
Beberapa jam kemudian, Dhewa yang saat ini baru saja ke keluar dari IGD, menatap ke arah Floe yang duduk di kursi tunggu. Ia tadi memang tidak menceritakan mengenai perkataan sang ayah jika sang ibu akan tiba di Jakarta malam ini. Mengenai keinginannya untuk meminta bantuan sekali lagi pada Floe karena merasa tidak enak dan juga khawatir jika mendapatkan kemurkaan bagi wanita yang kini bangkit berdiri dari kursi begitu melihatnya.
"Gimana? Apa kata dokter? Tidak infeksi kan?" tanya Floe yang saat ini menatap ke arah kening yang sudah diperban.
Selama menunggu di luar tadi, ia sambil membalas pesan dari Harry yang bertanya kenapa hari ini tidak masuk kuliah. Ia memang belum mengatakan pada sahabatnya tersebut mengenai rencana sang ayah yang menyuruhnya untuk bekerja dan kuliah di malam hari.
Bahkan tadi sempat dimarahi karena terlambat memberitahu dan dianggap tidak menganggap sebagai teman baik dan ia pun merasa bersalah, sehingga meminta maaf. Hingga ia juga menceritakan jika saat ini berada di rumah sakit mengantar atasannya tersebut yang mengalami accident di tempat kerja.
Sampai Harry yang kebetulan sedang dalam perjalanan pulang, melewati rumah sakit dan ingin menyapanya sebentar serta melihat seperti apa apa atasannya. Jadi, ia menunggu sampai Harry datang dan saat ini merasa bingung harus menyampaikannya pada Dhewa.
'Gimana ya aku bilang padanya untuk menunggu sebentar dan tidak langsung pulang?' gumam Floe yang saat ini melihat Dhewa menunjukkan kertas berukuran kecil padanya.
"Sudah kubilang jika ini hanya luka kecil saja. Tadi dokter memberikan ini. Bisa tolong kamu tebus obatnya di apotek? Aku mau tebus sendiri sebenarnya, tapi kok kepalaku pusing, ya?" Dhewa yang tadi memang sudah diberitahu oleh dokter mengenai dampak dari lukanya, sengaja tidak memberitahu pada Floe agar tidak merasa khawatir dan menganggapnya pria lemah.
Jadi, ia saat ini memilih untuk mendapatkan tubuhnya di kursi tunggu karena tidak ingin tubuhnya terhubung ketika kepalanya pusing. Tadi ia memang sangat kuat terbentur saat terjatuh, jadi sebenarnya rasa sakit yang dirasakan berhasil membuatnya merasa nyari luar biasa.
Hanya saja tidak ingin menunjukkannya ke semua orang dan menganggap jika ia adalah pria yang lemah. Kini ia memberikan kertas yang dipegangnya pada Floe.
"Ya mungkin itu efek terbentur tadi. Tunggu saja di sini, biar aku yang menebus obatnya. Oh ya, nanti mungkin ada seorang pria yang datang. Bilang aku sedang menebus obat di apotek." Floe ini menunjukkan ponsel miliknya untuk memberitahu foto dari profil Harry. "Dia teman kuliahku yang tadi tidak mau ke sini karena kebetulan melewati area Rumah Sakit.
Floe sebenarnya tadi melarang Harry untuk tidak datang ke rumah sakit, tapi tetap saja sahabatnya tersebut ingin tahu seperti apa bosnya yang dikatain ceroboh karena jatuh. Bahkan juga mengatakan jika membawa makanan untuknya karena ia bilang lapar dan belum makan siang karena insiden itu.
Sebenarnya bisa saja ia pergi ke kantin untuk makan siang, tapi pemilih menunggu di depan IGD agar jika sewaktu-waktu dibutuhkan bantuannya, Dhewa tidak kebingungan mencarinya.
Sementara itu, Dhewa yang baru saja melihat foto seorang pria dengan postur tubuh tinggi seperti model dan juga memiliki wajah tampan, mengerutkan kening karena berpikir jika Floe saat ini masih dalam proses perceraian, tapi sudah dekat dengan pria lain dan jujur saja membuatnya merasa aneh di dalam hatinya.
Ia seperti sangat tidak menyukai wanita di hadapannya tersebut dekat dengan pria lain, padahal baru saja mengenalnya. 'Kenapa aku jadi seperti ini sih? Bisa makin ilfeel nanti Floe padaku jika aku menunjukkan sikapku yang tidak suka ia dekat dengan lawan jenis.'
Dhewa yang sebenarnya ingin sekali bertanya banyak hal mengenai dia yang baru saja ditunjukkan, berusaha untuk menahan diri sekuat tenaga dan memilih memendam berjuta perasaan membuncah yang saat ini bergejolak di dalam hatinya.
Ia kini berakting menganggukkan kepala, seolah tidak mempermasalahkan hal yang membuatnya cemburu dan dianggap sangatlah konyol karena tidak punya hubungan apapun dengan wanita yang dianggapnya seperti bidadari saat berpenampilan natural.
"Baiklah. Nanti aku akan bilang padanya untuk menunggu." Ia pun mengeluarkan kartu kereta miliknya dan menyerahkan pada Floe. Kemudian mengibaskan tangannya agar Floe segera pergi dan ia bisa mengungkapkan kekesalannya tanpa dilihat oleh wanita itu.
"Oke," ucap Floe yang kini berbalik badan dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah apotek yang diketahui berada di sebelah kiri ruangan administrasi sambil membawa kartu kredit milik atasan tersebut.
Dhewa yang saat ini menatap sosok wanita yang saat ini perlahan menjauh dan menghilang di balik dinding Rumah Sakit, mengembuskan napas kasar sambil mengacak frustasi rambutnya. "Sadar, Dhewa. Jangan pernah memperlihatkan ketertarikanmu secara berlebihan padanya. Dia nanti bakal ilfeel nanti."
Ia saat ini terdiam ketika mengingat tentang sang ibu yang akan datang. "Sebenarnya apa yang dikatakan Camelia pada mama? Aku pikir dia langsung membatalkan perjodohan dengan menolaknya, tapi papa bilang tidak. Sebenarnya apa rencana wanita itu? Apa dia tetap akan melanjutkan perjodohan meskipun aku menolaknya mentah-mentah karena tidak menyukainya sama sekali?"
Dhewa saat ini meraih ponsel miliknya karena ingin menghubungi Camelia untuk menanyakan apa yang sebenarnya dikatakan wanita itu ada sang ibu. Namun, saat berniat untuk mencari kontak dari wanita yang dijodohkan dengannya tersebut, kebetulan melihat seorang pria yang baru saja datang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling seperti tengah mencari seseorang.
Ia saat ini menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya tersebut dan mengingat jika wajahnya sama persis dengan foto yang ditunjukkan oleh Floe tadi. Kemudian melambaikan tangannya untuk memanggil.
"Temanmu sedang pergi ke apotek untuk menebus obatku. Tadi dia bilang untuk menyuruhku memberitahumu agar menunggu di sini." Ia yang masih pusing, tidak berniat untuk bangkit berdiri dan memilih tetap saja berada di kursi.
Harry yang saat ini membawa kantong plastik berisi menu makan siang untuk Floe karena kebetulan tadi tengah berada di pusat kuliner ketika menghubungi sahabatnya. Ia kini menatap ke arah pria yang diketahui merupakan atasan Floe yang dianggapnya adalah pria ceroboh karena tidak bisa menjaga diri.
"Oh ... jadi Anda adalah atasannya yang baru mengalami insiden di lokasi?" Harry tadi sudah mengetahui jika Floe menyamar sebagai pekerja biasa, bukan merupakan putri dari pemilik perusahaan Madison.
"Aah ... iya, saya adalah temannya. Senang bisa bertemu dengan orang hebat seperti Anda," ucap Harry yang saat ini mengulurkan tangan pada pria yang diperban tersebut.
Ia merasa aneh dengan nama samaran Floe yang tadi diberitahukan padanya. Jadi, sengaja tidak menyebut nama itu karena terbiasa memanggil Floe.
"Dhewa." Langsung menyambut uluran tangan dari pria yang terlihat seperti pria baik menurutnya. Kemudian menepuk kursi di sebelahnya agar pria itu mendaratkan tubuh di sebelahnya. "Tunggu saja di sini. Pasti iya sebentar lagi kembali."
Ia menatap ke arah kantong plastik yang masih dipegang. "Kamu membawa apa?"
Harry pada saat ini menganggukkan kepala dan duduk di kursi sebelah kiri pria itu, menunjukkan apa yang dibawanya. "Ini makan siang untuknya karena tadi bilang kelaparan. Jadi, saya membelikannya makanan karena kebetulan tadi berada di sebuah warung makan."
"Emm ... bagaimana kinerja sahabatku di hari pertama bekerja? Apa dia banyak melakukan kesalahan?" tanya Harry yang merasa penasaran dengan pekerjaan Floe karena mengetahui jika sahabatnya itu adalah wanita yang hebat dan pintar.
Dhewa yang merasa tidak senang dengan apa yang dibawa pria itu, berusaha untuk tidak menunjukkan apa yang dirasakannya. Sebenarnya ingin sekali makan makanan yang dibawa itu, agar ia saja yang membelikannya. Namun, menyadari jika itu dilakukan, malah akan membuatnya terkesan seperti pria kekanakan, sehingga hanya bisa diam tanpa melakukan apapun.
"Kamu adalah sahabat yang baik. Gara-gara aku, dia jadi belum makan siang. Nanti biar dia makan dulu sebelum kembali ke lokasi. Aku tidak ingin pegawaiku sakit gara-gara belum makan karena ulahku. Apalagi dia hari ini bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanku sama sekali." Dhewa yang merasa tenggorokannya kering, kini mengarahkan dagunya pada plastik yang ada minumannya.
"Apa aku boleh membuka minuman yang kamu bawa ini? Kebetulan aku sangat haus," ucapnya yang kini merasa senang ketika langsung diambilkan air mineral itu. Meskipun ia tahu itu untuk diberikan pada Floe karena hanya ada satu saja.
"Tentu saja. Nanti biar aku belikan lagi untuknya." Harry yang bahkan langsung membukakan penutup pada botol air mineral itu, berharap pria tersebut tidak kesusahan.
"Aku tidak akan menghabiskannya dan mungkin ini cukup untuk berdua," ucap Dhewa yang saat ini langsung meneguk sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.
Ia bahkan tidak menduga jika sahabat Floe akan membukakan penutup botol plastik tersebut sebelum diberikan padanya. Sebuah hal kecil yang mungkin bisa membuat seorang wanita merasa diperlakukan sangat baik karena bentuk perhatian kecil seperti itu sanggup menggetarkan perasaan yang lemah.
Saat ia kini sudah kembali memberikan botol air mineral tersebut karena memang penutupnya dibawa oleh pria di sebelahnya, masih tidak mengalihkan perhatiannya. "Apa kamu selalu bersikap seperti ini pada orang lain?"
Harry yang baru saja menutup botol air mineral itu, kini sengaja menunjukkan apa yang dilakukannya barusan. "Maksudnya ini? Membuka dan menutup botol air minum?"
Dhewa yang tidak ingin mengulangi pertanyaan, hanya menganggukkan kepala. Ia benar-benar merasa penasaran dengan apa yang saat ini dilihatnya.
Apalagi ia belum pernah melakukan hal seperti itu pada seorang wanita meskipun dulu pernah memiliki hubungan dengan lawan jenis dan berhasil meninggalkan luka mendalam di hatinya karena keturunannya dibalas dengan pengkhianatan.
Ia jadi berpikir apakah sikapnya yang sangat dingin selama ini menjadi penyebab sang kekasih memilih untuk berselingkuh di belakangnya meskipun ia sudah memberikan banyak materi.
Harry yang baru saja mengembalikan botol air mineral tersebut ke dalam plastik, kini hanya terkekeh tadi melihat respon dari pria yang dianggap seperti heran pada perbuatan-perbuatan kecil yang dilakukannya.
"Aku terbiasa melakukannya pada kekasihku. Sepertinya itu jadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Apa Anda merasa perbuatan saya berlebihan? Konyol ya jika dipikir-pikir?" Harry bahkan masih tertawa ketika mengingat perbuatannya yang dianggap sangatlah konyol.
Padahal ia selama ini tahu jika sang kekasih sangat suka ia melakukan hal-hal kecil seperti itu karena dianggap adalah seorang pria yang peka. "Jangan sampai Anda terpesona dan jatuh cinta padaku hanya karena aku bukakan penutup minuman."
Dhewa seketika tertawa karena merasa terhibur ketika pikirannya sedangkan saat memikirkan tentang masalah perjodohan dan berakhir membuat sang ibu datang ke Jakarta malam ini.
"Mungkin jika kamu perempuan, aku sudah benar-benar jatuh cinta pada perhatian kecil yang kamu tunjukkan barusan. Oh ... jadi kamu sudah punya pacar rupanya? Aku pikir kamu adalah gebetan Ayu Ningrum. Ternyata kalian benar-benar bersahabat rupanya." Dhewa bahkan saat ini merasa sangat lega begitu mengetahui jika pria di sebelahnya sudah memiliki pasangan.
Jadi, ia tidak ada saingan untuk bisa dekat dengan Floe. 'Alhamdulillah. Ternyata Floe tidak ada hubungan apapun dengan sahabatnya ini dan benar-benar pure bersahabat. Aku tidak punya saingan untuk mendekatinya.'
"Mungkin memang aneh saat pria dan wanita itu bersahabat dan pasti dianggap jika salah satu memiliki perasaan suka, tapi itu tidak berlaku untuk kami. Saya sudah punya kekasih sebelum mengenalnya dan dia juga punya kehidupan pribadi sendiri." Harry yang mengingat semua yang dialami oleh Floe, jadi merasa iba memikirkan sahabatnya tersebut yang tidak beruntung dalam masalah percintaan.
"Saya hanya sebagai teman baik yang selalu mendukung apapun yang dilakukannya, asalkan itu terbaik. Jadi, titip sahabat saya dan tolong jangan dimarahi terus-menerus karena dia sangat cengeng sebenarnya." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara dari sahabatnya yang baru saja datang dan langsung menepuk bahunya karena kesal.
"Jangan mengarang cerita, Harry. Enak saja bilang aku cengeng!" seru Floe yang baru saja datang dan menampilkan wajah masam karena kesal pada sahabatnya yang membuka rahasianya.
Apalagi dulu ia pernah menangis di depan Harry dan membuatnya menyesal melakukannya karena menunjukkan sisi terlemahnya ada sahabat baiknya yang sudah dianggap seperti saudara kandung sendiri.
Ia bahkan merasa sangat malu pada Dhewa yang saat ini malah tertawa melihatnya. "Kau ini menyebalkan sekali."
"Sepertinya tuan putri malu saat bos mengetahui kelemahanmu. Justru itu malah bagus, kan? Biar kamu tidak dimarahi saat melakukan kesalahan. Daripada kamu nangis dan malah menyusahkan." Harry yang kembali mengejek Flow saat kesal padanya, kini langsung menyerahkan kantong plastik berisi makanan yang dibelinya tadi. "Nih, makan dulu biar tidak pingsan."
Floe hanya diam saja karena masih kesal dan merajuk. Hingga ia seketika menoleh ke arah Dhewa karena mendengar suara dering ponsel.
"Sebentar, aku angkat telpon dulu," ucap Dhewa yang seketika bangkit berdiri begitu melihat kontak sang ibu yang menelpon.
Tidak ingin pembicaraannya didengar oleh dua orang itu, ia segera menjauh dan begitu menggeser tombol hijau ke atas, langsung mendengar suara lengkingan wanita paruh baya di seberang telepon.
"Jemput Mama di bandara malam ini. Sekalian kamu ajak wanita itu!"
Saat Dhewa baru saja berniat untuk membuka mulut, panggilan telepon terputus secara sepihak dan membuatnya merasa kesal. "Apa-apaan sih mama ini. Telpon cuma mau bicara itu saja dan langsung mematikan tanpa memberikan kesempatan aku menjelaskan."
Saat merasa pusing dengan perkataan sang ibu, ia kini melihat Floe yang tengah duduk di sebelah sahabatnya dan menikmati makanan. 'Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Kanjeng Ratu Widodari marah nggak ya jika aku sekali lagi meminta bantuannya?'
To be continued...