Married by Accident

Married by Accident
Kamu mau minta apa?



Beberapa saat yang lalu, Floe yang terus menundukkan kepala karena tidak ingin raut wajah yang penuh dengan amarah dilihat oleh wanita bernama Camelia tersebut. Ia bahkan baru kali ini menjadi orang lain karena berpura-pura berasal dari keluarga sederhana. Diam saat di ejek kampungan, tentu saja tidak sesuai dengan sifatnya selama ini.


Jadi, ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk mengungkapkan amarah yang membuncah dan bergejolak hingga membuatnya seperti ingin meledak saat itu juga. 'Awas saja nanti. Aku benar-benar akan membuatnya menyesal karena memanfaatkanku untuk menyelamatkan diri dari perjodohan.'


'Perasaan semalam aku sama sekali tidak bermimpi buruk, tapi kenapa sekarang mengalami kejadian konyol seperti ini? Terlibat dalam urusan perjodohan pria yang bahkan baru ku kenal dan membuatku semakin bertambah pusing saja. Masalahku saja belum kelar, ini malah ditambah hal konyol seperti ini,' gumam Floe yang saat ini benar-benar menahan diri untuk tidak berteriak memecahkan aura ketegangan di antara mereka.


Hingga merasa jika itu tidaklah cukup, jadi ia memilih untuk melampiaskan amarahnya dengan mengarahkan cubitan sangat kuat pada pinggang belakang pria yang berani memeluknya.


'Berani-beraninya dia memelukku tanpa izin. Rasakan ini!' gumam Floe yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati karena saking kesalnya tidak bisa berbuat apapun untuk meluapkan amarahnya saat ini.


Begitu mendengar suara wanita yang sangat kesal dan membanting pintu, seketika ia mengangkat pandangan dan langsung mendorong pria yang masih memeluknya.


"Menyingkirlah!" sarkas Floe yang bahkan menggunakan dua tangan untuk melakukannya agar pria itu melepaskan kuasa yang membuatnya sangat risi.


Bahkan ia mengarahkan tatapan tajam karena sangat kesal pada pria yang beberapa langkah ke samping kanan. "Sudah kubilang aku tadi tidak setuju, kan? Tapi kenapa seenak jidat melibatkanku? Astaga!"


Floe yang kini memijat pelipis karena merasa pusing saat membayangkan jika dirinya harus terlibat masalah dari pria yang terlihat sangat tenang, seolah merasa tidak bersalah padanya.


Bahkan rasanya ingin sekali menarik rambut pria itu untuk meluapkan amarahnya saat ini, tapi masih berusaha untuk menjaga attitude agar tidak seperti wanita barbar karena berasal dari keluarga berada dan berpikir jika itu akan mencoreng nama baik keluarga Madison.


"Ya Allah, sabarkanlah hambamu ini," lirih Floe yang yang bergejolak karena dikuasai oleh amarah.


Sementara itu, Dhewa yang sebenarnya juga merasa bersalah karena harus melibatkan wanita yang bahkan baru ditemuinya dan tidak memiliki hubungan apapun dengannya, kini merasa bingung harus meminta maaf dengan cara apa agar dimaafkan.


Ia bahkan tidak sanggup berkata-kata lagi untuk membuat wanita di hadapannya tenang dan tidak murka lagi padanya. Mengetahui jika permohonan maaf tidak akan bisa membuat perasaan seorang Floe lebih baik, sehingga kini tengah memutar otak untuk memperbaiki keadaan.


Hingga ia pun kini berjalan meninggalkan Floe karena mendadak mendapatkan sebuah ide di kepalanya dan berharap bisa membuat hati wanita itu sedikit lunak. 'Semoga dia mau memaafkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana jika dia terus marah karena akan berdampak pada pekerjaan.'


Ia sebenarnya merasa sangat senang karena Floe sudah tidak bersikap formal lagi padanya dengan memanggil aku kamu, bukan lagi saya dan anda seperti beberapa saat lalu. Namun, tidak ingin berlarut-larut dalam sebuah amarah yang menghancurkan hubungan pekerjaan, sehingga memilih untuk segera menyelesaikannya.


Floe makin bertambah besar kemurkaannya karena sama sekali tidak diperdulikan dan malah ditinggalkan. "Kau benar-benar berengsek, Dhewa!"


'Mau apa dia? Kenapa malah mengambil gitarnya? Apa dia juga kesal padaku dan ingin membanting gitarnya?' gumam Floe yang saat ini mengerutkan kening dan ingin melihat apa yang dilakukan oleh Dhewa ketika ia tengah marah.


Hingga ia yang tidak sedikit pun mengalihkan perhatian karena ingin mengetahui apa yang dilakukan pria yang kini sudah duduk di kursi dan mulai mengerti. Akhirnya ia hanya terdiam dan menatap intens Dhewa ketika mulai memetik senar gitar dan membuka suara.


"Aku tahu jika permohonan aku mungkin tidak akan membuat amarahmu hilang karena marah padaku. Jadi, aku hanya ingin menghiburmu agar sedikit bisa menenangkan rasa kesal yang kamu rasakan padaku." Dhewa yang tadi memikirkan lagu paling tepat untuk Floe, akhirnya menemukannya.


Tanpa berniat untuk membuang waktu karena khawatir jika sampai Floe membuka suara untuk kembali mengumpatnya. Ia pun kini menyanyikan sebuah lagu dari Noah dengan judul cobalah mengerti.


"Aku tak kan pernah berhenti. Akan terus memahami. Masih terus berfikir. Bila harus memaksa. Atau berdarah untukmu. Apapun itu asalkan mencoba menerimaku."


"Dan kamu hanya perlu terima. Dan tak harus memahami. Dan tak harus berfikir. Hanya perlu mengerti. Aku bernafas untukmu. Jadi tetaplah di sini. Dan mulai menerimaku."


"Cobalah mengerti. Semua ini mencari arti. Selamanya takkan berhenti. Inginkan rasakan. Rindu ini menjadi satu. Biar waktu memisahkan." Dhewa mengakhiri nyanyiannya setelah petikan gitarnya menguraikan suasana penuh keheningan di antara mereka.


Sementara itu, Floe yang dari tadi terdiam mendengarkan suara merdu dari Dhewa, seolah luluh dengan apa yang ditunjukkan pria itu. Apalagi ia sangat suka dengan suara merdu pria yang memiliki rahang tegas tersebut.


Namun, ia sama sekali tidak membuka suara karena masih berakting kesal meskipun di dalam hati sudah sedikit berkurang karena tersihir dengan suara merdu dengan lirik sangat menyentuh hatinya. Meskipun ia tahu jika itu hanyalah sebuah lagu semata dan sama sekali tidak berarti apapun, tetap saja membangkitkan perasaan senang.


'Jadi, seperti ini berhadapan dengan seorang pria yang pintar bermain gitar dan memiliki suara merdu? Pantas saja para anak band gampang mendapatkan wanita. Jadi seperti ini cara mereka menyentuh hati seorang wanita? Aku saja jadi lebih baik sekarang dan tidak terlalu marah lagi padanya,' gumam Floe yang kini kembali mendengar suara bariton dari pria yang menatapnya dan menampilkan raut wajah penuh penyesalan.


"Maaf karena memanfaatkan keberadaanmu demi kepentingan pribadiku, tapi aku tadi benar-benar tidak bisa berpikir jernih begitu melihatnya. Padahal aku dulu awal-awal sudah memberitahunya jika sama sekali tidak berniat untuk menikahinya. Berharap dia mau membatalkan dengan berbicara pada orang tuanya dan juga orang tuaku, tapi ternyata aku salah karena dia malah makin terobsesi padaku." Dhewa kini bangkit berdiri dari kursi dan menaruh gitar miliknya.


Kemudian mulai memberanikan diri untuk berjalan mendekati Floe. Ia bisa melihat ekspresi wajah yang tadinya memerah tersebut sudah jauh lebih tenang, sehingga berpikir bisa berbicara dari hati ke hati.


"Aku janji jika ini adalah pertama dan terakhir. Jadi, sekali lagi maafkan aku karena harus melibatkanmu untuk membuat Camelia pergi. Sepertinya dia tadi sangat murka dan pasti membenciku. Pasti dan tidak mau menikah denganku." Ia benar-benar sangat yakin jika masalahnya sudah selesai, sehingga tidak akan dipusingkan lagi oleh sosok wanita yang sama sekali tidak membuatnya tertarik.


"Masalah selesai dan aku harus mengucapkan terima kasih padamu. Sepertinya aku harus memberikanmu hadiah. Kamu mau minta apa?" tanya Dhewa yang ingin tahu seperti apa reaksi dari penerus perusahaan Madison tersebut.


To be continued...