
"Presdir, ada mertua Anda yang ingin bertemu. Sekarang ada di lobby perusahaan dan menunggu jawaban apakah Anda mau bertemu atau tidak," ucap sang asisten yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja atasannya.
Ia bisa melihat raut wajah muram dari pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya tersebut dan mengetahui penyebabnya. Bahwa pria yang telah hancur berantakan gara-gara kandas hubungan dengan sang kekasih karena hamil diperkosa dan juga akan bercerai, terlihat sangat mengenaskan saat ini.
Sementara itu, Erland yang tadi mendapatkan kabar dari pelayan mengenai masalah foto USG, hanya membiarkannya. Bahkan sengaja ia tidak mengangkat panggilan dari Floe karena tahu hanya akan mendapatkan umpatan.
"Tadi ayah mertuaku yang sebentar lagi akan jadi mantan juga menelpon dan sengaja tidak kuangkat. Aku sudah menduga jika dia akan menyuruh daddy-nya untuk mengancamku," ucap Erland dengan tertawa miris.
"Tadinya aku ingin membuatnya meminta sendiri secara langsung, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi sampai kiamat karena sangat muak melihatku." Erland kini membuka laci karena tadi kembali menyimpan foto USG anaknya.
Niat awal untuk menghancurkan ego Floe agar meminta baik-baik foto itu, dianggapnya sia-sia dan ia tidak ingin keras hati karena mengandalkan emosi. Jadi, sekarang memilih untuk berdamai dengan apapun agar tidak ada masalah lagi.
Erland kini menatap sekilas bingkai foto kecil itu karena berpikir jika tidak akan pernah bisa menatapnya lagi secara langsung. "Berikan ini pada ayah mertuaku karena dia hanya mau ini dan muak melihatku."
Leo yang kini terdiam sejenak karena rasa iba, akhirnya menerimanya. Ia menatap ke arah bingkai foto yang baru pertama kali dilihatnya, sehingga kini mengerti bagaimana perasaan sang atasan. "Anda tidak mengambil gambar dengan ponsel dulu agar bisa tetap melihat foto ini?"
Erland refleks menggelengkan kepalanya karena mengingat pesan dari Floe yang mewakili kemurkaannya. "Aku tidak pantas memiliki sesuatu yang kusia-siakan. Pergilah dan segera berikan itu agar mertuaku tidak terlalu lama menunggu," ucapnya sambil mengibaskan tangannya.
"Baik, Presdir." Dengan membungkuk hormat sebelum berlalu pergi, sang asisten kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke pintu keluar.
Namun, di saat ia membuka pintu, sangat terkejut begitu di saat bersamaan melihat sosok pria dengan raut wajah yang menurutnya sangat garang dan seketika membungkuk hormat.
"Tuan Hugo Madison," ucapnya dengan suara bergetar karena ia selalu merasa takut jika berhadapan dengan pria berwajah garang itu.
Bahkan ia belum sempat memberikan apa yang berada di tangan kanannya, sehingga ikut masuk ke dalam ruangan dan bisa mendengar suara bariton bernada tinggi menggema memecah keheningan.
"Aku tidak bisa menunggu persetujuanmu karena hanya sebentar dan waktuku sangat berharga," sarkas Hugo Madison yang tadinya disuruh menunggu di lobby, tapi ingin segera mengumpat pria di hadapannya yang terlihat sangat santai itu.
Tentu saja tidak memperdulikan resepsionis yang mencoba untuk menahannya agar tetap menunggu sebelum mendapatkan persetujuan ke ruangan atasan.
Erland akhirnya mau tidak mau segera bangkit berdiri sebagai bentuk penghormatan pada orang yang lebih tua. Ia merasa "Maaf karena membuat Anda menunggu." Ia yakin jika memanggil ayah mertua hanya akan mendapatkan kemurkaan.
"Kau pasti sudah tahu tujuanku datang ke sini." Hugo Madison tidak jadi melanjutkan perkataannya karena melihat pria di sampingnya memanggil.
"Ini, Tuan Hugo Madison?" Sang asisten yang tidak ingin terjadi perdebatan sekaligus dimarahi atasan, segera mengulurkan bingkai foto di tangan.
Hugo Madison yang kini menerima foto USG cucunya, menatap sekilas dan beralih pada pria yang dari tadi hanya diam seperti orang bodoh. "Baguslah jika kau sudah paham. Oh ya, ingat ini baik-baik."
"Jangan pernah kau sekalipun berpikir atau bermimpi untuk kembali pada putriku karena Floe sudah mendapatkan seorang pria baik. Sekedar informasi saja biar kau tahu apa arti karma. Pria baik itu bernama Dhewa Adji Ismahayana yang merupakan pria baik dan tidak pecundang sepertimu pastinya."
Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja menantunya yang terlihat seperti patung karena sama sekali tidak bergerak atau pun membuka suara.
To be continued..