
Erland dari tadi belum mengalihkan pandangan dari pintu yang baru saja tertutup saat mertuanya keluar dari ruangan setelah mengungkapkan sesuatu hal yang membuatnya tidak pernah menyangka. Ia bahkan saat ini mengingat nama yang baru saja disebutkan ayah mertuanya.
"Dhewa Adji Ismahayana?" lirihnya yang saat ini merasa seperti pernah mendengar nama itu karena tidak asing di telinga.
'Secepat ini daddy menjodohkan putrinya yang bahkan belum ketok palu. Apa merasa sangat terobsesi untuk membalas dendam padaku? Hingga langsung memikirkan mencari pengganti suami untuk Floe,' gumam Erland yang saat ini tersadar dari lamunan begitu mendengar suara bariton dari sang asisten.
Leo merasa bingung harus segera keluar dari ruangan atasannya karena merasa tidak enak mendengar masalah pribadi yang seharusnya tidak didengar olehnya.
"Saya kembali ke ruangan kerja dulu, Presdir," ucap Leo yang kini sudah beberapa kali membungkuk hormat untuk berpamitan pada atasannya yang terdiam.
Ia yang baru saja beberapa langkah berjalan, seketika berhenti ketika merasa serba salah saat mendengar suara bariton dari atasannya yang tertawa miris.
"Kau mendengarnya kan? Bahkan mertuaku saja sudah merencanakan untuk menjodohkan putrinya yang bahkan belum resmi bercerai denganku." Erland yang mengakhiri perkataannya dengan tertawa miris dengan hidupnya karena apa yang didengarnya menjadi kenyataan.
Bahwa panggilan pecundang yang sering dilontarkan oleh Floe memang benar dan sangat pantas untuknya. Bahkan sang asisten yang seharusnya tidak melihat masalah pribadinya, mengetahui semuanya. Seolah ia sudah tidak mempunyai muka lagi di depan pria yang lebih mudah darinya tersebut.
Leo yang tadinya terdiam karena merasa tidak, akhirnya berbalik badan dan terpaksa membuka suara. Ia berbicara dengan posisi 3 meter dari sang atasan. "Presdir, maafkan saya karena harus mendengar tentang masalah rumah tangga Anda."
"Seharusnya tadi saya langsung keluar dari ruangan, tapi karena semua sudah terjadi, percuma mengatakan itu. Saya harap Anda lupakan masa lalu yang hanya meninggalkan kenangan buruk dan anggap semuanya menjadikan Anda lebih baik di masa depan."
"Fokus saja dengan karir Anda dengan membuat perusahaan ini menjadi lebih baik." Ia sengaja tidak mau menanggapi tentang apa yang tadi diutarakan, yaitu nama yang sangat tidak asing.
Ia hanya bisa memberikan sebuah semangat untuk atasannya yang berwajah muram. "Maafkan saya karena terkesan menggurui Anda, Tuan."
Sementara itu, Erland hanya diam saja karena apa yang baru saja didengarnya merupakan saran terbaik yang harus dilakukan karena sadar jika terus-menerus memikirkan kehancuran hidupnya, malah makin membuatnya terpuruk.
Ia kini mengibaskan tangannya agar bisa segera membuat sang asisten keluar dari ruangan. "Kau memang benar. Terima kasih karena telah membuatku sadar jika itu adalah jalan terbaik. Kembalilah ke ruanganmu."
"Iya, Presdir. Semangat bekerja untuk hari ini," ucap Leo yang saat ini berjalan menuju ke arah pintu dan keluar dari ruangan atasannya tersebut.
Berbeda dengan Erland yang kini langsung kembali ke kursi kerjanya dan mencari informasi mengenai nama yang masih terngiang di pikirannya.
"Dhewa Adji Ismahayana," lirih Erland yang mengetik di mesin pencarian dan kini membaca apa yang baru saja terlihat di layar laptop miliknya.
Ia melihat beberapa foto dari sang pemilik nama yang menurutnya seperti nama zaman dahulu kala dan memiliki arti yang mungkin sangat dalam dan bermakna.
"Benar apa dugaanku jika dia bukanlah pria sembarangan. Bahkan keluarganya memiliki beberapa perusahaan besar di luar Jawa dan saat ini tengah mengibarkan bendera di Jakarta." Erland bahkan saat ini tidak berkedip menatap foto dari pria yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya dan juga proporsional.
Ia bahkan mengingat wajah Floe dan juga mengira-ngira tingginya. "Mungkin Floe hanya sepundaknya jika berdampingan. Ya, mereka adalah pasangan yang serasi."
Erland mengingat kejadian di makam dan tatapan dari Floe yang terlihat sangat membencinya. "Bahkan meskipun aku bersujud di kakinya, dia tidak akan pernah mau memaafkanku."
Kini ia mengambil ponsel miliknya dan memutuskan untuk berdamai dengan hati dan pikiran. Dengan mengirimkan pesan pada Floe, meskipun mengetahui bahwa wanita yang masih menjadi istri sahnya tersebut mungkin tidak akan mau membacanya.
Berbahagialah dengan pilihan orang tuamu, Floe. Tapi aku benar-benar meminta maaf atas semua perbuatanku padamu. Kamu tidak perlu memaafkanku karena aku tahu jika permintaan maafku tidak akan sanggup menyembuhkan luka yang kutorehkan.
To be continued...