
Burung-burung berkicau riang menandakan pagi telah tiba bersama hembusan lembut angin yang bertiup menggoyangkan dahan pohon angsana dan cemara di samping villa. Setelah hujan deras kemarin, hari ini matahari bersinar terang memberi kehangatan baru bagi bumi yang sempat kedinginan.
Semalam Renjani tidak bisa tidur nyenyak meski kekenyangan setelah makan semangkuk mie rebus. Tangan Renjani terjulur dari dalam selimut untuk membuka laci nakas. Ia mengambil ponsel lama nya yang tidak pernah digunakan lagi sejak dirinya pergi kesini. Renjani menggunakan ponsel lain untuk menghubungi Manda dan tim nya. Bahkan selama itu juga Renjani sama sekali tidak berkomunikasi dengan Jesi.
Ratusan pesan masuk ketika Renjani menyalakan ponsel tersebut. Sebagian besar dari Jesi dan Kelana lalu beberapa pesan dari Yana, Lasti dan Aji.
Re, kemana lu?
Lu pergi dari apartemen mewah itu? Lu hobi banget kabur sih, gue khawatir.
Renjani tersenyum membaca pesan Jesi, anak itu memang bawel tapi sangat perhatian. Renjani lanjut membaca pesan dari Kelana.
Kemana kamu pergi? Aku minta maaf, aku salah. Aku sudah menjelaskan semuanya pada Elara bahwa kamu dan aku akan terus bersama.
Kamu nggak nonton acaranya sampai selesai kan? aku juga mengucapkan kalimat yang sama di depan wartawan.
Kemana kamu pergi, aku khawatir, nggak, aku takut.
Re, hubungi aku jika kamu membaca pesan ini.
Re, aku merindukanmu.
Re, aku ingin mendengar Twinkle Twinkle Little Star yang kamu mainkan.
Alyssum yang kamu tanam tumbuh subur, aku akan merawatnya dengan baik sampai kamu datang.
Yana membuat roti panggang dan alpukat kesukaan mu hari ini.
Hari ini hujan, pakai baju hangat sayang
Aku mencintaimu Renjani, mari besarkan anak itu bersama-sama.
Aku tahu jadi orangtua itu nggak mudah tapi ayo mencoba berlajar bersama-sama.
Ada ratusan pesan lain yang membuat Renjani tak terasa menitikkan air mata saat membacanya. Renjani meletakkan ponsel tersebut karena tidak mau menangis lebih lama. Ini masih pagi, matanya bisa bengkak jika terus menangis.
Renjani turun dari tempat tidur membuka gorden agar sinar matahari masuk ke kamarnya, ini adalah tempat paling nyaman di villa tersebut.
"Kelana!" Renjani terkejut melihat Kelana berada di depan jendela kamarnya. Kelana tampak meringkuk seperti janin dalam perut ibu. Jangan bilang Kelana ada disini semalaman. Renjani pikir Kelana pulang setelah ia menutup gorden.
Suhu tadi malam mencapai 12 derajat Celsius, Kelana bisa beku jika berada di luar semalaman. Renjani berlari keluar menghampiri Kelana.
"Kelana!" Renjani mengguncang tubuh Kelana dan memanggilnya beberapa kali, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Kelana. "Bangun Kelana." Renjani menyentuh wajah Kelana yang pucat pasi, bibirnya membiru.
Perlahan Kelana membuka mata, samar ia melihat wajah Renjani berada sangat dekat dengannya. Kelana tersenyum, apakah ini mimpi? atau ia sudah berada di alam lain. Kelana tak sanggup menahan dingin tadi malam tapi ia tidak mau pergi sebelum Renjani memaafkannya. Kelana tidak tahu apakah ia tidur atau pingsan.
"Re?" Suara Kelana serak hampir tidak terdengar.
Renjani menangkup pipi tirus Kelana dan menatapnya lama. Mereka sudah terlalu lama menderita menahan rindu, bukankah Renjani menunggu saat-saat seperti ini. Renjani telah memikirkan ucapan Tumi semalaman, dari pada menahan rindu yang semakin mencekik, ia lebih memilih kembali ke pelukan Kelana.
"Kamu Renjani?" Kelana menatap Renjani tak percaya, pandangannya masih berkunang-kunang.
"Ini aku."
"Maafkan aku Re." Kelana berlutut menggenggam tangan Renjani.
Renjani terkejut, "jangan seperti ini." Ia meminta Kelana bangun, tanpa berlutut pun Renjani akan memaafkan Kelana sekarang.
"Aku sudah menuduhmu kemarin, aku meninggalkanmu di hari peringatan pernikahan kita, padahal permintaan mu sederhana tapi aku nggak bisa memenuhinya, aku terlalu meremehkan mu Renjani, aku salah besar."
"Udahlah Kelana."
"Re, aku nggak mungkin menolak kehadiran anak kita, aku mohon beri kesempatan untuk ku melihat dia lahir lalu kita akan merawatnya bersama-sama." Air mata Kelana mulai menggenang, sekali saja ia berkedip air mata itu akan luruh.
Renjani mengangguk samar, "ayo bangun." Sebanyak apapun Kelana menyakitinya, rasa cintanya jauh lebih besar.
Kelana bangkit dan menghambur ke pelukan Renjani. Rindu itu seperti gundukan salju yang mengeras dalam dada, tapi kini akhirnya luruh juga.
"Aku merindukanmu, istriku." Bisik Kelana, ia menciumi puncak kepala Renjani.
"Aku juga tapi kamu jelek sekarang."
Kelana mengurai pelukan, senyumnya lenyap. Ia juga merasa dirinya tak setampan dulu.
"Aku juga merasa begitu tapi kamu semakin cantik, ini nggak adil." Kelana melihat Renjani lekat, ia tak bisa membayangkan bagaimana Renjani menjalankan kehidupan tanpanya.
Renjani tertawa dan mengusap matanya yang basah. Saking bahagianya Renjani sampai menangis.
"Kamu benar, apa aku boleh numpang hidup sementara, novel mu laris di pasaran."
Renjani pura-pura memasang wajah angkuh, "kamu akan membiarkan wanita hamil ini mencari nafkah buat kamu?"
"Tentu saja enggak." Kelana kembali memeluk Renjani, ia baru saja mengumumkan akan hiatus. Namun pertemuan ini akan membuatnya kembali ke dunianya, ia harus menghasilkan banyak uang untuk Renjani dan anak mereka.
******
Renjani mencukur kumis dan janggut Kelana dengan telaten. Ia juga mencukur rambut Kelana agar tidak terlalu berantakan.
"Lumayan." Renjani tersenyum puas melihat hasil kerjanya merapikan rambut Kelana.
"Lumayan?" Kelana menunggu pujian Renjani tapi ia hanya mendengar kata lumayan. Ia memang tak memperhatikan penampilannya sejak Renjani pergi.
Renjani menuangkan antiseptik pada kapas untuk membersihkan luka di pipi Kelana.
"Perih ya?" Renjani melakukannya dengan hati-hati.
Kelana menggeleng, itu tidak seberapa dibandingkan dengan ditinggalkan Renjani.
Renjani menempelkan plester pada luka tersebut, "tapi walaupun badan mu lebih kurus, kamu masih kuat bikin Devin jatuh."
"Soal itu, aku lihat dia merangkul mu." Kelana tentu tak terima melihat laki-laki lain melakukan itu pada Renjani.
Renjani tak bisa membayangkan bagaimana jika Kelana tahu bahwa Devin sempat mengungkapkan perasaan padanya. Renjani tak mau coba-coba memberitahu Kelana, Devin bisa habis di tangan Kelana jika itu terjadi.
"Mandi gih, aku mau bantu Bi Tumi masak." Renjani memberikan handuk pada Kelana.
"Aku mau ngobrol sama anak kita dulu." Kelana menempelkan telinganya ke perut Renjani. "Ini Papa." Gumamnya. "Terimakasih anak baik karena sudah menjaga Mama selama ini."
"Kita akan dipanggil Mama dan Papa?" Renjani belum menentukan nama panggilan untuknya, bukankah Papa dan Mama terlalu mainstream.
"Apalagi selain itu?"
"Aku ingin dipanggil Ibu."
"Baiklah Ibu." Kelana mengeratkan pelukannya, setelah menahan rindu berbulan-bulan berpelukan seharian tentu tidak cukup untuknya.
"Mandi dulu sana." Renjani melepaskan tangan Kelana dari punggungnya.
Kelana pergi ke kamar mandi dengan terpaksa, ia masih ingin bersama Renjani.
Renjani meminjam celana dan kaos Edi untuk pakaian ganti Kelana. Walaupun ukurannya mungkin kekecilan tapi tak masalah, hanya baju Edi yang bisa Kelana pakai. Tak mungkin Kelana mengenakan baju Renjani.
Renjani menghampiri Tumi di dapur, ia bergegas membantu memotong kangkung, kacang panjang dan kol lalu mencucinya. Sedangkan Tumi membakar kelapa dan bumbu-bumbu untuk membuat urap.
Aroma bawang merah, bawang putih dan kencur bakar menyebar ke seluruh dapur, Renjani tidak sabar menikmati sarapan hari ini.
"Bajunya kekecilan ya untuk Kelana?" Tumi bertanya.
"Belum dipakai Bi, Kelana masih mandi."
Tumi senang karena akhirnya Kelana dan Renjani berbaikan walaupun itu artinya ia akan ditinggalkan berdua lagi dengan Edi di villa ini. Tumi sudah telanjur menyayangi Renjani seperti anak sendiri. Selama ini hanya Renjani yang paling lama tinggal disini. Sebelumnya paling lama hanya satu Minggu, itu membuat Tumi merasa berat ditinggalkan Renjani.
"Kapan kamu akan kembali ke Jakarta?" Tanya Tumi, ia ingin menyiapkan diri untuk itu.
"Kami belum membahasnya Bi, mungkin akan tinggal disini dulu." Renjani menyukai semua hal yang ada di villa ini, lagi pula Kelana belum memiliki jadwal pekerjaan setelah memutuskan hiatus. "Saya suka disini." Renjani merangkul Tumi dari samping.
Tumi tersenyum, ia sering mendengar Renjani mengatakan hal tersebut.
Nasi jagung, urap sayuran dan ayam goreng telah tersaji di atas meja ditambah tahu, tempe dan sambal kecombrang sebagai pelengkap telah tersaji di atas meja. Ini adalah sarapan yang istimewa, Tumi sengaja memasak banyak karena ada Kelana.
"Kamu harus makan yang banyak." Renjani mengambil nasi, urap dan ayam goreng untuk Kelana. "Kamu belum pernah makan nasi jagung kan?"
Tumi dan Edi terkejut mendengar Kelana belum pernah makan nasi jagung sebelumnya padahal itu makanan tradisional Indonesia.
"Apa ini enak?" Kelana ragu melihat penampilan nasi jagung di hadapannya.
"Coba aja, kamu akan nambah berkali-kali." Renjani yakin Kelana akan menyukai masakan Tumi. Menurutnya urap buatan Tumi paling enak sedunia, ia bukannya lebay tapi memang kenyataannya seperti itu.
Kelana mencoba sesuap urap yang terdiri dari kangkung, kacang panjang, kol dan tauge. Aroma kencur mendominasi, rasa gurih dari kepala berpadu dengan manisnya gula merah dan sedikit pedas. Baru suapan pertama tapi Kelana yakin urap dan nasi jagung akan menjadi makanan favoritnya.