja. Kelana tak mau Renjani terkena imbas dari dirinya yang bekerja di dunia entertainment. Renjani tidak tahu apapun tentang dunia Kelana yang kejam.


Renjani menyantap makan malamnya dengan tidak berselera meski perutnya lapar. Itu karena ada dua orang dari Antasena disini. Satu wanita berambut bob dan bersambut merah, jika tidak ada mereka pasti Renjani telah menghabiskan nasi, salmon dan saus krim serta sup tersebut. Walaupun masakan Yana jauh lebih enak tapi Renjani tak sabar ingin melahap mereka hingga habis.


Sesekali mereka mengajukan pertanyaan pada Renjani tentang kecelakaan itu dan kehidupannya setelah menikah dengan Kelana. Mereka juga bertanya tentang pekerjaan Renjani menjadi penjaga perpustakaan. Mereka bilang kisah cinta Kelana dan Renjani amat manis. Cinta bersemi di perpustakaan, begitu kata mereka. Renjani hanya tertawa hambar saat mendengar itu. Sungguh hubungan mereka sama sekali tidak manis apalagi kejadian di perpustakaan yang membuat Renjani harus menikahi Kelana.


Selama obrolan itu berlangsung, Renjani berusaha mengingat nama mereka. Renjani yakin mereka pernah berkenalan tapi karena ada banyak staf di Antasena, ia tidak dapat mengingat nama mereka satu per satu.


"Belum habis makannya?" Kelana kembali ke ruangan Renjani setelah berbicara dengan Adam, ia melihat piring Renjani masih penuh. Padahal setahu Kelana, Renjani selalu memiliki selera makan yang bagus. "Nggak enak ya? mau aku beliin makanan di luar?"


"Enggak, ini enak kok." Renjani menahan piringnya ketika Kelana hendak mengambilnya.


"Renjani, kami pamit pulang dulu semoga kamu lekas pulih ya walaupun saya tahu patah tulang itu lama sembuhnya." Adam terkekeh di ujung kalimatnya.


Kelana melotot pada Adam, mengapa harus menakut-nakuti Renjani dengan kalimat seperti itu. Adam dan dua orang yang ikut bersamanya segera undur diri dari sana sebelum Kelana makin kesal.


"Kalau enak kenapa makannya lama sekali?" Kelana kembali melihat Renjani.


"Malu dilihatin cewek rambut bob sama si merah." Jawab Renjani jujur, ia melanjutkan makannya dengan cepat. Perutnya sudah berdendang sejak siuman tadi, Renjani harus segera mengisinya hingga penuh dengan makanan rumah sakit ini. "Aku lupa nama mereka, jangan-jangan aku amnesia karena kecelakaan tadi."


"Dokter sudah melakukan CT Scan dan MRI secara menyeluruh, nggak ada yang cedera kecuali kamu kiri mu." Jelas Kelana agar Renjani berhenti bicara sembarangan, "rambut bob namanya Meliya dan yang merah itu Niki."


Renjani manggut-manggut, ia tidak bisa membalas ucapan Kelana karena mulutnya penuh dengan potongan kentang dan wortel.


"Kamu mau kasih tahu orangtuamu tentang kecelakaan ini?"


"Enggak, aku nggak mau mereka panik, Mama juga baru pulang ke Sumedang."


"Gimana dengan Ayah mu, dia di Jakarta." Kelana membantu Renjani membuka obat yang harus diminum setelah makan untuk mempercepat proses penyembuhan.


"Nggak usah, dia juga pasti sibuk." Renjani menyendok nasi dan meletakkan obat di atasnya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Kelana heran melihat cara Renjani meminum obat.


Renjani menelan obat satu per satu bersama nasi yang sengaja ia sisakan.


"Kamu menelan obat dengan nasi?" Kelana membereskan piring Renjani dan menurunkan overbed table.


"Aneh ya?"


Renjani memang orang ter-aneh yang pernah Kelana kenal. Mungkin karena selama ini pergaulan Kelana sebatas dengan teman-teman selebriti dan staf manajemen.


Kelana menggeleng, "mungkin pergaulan ku yang kurang luas."


Renjani meringis merasakan nyeri pada kakinya, ucapan Kelana benar. Kaki Renjani terasa berdenyut-denyut setelah efek anestesinya hilang.


"Sakit ya?" Kelana memperhatikan eskpresi Renjani.


Renjani mengangguk, ia tak mengira bahwa rasanya akan sesakit ini. Dulu saat tangannya mengalami patah tulang, sepertinya tidak sakit seperti ini. Rindang menggigit bibir, ia tidak boleh menangis. Bukankah ia sendiri yang bilang bahwa itu hanya patah tulang.


Namun sekuat apapun Renjani menahannya, air matanya tetap mengalir deras hingga membuat Kelana panik.


"Dokter bilang dosis anestesinya dibatasi dalam sehari." Kelana mengusap-usap baju Renjani untuk menenangkannya.


Renjani mencengkram pinggiran tempat tidur, kalau begitu ia harus menahannya hingga besok pagi. Ia mengusap air matanya kasar, Renjani ingin pingsan saja dari pada harus merasakan sakit ini.


"Aku panggil dokter dulu ya." Kelana tak peduli walaupun tadi dokter mengatakan tak bisa memberi pereda nyeri lagi untuk Renjani, ia akan tetap meminta dokter memberinya. Kelana tak kuasa melihat Renjani kesakitan seperti ini.


"Emma?" Kelana berpapasan dengan Emma di ujung koridor.


"Eh Kelana." Emma gelagapan seperti maling yang tertangkap basah.


"Kamu disini juga?" Kelana mengerutkan kening melihat reaksi Emma saat bertemu dengannya, itu tidak seperti Emma biasanya.


"I ... iya nih." Emma menyelipkan anak rambut ke belakang telinga menutupi kegugupannya.


Kelana manggut-manggut dan berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Emma tak perlu merasa gugup seperti ini karena Kelana tak peduli siapa yang ia jenguk di rumah sakit ini. Kalaupun itu pacar Emma, Kelana tak akan memberitahu siapapun.


Setelah sampai di ruangan dokter yang tadi menangani Renjani, Kelana berpikir mengapa ia tidak menggunakan Nurse Call Bel jadi ia tak perlu berjalan sejauh ini dan meninggalkan Renjani sendirian di ruangannya. Karena terlalu panik, Kelana tidak bisa berpikir jernih. Otaknya keruh karena kejadian hari ini.


******


Emma menolah ke kanan dan kiri sesampainya di tempat parkir rumah sakit seolah takut ada yang melihatnya. Emma segera masuk ke mobilnya menemui seorang lelaki yang duduk di jok depan.


"Lu gila ya?" Emma mengumpat pada seorang laki-laki bersambut ikal itu dengan penuh kemarahan. "Gue cuma minta lu serempet dia dikit aja kenapa lu malah bikin kakinya patah."


"Sumpah gue nggak sengaja, itu di luar kendali gue." Laki-laki itu gusar setelah mengetahui keadaan Renjani dari Emma.


Emma sempat mengintip ke ruangan Renjani untuk melihat keadaannya, ia terkejut mengetahui bahwa Renjani mengalami patah tulang pada kakinya. Padahal Emma hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Renjani. Namun lelaki suruhan Emma itu justru menabrak Renjani dengan keras.


"Gimana kalau polisi tahu?"


"Polisi pasti tahu tapi gue janji nggak bakal nyinggung nama lu."


Emma tersenyum miring, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan.


"Ternyata lu udah tahu apa yang harus lu lakuin, gue nggak mau kasus ini ada sangkut pautnya sama gue, bilang aja kalau itu murni kecelakaan."


Lelaki itu mengangguk patuh tapi karena dirinya kabur pasti polisi menaruh kecurigaan padanya. Ia terlalu panik tadi melihat Renjani bersimbah darah. Itu benar-benar di luar rencananya.


"Gue pergi dulu." Lelaki itu keluar dari mobil Emma, saat ini pasti polisi sedang mencari keberadaannya. Ia harus tinggal di rumah agar polisi tidak mengira dirinya kabur.


Emma mencengkram kemudi dan membenturkan kepalanya, ia tak bisa tenang karena kejadian ini. Emma berharap Kelana maupun Renjani tidak curiga terhadapnya. Namun jika melihat keadaan saat ini, mereka tak mungkin mencurigai Emma. Bukankah tak ada alasan bagi Emma untuk mencelakai Renjani.